Diposkan pada Others

Jalan Pulang

Ada yang datang, lantas ia menghilang
Ada yang datang, hanya untuk singgah sejenak
Ada yang datang, memberi warna
Ada yang datang, membawa luka
Ia datang, lantas ia bilang ingin menetap
Ia seringkali tak dianggap
Ia seringkali berjuang sendiri
Ia seringkali terlukai
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi
Dan tak pernah berbalik lagi
“Kau harus belajar mencintai. Kau juga layak untuk dicintai,” katanya untuk yang terkahir kali
Ada yang sedang berjuang memaknai semua ini
Setiap yang datang akan membawa harapan
Dan yang pergi meninggalkan pelajaran
Ia sekarang pergi
Benar-benar pergi

Dan mari terus berjalan, jangan takut tersesat
Sejatinya diperjalanan nanti akan banyak rahasia rahasia yang terungkap
Menemukan jalan pulangmu, salah satunya

Iklan
Diposkan pada Others

A Light in A Morning

“Suster, nama suster hampir sama loh kayak nama aku,” kata pasien saya pagi tadi saat saya masuk ke kamarnya untuk menawarkan sibin pagi.

“Oh ya? Cuma beda huruf a dan i saja ya,” kata saya.

Dia mengangguk.

“Sust, aku bosan.. udah pengin pulang. Aku pengin ke salon, pengin creambath,” kata pasien saya yang masih remaja ini. Sepertinya dia mulai jenuh dengan seabrek pengobatan untuk kankernya yang terlihat tidak kunjung usai.

“Boleh, nanti ke salon, creambath, spa… boleh banget. Tapi… nanti kalau pengobatannya udah selesai yaa,” kata saya disertai senyuman.

“Sust, saya pengin nonton di bioskop,”

“Bisaa, tuh depan ada CGV,” kata saya sambil menunjuk mall di seberang RS.

Dia tertawa.

“Sambil bawa-bawa ini semua sust?” Katanya menunjuk alat-alat medis segambreng yang terpasang di badannya.

“Eh ada loh, film yang tokoh utamanya sakit,terus dia kemana-mana harus bawa oksigen,” kata saya.

“Aku tahu sus! FIVE FEET APART khan???” Jawabnya penuh semangat. Sayangnya, bukan itu jawabannya.

“Bukaan, nama judulnya apa yah, pokoknya adaptasi dari sebuah buku gitu,” kata saya sambil berusaha mengingat judul film itu. Saya ingat tokoh cewek yang memerankannya tapi lupa nama dan judul filmnya.

Akhirnya kami berdua sama-sama mikir. Kocak juga membayangkan adegan tadi pagi. Saya sampai berhenti di tengah-tengah merapikan tempat tidurnya.

Hingga akhirnya….

“The Fault in Our Stars! Ya ya benar itu judulnya,” kata saya penuh semangat. Berharap dia membalas tatapan saya dengan penuh semangat juga.

“Aku gak tahu sust,” katanya cemberut.

“Masa siiih? Ini film terkenal loooh,”

Dia menggeleng. “Emangnya keluaran tahun berapa tuh film?”

Terus saya mengingat-ingat lagi. Oh iya, ini film keluar sekitar 5-6 tahun yang lalu saat saya masih kuliah.

“Yaa mungkin 2013-2014. Sekitar itu,”

“Suster gimana siiih? Udah lama banget ituu, aku kan di tahun itu masih anak-anak!”

Kemudian saya terbahak. Pasien saya inj baru menginjak 17 tahun. Kalau 5-6 tahun yang lalu berarti dia usia 11-12 tahun, masih SD. Masih anak kecil. Mungkin tontonnya masih barbie fairy tale gitu yak 😆

“Iya ya deh, maafin yak. Suster nonton film jadul berarti ya?”

Terus dia tertawa.

“Udah yaaa, dah beres, kamu dah mandi, udah suster gantiin baju, gantiin sprei, sekarang suster mau operan jaga dulu sama teman suster yang jaga pagi. Udah jam 8, saatnya suster istirahat,”

Dia melambaikan tangan kepada saya. “Daah suster,” katanya.

“Semangat terus ya. Nanti kalau sudah boleh pulang, kamu boleh pergi ke bioskop, nonton film yang kamu suka, pergi ngemall, hang out sama teman-teman kamu. Lakukanlah hal-hal yang kamu suka. Nanti saat waktu pengobatan datang, kamu tidak akan terlalu bosan dan bayangkan hal hal menarik lainnya yang bisa kamu lakukan setelah pengobatanmu selesai. Tetap semangat!”

Dia tersenyum kemudian bilang terima kasih.

Saya mengambil laundry kotornya, berpamitan dan keluar dari kamarnya.

Selalu ada cerita yang berbeda dari setiap pasien tiap harinya. Entah itu duka maupun suka. Saya banyaaak sekali belajar dari mereka. Belajar untuk sabar, belajar memahami, dan juga belajar berempati.

Lelah memang bekerja di pelayanan itu. Namun, semoga lelah ini menjadi Lillah… Aamiin.

Diposkan pada Others

Trip Solo-Joga dan Pengalaman Menginap lewat Aplikasi RedDoorz

Sedari tahun lalu saya ingin sekali liburan ke Jogja. Seingat saya, terakhir saya mengunjungi kota itu adalah di semester akhir kuliah, sekitar tahun 2015. Sudah empat tahun berlalu, rasanya saya kangen untuk menjelajah kota budaya ini.

Sepertinya memang sudah menjadi rezeki. Akhir ramadhan kemarin saya mendapat kabar jika sahabat saya, Rahma akan menikah di akhir bulan Juni dan melangsungkan resepsi seminggu setelahnya. Langsung dong saya siapkan budget, permintaan libur ke ibu kepala ruang, dan beli tiket ke Solo. Saya memilih menggunakan moda transportasi kereta api yaitu kereta Argo Lawu. Waktu tempuh perjalanannya dari Gambir hingga Solobalapan kurang lebih selama 9 jam.

Tepat pukul 20.15 WIB kereta berangkat dari Gambir menuju Solo. Alhamdulillah bertepatan dengan weekend sehingga stasiun Gambir serasa lautan manusia. Maklum ya, Jumat malam waktunya penduduk Jakarta menghilang sejenak dari hiruk-pikuk ibu kota. Saya duduk di gerbong 5 kursi 6C. Agak sedih sih, nggak bisa duduk samping jendela. Tapi ternyata setelah terlewati ya nyaman-nyaman aja tuh, lagian kalau malam hari mau lihat pemandangan apa? Sepanjang perjalanan hanya terlihat kerlap kerlip lampu. Saya juga memutuskan untuk tidur karena hari itu saya baru selesai jaga malam.

Pukul 05.05 WIB saya tiba di stasiun Solo Balapan. Kereta telat 20 menit dari jadwal seharusnya. Saya segera mencari mushala untuk bersih-bersih dan shalat subuh. Pagi itu stasiun Solobalapan tidak begitu ramai. Saya segera menuju ke penginapan dimana teman-teman saya menginap.

Oh iya, berhubung saya kondangan ramai-ramai, jadi lah kami booking penginapan. Teman-teman saya yang lain sih sudah sampai di Solo sejak Jumat sore, sehingga mereka sempat menginap. Saya yang paling terakhir sampai di penginapan. Karena saya mendapat mandat untuk urusan booking kamar maka pilihan saya jatuh pada aplikasi Reddoorz.

Ini adalah kali pertama saya menginap di Reddoorz. Saya pesan kamarnya seminggu sebelum kedatangan, mengingat weekend jadi takut saja kamar penuh. Kami semua menginap di Reddoorz di dekat Taman Balaikambang, tepatnya di Jalan Majapahit III karena acara resepsi Rahma berada di Taman Balaikambang. Biar tidak terlalu jauh gitu lho.

Area depan kamar penginapan yang instagramable

Setelah melepas lelah dan kangen kangenan dengan geng bul (sebutan kami karena dulu saat kuliah kami berada dalam naungan satu kosan yang sama di daerah Bulusan, Tembalang 😂), saya pun segera bersiap kondangan. Mandi, ganti baju, make up. Ini sih make up time yang paling rempong yhaaa. Mana saya ini anaknya nggak bisa make up yaa. Yha palingan make up dasar saja. Untuk urusan eyeshadow, highlight, dll ituu saya nggak mudeng. Alhamdulillah geng bul ini semuanya jago make up (kecuali aku) wkwk beda jauh kemampuannya dari jaman kuliah dahulu kala 😂 tepuk salut deh untuk progress mereka semua 👏. Dengan saling gotong royong akhirnya make up time selesai dan kami segera menuju ke lokasi acara.

Saya happy banget waktu tahu ternyata konsep resepsinya rahma itu garden party! Keren deh, saya kira bakal dilaksanakan di gedung.

Pukul 10 acara dimulai. Saya dan para bridesmaid (ceilah) bersiap mengikuti prosesi adat manten. Dan kaget yang kedua, prosesi adatnya nggak ribet say! Biasanya kan kalau nikah adat Jawa tuh ritualnya banyak banget yaa. Tapi khusus di resepsinya Rahma banyak ritual yang diskip. Saya jadi terinspirasi heheu, soalnya bener-bener menyingkat waktu. Dan menurut saya ini efektif karena lebih diperbanyak waktunya untuk acara lain (salam-salaman dan foto bersama pengantin, santap hidangan kawinan).

Namanya Selat Solo

Alhamdulillah acara selesai sebelum adzan dzuhur. Para tamu undangan sudah kenyang dan saatnya para bridesmaid ala ala ini berfoto. Dilanjutkan dengan acara reuni bersama alumni PSIK Undip 2011. Senaaang rasanya bertemu teman-teman. Ada yang sudah bawa anak, bawa suami/istri, bawa calon suami/istri. Ternyata teman-teman saya sudah meniti fase baru lagi. Terharu saya tuh 😭.

Kondangan sekaligus reuni

Geng Bul reunited

Setelah melepas kangen dengan pengantin dan teman-teman yang lain, saya dan geng bul (ini ada 7 orang, terlalu banyak, jadi nggak dijabarin satu persatu 😂) segera berpindah lokasi ke kosan Niken untuk ganti baju dll. Saya, Intan dan Nunung segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju Jogja.

Saya pikir, “wah sudah jauh-jauh ke Solo, kenapa nggak ke Jogja sekalian?”. Akhirnya saya mengajak Intan yang kerja di Magelang untuk menemani main di Jogja. Awalnya Nunung mau ikutan tapi mendadak membatalkan karena ada ujian kredensial di RSnya.

Perjalanan menuju Jogja diawali dengan kereta prameks. Ini kali pertama saya merasakan naik prameks (singkatan dari Prambanan Ekspress). Kereta lokal yang melayani rute Solo-Purworejo.

“Nung, ini kita mesti kebagian tempat duduk gak to?” Tanya saya.

“Yo nggak Des, disik-disikan ngko sopo sing olih kursi. Tapi biasane ndek jam semene ki rame,”

Dan benar kata Nunung, kita bertiga nggak kebagian tempat duduk. Akhirnya ngemper deh haha saking capeknya kita. Sebenarnya ada peraturan kalau nggak boleh duduk di lantai kereta.

“Santai wae Des, asal orak kethok nang petugase, dewek aman,” kata Intan. Saya pun mengikuti mereka berdua duduk di lantai kereta. Saking capeknya, saya pun tertidur hingga tiba di stasiun Maguwo. Penumpang banyak yang turun, dan kami pun bisa duduk di kursi sesungguhnya. Selanjutnya adalah stasiun Lempuyangan, tandaya Saya dan Intan harus turun. Sedang Nunung melanjutkan perjalanan pulang menuju Kutoarjo.

Karena nggak kebagian tempat duduk

Dari stasiun Lempuyangan, saya dan Intan menuju penginapan menggunakan pinkiana, sepeda motor kesayangan Intan yang ia tinggal di stasiun Lempuyangan.

“Des, aku nggak tahu Jogja loh yaa, kita modal gmaps, oke?”

Aku tertawa dan berdoa semoga bisa sampai penginapan dengan selamat 😁.

Di Jogja kami menginap di Reddoorz lagi. Yaitu penginapan syariah di jalan Sisingamangaraja. Lokasinya tidak jauh dari alun-alun kidul atau alkid. Dan saat sampai disana, sudah ada mas resepsionisnya yang langsung membantu proses check in. Kenapa namanya syariah? Nah ini saya nggak nanya sih. Cuma dari pengamatan sih mungkin karena lokasinya persis di seberang mushola sehingga bisa mendengat adzan 5x sehari 😁. Alhamdulillah check in berjalan lancar dan kami diantar menuju kamar. Kesan pertama saat saya sampai di penginapan ini adalah bentuk penampakan luar rumahnya adalah rumah kuno khas Jogja. Namun saat sudah di dalam kamar desainnya sama seperti kamar penginapan modern lainnya. Kamarnya yang kami tempati menyenangkan karena bersih, rapi, dan kamar mandinya luas. Bertolak belakang dengan penginapan sebelumnya yang lebih menekankan ke luas kamar yang lebih luas dan kamar mandi yang mungil.

Saya dan Intan pun bersih-bersih dilanjutkan shalat maghrib dan Isha. Seperti biasa cewek ya, kita curhat ini dan itu hingga tak terasa sudah mau pukul 20.00.

Malam ini kami pun mengunjungi Tempo Gelato di Jalan Prawirotaman. Wishliat saya ke Jogja ya kepingin banget ke Tempo Gelato. Dengan bermodal gmaps, saya dan Intan akhirnya sampai di lokasi. Daan ternyata ramai sekali sodara. Awalnya saya pasrah, ya udah deh kalau nggak jadi masuk, tapi Intan tetap memaksa untuk masuk.

“Dah jauh-jauh kesini masa mau mundur? Itu palingan bule bule pada take away,”

Thanks to Intan akhirnya saya bisa mencicipi enaknya Tempo Gelato Jogja yang hits itu. Saya pesan rasa Kiwi dan Cappucino, sedangkan Intan kalau nggak salah rasa Matcha dan cokelat.

Perjalanan dilanjutkan dengan menuju jalan Malioboro. Bayangkan, kemarin itu malam minggu dan Jogja sedang macet-macetnya. Dari jalan Prawirotaman menuju Malioboro kita tempuh kurang lebih satu jam an dengan bermacet-macet ria. Ngerii sih macetnya luar biasa. Tapi ntah kenapa, meski macet saya tuh fine fine aja. Apa mungkin sudah kebal dengan kemacetan di Jakarta? 😂

Dan memang bener yaa, seramai itu Malioboro di malam minggu. Pukul 22.30 WIB kami pulang ke penginapan karena badan rasanya kayak habis nguli😂 alhamdulilah malam ini capek tapi senang.

Esok paginya kami checkout dari penginapan pukul 07.45 wib. Saya harus naik kereta dari stasiun Tugu. Dan pulang kali ini saya menggunakan Argo Lawu kembali dengab keberangkatan dari stasiun Tugu menuju Gambir. Estimasti perjalanan adalah 8 jam.

Saat sampai di stasiun, saya berniat ingin membeli oleh oleh bakpia kukus Tugu yang lagi hits itu. Dan gimana saudara? Apakah saya berhasil membelinta? Oo tentu tidak sodara. Antrinya itu loh bok, kagak kuat.

Mana sebentar lagi kereta saya akan tiba. Saya pun nyerah ngantri dan memilih membeli oleh-oleh di dalam stasiun saja. Mungkin lain waktu, saat saya kembali lagi ke kota ini bisa berkesempatan mencicipi rasa bakpia ini.

At least, terima kasih untuk dua hari menyenangkan ini. Terima kasih geng bul sudah meluangkan waktu untuk bertemu. Terima kasih Rahma yang menikah sehingga kami, geng Bul bisa reuni kembali: “). Terima kasih juga Reddoorz untuk penginapan yang baik.

Semoga dilain kesempatan bisa bertemu lagi 😘

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Melewati Batas 25

Hai, halo, lama ya rasanya tidak bercakap di rumah ini. Beberapa bulan ini memang sedang puasa nulis blog dulu. Ntah mengapa sebenarnya banyak sekali yang ingin ditumpahkan di rumah ini, tapi selalu kalah dengan kemalasan dan alasan ‘sibuk’ lainnya. Untuk sibuk sih sebenarnya nggak sibuk sibuk banget. Rutinitas seperti biasa, kalau lagi libur kerja ya main atau tidur. Atau berkunjung ke rumah saudara, main sama ponakan atau nongki nongki cantik demi melepas penat.
Dan sore tadi baru saja saya mendapat kabar jika salah seorang sahabat akan melangsungkan akad nikah setelah lebaran. Kaget dong saya ya! Secara dia nggak pernah share apa pun, lagi dekat sama siapa atau tanda-tanda mau menikah lainnya eeh tiba-tiba jeng jeng dapet undangan di grup kesayangan kalau sahabat saya yang baik ini akan menikah. Benar-benar deh bisaaa aja kasih surprisenya 😄. Selain sahabat saya, beberapa undangan pun bermunculan. Mulai dari teman SMP, SMA sampai kuliah. Mulai tuh undangan nikah berdatangan kembali. Jikalau menilik dari pertemanan jaman SD kayaknya tinggal tersisa tiga orang cewek yang belum meniqa dalam lingkup pertemanan saya. Dan di dalamnya ada saya hahaha. Kalau teman-teman SD memang kebanyakan nikah muda karena selepas SMP/SMA kebanyakan memilih untuk bekerja dan hanya beberapa yang melanjutkan kuliah. Nggak kebayang ntar kalau ada reuni SD pasti lah hampir semuanya sudah bawa suami dan anak. Terus aku enaknya bawa siapa yaaa? 😂.
Beberapa kawan juga sudah mengusik dengan pertanyaan, “Mana calon?“, Kapan nikah?, ” sampai petuah-petuah” Jangan keasyikan kerja, ntar lupa nikah, “. Ooh tunggu dulu, kalau keasyikan kerja sih kayaknya nggak ya. Wong saya anaknya nih biasa biasa aja engga terlalu ngoyo sama pekerjaan. Mungkin saya keasyikan menghabiskan duit gajian. 🙈
Dalam kurun waktu dua tahun ini, memang hampir sebagian besar teman-teman saya melangsungkan pernikahan. Yha, menurut saya wajar saja sih karena usia kami sudah memasuki 25 tahun. Heheu. Usia yang katanya ideal untuk menikah. Dulu saat SMA, saya membayangkan akan menikah paling telat usia 25 tahun karena doktrin dari Ibu jika menikah tak boleh lebih dari usia 25 tahun. Katanya kalau melewati itu prioritas seseorang semakin berubah dan makin banyak kriteria dan syarat seseorang tentang jodohnya (oh ya?) . Kemudian pertengahan masa kuliah saya perpanjang deh tuh tenggat waktu. Usia 27 lah batas akhir nikahnya. Karena dulu bayangan saya usia 27 tuh udah kelar pendidikan sampai S2. Udah tenang kan ya. Eeh ternyata sekarang bentar lagi memasuki usia 27 tahun dan aku masih gini-gini aja 😂. Nikah belum, S2 juga belum. Modyaaar nggak tuh. Hahaha. Satu persatu planning dari jaman kuliah ini tergeser. Ya, gimana lagi waktu itu sebenarnya sudah ada kesempatan S2, tapi ada panggilan kerja. Tahun berikutnya mau coba lagi, eh ada penerimaan CPNS hingga akhirnya jadi rejeki dan mengharuskan re-schedule total planning pendidikan saya.

Sekarang sudah melewati batas usia 25 tahun. Makin sering ditanya “Kapan? “. Baik oleh orang tua (terutama Ibu tercinta), saudara dan para tetangga dan juga rekan kerja. Iyaa! Rekan kerja yang hampir tiap hari ngomporin buat segera melepas masa lajang. Ooh tidak. Kadang mbatin, ngapain sih ini orang-orang pada ngurusin jodoh saya? Terus mikir lagi, mungkin ini sebagai perwujudan dari doa mereka ya. Atau setidaknya kekepoan yang diungkapkan dengan sengaja. Bagi saya sih, cukup hadapi dengan senyuman saja meski dalam hati perasaan saya ambyar 💔.
Melewati usia 25 tahun rasanya banyak hal-hal baru yang muncul terkait menikah atau pun tentang pasangan hidup atau pun tentang permasalahan kehidupan yang lain. Saya banyak melihat fenomena teman yang semasa sekolah/kuliah pacaran sama siapa, ujung-ujungnya nikahnya sama siapa. Benar jika jodoh itu urusan masing-masing individu dengan Allah swt.

Bulan Ramadan ini pun banyak dikasih tahu dari sodara (thanks to mbak kembar) tentang doa-doa minta didekatkan jodoh. Berdoa? Tentu saja iya. Saya yakin sekali akan kekuatan doa. Namun tak ingin cepat-cepat, biarlah ia datang di waktu yang menurut Allah adalah yang paling tepat :).

Saya ingin mengucapkan selamat untuk sahabat (yang namanya belum bisa saya sebut sampai akad terucap 😁). Semoga urusan kalian dalam menyegerakan kebaikan ini dilancarkan dan dimudahkan. Semoga saya dapat jadwal libur sehingga bisa kondangan ke Oslo. 💕

Catatan ini ditulis di kereta Taksaka dalam perjalanan pulang menuju kota Purwokerto tercinta. Maaf jika postingan ini sarat akan nuansa curhat. Karena inilah sebenarnya latar belakang lahirnya Layang-Layang Sore. Iya, sebagai tempat membuang kepenatan pikiran dan perasaan alias curhat tipis tipis 😆.

Dulu saat ibu dan kakak belum mampir di blog ini, curhat tuh rasanya mengalir saja. Tapi sekarang kadang kakak suka ngintipin postingan saya. Begitu pun ibu. Haha khan jadi maluuuu. Ntar kalau ketemu di dunia nyata jadi dibahas deh. Heeu. Sepertinya saya butuh lapak baru yang benar-benar tidak terjangkau oleh mereka 😄

Oh iya bagi teman-teman semua, Selamat menyambut hari raya idul fitri yaaa semoga keberkahan selalu menyertai kita 😊 yang mau mudik hati-hati di jalan, semoga selamat sampai bertemu dengan keluarga tercinta ❤️.

Diposkan pada Others

Pantai Laguna

Waktu itu ditengah kejenuhan dengan rutinitas kerja, saya memutuskan untuk jalan-jalan. Seperti biasa, saya kontak Nada, apakah dia bersedia menemani saya JJS di dalam kota. Dan jadilah saya dan Nada bertemu dan memutuskan untuk ke Pantai Ancol. Sebenarnya ini idenya Nada sih, secara impulsive gitu tiba-tiba pengin sepedaan di pinggir pantai. Ya sudah, toh saya juga ingin jalan-jalan, akhirnya saya iya kan saja usulnya untuk ke Pantai Ancol.

Saat itu kami memulai perjalanan ke Ancol pukul 16.30 WIB. Kami berniat hunting foto saat senja. Apalagi saat itu kondisi senja di langit Jakarta sedang cantik-cantiknya.

Kami berangkat menggunakan Trans Jakarta. Berhenti di pemberhentian terkahir yaitu di halte Ancol. Untuk masuk kawasan Ancol kami harus membayar tiket masuk. Masing-masing 25.000 rupiah.

“Mau kemana kak?” Tanya petugas loket.

“Ke Pantai Laguna pak,” jawab Nada.

“Naik bis wara wiri aja, gratis,”

Kami pun segera menuju lokasi tempat menunggu bus wara wiri. Saat itu sekitar pukul 17. Sepuluh menit menunggu, ternyata bisnya belum datang juga. Lama yak ternyata, bisa bisa kita gagal berburu sunset nih, pikir saya. Saat kami berdua sudah tak sabar dengan kedatangan bus, datang lah bapak supir taksi menawarkan tumpangan.

“Busnya masih lama mbak, naik taksi aja 25rb langsung sampai pantai Laguna, kalau kelamaan nunggu bis, ntar sunsetnya keburu habis loh,” kata si bapak supir.

Ah, bisa aja nih si bapak membaca pikiran kami berdua. Akhirnya saya dan Nada luluh dengan bujuk rayu pak Supir dan memutuskan menggunakan taksi menuju pantai Laguna.

Nggak ada 10 menit sampailah kami di Pantai Lagoon. Begitu tiba langsung disambut semilir angin pantai yang menyejukkan. Di sebelah barat sudah mulai semburat merah pertanda senja akan datang.

Rasanya…. satu per satu kejenuhan dalam pekerjaan perlahan runtuh. Hahaha lebay yaaa 😂 tapi menyenangkan loh berjalan di pinggir pantai sambil menikmati semilir angin pantai. Sedikit bisa mengurangi beban pikiran. Apalagi ditambah pemandangan indah yang tercipta saat senja.

Yhaa meski saat itu suasana cukup ramai, saya masih bisa menikmatinya. Maklum ya, setelah satu tahun di Jakarta ini kali pertama saya mengunjungi Pantai Ancol. Dulu saat saya masih kerja kantoran di Cilacap, rasanya bosen banget sama Pantai. Ya iya lah, Cilacap kan ada di ujung selatan pulau Jawa 😂 jarak kantor dengan pantai cukup dekat. Sampai bosan sih kalau main ke pantai terus.

Menjelang senja berakhir, saya dan Nada pun mulai disibukan dengan acara foto-foto.

Ini semua saya ambil pakai kamera hape (si mimi) yang hampir dua tahun menemani. Penginnya sih punya kamera mirrorless yhaa, tapi apadaya tabungannya belum cukup 😆. Doakan yaa teman-teman semoga kamera mirrorless nya segera terbeli hehehe.

Difotoin Nada. Maafkan, nggak bisa bergaya ala ala selebgram. Hahahahaha.

Oh iya, karena nabrak waktu maghrib, kami pun shalat di kawasan pantai Ancol. Sempat khawatir susah nemu tempat shalat, tapi alhamdulillah ada mushola di dekat pantai. Yha meskipun sederhana setidaknya bisa shalat dengan nyaman. Minusnya sih tempat wudu ceweknya agak terbuka yaa, jadi agak risih gimana gituu. Huhuhu sedih. Semoga ke depannya bisa ditingkatkan.

Pukul 20.00, saya dan Nada memutuskan untuk pulang. Kami akhirnya mencoba naik bus wara wiri. Sampai lari-lari loh kami mengejar busnya 😂 mental mental gratisan nih yhaa hahaha eh bukan ding, kami tuh mental memanfaatkan fasilitas yang ada secara maksimal wehehehehe. Nggak lama setelahnya, kami pun sampai di halte Ancol dan dilanjutkan naik TransJakarta menuju kosan kami masing-masing.

Ini sedikit cerita jadi wisatawan lokal di Ibu Kota. Alhamdulillah ya, jalan-jalan murah meriah yang bisa memperbaiki suasana hati. Ternyata masih banyak tempat di Ibu Kota yang belum sempat saya kunjungi dan masih jadi wishlist saya tahun ini 😁.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Sore Tadi

Sore tadi akhirnya memutuskan untuk lari. Bukan kok, bukan lari dari masalah. Tapi, lari sore alias jogging sore sore 😁. Sudah beberapa bulan ini jadi wacana terus. Selalu adaa aja alasan untuk menghindar. Ntah itu ngantuk, mager, mendung dll.

Hari ini sebenarnya niatnya mau lari pagi di Taman Cattleya dekat kosan tapi apa daya tadi pagi bangun kesiangan, habis shalat subuh tidur lagi karena ngantuk luar biasa. Ya gimana engga ngantuk yaa, baru tidur aja jam 1 pagi. Oow, memang ini satu kebiasaan buruk yang sedang berusaha dikurang kurangin. Dan dengan tekad kuat sepenuh hati, sore tadi berangkat ke Lapangan Banteng. Waktu keluar kosan sudah terlihat awan gelap, tapi ya sudahlah, dah terlanjur siap siap, sayang banget kalau mundur lagi. Sampai di Lapangan Banteng ternyata udah ramai, banyak yang jogging atau sekadar jalan jalan sore. Banyak juga yang hunting foto. Udah deh itu saya lari muter dua putaran, ngos ngosan juga karena jarang olahraga. Dilanjut jalan santai.

Eh ada yang nyamperin, kakak yang kebetulan kantornya persis di depan Lapangan Banteng. Tinggal lompat nyampe tuh. Kebetulan juga, pas kakak datang, gerimis turun. Jadi lah saya diajak ke kantornya. Tak lupa beli cilok dulu. Enak ciloknya, 5rb dapat 7 cilok hehehe.

Berteduh di kantor kakak sampai maghrib sekalian shalat, habis itu diajak ngupi ngemil di Warung Upnormal Raden Saleh Cikini. Tempatnya kecee, retro gitu. Waktu masuk disambut live music gitu, tapi maaf lupa nggak saya foto, karena hp lowbat juga sih. Saya pesen pisang bakar topping green tea ice cream. Lucu ya, nambah gula lagi 😁 habis olahraga harusnya banyakin makan buah, ini malah ngemil manis manis. Hmm… gapapa lah yaa yg penting happy.

Jumat hari ini menyenangkan, libur shift, jalan-jalan, olahraga sore dan ngemil gratisan. Kalau yang lain besok libur, saya besok mulai masuk kerja dan untuk seminggu ke depan jadwalnya padat merayap. Tadi juga dikasih tahu teman kalau pasien juga sedang full tank. Semangat!

Diposkan pada Cerita Sehari-hari, Others

Acaraki Jamu, Menikmati Jamu Tradisional dengan Sentuhan Modern

Apa yang pertama kali terpikirkan di benak kawan-kawan semua saat mendengar kata ‘Jamu’? Kalau saya sih langsung terbawa pada sosok mbok mbok Jamu gendong dengan sapaan khasnya “Jamuuuu mu jamuuu,”. Nostalgia banget ya. Berawal dari salah satu postingan teman di Instagram yang mengenalkan sebuah kafe unik bernama Acaraki Jamu, saya pun penasaran ingin menilik langsung bagaimana sebenarnya konsep sebuah kafe Jamu ini.

Sabtu, 2 Februari kebetulan saya mendapat jatah libur shift di weekend. Saya pun segera menghubungi teman jalan-jalan paling the best, Nada. Kami sepakat untuk bertemu di stasiun Jakarta Kota pukul 13 WIB karena paginya Nada ada agenda tes TOEFL.

Tepat pukul 13.30 WIB akhirnya kami berdua bertemu dan kami pun langsung menuju lokasi di kawasan Kota Tua. Suasana siang hari di sekitar Kota Tua ini memang luar biasa panasnya. Fiuh, untung saja saya bawa bucket hat merah andalan hehe. Bisa mengurangi teriknya matahari Jakarta.

Dari depan museum Fatahillah kami berjalan menuju gedung Kerta Niaga. Ini kali kedua saya menginjakan kaki di gedung Kerta Niaga setelah Maret, 2018 saat ikut acara Jakarta Walking Tour bersama Jakarta Good Guide. Kafe Acaraki ini ternyata mudah sekali dicari. Nuansa Coffe shop sangat kentara saat pertama kali saya masuk. Kami juga disambut lantunan Adelaide Skyline nya Adhitia Sofyan yang langsung menambah betah suasana.

Kami memilih untuk duduk di bar, tepat di depan alat alat peracik jamu ini berjajar. Menurut pengamatan saya, konsep dari Acaraki jamu sendiri adalah membawa jamu yang begitu tradisional ke dalam sebuah kafe yang modern. Mungkin, kalau saja belum pernah mendengar tentang kafe ini saya pasti mengiranya bangunan berarsitektur nyentrik ini adalah coffee shop. Dan uniknya proses pembuatan jamunya mirip dengan pembuatan kopi. Ada sistem roasting, mesin grinder, ada juga teknik brewing demi menciptakan jamu dengan suasana baru. Mereka menyebutnya #JamuNewWave.

Saya memesan menu jamu dengan nama Saranti yaitu campuran beras kencur, gula, susu dan kreamer. Rasanya unik sekali. Kalau kata Nada mirip wafer yang dicelup ke susu. Kalau menurut saya sih rasanya gurih dan manis. Selain itu saya juga memesan beras kencur pekat. Rasanya otentik, mirip kencur parut buatan ibu kalau saya sedang sakit tenggorokan.

Saya juga sempat mencicip pesanan Nada yaitu Golden Sparkling, campuran dari kunyit asam, gula dan soda. Rasanya enak! Apalagi yang disajikan bersama es batu. Dingin- dingin sedap. Serasa panasnya kota tua lenyap seketika. Next time jika ke Acaraki Jamu lagi saya ingin pesan menu yang ini.

Asyik sekali ya minum jamu cantik sembari disuguhi suasana kafe yang Instagramable. Bonus foto-foto cantik pula hehe.

Oya, saya dan Nada memang memilih tempat duduk di Bar karena disini kami bisa melihat langsung cara mengolah jamu. Mulai dari menyiapkan bahan dasarnya. Yaitu bubuk kunyit dan kencur yang sudah disangrai. Kemudian menyiapkan grinder dan teman-temannya. Maaf sekali tidak bisa menjelaskan dengan detail karena saya tidak hafal nama mesinnya satu persatu 😂. Pokoknya menarik banget melihat proses pembuatan jamu a la Coffee shop ini. Oya katanya sih nama Acaraki diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya “Pembuat Jamu”. Karena masih tergolong baru, menu jamu di Acaraki baru sebatas beras kencur dan kunyit asam. Belum ada jenis jamu yang lainnya. Jadi, kalau yang mau nyari jamu ‘brotowali’ belum ada disini yaa 😆. Mungkin sembari berjalannya waktu, menu jamu disini akan berkembang karena pasti lah perlu riset yang tidak singkat.

Bagi saya nilai plus dari Acaraki Kafe ini adalah mbak dan mas baristanya super ramah. Mereka sabar sekali melayani pertanyaan dari pengunjung meski kedua tangan mereka sibuk meracik jamu.

Satu jam berada di Acaraki rasanya tak begitu terasa. Saya asyik terbawa pada suasana kafe yang hangat. Apalagi playlist musiknya cocok dengan selera saya 😊. Tiba-tiba saja sebentar lagi adzan Ashar berkumandang. Saya dan Nada pun beranjak meninggalkan Acaraki demi melanjutkan agenda jalan-jalan berikutnya. Sampai berjumpa di lain waktu, Acaraki ❤️.

Salam dari Dua manusia random

Acaraki Jamu

Gedung Kerta Niaga 3

Kota Tua-Jakarta

Instagram: @acaraki.jamu

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Lantunan Mantra Mantra yang Membius

Cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu

Cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu

Bagaimana rasanya mendengar sepenggal kalimat ini yang terus diputar berulang-ulang dalam sebuah lagu?

Rasanya damai.

Saya berkenalan dengan lirik lagu ini di bulan November 2018. Saat itu, Nada dan Lia mengajak saya untuk nonton acara MakerFest di GBK Senayan dimana salah satu bintang utamanya adalah Kunto Aji. Waktu itu saya mengiyakan ajakan mereka karena memang bertepatan dengan libur saya di weekend dan memang saya sedang tidak ada agenda apapun.

“Mbak, coba deh dengerin Mantra Mantranya Kunto Aji, ini album baru kayaknya bakalan dinyanyikan di MakerFest,” kata Nada melalui pesan whatsapp.

Saya manut aja, dan coba buka Spotify mencari album yang dimaksud. Dan sejak saat itu saya menjadi fans berat album Mantra Mantra Kunto Aji ❤️.

Dalam album ini terdapat 9 lagu yang menurut saya keren semua. Kata beberapa sumber, Aji menulis album ini berlatar belakang isu mental health, terutama tentang overthinker. Saya banget deh : ‘). Dan judul lagu yang pertama saya dengar adalah Sulung. Salah satu lirik penggalannya saya tulis sebagai pembuka tulisan ini. Daleeeem banget kan?

Lagu pertama berjudul Sulung ini bercerita tentang penerimaan diri. Dimana seringnya kita sibuk mencoba memberikan hal yang terbaik baik orang lain namun melupakan kebahagiaan diri sendiri. Oleh Sulung kita diingatkan kembali bahwa sebelum menjaga orang lain, kita lebih baik menjaga dan menyayangi diri kita sendiri terlebih dahulu.

Sebelum kau menjaga, merawat, melindungi segala yang berarti

Yang seharusnya kau jaga adalah

Dirimu sendiri

Dilanjutkan dengan mendengar Rancang Rencana yang akan membawa kita untuk berfikir sejenak tentang ‘Apa sih tujuan kita hidup?’. Kemudian ada Pilu Membiru. Ini lagu super mellow, saya sempat nangis loh pas mendengarnya karena memang liriknya benar-benar mewakili perasaan saya. Di dalam Pilu Membiru kita dibawa kembali untuk mengingat Unfinished Business entah itu tentang cinta, pertemanan, keluarga dan masalah-masalah yang memang tak terselesaikan lainnya. Salah satu lirik yang ngena banget adalah:

Akhirnya kulihat lagi

Akhirnya kutemui

Tercekat lidahku

Masih banyak yang belum sempat aku sampaikan padamu

Tak ada yang seindah matamu, hanya rembulan

Tak ada yang selembut sikapmu, hanya lautan

Oh tak tergantikan

Walau kita tak lagi saling menyapa

Dan lirik ini diucapkan berulang-ulang. Sungguh luar biasa rasanya hingga air mata tak bisa ditahan lagi. Hahaha maaf ya, saya cengeng orangnya.

Lagu keempat dan seterusnya ada Topik Semalam, bercerita tentang kelanjutan sebuah hubungan. Kemudian kita akan dibawa pada Rehat. Di lagu ini kita diingatkan kembali untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Kunto Aji seperti ingin menyampaikan, “sudahlah, ayo istirahat sejenak, pulihkan hati dan pikiranmu, karena semua ini bukan salahmu,”. Seakan ingin bilang pada kaum overthinker, “Hei, yang kau takutkan tak akan terjadi,”. Dan semuanya terangkum secara pas pada lirik dan musik yang menenangkan.

Tenangkan hati, semua ini bukan salahmu

Terus berlari, yang kau takutkan, tak akan terjadi

Ada pula Jakarta Jakarta. Sebuah lagu yang mengisahkan tentang perjuangan kaum urban di belantara ibu kota. Ini salah satu lagu yang sering diputar diplaylist lagu saya sih karena benar-benar menggambarkan kehidupan saya di Jakarta 😆.

Tiga lagu terakhir adalah Konon Katanya, Saudade, dan ditutup dengan Bungsu. At least, semua lagu di album Mantra Mantra benar-benar membius. Liriknya cenderung poetic, musiknya menenangkan dan sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Sepertinya lewat album ini keterikatan antara Kunto Aji dan Terlalu Lama Sendirinya mulai memudar. Karena saat saya dengar Kunto Aji, sekarang tak melulu tentang Terlalu Lama Sendirinya yang super hits itu. Saat ini jika bicara tentang Aji, saya langsung terbawa pada Mantra Mantra.

Seperti saat ini, hujan, Jakarta sore hari dan album Mantra Mantra diplaylist saya sungguh perpaduan yang indah. Mungkin bisa ditambah secangkir teh/kopi dan buku favorit.

Oh ya, saya menulis tentang album ini bukan sedang promosi, bukan pula memaksa teman-teman mendengarnya. Hanya saja, menurut saya lagu-lagu sebagus ini rasanya sayang untuk didengarkan sendiri :).

(Karena sukanya sampai saya gambar dan tulis liriknya untuk wallpaper handphone ❤️)

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Dari Selatan Jakarta

Sore itu saya mengajak Nada berkunjung ke salah satu bookstore di Pasar Santa, Jakarta Selatan. Sebuah toko buku indie yang di akhir tahun 2018 menjadi wishlist saya.
Saya yang tinggal di Jakarta Barat dan Nada yang tinggal di Depok membuat kami memutuskan untuk langsung bertemu di Post Santa, nama bookstore yang menjadi tujuan kami.
Turun dari bus TransJakarta di halte Wolter Monginsidi, saya berjalan kaki sekitar 5 menit menuju Pasar Santa. Saya lihat Nada sudah menunggu di depan pintu masuk. Di samping ATM Bank BRI. Kami saling bertukar salam untuk kemudian segera menuju ke lantai 2.
Post Santa ternyata sebuah toko buku yang menarik. Terletak di lantai teratas Pasar Modern Santa, di tengah impitan kios kios dagangan lain. Sore itu suasana cukup ramai. Mungkin ada sekitar 10 pengunjung. Beberapa asyik ngobrol di sebuah meja di tengah toko, beberapa asyik duduk sambil membaca dan sisanya sibuk memilah buku mana yang kiranya menarik. Termasuk saya. Nada bilang ia tak ingin membeli buku, karena katanya lagi, cashflownya bulan ini sedang jelek.
Setengah jam berada di toko buku ini, saya memutuskan untuk membawa pulang dua buah buku. Menurut saya, buku-buku di Post Santa sunggulah menarik. Buku-buku yang jarang ditemukan pada toko buku besar. Sebenarnya banyak yang ingin saya beli, tapi lagi-lagi saya harus ingat jika masih ada dua buku di kos yang menanti untuk diselesaikan, dan juga saya masih harus menabung. Jadi, saya urungkan niat untuk membeli lebih dari dua buku.

(Buah tangan dari Post)

Kekurangan dari Post Santa bagi saya adalah belum ada layanan pembayaran menggunakan kartu debit, jadi membayarnya harus dengan uang tunai. Tapi, jika teman-teman lupa membawanya, jangan khawatir karena di lantai 1 pasar Santa ada beberapa mesin ATM seperti ATM Bank BRI, Bank BNI, bank DKI, Mandiri dan BCA. Lengkap kan?
Waktu menunjukan pukul 17.30 WIB saat saya dan Nada keluar dari kawasan Pasar Santa. Kemudian kami memutuskan untuk makan sebelum melanjutkan petualangan. Kami memilih makan di Ayam Bakar Kambal. Lokasinya tepat di depan Pasar Santa. Ayamnya enak dan rasa sambalnya pas. Saya yang baru pertama mencobanya langsung jatuh cinta. Mungkin kapan-kapan bisa mampir lagi. Selain rasa makanannya yang enak, disini juga menyediakan tempat sholat di lantai dua. Ruangannya cukup luas, bersih dan mukenanya wangi. Suka sekali, ❤️.
Selepas shalat, Nada memutuskan untuk menginap di kos saya di Jakarta Barat. Dan sebelum ke kosan, kami jalan-jalan dulu ke Central Park Mall yang lokasinya cukup dekat dengan kosan. Kami berdua akan nonton film How to Train Your Dragon: The Hidden World yang tayang pukul 21.50 WIB. Cukup malam ya? Dan Nada akhirnya bisa membujuk saya untuk pulang larut. Jujur, saya rada takut karena belum pernah pulang ke kos lewat pukul sebelas malam 😂 (anak rumahan sekali).
Dan Nada, adik kos saya jaman SMA ini ternyata hpnya baru. Pantaslah jika sampai di Central Park dia sibuk foto-foto 😂😂😂. Kalau saya sih hanya lihat-lihat saja karena baterai handphone sudah menipis.
Sebenarnya ini adalah pertemuan ketiga saya dengan Nada selama di Jakarta. Hari itu Kami banyak ngobrol tentang apa saja. Tentang pekerjaan, kehidupan, nostalgia masa-masa SMA dan tenta saja masalah cinta. Rumit memang, bagi kami yang sedang menjalani quarter life crisis. *ceilah.
“Nad, pernah kepikiran nggak kalau selamanya kamu akan tinggal di Jakarta?” Tanya saya di suatu kedai kopi.
Nada menggeleng. “Ntah lah mbak, kalau mbak gimana? ”
“Kalau aku sih palingan, misalkan nih jodohnya emang rejekinya di Jakarta, ya udah tetep tinggal disini. Cuma ya paling bisanya punya rumah di pinggiran Jakarta,” kata saya.
Nada tertawa. “Macem Depok gitu ya mbak?”
Saya menggeleng. “Bukan, aku penginnya tinggal di Bintaro. Biar dekat sama Rumah Sakit dimana sekarang aku kerja. Kalau Depok kok rasanya jauh banget ya, apalagi Bekasi,”. Saat itu saya menerawang membayangkan diri ini berdesakan di commuter line demi menuju atau meninggalkan ibu kota. Seperti ikan pindang, ngeri. Apakah saya bisa melewatinya? Eh tapi by the way, kalau Bintaro mah bukan pinggiran Jakarta sepertinya 😂.
“Mbak, nggak ada gitu teman kerja yang mbak suka?”
Saya terdiam. Mengulang kembali pertanyaan dari Nada dalam hati. Dan kemudian tertawa.
“Maksudmu suka itu seperti have a crush gitu Nad?”
Ia mengangguk. Saya kemudian menggeleng.
“Belum nemu,”
Nada kemudian bercerita tentang topik lain, masalah lain, cerita lain.
“Mbak, ceritain dong gimana kembaranmu bertemu dengan suaminya,”
Dan lagi, mengalirlah cerita saya. Yang tak begitu detail, karena saya memang tidak tahu detailnya hehe.
Kami ngobrol lagi tentang usia.
Time flies ya Mbak. Dulu pas SMA aku ga pernah bayangin bakal merantau ke Jakarta, terus ketemu mbak disini, minum dan duduk di kafe ini,”
Saya melahap buah kiwi terakhir.
“Hahaha sama lah, mana mikir aku sampai sini. Dulu pas SMA mikirnya yang penting bisa lolos dari pelajaran Kimianya pak Oo,”
Dan Jakarta akhirnya mempertemukan kami dan kenangan-kenangan masa lalu.
“Sedih Mbak saat aku terakhir ke kos, bu Bandi sudah sepuh sekali, udah nggak ingat lagi sama aku. Kabar terakhir beliau dibawa anaknya ke Jakarta. Tapi aku enggak nanya lagi Jakartanya mana,”
Saya terdiam. Memori kembali berputar ke sebelas tahun yang lalu. Awal-awal SMA dan harus menjalani kehidupan sebagai anak kos. Berjodoh dengan kos Bu Bandi dan menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Buktinya, selama 3 tahun masa SMA tak sekali pun saya menyingkir dari rumah kos ini. Nada, datang di tahun kedua saya SMA. Bersama beberapa anak baru lain. Kami semua cepat akrab. Tiap pagi rebutan kamar mandi, siapa yang beli sarapan, atau siapa yang mau pake setrika duluan. Belum lagi kalau tak ada yang mau mandi lebih dulu karena pagi terlalu dingin.
Ah, iya masa SMA. Indah, sedih, haru, tawa, tangis, dan bahagia bercampur menjadi satu.
“Mbak, aku inget kalau kalian lagi tengkar, seisi kos tau semua,”
Nada mengingatkan saya betapa seringnya saya marahan dengan mbak kembar 😂 biasa lah, seperti kakak beradik, anak kembar pun bisa bertengkar. Sering malahan. Tak ada kisah cinta yang tertuang saat SMA. Palingan hanya kisah cinta monyet, ngefans dengan salah seorang kakak kelas yang tak pernah tersampaikan hingga kini. Bahkan hingga perasaan suka itu hilang dan lenyap begitu saja.
Nada benar menginap, dan kami benar-benar nonton hingga tengah malam. Keesokan harinya kami berniat untuk ikut CFD di jalan Sudirman-Thamrin namun akhirnya hanya menjadi wacana belaka karena selepas subuh kami tertidur kembali dan baru benar-benar membuka mata pukul sepuluh pagi. Acara untuk menjelajah Kota Tua pun batal karena kami terlalu malas beranjak pergi. Pagi sampai sore di hari Minggu memang paling cocok untuk bemalasan saja di kosan. Membalas dendam atas kurangnya waktu tidur di hari hari sebelumnya untuk kemudian esok harus berjumpa kembali di tempat kerja.
Dari selatan Jakarta hingga ke tepian Barat, banyak cerita yang mengalir, membuka kenangan, dan merumuskan kembali rancangan untuk waktu yang akan datang.
Semoga, lain waktu kita bisa berjumpa kembali, Nad. Untuk saat ini, nikmatilah Jakarta-mu, Jakarta kita.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Yang Sudah Terlewati di 2K18

Tak terasa ya sebentar lagi pergantian tahun. Tahun 2018 akhirnya terlewati juga~ satu kata yang bisa menggambarkan tahun 2018 saya adalah SURVIVE!

Loh kok?

Yhaa alhamdulillah di akhir 2017 saya mendapat rezeki pekerjaan yang mengharuskan saya move on ke Ibu Kota terhitung per tanggal 1 Januari 2018. Pekerjaan yang membawa saya pada kodrat pendidikan yang memang sudah saya tempuh 😂 bye bye kehidupan kantor dan selamat datang kembali hospital lyfe 🙏. Terus kenapa “survive” bisa menggambarkan saya di tahun 2018? Yaa karena ternyata nggak mudah sodara, adaptasi untuk hidup di belantara Ibu Kota *ciyah lebay banget pakai kata belantara segala. Apalagi buat manusia single macam eike, apalagi yang udah terlanjur nyaman sama kampung halaman dan fasilitas yang sudah diberikan kedua orang tua.

Menapaki tahun pertama di Jakarta membuat saya banyak bersyukur. Kadang (atau malah sering) juga ngeluh capek, pusing dengan riuhnya Jakarta. Biasanya kalau gejala sambat sudah mulai muncul saya harus segera cari koping. Saya suka jalan-jalan ke toko buku, museum, nonton film. Iya, sendiri. Nama kerennya sih: me time. Enak juga loh kemana-mana sendiri karena engga harus pusing mikirin schedule yang kadang kitanya pengin ontime tapi teman yang diajak pergi malah ngaret atau bahkan tiba-tiba batalin janji. Selalin itu bebas menentukan tempat tujuan. Saya kan orangnya gampang kepingin ya. Jadi, kadang niatnya cuma ke toko buku malah nambah melipir jalan ke mall nyari skinker hahaha. Random memang. Dan di Jakarta, pergi sendiri itu bukan hal ANEH. Mau ngopi cantik sambil makan donat, nonton film, ke toko buku, ke taman, bahkan ke mall pun biarpun sendiri tydak jadi masalah. Salah satu yang membuat saya mulai menerima kota ini. Jiaaahhh. Kalau kata Maudy Ayunda di lagunya sih,

Jakarta ramai, hatiku sepi

Wkwkwk. Plis, udahan deh curhatnya. Oh iya, nilai plus hidup sebagai Jakartans juga lumayan banyak loh. Salah satunya banyak sekali komunitas hobi disini yang kadang masih susah dijumpai kalau di daerah. Mau ikut komunitas pecinta game? Ada. Komunitas nggambar? Ada. Komunitas fotografi? Banyhaaak. Pokoknya banyak kesempatan untuk mengembangkan diri deh. Asal kitanya ada niat. Karena kalau sudah ada niat, inshaa Allah ada jalan.

By the way, dengan kembalinya saya di hospital lyfe otomatis saya harus adaptasi lagi dengan dunia per-shift-an. Dimana saya nggak lagi kerja senin-jumat, jam kerja saya sekarang harus sesuai shift. Seringnya libur di weekdays dan masuk di weekend. Maklum lah ya manusia single belum ada tanggungan anaq sama suamik jadi hampir selalu kena shift di weekend. Berangkat kerja pun seringnya berkebalikan dengan normal people. Dimana yang lain jam delapan malam itu pulang kerja, sayanya baru berangkat kerja 😂. Susah loh adaptasi ke jam kerja yang kayak begini. Di awal saya sempat stress haha. Apalagi di tengah tahun saya harus ikut pra jabatan dan diklat kurleb sebulan dan mengerjakan tugas yang seabrek. Sudah harus adaptasi, masih ada tugas pula. Rasanya ingin pulang kampung saja 😂 puncaknya adalah saat hari raya idul fitri saya kena shift dan nggak bisa mudik. Ini sih SEDIH BANGET. Inget banget tuh, suasana kosan yang super duper sepi karena memang almost penghuninya pada mudik lebaran. Tersisa aku sama teman aku seorang yang tydak bisa mudik. But, yeah Alhamdulillah sekali lagi saya bisa survive! Kali ini saya ingin berterima kasih pada diri sendiri karena sudah bisa bertahan dan melewati ini semua. Maaciw yaaa~ 😊

Oh iya di 2018 banyak juga saya mendapat kabar bahagia, termasuk dapat ponakan baru dari mbak kembar. ((Ya ampun, kembaran aku udah punya anak aja weiii!)), sahabat yang menikah, dan baru saja menerima kabar ada yang diterima PNS :).

Untuk 2019 sih saya nggak bikin resolusi. Sama seperti di tahun 2018, juga nggak pakai acara resolusi deh kayaknya. Eh sebentar, kalau nggak salah dulu pernah bilang ke sahabat kalau 2018 resolusi saya MENIKAH deng! Hahaha ya ampunnn. Tapi yha sudahlah, ternyata belum rezekinya untuk membangun rumah tangga #eaaa. Biarlah semua mengalir sajhaaa meski yang dulu pernah mengajak menikah sekarang sudah bersama yang lain. Lhaa kok malah curhat?

Okeeedeeeh babye gudbay. Semoga tahun 2019 kerjaan lancar, rejeki nambah, diberi kesehatan, orang tua sehat, ponakan sehat, sodara sehat dan jangan lupa bahagia ❤️