Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Jalan-Jalan ke Bandung: Menginap di Casa Tubagus dan Wisata ke Bird & Bromelia Pavilion

Kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman jalan-jalan ke Bandung. Yap, tanggal 14-16 Juli kemarin saya pergi ke Bandung untuk melepas penat alias wisata tipis-tipis. Setelah kerja lembur bagai quda (bahkan lebaran pun masuk qerja) saya pun langsung mengiyakan saat Mas Imam dan Mbak Diah mengajak liburan ke Bandung. Awal bulan, ketika jadwal ruangan keluar saya langsung cari tanggal yang sekiranya pas untuk liburan. Tanggal dimana saya libur pas weekend. Yah, mengingat mas dan mbak ipar adalah pekerja kantoran jadi saya menyesuaikan saja jadwal mereka.
Perjalanan dimulai Sabtu siang pukul 11.30 WIB. Selesai shift malam saya lekas pulang ke kos dan mandi kemudian packing dan segera berangkat ke stasiun Gambir. Rencana saya naik Argo Parahyangan pemberangkatan pukul 11.30 sedangkan mas, mbak, dan ponakan saya sudah berangkat duluan dengan mobil mereka. Kenapa nggak bareng? Karena mas dan mbak ipar memilih untuk berangkat lebih pagi. Habis subuh mulai perjalanan dari Depok menuju Bandung. Sedangkan kalau harus menunggu saya selesai shift pasti bakal lama dan takutnya kesiangan.
Perjalanan dengan Argo Parahyangan merupakan pengalaman pertama saya naik kereta api ke Bandung. Ternyata menyenangkan ya, sepanjang perjalanan saya disuguhi pemandangan alam yang bagus. Tapi agak serem juga sih karena jalur Jkt-Bdg banyak dijumpai jembatan. Takut ngguling aja gitu. Hehe.
Alhamdulillah pukul 14.53 WIB sampai juga di stasiun Bandung. Awalnya saya sempet salah tuh, harusnya saya keluar melalui pintu keluar utama eh malah saya menuju pintu keluar yang arah pasar. Alhamdulillah belum sempat keluar (karena saya mampir beli dunkin, laper ey) saya menghubungi mas dan mbak ipar yang sudah sampai duluan di Bandung dan sedang silaturahmi ke tempat sepupu. Sadar kalau salah pintu akhirnya saya segera balik kanan ganti haluan menuju arah pintu yang benar yaitu pintu utama stasiun Bandung menuju jl. Kebon Kawung. Sambil menunggu jemputan mas dan mbak, saya pun melipir untuk makan di hokben. Ternyata perut ini masih lapar juga meski sudah masuk dua potong donat hehe.
Pukul 16.30 sampailah kakak saya di stasiun. Seneng banget bisa lihat ponakan setelah dua minggu terpisahkan! Udah kangen banget ey.
Perjalanan dilanjutkan menuju penginapan di daerah Tubagus Ismail. Ternyata Bandung di sore hari lumayan ramai dan macet. Apalagi penginapannya berada di pusat kota. Dari stasiun ke penginapan membutuhkan waktu sekitar 60 menitan.
Alhamdulillah sebelum maghrib kami sampai juga di penginapan. Nama penginapannya adalah Casa Tubagus. Beralamat di Jalan Tubagus Ismail VIII, Dago, Bandung.
Kesan pertama sewaktu sampai di penginapan inj adalah homey banget! Kami disambut oleh Bi Yanti dan Kang Ayas juga anak mereka bernama adek Izma yang usianya beda 3 bulan sama ponakan hehe. Jadi, penginapan ini bukan hotel atau motel atau guest house. Casa Tubagus adalah sebuah rumah yang disewakan untuk menginap singkat. Di Casa Tubagus sendiri ada dua kamar yang di sewakan yaitu Casa 1 (ada di lt. 1) dan Casa 2 (ada di lt. 2). Pertama kali masuk ke dalam rumah rasanya nyess…udara sampai keramiknya dingin ey padahal ga pake ac. Pas masuk ke kamarnya lebih amaze lagiiii. Btw, saya kebagian kamar di Casa 1 karena saya sendirian jadi dipilihkan kamar yang lebih kecil.
Begini penampakan Casa 1

Kamar tidur di Casa 1

Disediakan handuk dan sajadah juga loh ๐Ÿ˜

Ornamennya serba putih jadi kesannya rapi dan bersih. Di Casa 1 juga disediakan lemari pakaian yang gede. Cucok banget buat geng ciwi-ciwi yang kalau berpergian bawaannya banyak ๐Ÿ˜†.

Oh iya Casa Tubagus ini miliknya kang Adhitya Mulya (penulis buku best seller Sabtu Bersama Bapak) dan teh Ninit Yunita, istri kang Adhit yang juga penulis juga. Saya nggak banyak tanya sih terkait sejarah rumah ini, namun daru foto keluarga yang terpampang di dinding sepertinya ini rumah orang tua kang Adhit. Menurut penjelasan kang Ayas, rumah ini sehari-harinya adalah kos kosan. Saya mah ngebayangin, kalau saya ngekos di rumah ini yang pasti bakal malas kemana-mana. Udah lah di kamar aja gegoleran aja udah nyaman hehe.
Selesai beberes dan mandi juga sholat maghrib, saya main-main ke Casa 2 tempat ponakan, mas, dan mbak istirahat. Casa 2 kamarnya lebih luas, ada mini case juga buat nyimpen minuman dingin. Rencananya sih habis Isha mau keluar, ngafe gitu tapi ternyata kita semua mager karena kecapekan. Makan pun pesen lewat go food wkwk. Ponakan saya juga sepertinya udab ngantuk, kasian kalau diajak keluar lagi. Udah waktunya bobo. Yah begitulah ya namanya juga piknik bawa bayik ๐Ÿ˜†
Esoknya, sesuai itinerary yang sudah dirancang oleh Mbak Diah, kami akan menuju 3 tempat wisata. Sebelumnya kami akan cari sarapan dulu di kaki lima. Teledornya saya, habis shalat subuh malah main hp bukannya siap-siap. Saat semuanya udah siap saya masih berbalut piyama dong! Haha kocak. Saya langsung lari ke kamar mandi dan mandi singkat banget. Pokoknya mandi plus pakaian plus make up selesai dalam setengah jam! Alhamdulillah ya tiap hari udah terbiasa mandi meap cepet ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† ada gunanya juga nih.
Pukul 08.00 WIB kami sampai di Bird & Bromelia Pavilion di kawasan Pramestha Resort Town, Jl.Akaza Utama Dago Giri. Kami datang terlalu pagi karena tempat wisata ini baru buka pukul 09.00 WIB. Dari selesai sarapan nyadar sih pasti nanti sampainya bakal kecepetan tapi nggak apa-apa karena dari datang terlalu pagi kami bisa dapat parkir yang nyaman hehe. Selain itu sambil menunggu tempat wisatanya buka, kami jalan-jalan keliling perumahan yang masih satu komplek dengan Bird & Bromelia Pavilion. Tiket masuk ke tempat wisata ini adalah 35.000 rupiah/orang (Weekdays) dan 50.000 rupiah/orang (Weekend). Setelah membayar tiket masuk, tangan kami masing-masing dikasih gelang sebagai penanda jika kami adalah pengunjung dan telah menyelesaikan pembayaran hehe. Ponakan saya sih masuknya gratis karena masih di bawah 2 tahun ya ๐Ÿ˜„

Maafkan penampakan tangan saya ini ๐Ÿ˜‘

Di dalam Bird & Bromelia Pavilion ini kita dapat melihat 300 jenis burung dan 50 spesies tanaman lho. Pertama kali masuk kesini pun kita sudah disuguhi oleh kicau burung nan merdu. Asyik banget pokoknya. Apalagi kalau liburan bareng keluarga plus bawa anak-anak, cocok deh pasti mereka seneng bisa lihat berbagai jenis burung. Jenis burung yang bisa dijumpai disini seperti burung Kakaktua, parkit, merpati, beo, burung hantu, lovebird dan juga ada berbagai macam jenis unggas juga loh. Mau lihat ayam? Banyak! Jenisnya pun bermacam-macam. Saya baru pertama kali lihat ayam Brahma yang kakinya gendut-gendut. Ada juga ayam asli China (namanya lupa hehe), ada burung puyuh juga, merak juga ada tapi saat kita mendekat ke sarangnya mereka masih malu-malu untuk menampakan diri. Alhasil kita hanya bisa nonton dari kejauhan deh. Oh ya, kalau ingin berinteraksi dengan burung-burung bisa banget kok. Hanya perlu merogoh kocek 5.000 rupiah untuk membeli sebungkus kuaci dan kita diperbolehkan memberi mereka makan. Lucu banget! Burung-burung ini pinter-pinter banget buka kuacinya! Gemesss.

Maaf, saya numpang eksis dulu ๐Ÿ™‹

Ponakan yang asyik main sama merpati

Si Cantik yang pongah. Hmm

Warna bulunya lucuu

Karena siang hari maka burung hantu pun tidur~

Selain segala jenis burung dan unggas, ada juga loh Taman Kelinci dan Ikan Koi. Banyak anak-anak kecil yang lari-lari mengejar kelinci yang gemuk-gemuk ini. Double gemesnya!

Disini ada ikan koinya tapi saya lupa foto ๐Ÿ˜†

Setelah hampir 2 jam berkeliling akhirnya kami memutuskan untuk pindah lokasi lagi mengingat masih ada 2 tempat wisata lain yang akan kami kunjungi. Kesan saya setelah main di Bird & Bromelia sih asyik banget. Terutama bagi teman-teman yang ingin mengajak buah hati atau keponakan tercinta lebih mengenal alam dan berinteraksi dengan hewan langsung.
Untuk cerita di dua lokasi wisata lain akan saya posting di tulisan berikutnya ya ๐Ÿ˜Š

More info tentang Casa Tubagus bisa dilihat di akun Instagram/@casatubagus

Iklan
Diposkan pada Cerita Sehari-hari

‘Catcalling’ Tak Bisa Ditoleransi

Assalamualaikum. Apa kabar Ramadhannya teman-teman? Semoga lancar yaa. Nggak kerasa ya udah masuk sepuluh hari terakhir ramadhan saja. Huhu. Sedih. Rasanya ramadhan cepet banget berlalu ๐Ÿ˜ญ.

Oya, kali ini saya pengin nulis terkait kasus yang akhir-akhir viral di dunia permedsosan. Terutama di IG dan Twitter. Yap tentang sexual harassment yang dialami oleh seorang social media influencer dan seorang penyanyi dangdut yang sedang naik daun. Kalau kalian ngaku anak IG pasti tahu lah siapa Gita Savitri Dewi aka @gitasav. Seorang hijaber dengan follower puluhan ribu dan akun yutub aktif dengan ber-K subscribernya. Hal ini berawal dari postingan Gita di snapgramnya yang menuliskan jika ada sebuah akun (cowok) yang DM ke gita dan melakukan sexual harassment (kalau ga salah mengajak gita untuk berhubungan seks). Iuuuh banget kan? Dan Gita ini nggak tinggal diam. Ia berani speak up agar kisahnya ini diketahui orang lain. Terlepas dari drama dengan akun bernama Helmi, saya sih setuju banget dengan cara Gita untuk berani bicara. Nggak diam aja dengan pelecehan seksual via media yang dialaminya. Ya, karena ini bukan masalah sepele. Satu lagi kisah pedangdut cantik, Via Vallen. Ia juga menulis disnapgramnya bahwa ada seorang laki-laki yang DM dan memintanya untuk menyanyi dengan baju seksi. Omg!
Di dunia pertwitteran, kisah mereka terblow up lebih massive lagi. Ada kubu pro and cons. Saya sih ga ikutan twitwor gitu yha. Cuma nyimak aja hehe. Dan dari kisah dua perempuan ini saya tertarik dengan tagar #SayaJuga yang juga menjadi trending setelah kasus mbak Gita dan mbak Via ini.

Jadi, tagar #SayaJuga berisi tentang curhatan para perempuan tentang sexual harrasment yang mereka alami. Ya Allah saya bacanya sampai ngeri ngeri gitu. Ada yang berkisah pernah diremas payudaranya oleh laki-laki asing, dicium pipi, dipepet di commuter line dan kisah tragis lainnya. Duh serem amat ya!

Dan rata-rata mereka mulai mengalami pelecehan seksual dari kecil, sebagian besar mulai usia SD-SMP.
Apa sih sexual harassment atau pelecehan seksual itu?
Menurut wikipedia, Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks. Pelecehan seksual dapat terjadi di mana saja baik tempat umum seperti bis, pasar, sekolah, kantor, maupun di tempat pribadi seperti rumah.
Dalam kejadian pelecehan seksual biasanya terdiri dari 10 persen kata-kata pelecehan, 10 persen intonasi yang menunjukkan pelecehan, dan 80 persen non verbal.

Membaca tagar #SayaJuga saya jadi teringat kejadian 3 bulan yang lalu. Saya alami sendiri di gang dekat kosan. Saat itu pagi hari sekitar jam 9, saya akan pergi membeli sarapan di warung ujung gang. Untuk sampai di warung nasi tersebut saya harus melewati sebuah bengkel las dimana notabene semua pekerjanya adalah laki-laki. Dan apa yang terjadi saat saya melewati mereka? Ya, mereka melakukan catcalling.

“Assalamualaikum cantik.., sendirian aja?”

“Neng mau kemana?”

“Aduh si Nengnya bikin pengin nemenin,”

Dan sebagainya. Padahal waktu itu pakaian saya tertutup loh (pake jilbab inshaa Allah nutup dada, dan pake rok). Saya hanya lupa ga pake masker. Ada pula yang nambahin pake siulan. Menjijikan. Saya pun mempercepat langkah dan berusaha tidak mempedulikan yang ternyata gagal karena saya kepikiran terus sampai selesai sarapan. “Gimana nih pulangnya? Masa aku harus nglewatin mereka lagi?” Sempat bimbang karena gang itu adalah satu-satunya jalan yang paling dekat menuju kosan. Ada jalan satu lagi tapi memutar jauh. Setelah pergulatan batin, saya akhirnya memilih lewat jalan tadi sambil terus berdoa. Mencoba secepat mungkin melewati mereka. Ada seorang pekerja yang tiba-tiba berdiri di pinggir jalan. Saya sudah curiga tuh, mau ngapain nih masnya? Saya harus waspada. Hingga akhirnya saat saya melewati si masnya, dia tiba-tiba mendekatkan tubuhnya ke arah saya dengan posisi hendak mencium wajah saya. Saya refleks menghindar dan langsung berjalan cepat menghindari mereka. Kesalnya saya mendengar teman-teman laki-laki itu malah bersorak dan tertawa. Dan kalau saya nggak salah denger si mas yang nyebelin itu bilang “yah gagal,”. See? Bikin kesel banget gak sih? Sampai kosan, saya menangis dan saya trauma melewati gang tersebut saat bengkel las itu buka. Sedihnya saya, kenapa dari sekian banyak laki-laki disana (sekitar 4-5 orang) ga ada yang negur mas mas nyebelin tadi? Kenapa malah pada ketawa? Apanya yang lucu coba?
Sejak itu saya selalu pasang alert alarm kalau lewat bengkel itu meski naik ojek pun. Dan kemana pun saya pakai masker! Trauma ini masih membekas loh sampai sekarang. Alhamdulillah sih nggak sampai nyentuh apa-apa tuh sih mas mas nyebelin. Kalau sampai iya pengin saya tendang. Saat nulis ini pun masih kesel bangeeettt.
Bagi laki-laki yang baca ini please jangan sekali-kali ngelakuin catcalling, bikin siulan ga jelas saat ada cewek lewat, even menatap cewek segitunya pun jangan. Risih sekali tau. Dan bagi cewek-cewek, sekecil apa pun bentuk sexual harassment jangan dianggap remeh. Saya nyesel sih kenapa waktu kejadian itu ga teriak? Kenapa cuma lari? ๐Ÿ˜ข yang jelas saat itu saya takut. Contoh yang saya alami ini adalah masuk kategori street harassment. Ada juga loh yang masuk ke kategori public transportation harrasment. Contohnya di commuter line atau busway bahkan ojek online pun bisa. Makanya kalau naik KRL di jam jam padat saya selalu menghindari deket bapak-bapak/mas-mas. Kalau harus berdiri, saya lebih memilih berdiri depan ibu-ibu/mbak-mbak. Kalau terpaksa deket laki-laki saya pasti selalu dalam keadaan body alert. Nempel dikit, geser coy. Geser ga mempan? Lirik maut coy. Ga mempan juga? Pindah atau panggil PKD.
Semoga kalian para wanita selalu dilindungi dimana pun kalian berada ya.

Sebenernya ada kisah lain lagi terkait sexual harrasment ini. Kejadiannya saat saya masih duduk kelas 6 SD. Ini bukan saya yang mengalaminya, saya hanya saksi mata. Teman sekelas saya yang menjadi korban. Saya nggak mau cerita detail kalau yang ini, soalnya kan menyangkut privacy teman saya juga. Dulu mikirnya, “oh si B cantik jadi disayang banyak orang,”. Dan ternyata ada sebuah kejadian yang sebenarnya adalah pelecahan seksual. Cuma saat itu saya yang masih bocah bingung mau ngomong ke siapa. Teman saya yang jadi korban pun diam saja. Nggak berani bilang ke orang tuanya. Seiring waktu berlalu dan semakin bertambah pengetahuan, saya sadar jika dulu yang dialami oleh teman saya adalah termasuk pelecehan seksual. Kasian : ( semoga sekarang dia baik-baik saja.

Semoga dengan tulisan ini bisa bermanfaat ya teman-teman. Silahkan ambil yang baik dan buang yang buruk ๐Ÿ˜Š.

Diposkan pada Cerita Buku

Sekilas Tentang ‘Pulang’- Leila S. Chudori

Well, akhirnya hari ini novel Pulang karya Leila S. Chudori berhasil saya selesaikan. Novel yang mengisahkan tentang persahabatan, cinta, keluarga, dan pengkhianatan ini berhasil mengaduk-aduk perasaan. Novel yang mengalahkan Amba-nya Laksmi Pamuntjak dan karya-karya Mira W. sebelum akhirnya saya boyong ke kasir.

Beberapa kali mata berkaca-kaca membaca dialog dan narasi yang ada di dalam novel. Yeah, saya memang mudah tersentuh membaca cerita-cerita yang berkaitan dengan cinta dan keluarga.
Mengambil latar Indonesia tahun 1965, Paris 1965, Paris 1998 dan Indonesia 1998. Novel ini merupakan cerita para eksil politik yang saat meletusnya peristiwa G30S/PKI sedang ‘beruntung’ tidak berada di tanah air dimana sahabat, teman, kerabat mereka habis diberangus oleh tangan-tangan penguasa. Entah diasingkan atau dibinasakan. Keempat orang ini dengan beruntung bisa melanjutkan hidup meski harus berjuang keras. Mereka adalah Dimas, Nugroho, Tjai dan Risjaf. Keempat sahabat yang oleh nasib dipertemukan kembali di kota Paris dengan status sebagai eksil politik. Karena statusnya ini mereka tak bisa pulang ke tanah air, visa dihanguskan dan menjadi manusia-manusia stateless. Mereka harus berpindah-pindah negara, pekerjaan demi menyambung hidup. Di Paris keempat sahabat ini mendirikan sebuah koperasi milik bersama dalam bentuk rumah makan bernama Restoran Tanah Air. Keempat sahabat itu pun mengikrarkan diri sebagai Empat Pilar Restoran Tanah Air.
Selain tema politik yang cukup berat, novel ini diimbangi juga dengan kisah romansa segitiga antara tokoh utama, Dimas Suryo, sahabatnya Hananto, dan Surti Prabandari, wanita berparas ayu yang menjadi salah satu alasan Dimas ingin sekali kembali ke tanah air. Kisah cinta segitiga masa muda yang akhirnya dimenangkan oleh Hananto yang bisa mempersunting Surti, meski saat itu Surti tengah berpacaran dengan Dimas. Dalam novel ini seperti mengandung nasihat tersirat jika selama apa pun hubungan antara lelaki dan perempuan jika tidak bisa dibawa ke arah yang lebih serius ia akan kalah. Buktinya, Dimas yang saat itu mengatakan begitu mencintai Surti harus merelakan wanita cantik itu ke tangan sahabatnya karena ia masih berprinsip dialah jiwa yang bebas, jika ia tak ingin terikat, apalagi tentang menikah, Dimas sama sekali belum memikirkan itu.
Dan berpuluh-puluh tahun kemudian kisah romansa segitiga ini harus kembali terulang, kali ini Lintang Utara, putri Dimas dan wanita Prancis, Vivianne Derveaux harus mengalami nasib yang sama dengan ayahnya. Terjebak dalam cinta segitiga. Dan kali ini ia harus mengakui bahwa ia mencintai Segara Alam, anak pasangan Hananto dan Surti Prabandari, sahabat dan mantan kekasih ayahnya.
Betapa rumit dan klasik. Tapi selalu menjadi pemicu saya untuk segera merampungkan kisah mereka.
Saat sampai pada peristiwa Mei 1998. Dimana saat itu Indonesia begitu bergejolak. Dituliskan di dalam buku peristiwa yang menjadi cikal bakal reformasi dengan begitu jelas. Saya sempat flashback ke tahun 1998. Saat itu saya adalah bocah TK kelas nol besar yang masih tak tahu menahu masalah politik. Yang saya ingat, saat itu bapak dan ibu tak hentinya melihat berita. Memantau kondisi demonstrasi yang dilakukan oleh kakak kakak mahasiswa di berbagai kota. Saya ingat di layar televisi, berita mengenai membaranya Jakarta saat itu. Televisi berulang kali menayangkan gambar mobil dibakar, demo dll. Beberapa tahun kemudian, saat kelas 6 SD dan mendapat pelajaran sejarah saya mengerti, peristiwa dulu itu adalah awal dari peta perpolitikan Indonesia yang lebih merrier dimulai. Namanya Reformasi. Novel ini juga mengisahkan bahwa para tapol (tahanan politik) atau eks tapol susah mencari kerja pada masa Orde Baru. Mereka seolah dikutuk karena garis keturunan orang tuanya, pamannya, atau kakeknya yang kebetulan lebih condong ke kiri. Seperti tokoh Alam, anak Hananto seorang kepala redaksi harian yang diduga mendukung komunis yang pada saat ayahnya ditangkap ia baru berusia 3 tahun. Alam harus menanggung predikat “anak seorang pengkhianat” dan selama masa-masa sekolah ia terus-terusan menjadi bahan bullyan kawan-kawannya. Hingga selesai kuliah ia masih sulit mendapat pekerjaan karena nama keluarga yang disandangnya. Sungguh tak adil bukan? Bisa apa anak usia 3 tahun pada pergerakan, tahu apa ia tentang kegiatan ayahnya kala itu?
Proses membaca buku ini, saya kira haruslah dalam suasana hati yang tenang, tidak terburu-buru. Penceritaan kisahnya memang berganti-ganti sudut pandang. Kadang bercerita dalam sosok Dimas, Vivianne, Lintang, Alam dan tokoh-tokoh lainnya. Beberapa kali saya harus berpikir. Ini siapa menceritakan siapa? Tapi tenang saja kok, di awal bab selalu dijelaskan tokoh siapa yang saat ini menjadi point of view. Hanya saja jika konsentrasi buyar harus rela ngintip ke awal bab untuk mengingatkan sedang bercerita di posisi siapa. Beberapa kali saya harus melakukan ini karena terdistract sama ponakan yang ngajakin main ๐Ÿ˜„.

“We have brains, we have our own mind, mengapa harus didikte?”

Lantas, bisakah keempat Pilar Tanah Air ini mampu Pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi? Silahkan baca saja karena endingnya benar-benar di luar dugaan. Salut untuk Ibu Leila S. Chudori! This is briliant.

Salah satu quote favorit;

Aku tak ingin seperti mereka, saling mencintai. Lantas kehilangan dan sekarang mereka hanya mengenang dan merenung dari jauh.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Jalan-Jalan ke Cikini

Okay. Ehm. Halo.

Alhamdulillah ya akhirnya saya kembali ke rumah ini lagi. By the way, ada yang kangen aku nggak? ๐Ÿ˜

Ada beberapa teman dari dunia nyata yang ternyata sering kepo-kepo blog sederhana ini tanya, “Kok lama ga update?”, “Kamu ngapain aja sih kalau di kos? Kapan nulis cerpen lagi?,”. Kalau ada yang tanya gini, enaknya dijawab apa yaaa? Karena kadang pengin kelihatan sok sibuk gitu jadi jarang update blog huehuee. Alasan yang tak bermutu.

Oyaaa hari ini adalah tepat 2 bulan saya resign dari kantor lama dan menjadi pendatang di kantor baru. Ciye. Alasan saya jarang update blog sebenarnya juga karena ini. Yup, karena saya masih bergelut dengan segala jenis orientasi di tempat kerja baru. Ditambah lagi dengan adaptasi yang juga tak mudah. Butuh usaha lahir dan batin yang sama-sama menghabiskan energi dan duit. Tuh kan malah jadi tjurhat kan? Skip skip.

Siang tadi saya memutuskan untuk jalan-jalan. Refreshing sejenak dari kehidupan RS yang kadang bikin pusing pala. Dan karena kebetulan tanggal 2 Maret alias tanggalnya masih muda banget, saya memutuskan untuk menghabiskan hari libur saya dengan…. nonton film! Bentar bentar, kenapa hari Jumat kok libur? Di kalender tintanya masih biru kok. Jangan jangan kamu bolos kerja yaa? Hei hei, jangan su’udzon dulu. Hari Jumat saya libur memang karena kebetulan saya sedang bebas shift. Berhubung sekarang pekerjaan saya bukanlah pekerjaan yang menuntut hari kerja Senin-Jumat dan libur di hari Sabtu-Minggu jadi terkadang saya kerja di saat kebanyakan orang menikmati liburan mereka atau sebaliknya. See? Begitulah kehidupan tenaga medis. Enjoy aja lah ๐Ÿ˜

Setelah saya pikir-pikir, akhirnya saya putuskan untuk nonton di Metropole XXI Menteng. Dah, begaya bener! Wkwk gapapa lah ya, mumpung awal bulan. Saya juga dari dulu penasaran banget sama gedung yang ternyata merupakan cagar budaya ini. Setelah saya baca di Wikipedia (jujur amat sih Des ๐Ÿ˜†) gedung bioskop Metropole ini awalnya dibangun di era masa kolonial Belanda sekitar tahun 1932 dan bernama Bioscoop Metropool. Dari awal dibangun nih gedung memang dikhususkan untuk memanjakan para penikmat film. Awalnya hanya terdiri dari 1 theatre yang bisa menampung hampir 1000 orang. Wiiih banyak bener ya! Namun sekarang sudah direnovasi dan jumlah theatrenya juga lebih dari satu. Untuk lebih lengkapnya, baca di Wikipedia atau gugling sendiri aja deh ya! Xixixi we capek ngetik cyin!

Saya berangkat dari kos menuju stasiun Juanda dengan diantar bapak gojek nan baik hati. Kemudian dilanjutkan naik KRL menuju stasiun Cikini. Nah, yang lucu disini nih. Berhubung saya masih buta Jakarta, masa’ iya saya pesen gojek dari stasiun Cikini ke Metropole! Khan ga lucu ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ sampai babang gojeknya bilang gini, “Mbak, metropole deket loh, beneran nih naik ojek?”. Memang sih saya sempat melirik gmaps, hanya butuh 5 menit dari stasiun Cikini menuju Metropole by walk. Tapi yasudahlah, sudah terlanjur pesan dan tadi siang Jekarda panasnya Masyaa Allah… panas bangetzzzz. Sambil pura-pura bete saya bilang ke masnya, “Cuss lah mas! Panas,”. Si mas gojek pun segera memacu kendaraannya. Dan benar saja ngga sampai 3 menit saya sudah sampai di depan Metropole! Ya ampun ternyata cuma seencrit. Pantesan diaplikasi cuma bayar 3rebe ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.

Sudahlah lupakan drama tadi. Saya pun segera memasuki kawasan bioskop ini. Kesan pertama sih, ini gedung emang bangunan kuno banget. Khas arsitektur Belanda, pantas saja jadi salah satu cagar budaya. Begini penampakan luarnya.

Waktu itu pukul 12.16 WIB. Saya mengantri beli tiket dan dapat yang jam tayang pukul 12.45 WIB. Wah, syukur deh masih bisa sholat dulu. Asyiknya nih, mushola di komplek Megaria cukup nyaman. Lumayan besar dan bersih, mukenanya juga wangi. Ssttt kebersihan dan kewangian mukena itu mempengaruhi kekhusyuan shalat loh. Iya ga buibuk? Hehe.

Trus, film yang kamu tonton itu apa sih Des?

Ookaay, jadi tadi siang itu saya nonton ini.

(Jari aku gemuk amat ya? ๐Ÿ˜)

Yap, Red Sparrow. Film bergenre thriller mystery yang dibintangi si aktris cantik Jennifer Lawrence (si mbak Katnis Everdeen dalam serial Hunger Games). Masih inget kagak gimana sesembaknya dijuluki Girls on Fire di Hunger Games? Kece banget kaan? Nah, di film ini mbak Jennifer Lawrence berperan jadi mata-mata Rusia yang dijuluki sparrow. Mirip agen CIA nya Amerika gitu. Tugasnya si mbak JLaw ini buat pedekate sama agen CIA yang ganteng agar bisa mendapatkan informasi terkait keamanan negara mereka. Eeh terlalu lama pedekate malah jatuh cinta beneran tuh si mbak dan masnya.

Why nonton Red Sparrow?

Karena tertarik habis nonton trailernya. Banyak adegan pembunuhan sadis yang berdarah-darah gitcu. Di trailernya juga akting mbak JLaw kayaknya kok keren bingits. Khan saya jadi penasaran gitu. Oya katanya film ini diangkat dari sebuah novel dan penulis novel ini mantan anggota CIA. Duh, makin bikin penasaran kan?

So, after nonton nih, recommended gak nih film?

Waduh kalau memutuskan recomended atau enggaknya sih maaf aja saya nggak berhak cyin. Just bocoran aja ya, film ini cukup banyak adegan sadis seperti pembunuhan yang darahnya sampai muncrat muncrat, hubungan sex, dan lain lain. Makanya film ini dilabeli 21++. Jadi dik adik manis yang belum 21 tahun mending nonton yang lain aja yah ๐Ÿ˜ *ternyata 25 tahun menguntungkan juga yes*. Ada beberapa adegan yang terpaksa di cut sama KPI yaitu pas adegan ranjang Jlaw sama lawan mainnya. Si agen CIA nan ganteng itu. Maybe karena terlalu vulgar kali ya. Ndak baik ditonton bagi para jomblo *eh. Sayangnya adegan pemotongannya itu kasar banget. Jadi aneh dilihatnya. Dan sepertinya di adegan itu ada dialog yang cukup vital. Soalnya kenapa tiba-tiba Jlaw lengket amat sama si masnya. Pokoknya bagi kalian kalian yang nggak tahan nonton yang berdarah darah mending nggak usah nonton deh. Ngilu cyin!

Eh, pertanyaan terkahir nih, tadi nonton sama siapaa?

Oke jadi tadi itu saya nonton bareng… Nicholas Saputra *tapi dalam mimpi๐Ÿ˜‚. Yap, saya nonton sendiri aja. Puas? Wkwk. Ya iya lah emang mau sama siapa lagi. Temen yang sekiranya punya selera film yang sama sedang kena shift. Ngajak temen yang free dia nggak suka genre thriller. Pusing khan? Daripada nggak jadi nonton, mending berangkat sendiri aja deh. Ternyata nonton film sendirian nggak secanggung yang saya bayangkan. Awalnya sempet mikir, wah gimana nih kalau nanti banyak pasangan terus saya sendirian, di pojokan kayak orang ilang? Gimana nih kalau nanti saya dipepet sama pasangan, maksudnya samping kanan-kiri diapit sama pasangan? Hah, semua itu hanya mitos saudara-saudara! Saya enjoy enjoy saja sepanjang nonton. Nggak ada juga yang merhatiin saya. Jadi pede aja lah. Saat saya amati sekeliling, ternyata banyak juga penonton yang ternyata nonton sendirian kayak saya ini. Dunia tidak sekejam ibu kota gan. Hehehe.

Kesimpulannya film Red Sparrow ini bagus (apalagi aktingnya Jlaw) tapi yang nggak bagus-bagus banget sih #lah. Gimana ya ngomongnya. Pokoknya gitu deh! ๐Ÿ˜† soalnya #RedSparrow nggak sampai bikin saya terngaga, terdiam, terkejud macam saat selesai nonton Gone Girl hehe. Maybe kalau ada lembar penilaian saya kasih 7.5/10.

Demikian sekelumit cerita dari saya. Semoga weekend kalian menyenangkan!

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Jalan-Jalan ke UI Depok

Berawal dari weekend tanpa agenda, akhirnya saya memutuskan untuk silaturahim ke tempat Nada. Nada ini adalah adik kos semasa SMA. Iya, semenjak SMA saya sudah mengalami nano nano rasanya jadi anak kosan. Meskipun tiap weekend pulang sih, tapi tetap saja menjadi anak kosan memberi pengalaman dan kenangan tersendiri.
Jumat sore, sepulangnya bekerja saya lekas bersiap menuju Depok. Rencana akan menginap ke rumah kakak di Depok barulah besok paginya meluncur ke tempat Nada. Sekitar isha, saya sampai di stasiun Juanda. Ini merupakan pengalaman pertama saya naik KRL di jam pulang kerja saat weekend pula! Ya ampun “Ini nih baru namanya Jakarta,” gumam saya. Ya, saya yang lama tinggal di desa terpana melihat ke-hectic-an Jakarta. Lebay banget pokoknya.
Saya pun meluncur ke Depok bersama kakak (sebelumnya kami janjian untuk bertemu di stasiun Juanda). Di dalam KRL saya melihat para penumpang baik itu perempuan, laki-laki, mas-mas, mbak-mbak, bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-nenek semuanya tampak sibuk dengan dunia mereka sendiri. Ada yang asyik main hp, tidur, bersandar di bahu pasangan (eh) atau yang asyik melamun seperti saya hehe. Saya mbatin, “Kamu baru seminggu di Jakarta, masih banyak minggu-minggu yang harus kamu jalani, semangatttt,” kemudian saya tertawa tanpa bersuara.
Singkat cerita saya sampai di rumah kakak dalam keadaan mata ngantuk dan badan capek sekali. Saya pun menutup hari dengan tertidur pulas di depan tv ๐Ÿ˜‚.
Sabtu pagi, selesai acara nyuci baju segambreng saya bersiap ke tempat Nada di daerah Margonda. Ya, Nada ini bekerja sebagai asdos di FEUI. Jadilah hari ini saya minta ditemani jalan-jalan keliling UI. Perjalanan ke Margonda diawali dengan mas-mas gojek yang kelewat baper. Jadi ceritanya saya pesen gojek tuh, saat masnya datang tenryata motor yang dipakai sejenis motor vi*ion (motor cowok lah pokoknya). Terus saya digodain tuh sama kakak saya, mbak ipar dan mas Bondan (teman kakak). “Peluk.. peluk,” kata mas Bondan seraya memeragakan diri sedang memeluk seseorang. Eh ogah lah saya main peluk-peluk ๐Ÿ˜‚ dikira boneka. Alhasil tuh sepanjang perjalanan saya ditanya banyak banget sama si Masnya. Sampai ke masalah pacar dan pekerjaan. Hingga akhirnya sampai di Margo City (tempat ketemuan saya dengan Nada) si Masnya masih baper.
Mas gojek: “Neng nanti pulangnya gimana?”
Saya: “Paling naik gojek lagi mas,”
Mas gojek: “Pulang sama saya aja Neng, nanti saya jemput, wa aja ya,”
Saya: (ketawa sambil buru-buru lepas helm dan ngacir pergi) makasih mas!
Mas gojek: gak ngerti ngomong apalagi.
Ada-ada aja si mamang gojek ini. Untungnya nomer yang saya daftarin di gojek bukan nomer utama, ga ada WhatsApp juga ๐Ÿ˜ jadi aman deh ๐Ÿ‘Œ.
Tepat pukul 11.30 WIB saya melihat sesosok perempuan berjilbab hitam menghampiri saya. Surprise! Si Nada ketemu juga. Ternyata ini anak kurusan, lebih kurus dari saat terakhir ketemu. Kenapa kau kurusan bu dosennn??? Pasti mahasiswanya pada susah diatur ya haha ๐Ÿ˜. Akhirnya kita memutuskan ke foodcourt dan cerita ngalor ngidul.
“Gini nih mbak kalau di Jakarta, mall lagi mall lagi,” kata Nada. Dia rupanya rada kesel karena inginnya ketemuan di luar mall.
“Iya yah orang Jakarta pada suka ngemall,” jawab saya.
“Ya karena mall itu adem mbak. Jakarta udah panas, mereka ngemall buat ngadem,”
Ya memang sih, siang itu Depok sungguh menyengat. Panas sekali rasanya di luar. Saya jadi kangen sejuknya kampung halaman ๐Ÿ˜ข.
Setelah puas muterin Margo City, saya minta Nada untuk main ke UI. Tujuan pertama kita adalah Danau UI, dilanjutkan ke perpustakaan UI, rektorat dan sebelum pulang saya mampir ke MUI atau Masjid UI. Berada di sekitar Danau UI membuat saya lupa sejenak dengan bisingnya Jakarta. Rasanya adem dan damai. Asyik lah buat ngobrol dan juga foto-foto ๐Ÿ˜„ #tetepyah #kidsjamannow. Saat saya main ke UI, saya melihat tidak banyak mahasiswa bersliweran karena kata Nada memang saat ini sedang masa liburan semester. Jadi banyak mahasiswa yang memanfaatkannya untuk pulang kampung. Geser sedikit, dari danau UI ke rektorat. Ini permintaan saya sih , saya pengin foto ala ala wisudawan wisudawati UI yang sering muncul di explore IG ๐Ÿ˜„. Yah, siapa tau ya rejeki bisa lanjutin pendidikan lagi di UI. Sayangnya saya nggak sempat main ke FIK (Fakultas Ilmu Keperawatan) UI. Padahal pengin bangeeettt. Yah, mengingat waktu sudah sore dan sebentar lagi adzan maghrib berkumandang, rute pun berbelok ke Masjid UI atau MUI. Disana tenyata cukup banyak mahasiswa yang sedang diskusi atau kajian. Saya jadi teringat jaman kuliah, sore-sore begini sering diajak liqo/kajian. Duuuh jadi rindu Semarang~
Hampir seharian jalan kaki, perut pun protes minta diisi. Nada memberi rekomendasi untuk makan Mie Aceh dekat stasiun pocin (pondok cina) . Katanya sih itu Mie Acehnya endess banget. Dan ternyata bener sih, enak banget! Mungkin karena efek capek dan lapar juga kali ya atau malah doyan? ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜
Di warung Mie Aceh kita berdua sibuk nostalgia mengingat kembali keseruan jaman SMA. Terutama serunya jadi bagian kosan bu Bandi. Saya dan Nada sibuk ngabsenin para personil alumni Kos Bu Bandi yang sekarang sudah tersebar seantero dunia. Ceilah! Ini list kami dari hasil kepo IG atau kirim WhatsApp langsung.
Alumni senior (menjadi penghuni kosan saat kelas XI) dan domisili saat ini:
1. Saya (Jakarta)
2. Mbak kembar (Bintaro)
3. Fitri (Jogja)
4. Erin (Bandung)
5. Nindy (Jakarta)
6. Henggar (Hongkong, China lagi lanjut S2)
7. Lina (Cilacap)
Alumni junior (masuk pas kelas X)
1. Nada (Jakarta)
2. Lia (Jakarta)
3. Indri (Jakarta)
4. Yuan (Semarang)
5. Metri (Jakarta)
6. Ayu (belum ada kabar)
7. Iko (belum ada kabar)
8. Indy (belum ada kabar)
9. Anggi (Jogja)
Ternyata kebanyakan alumni kosan Bu Bandi hijrah ke Jakarta ya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ hobi banget sih merantau naq? Haha. Pertemuan dengan Nada pun ditutup dengan didirikannya sebuah grup WhatsApp bernama ALUMNI BU BANDI โค๏ธ. Harapannya sih semoga silaturahmi para alumni tetap terjaga. Kalau pada nikah silahkan kabar-kabar. Inshaa Allah jikalau ada waktu dan kesempatan disempatkan datang๐Ÿ˜‰
Sekian dan Terimakasih.
Terimakasih untuk Dhiafah Qatrunnada alias Nada yang telah menyisihkan waktu di tengah kesibukannya untuk menemani saya jalan-jalan. Terimakasih telah membuat saya tidak mati kutu di kosan ๐Ÿ˜‚. Makasih juga untuk kakak dan mba ipar sudah menampung saya selama di Depok. Sepertinya bakal sering merepotkan karena saya akan lebih sering main ke Depok ๐Ÿšต๐Ÿšต๐Ÿšต

Jangan lupa untuk swafoto! ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Mikirin “ntar pulang sama siapa ya?” ๐Ÿ˜ difotoin sama Nada. Ternyata doi punya bakat jadi fotografer.

Seberang sana tu namanya Rektorat โค๏ธ

Ditulis di kamar kosan yang sekalinya buka jendela terlihat kerlap kerlip kandang burung raksasa ๐Ÿ˜‘

Penampakan Jakarta dari kosan. Hmmphhhh.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Rasanya Ditinggal Nikah

Assalamualaikum. Haloo semuanyaaa!! Anyeong haseyo! Moshi moshi! 

Ternyata udah lama juga ya ngga coret coret layangan ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†. Tiga bulan terakhir ini saya memang jarang update karena ehem, kesibukan yang membabi buta. Ciyeee #soksibuk banget dah. Maklum lah ya, akhir tahun kerjaan kayak ga ada selesainya. Laporan dimana-dimana, dateline merajalela. Maak, butuh tukang pijet. Saat nulis ini pun, badan saya rasanya masih ga karuan. Batuk, pilek dan ‘pating nggreges’ rasanya ๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข

Jadi ada perkembangan apa selama 3 bulan ini? 

Pengumumumannya adalah.. jeng jeng jeng! Saya habis ngurus nikahan. Whattt??? Kamu nikah Desss? (Seseorang bertanya dengan tampang kagetnya). Tunggu dulu, saya belum selesai nulis. Bukan saya kok yang nikah, tapi mbak kembar saya! 

Iyaaa.. huhuhuu.. saya ditinggal nikah sama kembaran sendiri ๐Ÿ˜‚. Jadi alhamdulillah tanggal 17 Desember 2017 kemarin mbak kembar saya resmi dihalalin sama masnya.  Mbak Destina dan Mas Wasis resmi menyandang status baru sebagai istri dan suami. Ceilaaaa. Rasanya terharu banget melihat mbak kembar akhirnya menemukan belahan jiwanya. Saya tahuuuu betul bagaimana perjuangan dia dalam menjemput jodoh. Mbak kembar saya ini selama 24 tahun mengarungi kehidupan belum pernah pacaran loh! Alhamdulillah dia selalu menjaga pergaulannya. Saat saya tanya alasannya kenapa ga pacaran, jawab dia adalah “Pacaran itu ga ada manfaatnya. Ngapain buang waktu untuk sesuatu yang jelas jelas unfaedah,” woow!! Hebaaat yaaaa ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘. Sekarang Alhamdulillah sudah halal juga ya mbak ๐Ÿ˜Š๐Ÿ’•๐Ÿ’•. 

Lantas, bagaimana rasanya ditinggal nikah sama kembaran sendiri? 

Jujur saja, saya mengalami jet lag, shocked dengan status baru saya. Meski yang nikah adalah mbak kembar, saya juga punya status baru sebagai “kembaran yang ditinggal nikah” hahhaha maksa. Setelah mbak kembar nikah, otomatis saya kehilangan ritual malam yang sering kami lakukan bersama: curhat sebelum tidur. Yaaap! Biasalah buibuk pasti senengnya cerita ngalor ngidul ngetan ngulon kan yaaa? Nah, kita pun sama. Setiap sebelum bobok kita sering cerita sampai lelah dan mengantuk. Semua bisa kita bahas, kita ketawain bareng-bareng kalau ada hal yang lucu. Kadang bisa curhat sampai tengah malam atau sampai denger suara ayam jantan berkokok. 

Sekarang…. mbak kembar sudah punya suamik. Dia sudah bobok sama suaminya ๐Ÿ˜ฟ. Lalu saya perlahan tergusur…. saya pun memilih untuk tidur bareng ibuk yang membuat bapak harus mengungsi ke kamar belakang ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ (Maafkan anakmu pak!) . Habisnya biasa tidur ada temennya, ini disuruh tidur sendiri, kan sedih yaaa. Jadi butuh adaptasi haha.  

Finally… saya sudah berada di fase ini. Fase dimana kembaran saya menikah dan dia sudah memiliki kehidupan dan tanggung jawab sendiri. Memang sih kadang ada rasa cemburu, “Kok sekarang jadi jarang whatsapp,” atau “sekarang kalau mau pergi udah gak minta ditemenin aku lagi. Sekarang udah ada suaminya yang siap antar jaga,”. Sedih? Yes. Tapiiii cuma dikit kok. Yang banyak bahagianya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ’•๐Ÿ’•. Barakallahu lakuma wa baraka alaikuma wa jama’a baynakuma fii khair untuk mbak kembar dan mas kembar. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawwadah, warrahmah. Semoga lekas dikaruniai buah hati yang lucu-lucu yaaaa. Aamiiin. 

Fyi, mas ipar saya ini juga kembar loh hehe. Bedanya, kembaran mas ipar saya udah nikah sedangkan kembaran istrinya masih betah sendiri aja ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. 

Oya, sepanjang 2 hari saat hajatan kemarin berulang kali saya mendapat pertanyaan “Kamu kapan nyusul?”, “Kenapa nggak bareng aja si nikahnya?,” atau “Udah ada calonnya kan?” ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Huahauahaua. Memangnya memilih pasangan segampang pilih baju saat diskonan? 

Jumat besok saya rencana ke Jakarta.  Inshaa Allah mulai Januari besok dan untuk waktu yang tidak bisa ditentukan saya akan banyak menghabiskan waktu di Jakarta ๐Ÿ˜Š yes, i’ll move to Jakarta. Ada rezeki yang Inshaa Allah berkah disana. See you soon Jakarta! Please be nice โค๏ธ

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Orang Baik di Sekitar Kita

Selasa, 10 Oktober 2017.

Pagi tadi, kota Cilacap berawan tapi tidak hujan. Hanya udara lumayan panas. Saya yang semalam sengaja melupakan diri untuk tidak makan malam akhirnya terpaksa keluar kosan untuk mencari makanan pengganjal perut. Maka diputuskannya lah saya sarapan dengan nasi uduk. Sayangnya saya nggak beli nasi uduk “Umi” seperti yang biasa saya beli karena mungkin Umi yang asli Sunda itu sedang pulang kampung ke Garut sana. Ya, karena beberapa hari ini saya melihat warung di ujung gang itu tutup. Saya akhirnya beli nasi uduk di warung saingannya Umi. Penjualnya Mas Mas yang menurut saya cukup cute untuk menjadi penjual nasi uduk (?). Cukup 6 ribu rupiah dan perut pun kenyang.

Selesai sarapan saya bergegas untuk berangkat ke kantor. Ganti baju, pake make up, dan taraaaa! Saya kaget bukan kepalang saat akan menyalakan motor, “Loh kok mesin motornya mati?” Gumam saya dalam hati. Saya lirik jam, wih udah jam 7.24 Wib (kantor saya masuk jam 7.30). Dijamin telat nih nyampe kantor. Saya coba cagak berdiri (bahasa Indonesianya apa ya cagak berdiri itu? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚). Saya coba nyalakan tetap aja nggak bisa. Duh sedih kali, mana jadi keringetan. Luntur deh itu me’ap ๐Ÿ˜‚. Saya pun bergegas ke rumah bapak kos untuk minta bala bantuan. Bapak kos menawarkan diri untuk membantu mengantar ke bengkel. Alhamdulillah… sampai akhirnya tetangga kosan saya (kamarnya persis di sebelah kamar saya) keluar hendak berangkat kantor. Si masnya tanya kenapa saya panik dsb dan saya pun menjelaskan jika motor mogok. Si mas manggut manggut dan ikut mencoba menyalakan motor tapi sayangnya gagal juga. Si merah matic-ku kenapaaa? Hiks. 

“Sepertinya ada kabel yang putus mba, dibengkelin aja. Mbaknya berangkat bareng saya aja,” tawar si Mas baik hati ini. 

“Beneran Mas? Wah alhamdulillah… makasih ya Mas,” saya pun tersenyum lega. Alhamdulillah…. betapa Allah Maha Baik, Ia menurunkan pertolonganNya  melalui si Mas baik hati dan Bapak kos yang super perhatian. 

“Sudah mbak berangkat aja, biar motor saya antar ke bengkel, nanti saya ambil sekalian,” 

KURANG ROCK N ROLL APA LAGI COBA BAPAK KOS SAYA? pengin deh saat itu juga pelu ibuk Kos wkwkw. Habisnya baik banget sih โค๏ธ saya serahkan kunci motor dan berangkat ke kantor dengan senyum sumringah eh dengan keringetan karena ngeslah motor gagal terus. 

Dan bisa ditebak kan? Nyampe kantor sudah hampir jam 8. Saya telat banyak menit ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Hari ini mengajarkan betapa orang baik itu masih ada di sekitar kita. Saya jadi inget film Pay It Forward. Filmnya jadul banget, mungkin keluaran tahun 2003-2003. Menceritakan seorang anak kecil yang memiliki gagasan untuk menyebarkan kebaikan. Prinsipnya, jika hari ini kita menerima kebaikan/pertolongan dari orang lain, maka kita wajib membayarnya dengan menolong orang lain juga (tentunya orang yang berbeda). Nah si anak kecil yang punya ide itu mempraktekannya ke komunitas terkecil lingkungannya. Mulai dari keluarga, teman bermainnya, geng anak jalanan di sekitar rumahnya dan hasilnya keren banget! Semuanya berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan. Kalau dalam islam dikenal dengan Fastabikulkhairat.  Jika itu benar-benar dilakukan di dunia nyata, ah indahnya…….. 

Dan karena saya berangkat tidak membawa sepeda motor, pulangnya pun saya masih harus merepotkan orang lain. Terima kasih mba Monic sudah mau mengantar sampai kosan ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ˜˜

Rasanya hari ini itu…… lelah tapi semoga lelah ini Lillah…. Aamiiin. Selamat malam, selamat istirahat. 

Diposkan pada Rumah Kata :)

[Fiksi] Kita yang Bertemu Sore Itu

Kala itu adalah senja. Di sebuah toko buku, seseorang menepuk pundakku pelan. Aku berbalik dan kulihat laki-laki itu berdiri di depanku. Tersenyum dan mengulurkan tangannya seraya bertanya, “Apa kabar Rayya?” 

Dan memory sepuluh tahun yang lalu kembali bermunculan. Hujan, terik, mendung dan dingin pernah aku habiskan bersama laki-laki di depanku ini. Sekali lagi, aku mencoba menghilangkan gemuruh yang muncul di dalam dada. Perasaan apa lagi ini? 

“Hai, kabarku baik,” itulah kata yang berhasil aku ucapkan.

Laki-laki itu kembali tersenyum. 

“Kau kaget ya?” 

“Iya. Ku kira kamu masih di Jakarta, lagi mudik?” 

“Ya begitulah, ada hari cuti yang belum kuambil. Ya sudah deh sekalian saja aku pulang kampung,” 

Aku terdiam. Susah sekali mencari topik pembicaraan di situasi seperti ini. 

“Senggang? Ngopi yuk, di lantai 1 katanya ada kopi enak loh,” ajaknya. 

“Kok kamu bisa tahu sih? Aku merasa gagal sebagai produk lokal,” 

Ia terbahak. 

“Rayya kamu ternyata masih sama,” 

Segelas machiato dan kopi hitam tersaji di meja. Masing-masing dari kami mulai menyesap minuman berkafein yang selalu penuh kejutan ini.

“So, how’s life?” Tanya laki-laki ini. 

“Beginilah,” 

“Kudengar sekarang ngajar ya? Jadi dosen?” Tanyanya. 

Aku mengangguk. 

“Ngajar apa?” 

“Coba tebak,” 

“Yang jelas kamu nggak jadi dosen matematika kan?hahaha,” 

Aku terbahak. Ah, ternyata ia masih mengingat mata pelajaran SMA yang tak kusukai. Sampai aku kuliah pun aku memilih jurusan yang tak bersentuhan dengan matematika. 

“Inget ga Ya, dulu waktu SMA kamu itu tomboi banget kan? Rambut dipotong pendek, kalau les pakenya jeans sama kaos, ga pernah mau pake baju model dress gitu. But, look at you now! Kamu berubah!” 

Ia memandangku heran. 

“Nggak usah lebay gitu deh. Life’s change, right? Kamu juga dulu cupu sekarang…Yah, okelah naik dikit levelnya” 

“Enak aja! Dulu aku nggak cupu kali! Buktinya fansku banyak,” belanya. 

 “Karena dulu mereka kagum dengan kemampuan matematikamu kan? Itu nggak mempan buat aku,” 

“Hahaha sudah lah, itu hanya masa lalu. Omong-omong aku lebih suka kamu berhijab begini, kamu berubah jadi cewe sejati,” 

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. 

Ternyata dia tidak berubah. Suaranya, tatapan matanya, cara dia mengajakku berbincang. Dia masing sama seperti Nanda sepuluh tahun yang lalu. Nanda yang selalu kukagumi karena kecerdasannya, keramahannya, kesabarannya dan semuanya yang ada pada dirinya selalu terlihat hebat di mataku. Hanya saja dulu aku terlalu bodoh untuk mengakui jika jauh di lubuk hati yang paling dalam aku menaruh rasa padanya. Hingga kini semuanya berubah. 

“Kamu datang bareng siapa? Sendiri?” Tanyaku. 

“Enggak. Aku dateng berdua. Sebentar lagi juga kesini. Aku udah bilang mau aku kenalin ke Rayya, sahabatku di SMA yang paling keren,” 

Aku tersenyum. Kau masih saja memujiku Nan… 

“Eh itu dia,” 

Seorang perempuan berjalan ke arah kami. Ia terlihat kewalahan membawa beberapa tas belanjaan dan juga pengaruh janin yang ada di kandungannya. Ya, perempuan ini tengah hamil. 

“Kenalin, ini Rayya. Rayya, ini istriku, Hani,” 

Hani mengajakku bersalaman.

“Nanda banyak cerita tentang kamu,” katanya. 

” Benarkah? Pasti cerita tentang kejelekanku kan? Haha,” 

Perempun berjilbab merah maroon itu tersenyum. 

“Kalau Nanda cerita tentang kamu, dan betapa masa SMA nya berwarna karena adanya kamu, kadang aku cemburu. Tapi setelah bertemu langsung, aku percaya apa yang Nanda katakan. Rayya memang wanita yang luar biasa,” 

Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Apa benar Nanda memujiku di depan istrinya? Untuk apa? Lagian dulu aku dan Nanda hanya sebatas teman. Emm, bukan juga sih. Kalau bisa dibilang TTMan yang hubungannya harus kandas di tengah jalan demi mewujudkan cita-cita. 

“Ehm, selamat ya atas kehamilannya! Semoga lancar sampai lahiran ya. Selamat Nan kamu bakal jadi ayah!” Kataku berusaha mencairkan suasana. 

Nanda tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Kami bertiga mengobrol sebentar sampai akhirnya aku pamit pulang karena sebentar lagi sepertinya hujan akan turun. Aku tak membawa jas hujan dan aku tak ingin basah kuyup di atas sepeda motor. 

“Hati-hati di jalan,” pesan Hani dan Nanda untukku. 

Sore itu mungkin menjadi sore paling kelabu di hidupku. Laki-laki yang selama ini aku harapkan ternyata telah menjadi harapan orang lain. Aku kalah. Aku patah. 

Dua hari kemudian aku mendapatkan sebuah pesan di emailku. 

Sahabatku, Rayya

Hai, senang rasanya bisa ketemu kamu. Rayya masih saja keren seperti dulu ya!  Hani senang akhirnya bisa ketemu langsung sama kamu. Ia titip salam. Oh ya  boleh minta izin? jika anak kami lahir, akan kami beri nama ia Rayya. Inginku agar ia kuat sepertimu. 

Rayya, 

Apakah sampai saat ini kamu masih sendiri? 

Jangan kamu terlalu asyik dengan diri kamu sendiri ya. Kamu butuh orang lain untuk melengkapimu. Kamu perlu bahagia. Hidup harus seimbang kan? Memberi dan menerima. Untuk melakukan itu kau butuh partner. Pendamping. Pasangan. 

Aku tahu suatu hari, tak lama lagi aku dan Hani akan datang ke pesta pernikahanmu. Kau pasti akan cantik sekali di hari itu. Bersanding dengan Pangeran yang berhasil memenangkan hatimu. 

Rayya yang baik. Pasti akan ada laki-laki yang datang untukmu. Dulu memang sempat ada dipikirku, jika laki-laki itu adalah aku. Tapi sepertinya tipe laki-laki idamanmu tidak ada pada diriku. Kau selalu mengatakan, jika laki-laki yang tampan itu seperti Chris Martin, sang vokalis band legendaris Coldplay kan? Jelas sekali aku tak bisa bersaing dengannya ๐Ÿ˜‚

Rayya, 

Aku dan Hani selalu berdoa yang terbaik untuk kamu. Semoga kamu sehat dan bahagia selalu. 

Oh ya, saat anak kami lahir, boleh ya ia memanggilmu Onti Yaya? 

ps:kutulis ini karena tak kulihat cincin di jari manismu

Tangisku pecah bersamaan dengan turunnya hujan pertama di bulan Oktober. 

Saat ini yang bisa membuatku merasa lebih baik adalah aku pernah berada di suatu sore saat kami bertemu kembali. 

End

Diposkan pada Others

Weekend vibes: Menuju Ibu Kota

Weekend kali ini saya habiskan dengan jalan-jalan ke Ibu Kota. Demi mewujudkan ini seminggu sebelumnya saya harus lembur di kantor, empat hari berturut-turut. Saya mau tak mau harus pulang diatas pukul 20.00 wib. Menyelesaikan semua pekerjaan akhir bulan agar tak disuruh lemburan di hari Sabtu. Maklum, tiket sudah saya pesan dan sangat sangat tidak menguntungkan jika perjalanan ini saya tunda. Berangkat dari stasiun Purwokerto bersama mbak kembar dengan diantar Bapak dan Ibu tercinta. Seperti biasa sebelum berangkat ibu terus mengingatkan, “sudah bawa minum?”, “minyak anginnya jangan lupa,” “kabar-kabar kalau sudah sampai Jakarta,”. Ibu masih menganggap saya dan mbak kembar seperti putri kecilnya. Padahal sebentar lagi usia kami genap seperempat abad ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Ya sudah gapapa, namanya juga orang tua, pasti selalu mematiskan semua akan baik-baik saja. 
Kami berangkat dari stasiun Purwokerto menuju Gambir. Kereta Taksaka malam itu lumayan penuh. Saya memilih duduk di samping jendela agar bisa melihat pemandangan (meski hanya kerlip lampu perumahan atau kendaraan bermotor ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚) dan mbak kembar harus mengalah dengan duduk di samping lorong. 

Perjalanan ke Ibu Kota kali ini memang kami rencanakan cukup lama. Hanya saja pelaksanannya menunggu mbak ipar saya lahiran. Alhamdulillah tanggal 23 September 2017 keponakan pertama saya lahir. Its a baby girl! Saat itu hari sabtu, Bapak dan ibu serta dua saudara segera meluncur ke Depok demi melihat cucu pertamanya. Pokoknya so sweet deh, ibu bahagia banget melihat cucu perempuan pertamanya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š. Dan saya memutuskan untuk menengoknya seminggu kemudian. Maka dipilihnya weekend ini. Hore akhirnya liburan! Melupakan sejenak semua kenyataan perih di kantor karena baru ditinggal 2 rekan kerja sekaligus karena habis kontrak (bye mas Jhon dan mas adit, i’ll miss you ๐Ÿ˜ญ). 

Pukul 04.19 WIB tibalah kami di stasiun Gambir. Keretanya telat kurang lebih 30 menit dari jadwal sebenarnya yaitu pukul 03.45 wib. Capek deh. Tapi gapapa juga sih, lagian saya juga harus menunggu sampai jam 6 karena akan naik KRL menuju Depok. Setelah bersih-bersih (baca: cuci muka dan sikat gigi)dan shalat subuh, mbak kembar segera memesan transportasi online untuk membawa kami ke stasiun Juanda. Kakak saya mengatakan akan menjemput di Juanda. 

Alhamdulillah pukul 07.30. Wib sampailah kami di stasiun Depok Baru. Saya dan Kakak segera menuju RS karena akan menemani mbak ipar kontrol pasca lahiran. Sedangkan mbak kembar kembali menggunakan jasa layanan transportasi online menuju rumah kakak. 

Capek juga ternyata setelah perjalanan kurleb 5 jam di atas kereta masih harus dilanjut nemenin mbak kontrol di RS. Namun rasa lelah itu terbayar saat melihat keponakan pertama saya. Terharu, akhirnya  mas dan mbak diamanahi buah hati juga ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š semoga jadi anak yang shalihah ya dedek, menghormati orang tua dan selalu menjadi pribadi yang baik. Aamiiin. 

Perjalanan kali ini saya dan mbak kembar banyak menggunakan jasa transportasi online. Ternyata di kota besar seperti Jakarta, layanan transportasi online cukup bermanfaat yha. Dan saya melihat banyak dari mereka sliwar sliwer menggunakan jaket dan helm kebanggannya masing-masing. Terlepas beberapa orang yang mungkin pernah dikecewakan, saya malah alhamdulillah nggak pernah dikecewakan oleh jasa tranportasi online ini ๐Ÿ˜‰ 

Oke deh, sekian cerita weekend saya kali ini. Semoga besok bersemangat lagi mengumpulkan recehan demi recehan agar bisa ke Depok lagi dan melihat keponakan tercinta โค๏ธ. 


(Muka kucel setelah naik krl depok-juanda) 

Perjalanan Gambir-Purwokerto, ditengah mendungnya langit sore Jakarta. 

Diposkan pada Rumah Kata :)

[FF] Di Penghujung Agustus

Namanya Ge. Lengkapnya Geribaldi Witjaksono. Lelaki yang kali ini mampu mencuri malam-malam panjangku hanya untuk berbincang bersama. Lelaki yang hanya karena senyum dan tingkah lakunya membuatku merasa lebih bahagia. Lelaki ini…..dia yang pertama kali kutemui di atas Taksaka.

***

“Din! Belum pulang? Mau bareng?” Sapa Ben, teman sekantorku. Ia menurunkan kaca mobilnya dan bisa kulihat lagi tatapan cemasnya.

“Sorry Ben, duluan aja,” jawabku.

“Masih nunggu Ge?”

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Ya sudah, tunggu di lobi aja Din, kasian kamu ntar kedinginan,”

Aku mengangguk. Ben melambaikan tangannya lantas pergi memacu mobilnya.

Lima belas menit berlalu. Dan seorang Ge belum juga menampakan dirinya. Rupanya aku mulai lelah menunggu.

Kemana sih Ge ini? Satu jam yang lalu dia kirim pesan akan pulang cepat demi memberiku surprise. Berkali-kali kuyakinkan dia kalau hari ini bukan hari ulang tahunku, bukan juga hari anniversary kita. Lagian, Ge ini gimana sih? Katanya mau surprise kok bilang-bilang sih?

“Supaya kamu dandan cantik. Biasanya kalau aku bilang langsung pulang, kamu abai dengan penampilanmu,”

Tulis Ge. Aku hanya tersenyum saat membaca pesannya. Dan kali ini demi menjawab permintaannya aku melakukan touch up sederhana. Mungkin, bedak dan gincu favoritku ini bisa membuat lelakiku ini senang.

Sepuluh menit kemudian datanglah dia yang kunanti. Kupasang wajah cemberut saat laki-laki itu melepas helmnya.

“Maafin aku Din, ada rapat mendadak,” Ge menggaruk rambutnya yang kukira tidak gatal. 

Aku masih diam saja demi menunjukkan kekesalanku.

“Kamu marah ya Din?”

“Enggak,”

“Ya sudah kalau kamu nggak marah, sini kubantu pasang helmnya,”

Ge meraih helm berwarna merah maroon, helm khusus yang ia berikan kepadaku karena hampir tiap hari aku menjadi pengojek setianya. Aku pasrah saja saat ia memakaian helm di kepalaku.

Ge menyalakan mesin motornya dan kami pun membelah jalanan kota Jakarta bersama.

“Katanya kamu mau kasih aku surprise, ayo dong apaan, udah gak sabar nih,” tanyaku disela-sela deru motor dan angin.

“Emang kamu penginnya dapet kejutan apaan Din?”

“Mmm…tiket pesawat buat liburan ke Jepang?”

“Hahahaha becanda ah Din,”

“Oh iya, mungkin kamu mau kasih aku seekor Panda?”

Ge menurunkan kecepatan sepeda motornya.

“Panda?? Bukannya di kamarmu udah banyak Panda ya. Bisa dijadiin bantal pula,”

“Idiiih itu mah boneka Ge. Aku penginnya yang asli, bisa dipeluk-peluk lucu gitu,”

“Ya udah kamu peluk aku saja, anggap saja aku ini Panda yang punya perut sixpack,”

Aku tertawa mendengar jawaban Ge. Kamu, Ge, memang selalu bisa membuatku tertawa seperti ini.

“Ge kita mau kemana?” Tanyaku saat Ge mengarahkan motornya di sebuah parkiran.

“Lihat aja,” jawabnya sok penuh teka-teki.

“Eh ini kan stasiun Gambir. Ngapain kita kesini Ge?”

“Udah, ikut aja yuk,” Ge mengamit tanganku. Dan aku hanya pasrah mengikuti langkah-langkah panjang laki-laki ini.

Ge mengajakku duduk di sebuah bangku panjang tempat para calon penumpang kereta biasa menunggu.

“Ge…kita ngapain sih disini? Atau…jangan-jangan kamu mau pergi? Kamu mau kemana Ge?”

Ge tersenyum mendengar pertanyaanku.

“Tenang Dina, aku nggak kemana-mana kok, aku kan selalu ada untuk kamu,”

“Kamu diajarin siapa ngegombal begitu?”

Ge terkekeh.

“Btw kamu malam ini cantik banget, Din”

Aku merasakan jantungku berdebar dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Kucoba kuatur napasku dan berusaha menyembunyikan bahagia yang luar biasa ini.

“Kamu laper ya Din? Kok diem aja,”

“Aku kaget aja, nggak biasanya kamu memuji aku cantik. Tapi, terimakasih, aku senang,”

“Sama-sama,”

Rasanya pengin ketawa melihat sikap Ge yang aneh begini. Ya, karena Ge tak pernah bersikap setegang ini.

“Din, masih ingat setahun yang lalu? Kereta Taksaka dan novel ini?” Ge tiba-tiba mengeluarkan sebuah novel yang halaman  covernya sudah lusuh dari dalam backpacknya.

“Critical eleven nya Ika Natassa,”

Ge mengangguk.

“Kau tahu Din, saat pertama kali kita bertemu setahun yang lalu aku tak pernah ada pikiran untuk bisa mengenalmu lebih dalam. Aku pikir kamu hanya penumpang biasa yang kebetulan cantik dan baik. Cewek yang kebetulan asyik untuk diajak ngobrol selama perjalanan. Tapi ternyata takdir membawa kita untuk bertemu lagi. Dan kupikir dari hari itu sampai sekarang aku semakin jatuh cinta padamu,”

Ge memandangku lekat. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.

“Ge, please, kamu mau melamar aku disini?”

“Kok tebakanmu selalu bener sih Din?”

“I know you well, Ge,”

Ge kembali tersenyum. Kuraih jemarinya yang dingin, kukira karena saking nervousnya dia.

“Ge, makasih ya. Aku senang malam ini,”

“Din, bentar ini belum selesai. Kejutan utamanya baru ini,”

Ge memberi kode berupa tepukan. Dan sekelompok orang yang biasa bernyanyi di stasiun Gambir mendekat.

Dan….mengalunlah lagu kesukaanku itu…..

//…..Bila nanti saatnya ‘tlah tiba. Kuingin kau menjadi istriku….berdua bersamamu dalam terik dan hujan, berjalan kesana kemari dan tertawa~ //

“Kalau kau mau, minggu depan aku akan ke rumahmu untuk minta ijin ke Bapak,”

“Untuk?”

“Untuk meminang anak perempuannya yang paling cantik,”

Ge memandangku lagi.

Kupejamkan mataku sejenak. Memori setahun lalu kembali bergerak. Statsiun Gambir, Taksaka, aku dan Ge, juga novel Critical Eleven yang menjadi awal perbincangan kami. Semuanya tertata rapi kembali. Kuingat senyum hangat Ge saat menawarkan minum. Sampai pertemuan tak disengajaku dengan Ge di lobi kantor. Kali kedua itu lah yang akhirnya mendekatkan kita.

Kali ini kutatap lagi mata laki-laki ini. Kulihat ada kesungguhan didalamnya.

Akhirnya aku mengangguk dan kugenggam tangannya lebih erat lagi.

“Ge, aku mau hidup bersamamu,”

End.

***

Ehm.

Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari lagu Akad-nya Payung Teduh. Yuhuuuu, kalian pasti tahu dong lagu ini yang lagi ngehitsnyaaa dan sungguh sangat romantis sekali liriknya. Cucok meong lah buat dinyanyikan di hari pernikahan. Ecie. 

Jadi, karena suka banget sama lagu ini. Bingung mau diapain (?), akhirnya saya tuangkan dalam bentuk flash fiction saja. Oh iya, FYI ini saya nulisnya di HP, maap aja kalau acakadut. Besok kalau ada waktu dan sedang online di PC saya percantik lagi deh. Dan lagi ini kali pertama saya nulis fiksi dan cecintaan setelah kurang lebih setahun vakum tidak menulis fiksi ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.