Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Orang Baik di Sekitar Kita

Selasa, 10 Oktober 2017.

Pagi tadi, kota Cilacap berawan tapi tidak hujan. Hanya udara lumayan panas. Saya yang semalam sengaja melupakan diri untuk tidak makan malam akhirnya terpaksa keluar kosan untuk mencari makanan pengganjal perut. Maka diputuskannya lah saya sarapan dengan nasi uduk. Sayangnya saya nggak beli nasi uduk “Umi” seperti yang biasa saya beli karena mungkin Umi yang asli Sunda itu sedang pulang kampung ke Garut sana. Ya, karena beberapa hari ini saya melihat warung di ujung gang itu tutup. Saya akhirnya beli nasi uduk di warung saingannya Umi. Penjualnya Mas Mas yang menurut saya cukup cute untuk menjadi penjual nasi uduk (?). Cukup 6 ribu rupiah dan perut pun kenyang.

Selesai sarapan saya bergegas untuk berangkat ke kantor. Ganti baju, pake make up, dan taraaaa! Saya kaget bukan kepalang saat akan menyalakan motor, “Loh kok mesin motornya mati?” Gumam saya dalam hati. Saya lirik jam, wih udah jam 7.24 Wib (kantor saya masuk jam 7.30). Dijamin telat nih nyampe kantor. Saya coba cagak berdiri (bahasa Indonesianya apa ya cagak berdiri itu? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚). Saya coba nyalakan tetap aja nggak bisa. Duh sedih kali, mana jadi keringetan. Luntur deh itu me’ap ๐Ÿ˜‚. Saya pun bergegas ke rumah bapak kos untuk minta bala bantuan. Bapak kos menawarkan diri untuk membantu mengantar ke bengkel. Alhamdulillah… sampai akhirnya tetangga kosan saya (kamarnya persis di sebelah kamar saya) keluar hendak berangkat kantor. Si masnya tanya kenapa saya panik dsb dan saya pun menjelaskan jika motor mogok. Si mas manggut manggut dan ikut mencoba menyalakan motor tapi sayangnya gagal juga. Si merah matic-ku kenapaaa? Hiks. 

“Sepertinya ada kabel yang putus mba, dibengkelin aja. Mbaknya berangkat bareng saya aja,” tawar si Mas baik hati ini. 

“Beneran Mas? Wah alhamdulillah… makasih ya Mas,” saya pun tersenyum lega. Alhamdulillah…. betapa Allah Maha Baik, Ia menurunkan pertolonganNya  melalui si Mas baik hati dan Bapak kos yang super perhatian. 

“Sudah mbak berangkat aja, biar motor saya antar ke bengkel, nanti saya ambil sekalian,” 

KURANG ROCK N ROLL APA LAGI COBA BAPAK KOS SAYA? pengin deh saat itu juga pelu ibuk Kos wkwkw. Habisnya baik banget sih โค๏ธ saya serahkan kunci motor dan berangkat ke kantor dengan senyum sumringah eh dengan keringetan karena ngeslah motor gagal terus. 

Dan bisa ditebak kan? Nyampe kantor sudah hampir jam 8. Saya telat banyak menit ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Hari ini mengajarkan betapa orang baik itu masih ada di sekitar kita. Saya jadi inget film Pay It Forward. Filmnya jadul banget, mungkin keluaran tahun 2003-2003. Menceritakan seorang anak kecil yang memiliki gagasan untuk menyebarkan kebaikan. Prinsipnya, jika hari ini kita menerima kebaikan/pertolongan dari orang lain, maka kita wajib membayarnya dengan menolong orang lain juga (tentunya orang yang berbeda). Nah si anak kecil yang punya ide itu mempraktekannya ke komunitas terkecil lingkungannya. Mulai dari keluarga, teman bermainnya, geng anak jalanan di sekitar rumahnya dan hasilnya keren banget! Semuanya berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan. Kalau dalam islam dikenal dengan Fastabikulkhairat.  Jika itu benar-benar dilakukan di dunia nyata, ah indahnya…….. 

Dan karena saya berangkat tidak membawa sepeda motor, pulangnya pun saya masih harus merepotkan orang lain. Terima kasih mba Monic sudah mau mengantar sampai kosan ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ˜˜

Rasanya hari ini itu…… lelah tapi semoga lelah ini Lillah…. Aamiiin. Selamat malam, selamat istirahat. 

Iklan
Diposkan pada Rumah Kata :)

[Fiksi] Kita yang Bertemu Sore Itu

Kala itu adalah senja. Di sebuah toko buku, seseorang menepuk pundakku pelan. Aku berbalik dan kulihat laki-laki itu berdiri di depanku. Tersenyum dan mengulurkan tangannya seraya bertanya, “Apa kabar Rayya?” 

Dan memory sepuluh tahun yang lalu kembali bermunculan. Hujan, terik, mendung dan dingin pernah aku habiskan bersama laki-laki di depanku ini. Sekali lagi, aku mencoba menghilangkan gemuruh yang muncul di dalam dada. Perasaan apa lagi ini? 

“Hai, kabarku baik,” itulah kata yang berhasil aku ucapkan.

Laki-laki itu kembali tersenyum. 

“Kau kaget ya?” 

“Iya. Ku kira kamu masih di Jakarta, lagi mudik?” 

“Ya begitulah, ada hari cuti yang belum kuambil. Ya sudah deh sekalian saja aku pulang kampung,” 

Aku terdiam. Susah sekali mencari topik pembicaraan di situasi seperti ini. 

“Senggang? Ngopi yuk, di lantai 1 katanya ada kopi enak loh,” ajaknya. 

“Kok kamu bisa tahu sih? Aku merasa gagal sebagai produk lokal,” 

Ia terbahak. 

“Rayya kamu ternyata masih sama,” 

Segelas machiato dan kopi hitam tersaji di meja. Masing-masing dari kami mulai menyesap minuman berkafein yang selalu penuh kejutan ini.

“So, how’s life?” Tanya laki-laki ini. 

“Beginilah,” 

“Kudengar sekarang ngajar ya? Jadi dosen?” Tanyanya. 

Aku mengangguk. 

“Ngajar apa?” 

“Coba tebak,” 

“Yang jelas kamu nggak jadi dosen matematika kan?hahaha,” 

Aku terbahak. Ah, ternyata ia masih mengingat mata pelajaran SMA yang tak kusukai. Sampai aku kuliah pun aku memilih jurusan yang tak bersentuhan dengan matematika. 

“Inget ga Ya, dulu waktu SMA kamu itu tomboi banget kan? Rambut dipotong pendek, kalau les pakenya jeans sama kaos, ga pernah mau pake baju model dress gitu. But, look at you now! Kamu berubah!” 

Ia memandangku heran. 

“Nggak usah lebay gitu deh. Life’s change, right? Kamu juga dulu cupu sekarang…Yah, okelah naik dikit levelnya” 

“Enak aja! Dulu aku nggak cupu kali! Buktinya fansku banyak,” belanya. 

 “Karena dulu mereka kagum dengan kemampuan matematikamu kan? Itu nggak mempan buat aku,” 

“Hahaha sudah lah, itu hanya masa lalu. Omong-omong aku lebih suka kamu berhijab begini, kamu berubah jadi cewe sejati,” 

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. 

Ternyata dia tidak berubah. Suaranya, tatapan matanya, cara dia mengajakku berbincang. Dia masing sama seperti Nanda sepuluh tahun yang lalu. Nanda yang selalu kukagumi karena kecerdasannya, keramahannya, kesabarannya dan semuanya yang ada pada dirinya selalu terlihat hebat di mataku. Hanya saja dulu aku terlalu bodoh untuk mengakui jika jauh di lubuk hati yang paling dalam aku menaruh rasa padanya. Hingga kini semuanya berubah. 

“Kamu datang bareng siapa? Sendiri?” Tanyaku. 

“Enggak. Aku dateng berdua. Sebentar lagi juga kesini. Aku udah bilang mau aku kenalin ke Rayya, sahabatku di SMA yang paling keren,” 

Aku tersenyum. Kau masih saja memujiku Nan… 

“Eh itu dia,” 

Seorang perempuan berjalan ke arah kami. Ia terlihat kewalahan membawa beberapa tas belanjaan dan juga pengaruh janin yang ada di kandungannya. Ya, perempuan ini tengah hamil. 

“Kenalin, ini Rayya. Rayya, ini istriku, Hani,” 

Hani mengajakku bersalaman.

“Nanda banyak cerita tentang kamu,” katanya. 

” Benarkah? Pasti cerita tentang kejelekanku kan? Haha,” 

Perempun berjilbab merah maroon itu tersenyum. 

“Kalau Nanda cerita tentang kamu, dan betapa masa SMA nya berwarna karena adanya kamu, kadang aku cemburu. Tapi setelah bertemu langsung, aku percaya apa yang Nanda katakan. Rayya memang wanita yang luar biasa,” 

Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Apa benar Nanda memujiku di depan istrinya? Untuk apa? Lagian dulu aku dan Nanda hanya sebatas teman. Emm, bukan juga sih. Kalau bisa dibilang TTMan yang hubungannya harus kandas di tengah jalan demi mewujudkan cita-cita. 

“Ehm, selamat ya atas kehamilannya! Semoga lancar sampai lahiran ya. Selamat Nan kamu bakal jadi ayah!” Kataku berusaha mencairkan suasana. 

Nanda tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Kami bertiga mengobrol sebentar sampai akhirnya aku pamit pulang karena sebentar lagi sepertinya hujan akan turun. Aku tak membawa jas hujan dan aku tak ingin basah kuyup di atas sepeda motor. 

“Hati-hati di jalan,” pesan Hani dan Nanda untukku. 

Sore itu mungkin menjadi sore paling kelabu di hidupku. Laki-laki yang selama ini aku harapkan ternyata telah menjadi harapan orang lain. Aku kalah. Aku patah. 

Dua hari kemudian aku mendapatkan sebuah pesan di emailku. 

Sahabatku, Rayya

Hai, senang rasanya bisa ketemu kamu. Rayya masih saja keren seperti dulu ya!  Hani senang akhirnya bisa ketemu langsung sama kamu. Ia titip salam. Oh ya  boleh minta izin? jika anak kami lahir, akan kami beri nama ia Rayya. Inginku agar ia kuat sepertimu. 

Rayya, 

Apakah sampai saat ini kamu masih sendiri? 

Jangan kamu terlalu asyik dengan diri kamu sendiri ya. Kamu butuh orang lain untuk melengkapimu. Kamu perlu bahagia. Hidup harus seimbang kan? Memberi dan menerima. Untuk melakukan itu kau butuh partner. Pendamping. Pasangan. 

Aku tahu suatu hari, tak lama lagi aku dan Hani akan datang ke pesta pernikahanmu. Kau pasti akan cantik sekali di hari itu. Bersanding dengan Pangeran yang berhasil memenangkan hatimu. 

Rayya yang baik. Pasti akan ada laki-laki yang datang untukmu. Dulu memang sempat ada dipikirku, jika laki-laki itu adalah aku. Tapi sepertinya tipe laki-laki idamanmu tidak ada pada diriku. Kau selalu mengatakan, jika laki-laki yang tampan itu seperti Chris Martin, sang vokalis band legendaris Coldplay kan? Jelas sekali aku tak bisa bersaing dengannya ๐Ÿ˜‚

Rayya, 

Aku dan Hani selalu berdoa yang terbaik untuk kamu. Semoga kamu sehat dan bahagia selalu. 

Oh ya, saat anak kami lahir, boleh ya ia memanggilmu Onti Yaya? 

ps:kutulis ini karena tak kulihat cincin di jari manismu

Tangisku pecah bersamaan dengan turunnya hujan pertama di bulan Oktober. 

Saat ini yang bisa membuatku merasa lebih baik adalah aku pernah berada di suatu sore saat kami bertemu kembali. 

End

Diposkan pada Others

Weekend vibes: Menuju Ibu Kota

Weekend kali ini saya habiskan dengan jalan-jalan ke Ibu Kota. Demi mewujudkan ini seminggu sebelumnya saya harus lembur di kantor, empat hari berturut-turut. Saya mau tak mau harus pulang diatas pukul 20.00 wib. Menyelesaikan semua pekerjaan akhir bulan agar tak disuruh lemburan di hari Sabtu. Maklum, tiket sudah saya pesan dan sangat sangat tidak menguntungkan jika perjalanan ini saya tunda. Berangkat dari stasiun Purwokerto bersama mbak kembar dengan diantar Bapak dan Ibu tercinta. Seperti biasa sebelum berangkat ibu terus mengingatkan, “sudah bawa minum?”, “minyak anginnya jangan lupa,” “kabar-kabar kalau sudah sampai Jakarta,”. Ibu masih menganggap saya dan mbak kembar seperti putri kecilnya. Padahal sebentar lagi usia kami genap seperempat abad ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Ya sudah gapapa, namanya juga orang tua, pasti selalu mematiskan semua akan baik-baik saja. 
Kami berangkat dari stasiun Purwokerto menuju Gambir. Kereta Taksaka malam itu lumayan penuh. Saya memilih duduk di samping jendela agar bisa melihat pemandangan (meski hanya kerlip lampu perumahan atau kendaraan bermotor ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚) dan mbak kembar harus mengalah dengan duduk di samping lorong. 

Perjalanan ke Ibu Kota kali ini memang kami rencanakan cukup lama. Hanya saja pelaksanannya menunggu mbak ipar saya lahiran. Alhamdulillah tanggal 23 September 2017 keponakan pertama saya lahir. Its a baby girl! Saat itu hari sabtu, Bapak dan ibu serta dua saudara segera meluncur ke Depok demi melihat cucu pertamanya. Pokoknya so sweet deh, ibu bahagia banget melihat cucu perempuan pertamanya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š. Dan saya memutuskan untuk menengoknya seminggu kemudian. Maka dipilihnya weekend ini. Hore akhirnya liburan! Melupakan sejenak semua kenyataan perih di kantor karena baru ditinggal 2 rekan kerja sekaligus karena habis kontrak (bye mas Jhon dan mas adit, i’ll miss you ๐Ÿ˜ญ). 

Pukul 04.19 WIB tibalah kami di stasiun Gambir. Keretanya telat kurang lebih 30 menit dari jadwal sebenarnya yaitu pukul 03.45 wib. Capek deh. Tapi gapapa juga sih, lagian saya juga harus menunggu sampai jam 6 karena akan naik KRL menuju Depok. Setelah bersih-bersih (baca: cuci muka dan sikat gigi)dan shalat subuh, mbak kembar segera memesan transportasi online untuk membawa kami ke stasiun Juanda. Kakak saya mengatakan akan menjemput di Juanda. 

Alhamdulillah pukul 07.30. Wib sampailah kami di stasiun Depok Baru. Saya dan Kakak segera menuju RS karena akan menemani mbak ipar kontrol pasca lahiran. Sedangkan mbak kembar kembali menggunakan jasa layanan transportasi online menuju rumah kakak. 

Capek juga ternyata setelah perjalanan kurleb 5 jam di atas kereta masih harus dilanjut nemenin mbak kontrol di RS. Namun rasa lelah itu terbayar saat melihat keponakan pertama saya. Terharu, akhirnya  mas dan mbak diamanahi buah hati juga ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š semoga jadi anak yang shalihah ya dedek, menghormati orang tua dan selalu menjadi pribadi yang baik. Aamiiin. 

Perjalanan kali ini saya dan mbak kembar banyak menggunakan jasa transportasi online. Ternyata di kota besar seperti Jakarta, layanan transportasi online cukup bermanfaat yha. Dan saya melihat banyak dari mereka sliwar sliwer menggunakan jaket dan helm kebanggannya masing-masing. Terlepas beberapa orang yang mungkin pernah dikecewakan, saya malah alhamdulillah nggak pernah dikecewakan oleh jasa tranportasi online ini ๐Ÿ˜‰ 

Oke deh, sekian cerita weekend saya kali ini. Semoga besok bersemangat lagi mengumpulkan recehan demi recehan agar bisa ke Depok lagi dan melihat keponakan tercinta โค๏ธ. 


(Muka kucel setelah naik krl depok-juanda) 

Perjalanan Gambir-Purwokerto, ditengah mendungnya langit sore Jakarta. 

Diposkan pada Rumah Kata :)

[FF] Di Penghujung Agustus

Namanya Ge. Lengkapnya Geribaldi Witjaksono. Lelaki yang kali ini mampu mencuri malam-malam panjangku hanya untuk berbincang bersama. Lelaki yang hanya karena senyum dan tingkah lakunya membuatku merasa lebih bahagia. Lelaki ini…..dia yang pertama kali kutemui di atas Taksaka.

***

“Din! Belum pulang? Mau bareng?” Sapa Ben, teman sekantorku. Ia menurunkan kaca mobilnya dan bisa kulihat lagi tatapan cemasnya.

“Sorry Ben, duluan aja,” jawabku.

“Masih nunggu Ge?”

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Ya sudah, tunggu di lobi aja Din, kasian kamu ntar kedinginan,”

Aku mengangguk. Ben melambaikan tangannya lantas pergi memacu mobilnya.

Lima belas menit berlalu. Dan seorang Ge belum juga menampakan dirinya. Rupanya aku mulai lelah menunggu.

Kemana sih Ge ini? Satu jam yang lalu dia kirim pesan akan pulang cepat demi memberiku surprise. Berkali-kali kuyakinkan dia kalau hari ini bukan hari ulang tahunku, bukan juga hari anniversary kita. Lagian, Ge ini gimana sih? Katanya mau surprise kok bilang-bilang sih?

“Supaya kamu dandan cantik. Biasanya kalau aku bilang langsung pulang, kamu abai dengan penampilanmu,”

Tulis Ge. Aku hanya tersenyum saat membaca pesannya. Dan kali ini demi menjawab permintaannya aku melakukan touch up sederhana. Mungkin, bedak dan gincu favoritku ini bisa membuat lelakiku ini senang.

Sepuluh menit kemudian datanglah dia yang kunanti. Kupasang wajah cemberut saat laki-laki itu melepas helmnya.

“Maafin aku Din, ada rapat mendadak,” Ge menggaruk rambutnya yang kukira tidak gatal. 

Aku masih diam saja demi menunjukkan kekesalanku.

“Kamu marah ya Din?”

“Enggak,”

“Ya sudah kalau kamu nggak marah, sini kubantu pasang helmnya,”

Ge meraih helm berwarna merah maroon, helm khusus yang ia berikan kepadaku karena hampir tiap hari aku menjadi pengojek setianya. Aku pasrah saja saat ia memakaian helm di kepalaku.

Ge menyalakan mesin motornya dan kami pun membelah jalanan kota Jakarta bersama.

“Katanya kamu mau kasih aku surprise, ayo dong apaan, udah gak sabar nih,” tanyaku disela-sela deru motor dan angin.

“Emang kamu penginnya dapet kejutan apaan Din?”

“Mmm…tiket pesawat buat liburan ke Jepang?”

“Hahahaha becanda ah Din,”

“Oh iya, mungkin kamu mau kasih aku seekor Panda?”

Ge menurunkan kecepatan sepeda motornya.

“Panda?? Bukannya di kamarmu udah banyak Panda ya. Bisa dijadiin bantal pula,”

“Idiiih itu mah boneka Ge. Aku penginnya yang asli, bisa dipeluk-peluk lucu gitu,”

“Ya udah kamu peluk aku saja, anggap saja aku ini Panda yang punya perut sixpack,”

Aku tertawa mendengar jawaban Ge. Kamu, Ge, memang selalu bisa membuatku tertawa seperti ini.

“Ge kita mau kemana?” Tanyaku saat Ge mengarahkan motornya di sebuah parkiran.

“Lihat aja,” jawabnya sok penuh teka-teki.

“Eh ini kan stasiun Gambir. Ngapain kita kesini Ge?”

“Udah, ikut aja yuk,” Ge mengamit tanganku. Dan aku hanya pasrah mengikuti langkah-langkah panjang laki-laki ini.

Ge mengajakku duduk di sebuah bangku panjang tempat para calon penumpang kereta biasa menunggu.

“Ge…kita ngapain sih disini? Atau…jangan-jangan kamu mau pergi? Kamu mau kemana Ge?”

Ge tersenyum mendengar pertanyaanku.

“Tenang Dina, aku nggak kemana-mana kok, aku kan selalu ada untuk kamu,”

“Kamu diajarin siapa ngegombal begitu?”

Ge terkekeh.

“Btw kamu malam ini cantik banget, Din”

Aku merasakan jantungku berdebar dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Kucoba kuatur napasku dan berusaha menyembunyikan bahagia yang luar biasa ini.

“Kamu laper ya Din? Kok diem aja,”

“Aku kaget aja, nggak biasanya kamu memuji aku cantik. Tapi, terimakasih, aku senang,”

“Sama-sama,”

Rasanya pengin ketawa melihat sikap Ge yang aneh begini. Ya, karena Ge tak pernah bersikap setegang ini.

“Din, masih ingat setahun yang lalu? Kereta Taksaka dan novel ini?” Ge tiba-tiba mengeluarkan sebuah novel yang halaman  covernya sudah lusuh dari dalam backpacknya.

“Critical eleven nya Ika Natassa,”

Ge mengangguk.

“Kau tahu Din, saat pertama kali kita bertemu setahun yang lalu aku tak pernah ada pikiran untuk bisa mengenalmu lebih dalam. Aku pikir kamu hanya penumpang biasa yang kebetulan cantik dan baik. Cewek yang kebetulan asyik untuk diajak ngobrol selama perjalanan. Tapi ternyata takdir membawa kita untuk bertemu lagi. Dan kupikir dari hari itu sampai sekarang aku semakin jatuh cinta padamu,”

Ge memandangku lekat. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.

“Ge, please, kamu mau melamar aku disini?”

“Kok tebakanmu selalu bener sih Din?”

“I know you well, Ge,”

Ge kembali tersenyum. Kuraih jemarinya yang dingin, kukira karena saking nervousnya dia.

“Ge, makasih ya. Aku senang malam ini,”

“Din, bentar ini belum selesai. Kejutan utamanya baru ini,”

Ge memberi kode berupa tepukan. Dan sekelompok orang yang biasa bernyanyi di stasiun Gambir mendekat.

Dan….mengalunlah lagu kesukaanku itu…..

//…..Bila nanti saatnya ‘tlah tiba. Kuingin kau menjadi istriku….berdua bersamamu dalam terik dan hujan, berjalan kesana kemari dan tertawa~ //

“Kalau kau mau, minggu depan aku akan ke rumahmu untuk minta ijin ke Bapak,”

“Untuk?”

“Untuk meminang anak perempuannya yang paling cantik,”

Ge memandangku lagi.

Kupejamkan mataku sejenak. Memori setahun lalu kembali bergerak. Statsiun Gambir, Taksaka, aku dan Ge, juga novel Critical Eleven yang menjadi awal perbincangan kami. Semuanya tertata rapi kembali. Kuingat senyum hangat Ge saat menawarkan minum. Sampai pertemuan tak disengajaku dengan Ge di lobi kantor. Kali kedua itu lah yang akhirnya mendekatkan kita.

Kali ini kutatap lagi mata laki-laki ini. Kulihat ada kesungguhan didalamnya.

Akhirnya aku mengangguk dan kugenggam tangannya lebih erat lagi.

“Ge, aku mau hidup bersamamu,”

End.

***

Ehm.

Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari lagu Akad-nya Payung Teduh. Yuhuuuu, kalian pasti tahu dong lagu ini yang lagi ngehitsnyaaa dan sungguh sangat romantis sekali liriknya. Cucok meong lah buat dinyanyikan di hari pernikahan. Ecie. 

Jadi, karena suka banget sama lagu ini. Bingung mau diapain (?), akhirnya saya tuangkan dalam bentuk flash fiction saja. Oh iya, FYI ini saya nulisnya di HP, maap aja kalau acakadut. Besok kalau ada waktu dan sedang online di PC saya percantik lagi deh. Dan lagi ini kali pertama saya nulis fiksi dan cecintaan setelah kurang lebih setahun vakum tidak menulis fiksi ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.

Diposkan pada Others

Hai

Hai.

Sepertinya hampir satu bulan rumah ini tak berpenghuni. Apa kabar Layang-Layang Sore? Apakah kamu masih bertahan mengudara di atas sana? Atau malah limbung tertiup angin? ๐Ÿ˜„ sepertinya rumah ini harus dibersihkan dari debu-debu yang berterbangan terlebih dahulu #siapin sapu dan sulak. Btw, untuk yang nungguin postingan saya (emang ada yang nungguin? ๐Ÿ˜ณ) saya mau minta maaf : sorry fans sudah bikin kalian penasaran. Sini peluk satu-satu dulu ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ #dih sok sokan punya fans. Geli banget bacanya wkwk.

So, what’s up Destini? Selama sebulan ngilang dari peredaran kamu ngapain aja siii?

—> first, saya ini nggak sengaja ngilang dari peredaran kok. Bolehlah di dunia maya saya sepi-sepi aja, tapi di kehidupan nyata saya hidup normal kayak biasanya. Senin-jumat ngantor. Sabtu-minggu jadi manusia gua. Sebenarnya di hari-hari vakum ngeblog saya banyak mengalami hal-hal menarik tapi entah mengapa saat akan dituangkan dalam bentuk tulisan kok yo rasane piyee ngunu. Kurang ‘sreg’. Dibaca kok rasanya kurang ‘ngena’. Hmmm mungkin ini yang dinamakan writter’s block kali yah *ceilah gaya beneeer, udah kayak penulis penulis tenar aja mengalami writers block wkwk*

—> poin kedua, HP saya mulai ngambek. My siaomay sepertinya sudah terlalu tua untuk diajak eksis. Karena ‘lola’nya dia, saya terpaksa harus keluar dari beberapa group whatsapp salah satunya grup blogger kece #Obrolin (Maaf teman-teman, HP saya lagi ngambek, terpaksa saya hilang dari peredaran dulu yaaa). Saya juga harus uninstall Line, Dictionary, Photogrid dan beberapa aplikasi lainnya. Sedih? Iyaa jelas dong. Biasanya kan wa saya ramai sama diskusi dari teman-teman #Obrolin. Semoga saja si siaomay ini lekas dapat ganti yang baru. Aamiiin #bukankodekok wkwkw ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ nabung cyin.

Terus, kenapa akhirnya update blog juga?

——> hahahaha ini sih karena saya merasa blog udah kelamaan mati suri. Yaaah daripada jadi sarang laba-laba mending saya coba Isi lagi. Lagian kemarin dapet wa (sebut saja fans ๐Ÿ˜) yang minta cerita horror yang pernah saya tulis dilanjutin lagi. 

Untuk pertanyaan itu….emmm….maaf….saya belum minat nerusin…hehe. Mungkin lain waktu kali yah saat feel horornya dapet wkwkwk ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ*btw gimana sih caranya dapet feel horor?

Sebentar lagi Agustus berakhir. Hmm..2017 tinggal sisa 4 bulan lagi. Resolusi resolusi di awal tahun mulai saya ditengok kembali. Dari 3 resolusi hanya satu yang sepertinya masih belum ada tanda-tandanya. Apa itu?

Hmm..nanti sajalah…kapan-kapan saya ceritakan.

Lagi-lagi, sebenarnya malam ini pun banyak banget yang pengin saya tulis. Namun apadaya mata sudah mengantuk. Ingin rasanya segera berwisata ke pulau kapuk. Okedeh sekian dulu update-an dari saya. Siapa tau di updatean berikutnya saya udah nggak galau lagi wkwk (curhat bu?)

Bye-bye.

Gud nite โค๐Ÿ’‹

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Menikmati Sabtu Pagi di Dream Land Park

Hallo Sabtu ๐Ÿ™‚

Alhamdulillah akhirnya bertemu hari Sabtu juga. Hari yang sudah dinanti nanti sejak hari Senin. Biasalah..buat orang macam saya yang kerjanya di kantor, di ruang berAC dan mostly of my time dihabiskan di depan komputer. Rasa-rasanya bertemu hari Sabtu adalah suatu kebahagiaan yang hqq ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Sabtu yang tak perlu bangun pagi (tapi akhirnya tetep bangun pagi juga), tak perlu buru-buru sarapan dan berangkat kantor, finally bisa dihabiskan leyeh leyeh seharian di kasur sambil nonton film di laptop. Ah, indahnya Sabtu…โคโคโค

Oke. Namun Sabtu kali ini ternyata tidak bisa saya habiskan dengan sekedar leyeh-leyeh di kasur layaknya Sabtu Sabtu saya yang lain. Sabtu pagi ini saya habiskan dengan…..berenang! Eh tepatnya nonton orang berenang sih hihihi. Jadi, mbak kembar semalam ngajakin renang di sebuah kolam renang hits di deket rumah. Tempat wisata air tersebut adalah Dream Land Park Spring Water. Letaknya di kec. Ajibarang kab. Banyumas, kurang lebih 15 km dari kota Purwokerto. Mungkin mbak kembar kasihan lihat wajah adeknya yang udah pingin piknik tapi nggak ada yang ngajakin. Jadilah untuk menghibur saya, dia pun inisiatif ngajakin saya renang. Makasih loh mbak. Kau baik hati sekali. Ehem.

Nah pertanyaannya kenapa saya nggak ikut nyebur? Percuma kan datang ke kolam renang tapi ujung-ujungnya baju nggak basah? Hayooo kira-kira kenapa coba????

Bukan, bukan saya nggak bisa renang. Gini gini saya bisa renang meski pakai gaya alakadarnya alias yang penting bisa *ngambang* atau berpindah dari titik satu ke titik lain ๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ mengingat saya bukan perenang pro dan nggak pernah ikutan les atau semacamnya. Bisa renang pun karena tuntutan mata pelajaran saat SMP dan SMA yang salah satu penilaiannya adalah: bisa renang minimal meluncur wkwkwk. Saya memutuskan nggak ikut renang karena takut gosong, eh nggak deng. Yap, Karena saya sedang PILEK! Huhuhu sedih banget padahal kan hasrat renang sudah tak tertahankan ๐Ÿ˜ข tapi daripada pilek makin parah maka saya putuskan untuk jadi penonton saja. Ngetawain mbak kembar dan Mega yang renang tapi malah ngobrol berdua di bawah pancuran. Alesan mereka sih neduh biar gak gosong. Lah? Maksud lau ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Meski tergolong dekat dari rumah (hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mencapai lokasi), saya baru pertama kali main ke Dream Land. Selain karena saya jarang di rumah, kalau ke Dream Land seringnya saya mikir dua kali karena selalu ramai. Objek wisata ini sudah cukup terkenal sampai kabupaten tetangga soalnya. Sebagai orang dengan kepribadian yang katanya introvert (btw menurut hasil test di suatu web psikologi saya ini berkpribadian introvert) saya memang tak terlalu suka keramaian. Saya lebih suka menyendiri di pojokan (lah emang cicak?). Nggak kok, nggak segitunya. Kalau kata temen saya sih saya introvert hanya diawal-awal saja. Alias sama orang baru saja. Kalau udah kenal sih akhirnya bisa berisik juga ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Oke balik ke topik awal…..

Dream Land Park sendiri memberikan beberapa fasilitas kolam renang yang menurut saya lumayan lah untuk dicoba. Ada 3 kolam dewasa dengan slide yang cukup menantang, lebih dari 5 untuk kolam anak, ada kolam ombak, terapi ikan dan wahana bermain anak lainnya

โ€‹
Bagi saya cukup menghibur juga main main disini. Meski gak main air dan cuma jalan jalan saja sih hehe. Cukuplah untuk olahraga bagi saya yang kebanyakan duduk ini. Oke sembari menunggu mbak kembar dan Mega berenang, saya update cerita di blog alakadarnya ini. Updatenya sambil mengamati anak-anak yang asyik berenang di kolam renang Sambil pasang wajah mupeng. Oh ya slide di Dream Land ini sepertinya cukup menantang. Lain waktu jika pilek saya sudah sembuh bolehlah icip icip renang disini 

๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ

โ€‹

โ€‹

โ€‹
โ€‹โ€‹

Tiket masuk: dewasa 30k idr. Anak-anak 15k idr. 

Minus: karena ruang terbuka jadi pengunjung bebas merokok :((((( sediiih deeh sediiih

ps: Nungguin mbak kembar selesai renang. Katanya setelah ini mau ditraktir sosis bakar hihihi

Diposkan pada Others

Sekilas #Catatan di Libur Lebaran

Jalan-jalan saat libur lebaran, it’s a wrong decision! Dimana-mana macet, dimana-mana ramai.

Lebaran memang menjadi moment yang cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Mudik dan sekalian silaturahmi. Hari kamis kemarin saya dan keluarga memilih menghabiskan waktu liburan dengan nonton film. ย Dasar hobi nonton, waktu libur pun tak boleh lepas dari nonton! ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ dan film yang kami tonton adalah…Transformers The Last Knight. Jujur aja sih, saya sebenarnya nggak ngikutin serial Transformers. Pernah nonton seri 1 yang bintangnya Shia LaBeouf itu…mas Shianya masih muda belia dan ganteng luar biasa. Sayangnya waktu itu saya nontonnya nggak sampai selesai karena bosan di tengah jalan hahah payah. Lagian dulu pas transformers satu keluar saya masih SMP, genre film yang saya tonton masih sekelas film-film Indonesia macam Me vs High Heels getooo ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Wkwk.

Filmnya sih menarik. Cukup menghibur lah karena banyak jokes yang sukses bikin ngakak. Saya juga jatuh cinta sama autobotnya yang keren keren banget. Ini saya nontonnya masih versi 2 D loh. Coba kalau 3D, mungkin tambah mesmerized hihihi. Di seri ini tampilan Optimus Prime tambah keren! Ada juga si kecil cabe rawit Bumblebee! Terus Megatron juga jadi keliatan perkasa. Mungkin karena efek sinematografi yang lebih canggih juga ya *dan efek saya nonton loncat dari seri 1 langsung ke seri ini ๐Ÿ™ˆ

Minusnya sih karena saya nontonnya di libur lebaran jadi bisokopnya ramai bangetttt! Untungnya kakak saya booking tiket H-2 nonton jadinya nggak perlu ngantri panjang. Cumaa yaa tetep aja harus nunggu sebelum studio 1 tempat kita nonton buka dan nunggunya sambil pusing liat orang-orang yang ngantri tiket. Kasian juga liat banyak anak kecil yang ngikut antri dan mukanya pada capek gitu :(.

โ€‹
Suasana di dalam CGV cinema Rita Mall Purwokerto

โ€‹
suasana di Rita Mall Purwokerto menjelang maghrib. Taken by Kakak pertama.

Padahal ya di Purwokerto sendiri sudah ada 2 bioskop loh. Tapi sepertinya bertambahnya bioskop diikuti juga dengan bertambahnya penikmat film. Saya melihat banyak anak seusisa SD-SMP mereka datang rombongan bareng teman-temannya, booking ticket untuk geng mereka, terus merasa jadi anak gaul sedunia wkwk. Duh, jadi inget pengalaman nonton bioskop pertama kali pas kelas 1 SMA. Rasanya tuh seneng banget! Pulang sekolah di hari sabtu, naik angkot bareng temen-temen buat nonton Laskar Pelangi di Bioskop hahaa. Langsung merasa jadi anak gaul seduniaaah pemirsah! #alay.

Selepas nonton, karena lapar saya dan kakak-kakak pun melipir ke gerai makanan. Dan lagi-lagi ngantri panjang banget! Untuk pesan sekotak pizza take away harus nunggu kurleb 45 menit. Wah wah, hati-hati nih di jam lapar seperti ini adalah jamnya orang berubah menjadi sensitif. Udah laper, capek dan masih harus ngantri pulak. ย Hati-hati senggol bacok ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Karena nunggu yang terlalu lama ini akhirnya kami melipir ke Mushala untukย shalat maghrib dulu (dan lagi-lagi mushalanya penuh juga, wudlu nya harus ngantri panjang kayak ular). Maklumin aja lah, namanya juga lagi liburan. Ye kan? Lagian syukuri juga tuh jika mushala penuh berarti masih banyak orang yang inget akhirat di saat kenikmatan dunia terhampar di depan mata #ceilah #tobat.

Kelar shalat dan pesanan udah jadi kami pun pulang. Dan lagi-lagi jalanan sekitar mall macet. Hmm..dimana-mana ramai. Padahal ini sekelas kota kecil Purwokerto loh. Gimana Jakarta coba? ๐Ÿ˜‚ menghadapi kemacetan yang kelasnya masih remahan rengginang saja saya sudah pusing apalagi macetnya Jakarta yang sudah kelas kakap ๐Ÿ˜–๐Ÿ˜–๐Ÿ˜–. Ternyata saya nggak cocok jadi anak metropolitan.

Beginilah magnet libur lebaran. Meski macet-macetan, meski ramai, meski bikin pusing tetap saja dilakukan. Yah, karena kalau melakukannya dengan orang-orang tercinta apalagi keluarga semuanya tetap menyenangkan. Begitu.

Hari ini sudah masuk bulan Juli. Kok cepet ya? Bentar lagi 2017 habis dong? Kok masih jomblo? Wkwk ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ yaa sudah lah, dinikmati saja 2017 yang sudah habis setengahnya ini. Semoga dikuatkan untuk menghadapi sisa 2017 yang akan datang. Aih, aih, semangat cyin!!!!

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Lebaran atau Lebar-an?

Hello!

Welcome back to my #acakacakan blog ๐Ÿ˜‚ gimana kabar perut? Semakin membuncit kah? Gimana kadar LDL, HDL, Kolesterol? Masih aman kah? Hahaha meski lebaran makanan melimpah ruah, please jangan kalap ya teman-teman. Kasian tuh perut kaget ๐Ÿ˜… ini lebaran bukan lebar-an? *nengok lingkar perut sendiri*

Gais..nggak kerasa yaa lebaran yang dinanti sudah lewat saja. First time saya mengucapkan:

“Taqobalallahu minna wa minkum. Selamat hari raya idul fitri 1438 H teman-teman blogger semua ๐Ÿ˜Š maafkan semua salah saya yaa baik yang disengaja atau tidak. Mungkin pernah komen nyelekit di blog kalian, atau kalian komen terus lupa gak saya balas ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ maafin segala salah dan khilaf saya yaa. Semoga tahun depan masih bisa bertemu dengan ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat. Aamiin”

Kegiatan lebaran saya sepertinya hampir sama dengan orang-orang kebanyakan. Bangun subuh, Mandi, shalat subuh, sarapan (it’s sunnah), siap-siap ke masjid, shalat id dan salam-salaman. Jika lebaran masjid deket rumah jadi berasa keciiiil banget karena membludaknya jamaah. Terus seperti biasa saya banyak nggak kenal sama muka-muka baru yang ternyata mereka adalah para perantau yang lagi pada mudik. Si A yang ternyata istrinya mas B. Anak Y yang ternyata anaknya mas C. Hadeuh, pusing sayanya. Dan lagi! Kawan SD saya terkhusus yang cewek-cewek udah pada gendong baby! ๐Ÿ˜ฑ oemji, baper he eh? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ ย #nggakusahnanya!

Lebaran kali ini rumah cukup sepi karena ini pertama kalinya lebaran tanpa mbah kakung dan Mbah putri ๐Ÿ˜ข sedih emang, biasanya kan habis minta maaf sama ibu Bapak kita langsung cus ke rumah mbah untuk maaf-maafan. Sekarang nggak lagi. Tapi ga papa, inshaa Allah mbah sudah tenang disisiNya. Aamiin.

Lebaran kali ini pun tanpa kehadiran mas dan mbak karena lebaran di orangtua mbak ipar di Surabaya sana. Jadi lah ibu, Bapak, saya dan mbak kembar, berempat ย keliling ke rumah sanak saudara. Mulai keliling jam 9 pagi nyampe rumah jam 4 sore. Ya ampun rasanya capek kuadrat! Keluarga saya memang nggak mengenal istilah mudik karena saudara ibu dan Bapak masih satu kecamatan ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ mudik bisa ditempuh dalam waktu 15 menit hahaha. Hemat waktu dan duit euy! :p :p Cuma paling lusa kalau jadi mau ke Slawi, ke rumah saudara Bapak. Itu yang paling jauh haha.

Oya, biasanya kalau lebaran gini, keluarga ngumpul di tempat pakde selaku saudara tertua dari ibuk. Enaknya, kalau di tempat pakde itu banyak makanan dan rame! Secara anaknya pakde banyak dan saudara dari ibuk juga pada ngumpul disitu. Menu lebaran kemarin bude dan mbak mbak masak bakso ikan patin. Hmm..sedaaap! Saya sampai habis dua mangkok hahaha #kalap maaaak.

Alhamdulillah lebaran day 1 and day 2 terlewati dengan lancar jaya meski diwarnai dengan pertanyaan serba “kapan?” “Siapa calonnya?” “Siapa duluan? Atau mau barengan?” Deuuuuw. Semua sudah bisa kujawab dengan….“MINTA DOANYA AJA BUDHE, BULIK, PAKDE, PAKLIK,” ย kemudian kasih bonus senyuman paling manis. #eaaaak

Lebaran oh lebaran, ternyata dikau cepat sekali berlalu. Segala euforia akan terganti dengan rutinitas seperti biasa. Ngantor lagi, nyari recehan lagi. Ah, gapapa, nggak usah dipikirin, semua itu masih minggu depan juga! ๐Ÿ˜‚ sisa liburan kali ini harus dimanfaatkan dengan baik! Yosh!

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Kawan Lama yang Tiba-Tiba Datang Menjemput

Malam tadi selepas isha saya memutuskan untuk pulang ke rumah. Sisa-sisa berkas lemburan masih bertebaran di meja. Rasanya jenuh dan muak sekali melihat tumpukan berkas yang tak kunjung mengikis ini.

Jam menunjukan pukul 19.40 WIB. Setelah mampir bentar ke kos untuk mengambil baju kotor, lekas saya memacu kendaraan menuju rumah. Sepanjang jalan pulang suasana cukup ramai. Suara kajian di masjid-masjid pinggir jalan pun samar-samar terdengar. Lebih banyak lagi orang-orang yang berkendara memenuhi jalan raya untuk tujuan bertemu keluarga atau memang hanya sekedar melepas penat semata.

Keluar dari wilayah kota Cilacap, volume kendaraan mulai berkurang dan sepi mulai menggelayut. Sebelumnya saya tak pernah pulang selarut ini. ย Jika ingin mudik ke rumah maksimal pukul 18.00 WIB saya sudah harus keluar kantor. Malam ini pun awalnya saya tak ingin pulang ke rumah karena besok di hari Sabtu masih ada jadwal lembur lagi ๐Ÿ˜ฉ namun, sepertinya batin ini sedang membutuhkan asupan kasih sayang dari keluarga tercinta. Hingga akhirnya saya nekat untuk pulang saja.

Memasuki kawasan Jeruklegi (arah Cilacap-Wangon) volume kendaraan semakin menurun drastis. Hanya ada satu dua sepeda motor dari arah berlawanan. Saya pacu si merah dikisaran 60 km/jam. Tak boleh lebih, janji saya terhadap diri sendiri. Jujur, saya masih trauma memacu kendaraan terlalu kencang karena dulu akibat saya naik motor dengan kecepatan ala ala Valentino Rossi, saya pun jatuh dan lukanya masih membekas hingga sekarang ๐Ÿ˜ข. Sepanjang jalan saya banyak berdoa. Selain suasana sepi, hujan juga mulai turun cukup deras. Ini menambah penderitaan saya karena kacamata menjadi berembun dan jarak pandang menipis. Kalau kalian para pengguna kacamata pasti tahu lah bagaimana rasanya. Epic sekali. Hingga akhirnya peristiwa itu pun terjadi.

Di sebuah tikungan di depan saya ada truck tronton gandeng yang membawa muatan entah apalah itu. Karena saya pikir suasana sepi, jadilah saya mencoba mendahului/nyalip truck tersebut. Bodohnya, saya mencoba mendahului di tikungan. Dan saat mencoba mendahului truck ini, di depan saya dari arah berlawanan datang Bus PATAS. Allahurabbi! Saya kaget. Saat itu kondisi jalan sempit, hujan dan saya terjebak di dua kendaraan super besar. Sambil berusaha tetap tenang, saya pencet klakson mencoba memberi tahu si sopir tronton jika saya berada di sampingnya. Alhamdulillah, Bus PATAS tidak sedang melaju dengan kecepatan penuh sehingga semuanya bisa dikondisikan. Sopir truck tronton pun bahkan mau menghentikan kendaraannya. Can you imagine that? Saya persis berada di tengah-tengah dua kendaraan raksasa ini. Saat truck tronton berhenti, bus melaju perlahan. Ya Allah…saya mengucap syukur berulang-ulang. Saya ucapkan terima kasih kepada supir truck dengan membunyikan klakson. Semoga Pak supir nan baik hati ini mengerti sinyal sinyal yang saya berikan. Saya tidak bisa membayangkan jika Supir truck ini egois dan tetap melajukan kendaraannya. Akankah saya sekarang masih bisa menulis catatan ini? Saya pikir tidak.

Sepanjang sisa perjalanan pulang saya istighfar berkali-kali. Saya banyak baca doa sampai saya menangis. Kacamata yang sudah buram karena air hujan akhirnya tambah buram lagi oleh airmata sendiri. Duh, sedih.

See?

Kematian adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kita. Dan kapan pun bisa datang menjemput. Jika Allah sudah mengutus malaikat maut untuk menjemput umatNya, lantas kita bisa apa? Karena Allah sudah mengabadikannya dalam firmanNya jika setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Termasuk saya, kamu, kita.

Jika kawan lama ini menjemput saya suatu hari nanti apakah amalan saya telah cukup?

Apakah saya dijemput dalam keadaan baik?

Apakah kesalahan yang pernah saya perbuat pada teman, keluarga, rekan kerja yang kiranya luput dari ingatan saya dan saya belum sempat mengucap kata maaf?

Pertanyaan-pertanyaan itu senantiasa berputar sepanjang saya menghabiskan sisa perjalanan. Ah, saya jadi ingat ibadah saya selama ini kurang maksimal. Shalat tidak semua dilakukan di awal waktu, amalan sunnah yang masih minimal sekali, dan semenjak saya bekerja susah sekali membiasakan shalat tahajjud dan puasa sunnah. Sedih juga rasanya melihat targetan ramadhan yang belum berubah warna menjadi checklist hijau.

Kejadian malam tadi seolah menjadi pertanda jika suatu hari si Kawan Lama kita ini pasti akan datang. Entah nantinya ia akan datang dengan mengetuk pintu dulu atau tidak. Tinggal bagaimana saya akan menyambutnya nanti, maka mulai hari ini harus mulai dipersiapkan.

Selamat berjumpa dengan 10 hari ramadhan terkahir. #selfreminder banyakin amalan biar diberi nikmat sehat sehingga bisa melakukan kegiatan yang akan menambah pundi-pundi amal kita nantinya. Aamiin.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Adakah yang Tahu?

So, how’s your Monday fellas? ๐Ÿ˜„ *sok keminggris banget siiiy*

Senin saya kali ini sungguh luar biasa. Baru juga hari Senin, eh tiba-tiba dapat pengumuman dari pak bos jika terhitung mulai hari ini sampai seminggu ke depan bakalan ada lemburan di kantor. Yang biasanya pulang jam empat sore, mundur lamaan dikit menjadi jam setengah tujuh malam. So, its mean….bakalan buka puasa di kantor terus dong ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ hiks, padahal kangen masakan emak. Mamam tuh nasi kotak wkwk.

Oya, kali ini saya nggak nulis panjang x lebar seperti postingan sebelumnya. Di postingan kali ini saya cuma pengin nanya, diantara teman-teman Blogger adakah yang suka koleksi action figure? Terutama tokoh tokoh manga seperti Detective Conan, Naruto, Dragon Ball de el el? Karena saya sedang mencari toko online yang menjual action figure. Kalau bisa yang kualitasnya bagus ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ yang saya cari sih sebenarnya Action Figure tokoh karya-karya Studio Ghibli. Terutama Tottoro atau Ponyo. Saya udah lama kesengsem sama film-filmnya Ghibli and one of my favorite ya My Neighbour Tottoro ini. Mau nonton beberapa kali pun nggak pernah ada bosannya ๐Ÿ’ƒ

Sebenarnya saya sudah searching online shop di Instagram, namun karena banyaknya pilihan jadi bingung toko mana yang trusted. Ada yang bagus, ternyata shipping dari mancanegara. Duh, saya kan penginnya pengiriman dari Indonesia aja biar kagak ribet xixixi ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Jadi, tak ada salahnya kan saya nanya di blog, siapa tau ada yang tahu toko online recommended yang menjual macam macam action figure ini ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ yang tau, minta tolong share yaaaa ๐Ÿ™๐Ÿ™‡ maaciw โค

โ€‹

0562720163dd80dfd2acf2f51b19178a

6befa725e43c3a537c76b05eba89eeeb

6f783cebb43193e70dbfaa93746c019d

ini cutee bangeeet!!!!

Gambar ambil dari Pinterest ๐Ÿ™‚