Diposkan pada Others

Batas Waktu

[Disclaimer: postingan ini adalah karya fiksi yang dibumbui beberapa kenangan. Tidak menyebabkan hati ambyar kok, jadi nggak usah sedia tissue : ‘)]

“Hai,” sapamu seraya meletakkan tas kantormu di kursi samping tempatmu duduk.

“Sudah pesan makan?” Tanyanya. Mungkin karena melihat meja kami masih kosong.

“Belum, baru pesan minum. Aku nunggu kamu,”

Kemudian ia memanggil waitress dan memesan dua jenis makanan yang tak pernah asing bagi kami berdua.

“Ooh ternyata masih hapal,” aku tersenyum padanya yang ku lihat semakin terpancar aura bahagianya.

By the way… selamat yaa, akhirnya sah nih. Selamat enaena!”

Dia tertawa.

“Iyaa makasih ya! Lagian kamu sih nggak mau sama aku,”

Aku terbahak dalam kepalsuan.

“Itu masa lalu. Udah lah gak usah dibahas lagi kenapa sih?”

“Habisnya gemes aja sama kamu. Sok jual mahal. Sekarang giliran aku udah nikah, kamu nangis nangis kan?” Katanya sambil tertawa.

Aku cemberut, tak terima mendengar kata-kata yang barusan terlontar.

“Idiih, pede banget sih! B aja kaliii, nggak sampai nangis juga. Cumaa yaa kenapa kamu duluan yang nikah sih?!”

Ia tertawa lagi. Tawa yang masih sama. Tawa yang dulu membuatku rela cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan untuk segera menemuinya di akhir pekan.

“Eh kenapa nih, tumben ngajak ketemu?” Tanyaku akhirnya.

Dia berdeham. “Nggak apa-apa, kangen aja ngobrol sama kamu,”

“Eh nggak boleh gini. Kasihan istri kamu di rumah,”

“Dia tahu kok,”

“Hah?”

“Kan, kamu sahabatku, jadi nggak apa-apa lah kita ngobrol gini. Lagian rasa yang dulu pernah ada sudah menguap. Jadi, tenang aja lah,”

Sekarang, giliran aku yang tertawa.

“Dasar aneh. Kirain kamu mau ngenalin aku sama temen kamu,”

“Eh iya, ada loh. Kamu beneran mau? Sebentar aku punya fotonya,”

“Eeh aku bercanda! Jangan serius gini dong,”

“Kenapa lagi sih? Kamu masih mau beralasan apa? Masih ingin sendiri? Takut nggak ada yang bisa ngimbangin kerandoman kamu? klise tahu! Aku masih hapal semua alasan alasan yang kamu berikan saat kamu pergi begitu saja ninggalin aku. Kurang-kurangin lah kayak gitu. Kalau bisa hilangkan. Kamu tuh udah dewasa. Kamu butuh sebuah hubungan,”

Aku masih terdiam.

“Hei.. dengar… coba dengarkan kata hatimu yang paling dalam… kamu sebenarnya… kesepian kan?”

Aku tersenyum. Dia masih sama seperti dulu. Masih seseorang yang sama yang memelukku saat aku berada di jurang kesendirian. Laki-laki itu menghela napas.

“Kenapa sih dulu kamu nolak aku?” Tanyanya sambil menatapku penuh simpati.

“Nggak bisa. Kita nggak bisa bareng aja. Terlalu banyak perbedaan,”

“Ya aku tahu sih. Tahu banget. Ya sudah, aku cuma khawatir sama kamu. Ingat ya, mulai sekarang lupakan aku, temukan laki-laki lain. Kamu cantik, kamu baik. Kekurangan kamu hanya satu… belum berani berkomitmen,”

“Iya. Kamu benar. Aku terlalu takut dalam menjalani sebuah komitmen. Sama kamu pun sebenarnya sama. Aku takut suatu hari bakalan ninggalin kamu. Jadi, lebih baik gini kan? Coba dulu kita pacaran, kamu pasti nggak tahan sama aku yang suka ilang-ilangan,”

Dia mengheleng.

“Aku tahu kamu kok. Always. Kamu menghilang untuk menetralkan kecamuk di pikiranmu kan? Hanya saja dulu kamu menghilang terlalu lama. Aku jadi hilang harapan,”

“Sudahlah. Kenapa jadi mengingat masa lalu? Lupakan ya semua diantara kita. Kamu sama istri kamu, dan aku yang masih berusaha menemukan seseorang yang mau menerimaku yang seperti ini,”

Dia tersenyum.

“Jaga kesehatan ya. Jangan terlalu sering begadang,”

Aku mengangguk.

“Oh ya, jangan sampai lupa inti dari tujuanku ketemu kamu,” aku mengeluarkan kantong berisi kotak di dalamnya. Seminggu yang lalu aku benar-benar sempatkan untuk mencarinya seorang diri.

“Kado pernikahan dariku untuk kalian berdua. Bahagia selalu ya!”

Ia menerimanya dengan canggung.

“Buka kalau kamu sudah sampai di rumah. Harus berdua ya, nggak boleh sendiri-sendiri,”

“Seharusnya kan tak perlu repot-repot begini,” katanya. Ia mengucapkan terima kasih dan sekali lagi mengingatkan aku untuk mengurangi begadang. Dih, memangnya aku anak kecil? Lagian soal begadang, bukannya aku mau. Hanya saja mata ini susah terpejam jika jarum jam belum melewati pukul 1 dini hari.

Pukul sepuluh malam dan kami pun berpisah. Aku tahu ada sedikit rasa perih di hati. Rasanya ingin menangis saja saat melihat dia lagi. Tapi aku tadi benar-benar menahannya. Ya, memori saat kami bersama kembali tayang ulang di otakku. Pedih. Hampir setiap sudut kota ini adalah kita. Namun, ya kembali lagi, itu adalah masa lalu. Saat ini yang harus aku lakukan adalah terus melangkah.

Bagaimana pun, selama kita masih hidup, kenangan akan terus tersimpan. Memori-memori itu tak akan bisa hilang begitu saja. Menyebalkannya lagi saat mereka datang disaat yang tidak kita inginkan.

Baginya aku adalah masa lalu. Bagiku, dia pun akhirnya menjadi kenangan. Suatu hari mungkin aku akan bercerita tentang dia kepada kamu. Tenang, saat aku cerita ke kamu, tak usah cemburu. Karena disaat perjalananku untuk menemukan kamu, aku banyak belajar, berproses. Dia hanya salah seorang.

Dan kamu… adalah selamanya.

[Note to myself: tahun 2019 adalah tahun yang menyenangkan. Bisa mengeksplor diri lebih jauh lagi. Tahun ini juga tahun dimana aku belajar memaafkan diri sendiri dan bangkit menghadapi persoalan hidup. Penuh lika-liku memang, tapi aku menikmatinya. Terima kasih untuk yang sudah singgah, meski sejenak tapi membawa banyak pelajaran. Hiyaaa kenapa aku malah curhat? ๐Ÿ˜† semoga tahun 2020 lebih hebat lagi!]

Diposkan pada Rumah Kata :)

Sepulang Kerja

Pulang kerja tanah basah. Ternyata hujan turun sedari sore. Begitu kata bapak-bapak yang kebetulan lewat.

Benar sih, aku masih merasakan gerimis rintik-rintik jatuh di pipi dan tanganku. Melangkahlah kaki ini menuju halte busway.

Sepi. Oh mungkin karena sudah masuk libur akhir tahun. Sebagian besar penghuni Jakarta yang merupakan perantau mungkin mudik ke kampung halaman, atau mungkin juga liburan.

Aku menunduk, mengamati sepatuku yang basah. Aku tak suka sepatuku bercorak kotor seperti ini. Rasanya ingin lekas sampai di kosan saja.

Lima menit menunggu, busway yang aku tunggu datang. Syukurlah, masih dapat tempat duduk. Akhirnya bisa melakukan hal yang paling aku suka, melamun sepulang kerja di busway! Haha aneh ya? Tapi aku suka. Karena hanya ada aku dengan kecamuk pikiranku sendiri. Memikirkan apa yang sudah aku lakukan selama bekerja tadi. Atau memikirkan besok enaknya sarapan pakai apa ya? Banyak pokoknya! Terserah aku mau memikirkan apa. Orang lain nggak ada yang tahu karena nggak akan aku tuliskan disini.

Sampai di kosan, setelah mandi, shalat dan bebersih sejenak akhirnya tibalah waktu rehat. Tapi rupanya mata ini belum mau terpejam. Otak ini masih ingin berfikir.

Hmm. Padahal tubuh sudah lelah. Buktinya aku menguap beberapa kali.

Buka instagram, isinya orang-orang yang liburan atau kumpul bareng keluarga. Belum lagi foto-foto pernikahan teman atau keluarga kecil mereka. Buka twitter, yaa itu itu saja postingannya. Bosan.

Akhirnya buka laptop dan nonton film. Judul filmnya Love, Rosie. Bagus. Aku suka. Benar-benar cocok ditonton sama orang yang lagi patah hati.

What? Patah hati ya? Enggak sih… hanya saja… entahlah. Nggak bisa dideskripsikan dengan kata-kata.

Lebay? Ya biarin aja.

“Yang bisa kamu lakukan ya letting go. Melepaskan.. jangan dipaksa untuk bertahan jika kamu tahu akan menyusahkan dirimu sendiri. Ayo move on!” Nasihat seorang teman.

Move on sih.. tapi terkadang suka teringat kembali. Ya namanya juga kenangan. Terkadang sering datang tanpa diminta. Menyebalkan.

Di situasi aneh bin melelahkan seperti ini, temanku bilang begini,

“Nanti pasti sampai kok, tenang aja, ”

Terus aku berterima kasih karena sudah mau mendengarkan. Temanku yang baik, semoga kamu juga selalu semangat. Aku juga ingin bilang ke kamu,

“Tenang saja, nanti pasti sampai kok,”

Yang perlu kita lakukan adalah tetap mengayuh, tetap berjalan, tetap berlari. Dan untuk itu semua dibutuhkan mimpi-mimpi sebagai bahan bakarnya.

Ya semoga, suatu saat nanti… aku sampai.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari, Others

“Tukar Baju” untuk Menyelamatkan Bumi

Tanggal 8 Desember 2019 kemarin saya mengikuti acara Tukar Baju yang diselenggarakan oleh Zero Waste Indonesia bekerja sama dengan Green Peace Indonesia. Tukar Baju (IG: @tukarbaju_) merupakan salah satu kampanye dari komunitas Zero Waste Indonesia (IG: zerowaste.id_official) yang bertujuan untuk meminimalisasi limbah atau sampah tekstil. Kampanye yang mereka fokuskan adalah sustainable fashion.

Untuk mekanisme acara Tukar Baju sendiri adalah kita sebagai penukar atau yang disebut #TemanTukar membawa baju layak pakai kita yang ingin ditukar sebanyak maksimal 5 baju. Baju-baju ini harus melewati sesi kurasi untuk bisa lolos dari para kurator. Beberapa syarat baju yang ingin kita tukar adalah layak pakai, tidak ada cacat di baju, tidak bernoda atau kancing/resleting dalam kondisi baik (tidak rusak).

Sehari sebelum acara, saya mulai memilah baju-baju di lemari. Kebetulan memang saya mulai proses decluttering dimulai dari lemari pakaian. Dan taraaa ternyata hasil declutter pakaian mencapai dua box. Hadeuh, baru juga dua tahun di Jakarta ๐Ÿ˜‚ kebiasaan ini karena sering beli baju karena lapar mata atau tergoda harga murah.

Setelah memilah, akhirnya ada 4 baju yang saya yakin masih layak pakai dan minim cacat. Semoga aja lolos kurasi hehe.

Esoknya, selepas dinas malam saya menuju ke tempat dimana acara Tukar Baju diadakan. Yaitu ke Museum Nasional. Ini juga pertama kalinya saya menginjakan kaki di Museum Nasional. Asyik deh, jadi nambah pengalaman jalan-jalan ke Museum. Tiket masuk Museum sendiri adalah 5.000 rupiah. Selanjutnya saya membayar biaya registrasi sebesar 10.000 rupiah.

Saat itu waktu menunjukan pukul 9.30 WIB dan ternyata antrian di depan booth Tukar Baju sudah panjang. Mereka pada datang jam berapa sih? ๐Ÿ˜‚ saya kira jam 9.30 tuh masih pagi loh hehe.

Setelah proses registrasi, saya diberi nomor antrian dan dicap tangan sebagai tanda sudah terdaftar sebagai #TemanTukar. Saya mendapat antrian no. 24. Proses setelah ini adalah proses yang membuat hati resah dan gelisah. Yaitu proses kurasi! Yup, sebelum ditukarkan, baju-baju yang kita tukarkan harus melewati proses kurasi dulu. Saat nomor saya dipanggil, saya mendapat meja kurasi nomor 1. Kuratornya masih muda, mungkin usianya lebih muda dari saya. Satu persatu baju saya dilihat dan diperiksa secara detail. Perasaan lega saat baju nomor satu lolos kurasi. Baju ini adalah baju kenangan saat beli dengan gaji kerja pertama kali ๐Ÿ™‚ kondisinya memang masih bagus karena jarang saya pakai dan selalu saya gantung. Baju nomor dua ternyata tidak lolos kurasi karena ada bagian baju yang serat kainnya menonjol. Wah padahal saya sendiri tidak sadar ๐Ÿ˜‚. Baju nomor 3 yang saya donasikan adalah jenis outer. Warnanya tosca cantik. Salah satu kesayangan juga. Alhamdulillah lolos kurasi. Dan yang keempat adalah celana jeans. Karena saya memang sudah tidak memakai celana berbahan jeans lagi, daripada menggantung memenuhi lemari lebih baik saya tukarkan saja. Dan ternyata tidak lolos kurasi. Hiks sedihh. Alasannya karena ada benang yang menjuntai wkwk. See? Detail bangettt kuratornya. Dari 4 baju, yang lolos kurasi hanya 2 baju. Saya pun diberi koin kayu sebagai alat tukar. Oh maaf, terbuat dari batok kelapa ding, bukan dari kayu.

Ini adalah koin dari batok kelapa yang digunakan sebagai alat tukar

Saya pun masuk ke venue dan mulai memilih dua baju. Ada banyak baju-baju dengan kondisi yang masih baik. Baju-baju tersebut ditata sesuai dengan warna. Jadi gampang untuk memilih baju yang sedang dicari. Kami para #TemanTukar diberi waktu maksimal 20 menit di booth untuk mencari baju yang kita inginkan. Saya mulai berkeliling. Pilih celana, kemeja, outer, gamis dll. Ada banyak, jadi bingung sendiri hehe.

#TemanTukar yang asyik memilah baju

Selepas memilih, saya menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Dan koin tadi yang saya gunakan untuk membeli baju-baju yang saya pilih. Mudah bukan? Dapat baju baru, gratis pula ๐Ÿ™‚ senaaang rasanya bisa ikutan acara ini. Selain lega karena bisa mengurangi isi lemari, dengan berpartisipasi di acara ini kita juga bisa mengurangi penumpukan limbah fashion lho. Oiya, baju-baju yang tidak lolos kurasi tetap bisa didonasikan di drop box dari Setali (IG: @setali.id) sebuah komunitas yang digagas oleh mbak Andien Aisyah untuk mengurangi limbah fashion.

Saya berjodoh dengan dua baju ini. Jenis knitwear dan tunic

Acara tukar baju ini berlangsung dari tanggal 7-8 Desember 2019 di Monumen Nasional. Komunitas Tukar Baju cukup sering melakukan kegiatan Tukar Baju, tidak hanya di Jakarta, namun juga pernah berlangsung di Jogja atau Bali.

Kuy, kalau ada waktu bisa ikutan ๐Ÿ™‚

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

A Short Getaway: Jalan-Jalan ke Pulau Belitung

Tanggal 4 Oktober kemarin saya menyempatkan diri untuk weekend getaway. Ini adalah perjalanan super mendadak karena baru direncanakan H-7 keberangkatan.

Berawal dari perbincangan saya, kakak, dan mbak Ipar. Dua orang yang selalu saya recokin hehe (Makasiiih). Karena saya dan mbak ipar pengin banget liburan tapi belum tahu mau kemana, akhirnya kakak menawarkan untuk ke Tanjung Pandan. Melihat cantiknya pantai di Belitung. Saya dan mbak ipar langsung setuju. Hari itu setelah jadwal bulanan saya keluar dan ternyata cocok (alhamdulillah saya dapat libur di weekend), kami pun segera mencari tiket pesawat. Akhirnya dapat juga tiket meski harganya tidak begitu bersahabat. Yaa siapa suruh nyarinya udah mepet tanggal berangkat? ๐Ÿ˜›

1. Berangkat

Tanggal 4 Oktober, selepas saya dinas malam, pukul 11 siang saya pesan grabcar dari kosan menuju bandara Soetta. Awalnya pengin naik Damri dari stasiun Gambir tapi ternyata waktunya terlalu mepet. Mau naik kereta bandara pun sama sepertinya akan lama. Akhirnya saya memilih naik grabcar demi efisiensi waktu. Alhamdulillah Jakarta siang itu nggak macet. Keberangkatan kali ini kami naik pesawat Garuda dari Jakarta (CGK) ke Tanjung Pandan (TJQ). Di tiketnya tertulis keberangkatan pukul 14.00 WIB dan sampai di Tanjung Pandan pukul 15.10 WIB. Pertama kalinya saya menginjakan kaki di Soetta. Karena naik Garuda maka terminal yang saya tuju adalah Terminal 3 Ultimate. First time kesini tuh rasanya amaze banget! Karena ternyata T3 ini gedeee banget ya. Dan tentu saja luas.

Ternyata luas banget ya Terminal 3 Bandara Int. Soekarno-Hatta

Di terminal 3 ini saya bertemu dengan mbak ipar dan ponakan. Kangen banget seminggu belum ketemu hehe. Sedangkan kakak sudah di Tanjung Pandan duluan karena ada urusan pekerjaan. Karena sudah menunjukan jam makan siang, kami bertiga pun makan di salah satu gerai makanan di T3. Selesai makan dan urusan check in selesai kami pun mencari mushola. Selesai shalat ternyata waktu sudah menunjukan pukul 13.15 menit. Saya dan mbak ipar pun bergegas menuju gate 28 dimana kami harus boarding. Ya ampun jalan 15 menit dari gate 11 ke gate 28 tuh rasanyaaโ€ฆ.pegel to the max! saya jalan dengan beberapa kali berlari karena jamnya memang sudah mepet dan jarak antar gate tuh jauh bangeeet pemirsah! Saya yang hanya gambol ransel saja rasanya pinggang kayak mau patah apalagi mbak ipar yang harus gendong ponakan pula. Ckckck luar biasa ya buibu ituuu. Dengan bantuan travelator akhirnya kita sampai di gate 28 pukul 13.36 wkwk. Engga kebangetan lah ya telatnya. Sampai di pesawat tuh rasanya masih ngos ngosan aja. Alhamdulillah ponakan anteng, pinter banget mau duduk sendiri juga. Perjalanan ke Tanjung Pandan berjalan lancar. Oh iya waktu pertama lihat pesawatnya rada kuciwa sih karena ternyata pesawat Garudanya tuh yang jenis jet. Jadi kecil gitu. Seatnya pun hanya seat dalam bentuk 2-2. Tak apa lah kali ini saya harus rela untuk tidak duduk di dekat jendela.

ditengah lari-lari menuju gate 28, foto dulu deh soalnya bagus atapnya :p

2. Sampai di Bandara H.A.S Hanandjoeddin

Pukul 15.20 WIB kami sampai di bandara H.A.S Hanandjoeddin Tanjung Pandan. Di pintu kedatangan sudah ada kakak dan mas Angga. Mas Angga ini yang menjadi tour guide kami selama di Belitung. Kami pun langsung menuju penginapan untuk beres-beres dan istirahat sejenak.

Bandara Int. H.A.S. Hanandjoeddin

Kami menginap di La Lucia Hotel sekitar 30 menit dari Bandara H.A.S Hanandjoeddin. Selama perjalanan dari Bandara ke penginapan kami disuguhi pemandangan deretan kebun sawit. Yang saya suka lalu lintas di Beltung tidak lah seramai Jakarta. Benar-benar menenangkan pikiran. Selamat tinggal sejenak Jakarta  yang riuh ๐Ÿ™‚

Kamar tempat menginap di La Lucia Hotel
sunset dari rooftop hotel
dek adek emesh penikmat senja

Selepas maghrib, kami keluar penginapan untuk mencari makan malam. Dan pilihan jatuh pada Joโ€™s Seafood. Rasanya cukup enak sih meski harganya bikin nangis. Makananya lupa saya foto karena keburu laper haha. Dan yang menjadi favorit tuh es jeruk kunci sebagai minuman khas Pulau Belitung.

3. Wisata Pantai

Pukul 07.00 pagi, selesai sarapan kami langsung capcus berangkat untuk wisata pantai. Tujuan pertama kami adalah pantai Tanjung Kelayang. Pantai ini adalah starting point untuk menjelajah pulau-pulau cantik di sekitarnya. Perjalanan kami tempuh sekitar satu jam. Sampai di pantai masih pagi, masih sepi. Mamang mamang pemandu perahu saja masih pada duduk-duduk. Kami bertemu dengan salah satu mamang-mamang (lupa namanya :D). kami pun bersiap dan island hopping pun di mulai. Oh iya disini banyak yang menyewakan kapal. Satu kapal bisa berisi 10-12 orang. Bisa langsung datang saja dan banyak mamang-mamang yang langsung menawarkan perahu namun hati-hati jika lagi ramai malah kadang jam sewa mereka padat sekali loh. Jadi harus booking duluan biar aman.

Starting Point untuk Islands Hopping

a. Pulau Batu Berlayar

Ini adalah pulau pertama yang kami singgahi. Disini isinya batu-batu granit gede gitu. Mungkin sisa-sisa jaman dahulu kala saat ada letusan gunung berapi. Pasir disini tuh juga cantik-cantiiik, putih dan bersih. Benar-benar deh lupa sejenak dengan kerjaan di Jakarta hehe. Saya foto-foto sebentar, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke pulau selanjutnya.

Kapal yang membawa kita menikmati Pulau-Pulau cantik di Belitung
Pulau Batu Berlayar

b. Pulau Lengkuas

Merupakan pulau yang paling banyak dituju wisatawan. Disini selain pantainya yang cantik, pasirnya yang putih bersih, banyak pula berjajar batuan yang sangat cantik untuk foto-foto. Disini juga ada mercusuar sebagai ikon Pulau Belitung.

Ikonnya Pulau Belitung
eksis dulu yhaa~
batu karangnya juga lucu-lucu
Kangen bangettt pengin kesini lagi!

c. Pulau Kelayang

hanya mampir sebentar karena panaaas bangeeet masyaAllah.

Cuma mampir sebentar disini karena panasss

d. Pantai Tanjung Tinggi

Pernah nonton film Laskar Pelangi? Masih ingat adegan Ikal dan kawan-kawannya lari-larian di sekitar pantai dengan batu-batu besarnya yang cantik? Yup, inilah Pantai Tanjung Tinggi. Menjadi salah satu lokasi untuk film Laskar Pelangi. Di pantai Tanjung Tinggi kami asyik menikmati semilirnya angin laut. Ponakan asyik main pasir. Saya asyik lihat rombongan wisatawan yang foto-foto dan berenang santai.

Warna airnya bisa beda gitu yaa?

4. Kuliner

Selain seafoodnya yang terkenal enak, disini kita bisa mencicipi mie khas Belitung yaitu Mie Atep. Rasa mie nya lain dari mie kebanyakan. Enak sih menurut saya, apalagi disantap panas-panas dengan minumnya es jeruk kunci. Hmmm syedaapp. Kemarin kami makan di Mie Atep dekat Satam Square.

Selain Mie Atep jangan lupa mampir ke kedai kopi. Tanjung Pandan tuh surganya pecinta kopi karena banyaknya kedai kopi disini. Kami pun mencoba ke kedai Kong Djie. Karena kurang suka ngopi, saya pesan susu hangat jeruk kunci.

es susu jeruk kunci terlove
Kalau ini es jeruk kunci tanpa susu

5. Pulang

Hari Minggu tanggal 6 Oktober adalah saatnya kami check out dan pulang kembali ke Jakarta. Awalnya sebelum ke bandara kita mau ke museum kata Andrea Hirata di Belitung Timur, namun karena takut ponakan saya capek akhirnya kita memilih istirahat saja di hotel. Selepas shalat subuh saya meminjam sepeda dari hotel dan bersepeda menuju Pantai Tanjung Pendam. Kurang lebih 1,5 km dari Hotel tempat kami menginap. Waah rasanya menyenangkan! Apalagi saya sudah lama tidak naik sepeda. Meski gerimis rintik-rintik saya tetap melaju dengan penuh percaya diri. Kakak dan ponakan saya memilih stay di hotel, sedang mbak ipar memilih untuk packing. Saya pun memutuskan untuk sepedaan sendirian dan tetap asik kok. Banyak juga wisatawan yang sepedaan (sama-sama pinjam sepeda dari hotel haha).

Susah naik sepeda sambil selfie tuuu

Pukul 11 kita check out hotel dan menuju bandara. Kami pulang dengan pesawat Citilink dari Tanjung Pandan ke Halim Perdana Kusuma. Alhamdulillah pukul 18 WIB kami sampai dengan selamat meski pesawat harus ngantri landing di Halim karena traffic di Minggu sore yang super padat. Saya harus mengalami berputar-putar di atas langit Bekasi 14 kali sebelum akhirnya boleh landing. Ternyata bikin pusing juga haha. Tapi tak apa lah yang penting mendarat dengan selamat yaa kaan?

Terima Kasih Belitong untuk weekend getaway yang menyenangkan! Bagi teman-teman warga Jakarta dan sekitarnya yang membutuhkan short getaway atau weekend getaway, Pulau Belitung bisa menjadi pilihan karena jarak tempuh Jakarta-Tanjung Pandan yang tidak terlalu jauh. Pun, kita akan dimanjakan dengan pemandangan pantai dan pulau-pulaunya yang mempesona.

Diposkan pada Rumah Kata :)

Hanya Singgah, Bukan Menetap

Dulu saya pernah bilang seperti ini, “Jakarta itu hanya untuk singgah, bukan menetap,”

Nyatanya, setahun kemudian keadaan berbanding terbalik. Jawaban dari takdir ternyata mengharuskan saya mengenal lebih jauh kota ini.

Kini, hampir dua tahun menjadi satu dari ribuan perantau yang memadati Jakarta. Dulu, kota ini begitu asing tetapi sekarang perlahan mulai saling membuka diri. Terkadang benci, tapi seringnya kangen juga.

Nyatanya, sekarang tak hanya singgah. Namun menetap. Sering bertanya ke diri sendiri, “Mau sampai kapan?”. Tak lekas pula mendapat jawabnya. Sebelum tidur, bangun tidur, berangkat kerja, pulang kerja hingga tidur lagi. Saya tak ingin jawaban seperti ini, “Dijalani dulu saja nanti juga ada jawabannya, “. Seakan tidak ada target. Tidak ada greget.

Lekas. Semoga lekas bertemu dengan jawaban yang selama ini dinanti.

Ini akhir pekan,selamat melepas penat ditemani secangkir lemon hangat dan sisa-sisa air hujan tadi sore. Kali ini memang waktumu untuk rehat sejenak.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Mengunjungi Pasar Kreatif di Semasa Market 2019

Akhir bulan ini saya mendapat jatah libur di akhir pekan, tepatnya di tanggal 27-29 September 2019. Libur di akhir pekan merupakan suatu hal yang jarang saya dapatkan mengingat saya bekerja dengan sistem shift. Seringnya, anak muda, lajang, dan belum punya pacar seperti saya ini selalu mendapat jatah shift di akhir pekan. Menggantikan para ibu muda yang ingin menghabiskan weekend bersama suami dan anak-anak mereka.

Akhir bulan ini saya sengaja rekues ke bu bos agar bisa libur di tanggal 28 atau 29 September 2019 dan malah dikasih 3 hari dong ๐Ÿ˜€ terharu saya. Permintaan ini sengaja saya lakukan karena memang sudah jauh hari ingin datang ke Semasa Market yang inisiasi oleh akun Instagram @Semasa_di. Awalnya Semasa sebenarnya sebuah kafe retro di kawasan Kota Tua Jakarta. Namun, sepertinya sekarang sudah tidak ada dan berlanjut ke acara tahunan pasar kreatif ini.

Awal mula saya mengenal Semasa Market adalah di bulan Maret 2018. Saya yang masih jadi anak baru ibukota mencoba mengikuti acara walking tour dari Jakarta Good Guide. Saat itu rute tournya adalah sekitarKota Tua. Kalau tidak salah nama temanya adalah Beginning of Batavia. Selesai Tur kita diajak mengunjungi Olveh Markt yaitu pasar kreatif dari para creativepreneur local yang diadakan di gedung Olveh. Dan dari Olveh Markt inilah yang menjadi cikal bakal adanya Semasa Market.

Semasa market di buka mulai pukul 10 pagi hingga pukul 6 sore selama dua hari yaitu tanggal 28-29 September 2019. Saya berhasil meracuni Mbak Diah untuk ke Semasa. Sebenarnya ini kedua kalinya Mbak Diah mau saya ajak ke Semasa. Sebelumnya kami sempat berkunjung ke Semasa Piknik di Taman Lapangan Banteng sekitar bulan Agustus 2019. Saya, Mbak Diah, my baby niece dan Kakak berangkat dari Depok. Perjalanan untuk sampai ke Jakarta membutuhkan waktu sekitar 2 jam karena jalanan lumayan padat. Terutama di daerah Cinere  :(.

Semasa market kali ini diadakan di Balai Kota DKI Jakarta. Kami tiba di lokasi sekitar pukul 11 siang. Kami memilih parkir di komplek DPRD DKI dan alhamdulillah parkiran belum terlalu penuh (meski sepertinya selang berapa menit pasti sudah susah cari parkiran). Selain di kantor DPRD sebenarnya kantong parkir di sediakan juga di lapangan IRTI Monas, cuma yaa itu jalannya agak jauh. Sedangkan kalau parkir di kantor DPRD, kita tinggal jalan sebentar langsung sampai deh karena memang masih satu komplek dengan Balai Kota DKI Jakarta.

Kami pun berkeliling melihat barang-barang yang dijual di Semasa. Ada puluhan tenant yang berhasil lolos kurasi dan memajang karya mereka di acara ini. sepertinya keputusan kami untuk ke Semasa tidak terlalu sore sepertinya tepat. Suasanya ramai namun masih kondusif. Kami bisa puas melihat dan menikmati barang-barang yang ada.

Yang saya suka dari Semasa adalah barang-barang yang lolos kurasi disini adalah barang-barang handmade/localmade. Ada banyak stiker-stiker lucu, aneka succulent beserta potnya yang unik, aneka scarf warna warni yang memanjakan mata sampai food and beverages dengan cita rasa lokal. Memang, untuk masalah harga beberapa barang ada yang dibanderol dengan harga yang menurut saya lumayan menguras tabungan. Namun, jika mengingat ini adalah barang-barang handmade yang sebagian besar ramah lingkungan, saya kira worth it kok.

Salah satu tenant favorit karena ada banyak succulent lucu โค๏ธ
The crowds
Booth minuman favorit. Jamu kunyit asam!

Setelah berkeliling, saya pun memutuskan untuk meminang dan membawa pulang sling bag lucu dari @hibi.id dan lipstick local @luneskin_ shade 04.

Ternyata dua barang ini yang berjodoh sama saya

Hari ini saya senang sekali. Semoga di lain kesempatan bisa mengunjungi Semasa market lagi dengan lebih banyak tenant yang menjual karya-karya kreatif anak bangsa.

Semasa Market masih berlangsung hingga tanggal 29 September 2019 dari pukul 10 am โ€“ 6 pm. Jadi bagi teman-teman pembaca yang masih bingung mau menghabiskan uang gajian eh weekend bisa tuh mampir ke Semasa hari ini.

Diposkan pada Others

Jalan Pulang

Ada yang datang, lantas ia menghilang
Ada yang datang, hanya untuk singgah sejenak
Ada yang datang, memberi warna
Ada yang datang, membawa luka
Ia datang, lantas ia bilang ingin menetap
Ia seringkali tak dianggap
Ia seringkali berjuang sendiri
Ia seringkali terlukai
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi
Dan tak pernah berbalik lagi
“Kau harus belajar mencintai. Kau juga layak untuk dicintai,” katanya untuk yang terkahir kali
Ada yang sedang berjuang memaknai semua ini
Setiap yang datang akan membawa harapan
Dan yang pergi meninggalkan pelajaran
Ia sekarang pergi
Benar-benar pergi

Dan mari terus berjalan, jangan takut tersesat
Sejatinya diperjalanan nanti akan banyak rahasia rahasia yang terungkap
Menemukan jalan pulangmu, salah satunya

Diposkan pada Others

A Light in A Morning

“Suster, nama suster hampir sama loh kayak nama aku,” kata pasien saya pagi tadi saat saya masuk ke kamarnya untuk menawarkan sibin pagi.

“Oh ya? Cuma beda huruf a dan i saja ya,” kata saya.

Dia mengangguk.

“Sust, aku bosan.. udah pengin pulang. Aku pengin ke salon, pengin creambath,” kata pasien saya yang masih remaja ini. Sepertinya dia mulai jenuh dengan seabrek pengobatan untuk kankernya yang terlihat tidak kunjung usai.

“Boleh, nanti ke salon, creambath, spa… boleh banget. Tapi… nanti kalau pengobatannya udah selesai yaa,” kata saya disertai senyuman.

“Sust, saya pengin nonton di bioskop,”

“Bisaa, tuh depan ada CGV,” kata saya sambil menunjuk mall di seberang RS.

Dia tertawa.

“Sambil bawa-bawa ini semua sust?” Katanya menunjuk alat-alat medis segambreng yang terpasang di badannya.

“Eh ada loh, film yang tokoh utamanya sakit,terus dia kemana-mana harus bawa oksigen,” kata saya.

“Aku tahu sus! FIVE FEET APART khan???” Jawabnya penuh semangat. Sayangnya, bukan itu jawabannya.

“Bukaan, nama judulnya apa yah, pokoknya adaptasi dari sebuah buku gitu,” kata saya sambil berusaha mengingat judul film itu. Saya ingat tokoh cewek yang memerankannya tapi lupa nama dan judul filmnya.

Akhirnya kami berdua sama-sama mikir. Kocak juga membayangkan adegan tadi pagi. Saya sampai berhenti di tengah-tengah merapikan tempat tidurnya.

Hingga akhirnya….

“The Fault in Our Stars! Ya ya benar itu judulnya,” kata saya penuh semangat. Berharap dia membalas tatapan saya dengan penuh semangat juga.

“Aku gak tahu sust,” katanya cemberut.

“Masa siiih? Ini film terkenal loooh,”

Dia menggeleng. “Emangnya keluaran tahun berapa tuh film?”

Terus saya mengingat-ingat lagi. Oh iya, ini film keluar sekitar 5-6 tahun yang lalu saat saya masih kuliah.

“Yaa mungkin 2013-2014. Sekitar itu,”

“Suster gimana siiih? Udah lama banget ituu, aku kan di tahun itu masih anak-anak!”

Kemudian saya terbahak. Pasien saya inj baru menginjak 17 tahun. Kalau 5-6 tahun yang lalu berarti dia usia 11-12 tahun, masih SD. Masih anak kecil. Mungkin tontonnya masih barbie fairy tale gitu yak ๐Ÿ˜†

“Iya ya deh, maafin yak. Suster nonton film jadul berarti ya?”

Terus dia tertawa.

“Udah yaaa, dah beres, kamu dah mandi, udah suster gantiin baju, gantiin sprei, sekarang suster mau operan jaga dulu sama teman suster yang jaga pagi. Udah jam 8, saatnya suster istirahat,”

Dia melambaikan tangan kepada saya. “Daah suster,” katanya.

“Semangat terus ya. Nanti kalau sudah boleh pulang, kamu boleh pergi ke bioskop, nonton film yang kamu suka, pergi ngemall, hang out sama teman-teman kamu. Lakukanlah hal-hal yang kamu suka. Nanti saat waktu pengobatan datang, kamu tidak akan terlalu bosan dan bayangkan hal hal menarik lainnya yang bisa kamu lakukan setelah pengobatanmu selesai. Tetap semangat!”

Dia tersenyum kemudian bilang terima kasih.

Saya mengambil laundry kotornya, berpamitan dan keluar dari kamarnya.

Selalu ada cerita yang berbeda dari setiap pasien tiap harinya. Entah itu duka maupun suka. Saya banyaaak sekali belajar dari mereka. Belajar untuk sabar, belajar memahami, dan juga belajar berempati.

Lelah memang bekerja di pelayanan itu. Namun, semoga lelah ini menjadi Lillah… Aamiin.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Trip Solo-Joga dan Pengalaman Menginap lewat Aplikasi RedDoorz

Sedari tahun lalu saya ingin sekali liburan ke Jogja. Seingat saya, terakhir saya mengunjungi kota itu adalah di semester akhir kuliah, sekitar tahun 2015. Sudah empat tahun berlalu, rasanya saya kangen untuk menjelajah kota budaya ini.

Sepertinya memang sudah menjadi rezeki. Akhir ramadhan kemarin saya mendapat kabar jika sahabat saya, Rahma akan menikah di akhir bulan Juni dan melangsungkan resepsi seminggu setelahnya. Langsung dong saya siapkan budget, permintaan libur ke ibu kepala ruang, dan beli tiket ke Solo. Saya memilih menggunakan moda transportasi kereta api yaitu kereta Argo Lawu. Waktu tempuh perjalanannya dari Gambir hingga Solobalapan kurang lebih selama 9 jam.

Tepat pukul 20.15 WIB kereta berangkat dari Gambir menuju Solo. Alhamdulillah bertepatan dengan weekend sehingga stasiun Gambir serasa lautan manusia. Maklum ya, Jumat malam waktunya penduduk Jakarta menghilang sejenak dari hiruk-pikuk ibu kota. Saya duduk di gerbong 5 kursi 6C. Agak sedih sih, nggak bisa duduk samping jendela. Tapi ternyata setelah terlewati ya nyaman-nyaman aja tuh, lagian kalau malam hari mau lihat pemandangan apa? Sepanjang perjalanan hanya terlihat kerlap kerlip lampu. Saya juga memutuskan untuk tidur karena hari itu saya baru selesai jaga malam.

Pukul 05.05 WIB saya tiba di stasiun Solo Balapan. Kereta telat 20 menit dari jadwal seharusnya. Saya segera mencari mushala untuk bersih-bersih dan shalat subuh. Pagi itu stasiun Solobalapan tidak begitu ramai. Saya segera menuju ke penginapan dimana teman-teman saya menginap.

Oh iya, berhubung saya kondangan ramai-ramai, jadi lah kami booking penginapan. Teman-teman saya yang lain sih sudah sampai di Solo sejak Jumat sore, sehingga mereka sempat menginap. Saya yang paling terakhir sampai di penginapan. Karena saya mendapat mandat untuk urusan booking kamar maka pilihan saya jatuh pada aplikasi Reddoorz.

Ini adalah kali pertama saya menginap di Reddoorz. Saya pesan kamarnya seminggu sebelum kedatangan, mengingat weekend jadi takut saja kamar penuh. Kami semua menginap di Reddoorz di dekat Taman Balaikambang, tepatnya di Jalan Majapahit III karena acara resepsi Rahma berada di Taman Balaikambang. Biar tidak terlalu jauh gitu lho.

Area depan kamar penginapan yang instagramable

Setelah melepas lelah dan kangen kangenan dengan geng bul (sebutan kami karena dulu saat kuliah kami berada dalam naungan satu kosan yang sama di daerah Bulusan, Tembalang ๐Ÿ˜‚), saya pun segera bersiap kondangan. Mandi, ganti baju, make up. Ini sih make up time yang paling rempong yhaaa. Mana saya ini anaknya nggak bisa make up yaa. Yha palingan make up dasar saja. Untuk urusan eyeshadow, highlight, dll ituu saya nggak mudeng. Alhamdulillah geng bul ini semuanya jago make up (kecuali aku) wkwk beda jauh kemampuannya dari jaman kuliah dahulu kala ๐Ÿ˜‚ tepuk salut deh untuk progress mereka semua ๐Ÿ‘. Dengan saling gotong royong akhirnya make up time selesai dan kami segera menuju ke lokasi acara.

Saya happy banget waktu tahu ternyata konsep resepsinya rahma itu garden party! Keren deh, saya kira bakal dilaksanakan di gedung.

Pukul 10 acara dimulai. Saya dan para bridesmaid (ceilah) bersiap mengikuti prosesi adat manten. Dan kaget yang kedua, prosesi adatnya nggak ribet say! Biasanya kan kalau nikah adat Jawa tuh ritualnya banyak banget yaa. Tapi khusus di resepsinya Rahma banyak ritual yang diskip. Saya jadi terinspirasi heheu, soalnya bener-bener menyingkat waktu. Dan menurut saya ini efektif karena lebih diperbanyak waktunya untuk acara lain (salam-salaman dan foto bersama pengantin, santap hidangan kawinan).

Namanya Selat Solo

Alhamdulillah acara selesai sebelum adzan dzuhur. Para tamu undangan sudah kenyang dan saatnya para bridesmaid ala ala ini berfoto. Dilanjutkan dengan acara reuni bersama alumni PSIK Undip 2011. Senaaang rasanya bertemu teman-teman. Ada yang sudah bawa anak, bawa suami/istri, bawa calon suami/istri. Ternyata teman-teman saya sudah meniti fase baru lagi. Terharu saya tuh ๐Ÿ˜ญ.

Kondangan sekaligus reuni

Geng Bul reunited

Setelah melepas kangen dengan pengantin dan teman-teman yang lain, saya dan geng bul (ini ada 7 orang, terlalu banyak, jadi nggak dijabarin satu persatu ๐Ÿ˜‚) segera berpindah lokasi ke kosan Niken untuk ganti baju dll. Saya, Intan dan Nunung segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju Jogja.

Saya pikir, “wah sudah jauh-jauh ke Solo, kenapa nggak ke Jogja sekalian?”. Akhirnya saya mengajak Intan yang kerja di Magelang untuk menemani main di Jogja. Awalnya Nunung mau ikutan tapi mendadak membatalkan karena ada ujian kredensial di RSnya.

Perjalanan menuju Jogja diawali dengan kereta prameks. Ini kali pertama saya merasakan naik prameks (singkatan dari Prambanan Ekspress). Kereta lokal yang melayani rute Solo-Purworejo.

“Nung, ini kita mesti kebagian tempat duduk gak to?” Tanya saya.

“Yo nggak Des, disik-disikan ngko sopo sing olih kursi. Tapi biasane ndek jam semene ki rame,”

Dan benar kata Nunung, kita bertiga nggak kebagian tempat duduk. Akhirnya ngemper deh haha saking capeknya kita. Sebenarnya ada peraturan kalau nggak boleh duduk di lantai kereta.

“Santai wae Des, asal orak kethok nang petugase, dewek aman,” kata Intan. Saya pun mengikuti mereka berdua duduk di lantai kereta. Saking capeknya, saya pun tertidur hingga tiba di stasiun Maguwo. Penumpang banyak yang turun, dan kami pun bisa duduk di kursi sesungguhnya. Selanjutnya adalah stasiun Lempuyangan, tandaya Saya dan Intan harus turun. Sedang Nunung melanjutkan perjalanan pulang menuju Kutoarjo.

Karena nggak kebagian tempat duduk

Dari stasiun Lempuyangan, saya dan Intan menuju penginapan menggunakan pinkiana, sepeda motor kesayangan Intan yang ia tinggal di stasiun Lempuyangan.

“Des, aku nggak tahu Jogja loh yaa, kita modal gmaps, oke?”

Aku tertawa dan berdoa semoga bisa sampai penginapan dengan selamat ๐Ÿ˜.

Di Jogja kami menginap di Reddoorz lagi. Yaitu penginapan syariah di jalan Sisingamangaraja. Lokasinya tidak jauh dari alun-alun kidul atau alkid. Dan saat sampai disana, sudah ada mas resepsionisnya yang langsung membantu proses check in. Kenapa namanya syariah? Nah ini saya nggak nanya sih. Cuma dari pengamatan sih mungkin karena lokasinya persis di seberang mushola sehingga bisa mendengat adzan 5x sehari ๐Ÿ˜. Alhamdulillah check in berjalan lancar dan kami diantar menuju kamar. Kesan pertama saat saya sampai di penginapan ini adalah bentuk penampakan luar rumahnya adalah rumah kuno khas Jogja. Namun saat sudah di dalam kamar desainnya sama seperti kamar penginapan modern lainnya. Kamarnya yang kami tempati menyenangkan karena bersih, rapi, dan kamar mandinya luas. Bertolak belakang dengan penginapan sebelumnya yang lebih menekankan ke luas kamar yang lebih luas dan kamar mandi yang mungil.

Saya dan Intan pun bersih-bersih dilanjutkan shalat maghrib dan Isha. Seperti biasa cewek ya, kita curhat ini dan itu hingga tak terasa sudah mau pukul 20.00.

Malam ini kami pun mengunjungi Tempo Gelato di Jalan Prawirotaman. Wishliat saya ke Jogja ya kepingin banget ke Tempo Gelato. Dengan bermodal gmaps, saya dan Intan akhirnya sampai di lokasi. Daan ternyata ramai sekali sodara. Awalnya saya pasrah, ya udah deh kalau nggak jadi masuk, tapi Intan tetap memaksa untuk masuk.

“Dah jauh-jauh kesini masa mau mundur? Itu palingan bule bule pada take away,”

Thanks to Intan akhirnya saya bisa mencicipi enaknya Tempo Gelato Jogja yang hits itu. Saya pesan rasa Kiwi dan Cappucino, sedangkan Intan kalau nggak salah rasa Matcha dan cokelat.

Perjalanan dilanjutkan dengan menuju jalan Malioboro. Bayangkan, kemarin itu malam minggu dan Jogja sedang macet-macetnya. Dari jalan Prawirotaman menuju Malioboro kita tempuh kurang lebih satu jam an dengan bermacet-macet ria. Ngerii sih macetnya luar biasa. Tapi ntah kenapa, meski macet saya tuh fine fine aja. Apa mungkin sudah kebal dengan kemacetan di Jakarta? ๐Ÿ˜‚

Dan memang bener yaa, seramai itu Malioboro di malam minggu. Pukul 22.30 WIB kami pulang ke penginapan karena badan rasanya kayak habis nguli๐Ÿ˜‚ alhamdulilah malam ini capek tapi senang.

Esok paginya kami checkout dari penginapan pukul 07.45 wib. Saya harus naik kereta dari stasiun Tugu. Dan pulang kali ini saya menggunakan Argo Lawu kembali dengab keberangkatan dari stasiun Tugu menuju Gambir. Estimasti perjalanan adalah 8 jam.

Saat sampai di stasiun, saya berniat ingin membeli oleh oleh bakpia kukus Tugu yang lagi hits itu. Dan gimana saudara? Apakah saya berhasil membelinta? Oo tentu tidak sodara. Antrinya itu loh bok, kagak kuat.

Mana sebentar lagi kereta saya akan tiba. Saya pun nyerah ngantri dan memilih membeli oleh-oleh di dalam stasiun saja. Mungkin lain waktu, saat saya kembali lagi ke kota ini bisa berkesempatan mencicipi rasa bakpia ini.

At least, terima kasih untuk dua hari menyenangkan ini. Terima kasih geng bul sudah meluangkan waktu untuk bertemu. Terima kasih Rahma yang menikah sehingga kami, geng Bul bisa reuni kembali: “). Terima kasih juga Reddoorz untuk penginapan yang baik.

Semoga dilain kesempatan bisa bertemu lagi ๐Ÿ˜˜

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Melewati Batas 25

Hai, halo, lama ya rasanya tidak bercakap di rumah ini. Beberapa bulan ini memang sedang puasa nulis blog dulu. Ntah mengapa sebenarnya banyak sekali yang ingin ditumpahkan di rumah ini, tapi selalu kalah dengan kemalasan dan alasan ‘sibuk’ lainnya. Untuk sibuk sih sebenarnya nggak sibuk sibuk banget. Rutinitas seperti biasa, kalau lagi libur kerja ya main atau tidur. Atau berkunjung ke rumah saudara, main sama ponakan atau nongki nongki cantik demi melepas penat.
Dan sore tadi baru saja saya mendapat kabar jika salah seorang sahabat akan melangsungkan akad nikah setelah lebaran. Kaget dong saya ya! Secara dia nggak pernah share apa pun, lagi dekat sama siapa atau tanda-tanda mau menikah lainnya eeh tiba-tiba jeng jeng dapet undangan di grup kesayangan kalau sahabat saya yang baik ini akan menikah. Benar-benar deh bisaaa aja kasih surprisenya ๐Ÿ˜„. Selain sahabat saya, beberapa undangan pun bermunculan. Mulai dari teman SMP, SMA sampai kuliah. Mulai tuh undangan nikah berdatangan kembali. Jikalau menilik dari pertemanan jaman SD kayaknya tinggal tersisa tiga orang cewek yang belum meniqa dalam lingkup pertemanan saya. Dan di dalamnya ada saya hahaha. Kalau teman-teman SD memang kebanyakan nikah muda karena selepas SMP/SMA kebanyakan memilih untuk bekerja dan hanya beberapa yang melanjutkan kuliah. Nggak kebayang ntar kalau ada reuni SD pasti lah hampir semuanya sudah bawa suami dan anak. Terus aku enaknya bawa siapa yaaa? ๐Ÿ˜‚.
Beberapa kawan juga sudah mengusik dengan pertanyaan, “Mana calon?“, Kapan nikah?, ” sampai petuah-petuah” Jangan keasyikan kerja, ntar lupa nikah, “. Ooh tunggu dulu, kalau keasyikan kerja sih kayaknya nggak ya. Wong saya anaknya nih biasa biasa aja engga terlalu ngoyo sama pekerjaan. Mungkin saya keasyikan menghabiskan duit gajian. ๐Ÿ™ˆ
Dalam kurun waktu dua tahun ini, memang hampir sebagian besar teman-teman saya melangsungkan pernikahan. Yha, menurut saya wajar saja sih karena usia kami sudah memasuki 25 tahun. Heheu. Usia yang katanya ideal untuk menikah. Dulu saat SMA, saya membayangkan akan menikah paling telat usia 25 tahun karena doktrin dari Ibu jika menikah tak boleh lebih dari usia 25 tahun. Katanya kalau melewati itu prioritas seseorang semakin berubah dan makin banyak kriteria dan syarat seseorang tentang jodohnya (oh ya?) . Kemudian pertengahan masa kuliah saya perpanjang deh tuh tenggat waktu. Usia 27 lah batas akhir nikahnya. Karena dulu bayangan saya usia 27 tuh udah kelar pendidikan sampai S2. Udah tenang kan ya. Eeh ternyata sekarang bentar lagi memasuki usia 27 tahun dan aku masih gini-gini aja ๐Ÿ˜‚. Nikah belum, S2 juga belum. Modyaaar nggak tuh. Hahaha. Satu persatu planning dari jaman kuliah ini tergeser. Ya, gimana lagi waktu itu sebenarnya sudah ada kesempatan S2, tapi ada panggilan kerja. Tahun berikutnya mau coba lagi, eh ada penerimaan CPNS hingga akhirnya jadi rejeki dan mengharuskan re-schedule total planning pendidikan saya.

Sekarang sudah melewati batas usia 25 tahun. Makin sering ditanya “Kapan? “. Baik oleh orang tua (terutama Ibu tercinta), saudara dan para tetangga dan juga rekan kerja. Iyaa! Rekan kerja yang hampir tiap hari ngomporin buat segera melepas masa lajang. Ooh tidak. Kadang mbatin, ngapain sih ini orang-orang pada ngurusin jodoh saya? Terus mikir lagi, mungkin ini sebagai perwujudan dari doa mereka ya. Atau setidaknya kekepoan yang diungkapkan dengan sengaja. Bagi saya sih, cukup hadapi dengan senyuman saja meski dalam hati perasaan saya ambyar ๐Ÿ’”.
Melewati usia 25 tahun rasanya banyak hal-hal baru yang muncul terkait menikah atau pun tentang pasangan hidup atau pun tentang permasalahan kehidupan yang lain. Saya banyak melihat fenomena teman yang semasa sekolah/kuliah pacaran sama siapa, ujung-ujungnya nikahnya sama siapa. Benar jika jodoh itu urusan masing-masing individu dengan Allah swt.

Bulan Ramadan ini pun banyak dikasih tahu dari sodara (thanks to mbak kembar) tentang doa-doa minta didekatkan jodoh. Berdoa? Tentu saja iya. Saya yakin sekali akan kekuatan doa. Namun tak ingin cepat-cepat, biarlah ia datang di waktu yang menurut Allah adalah yang paling tepat :).

Saya ingin mengucapkan selamat untuk sahabat (yang namanya belum bisa saya sebut sampai akad terucap ๐Ÿ˜). Semoga urusan kalian dalam menyegerakan kebaikan ini dilancarkan dan dimudahkan. Semoga saya dapat jadwal libur sehingga bisa kondangan ke Oslo. ๐Ÿ’•

Catatan ini ditulis di kereta Taksaka dalam perjalanan pulang menuju kota Purwokerto tercinta. Maaf jika postingan ini sarat akan nuansa curhat. Karena inilah sebenarnya latar belakang lahirnya Layang-Layang Sore. Iya, sebagai tempat membuang kepenatan pikiran dan perasaan alias curhat tipis tipis ๐Ÿ˜†.

Dulu saat ibu dan kakak belum mampir di blog ini, curhat tuh rasanya mengalir saja. Tapi sekarang kadang kakak suka ngintipin postingan saya. Begitu pun ibu. Haha khan jadi maluuuu. Ntar kalau ketemu di dunia nyata jadi dibahas deh. Heeu. Sepertinya saya butuh lapak baru yang benar-benar tidak terjangkau oleh mereka ๐Ÿ˜„

Oh iya bagi teman-teman semua, Selamat menyambut hari raya idul fitri yaaa semoga keberkahan selalu menyertai kita ๐Ÿ˜Š yang mau mudik hati-hati di jalan, semoga selamat sampai bertemu dengan keluarga tercinta โค๏ธ.