Posted in Cerita Pendek

Posting Cerpenku :D *just iseng

Saat aku ingin sekali pergi ke New York, menikmati secangkir kopi panas di coffee shop🙂

Check this out—->

sabtu, 20 November 2011

Pagi ini salju sepertinya sangat rindu  untuk cepat-cepat bercumbu dengan angin. Dengan ditemani secangkir teh hangat aku menyiapkan mantelku. Hari ini weekend pertamaku di negeri paman Sam  setelah satu minggu bergulat dengan kertas-kertas dan tugas kuliah yang sesungguhnya sangat membosankan. Aku harus belajar keras untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaan masyarakat amerika, mulai dari menu makanan yang sangat bertolak belakang dengan makanan daerah asalku, jawa tengah sampai cuaca yang sangatlah awam aku rasakan, musim salju. Sering aku meminta nyonya Fame, induk semangku untuk membuatkan nasi putih dengan tempe goreng sebagai lauknya (kebetulan suami nyonya Fame berdarah Amerika-Jawa). Nyonya Fame sangat baik kepadaku, juga ketiga putra-putrinya yang masih sekolah di junior highschool.

Daun maple berhembus dan jatuh tepat di depan kakiku. Ah, daun maple yang terakhir karena Autumn sudah berakhir 5 jam yang lalu.

“good morning Benny!where will you go? It is so cold,” nyonya Fame menghentikan acara menonton opera sabun kegemarannya. Pagi-pagi sekali ia rela bangun hanya untuk menonton ulang opera sabun yang ia rekam semalam.

“just want to go to book store, i’ll be back in an hour ma’am,”

Kulihat anggukan kecil nyonya Fame. Ia kembali merebahkan kaki-kakinya di sofa bermotif bunga-bunga hadiah ulang tahun pernikahannya dari almarhum mr. Fame.

“wait…wait benny!” suara alicia menuruni  tangga, kemudian  gadis 12 tahun itu berdiri manis di depanku.

“mau nitip apa?” tanyaku.

Alicia tersenyum. Ia membisikan sesuatu di telingaku.

“Please don’t tell my mom!” ia memohon kepadaku dengan tatapan malaikatnya.

Kuacak rambut gadis berambut pirang itu.

“Thanks benny!” teriaknya bahagia.

Aku mungkin mahasiswa paling beruntung di Amerika. Aku datang ke amerika hanya berbekal bahasa inggris dan ijazah lulus tes dari kedubes amerika untuk indonesia. Aku hanya iseng mengikuti program beasiswa yang ditawarkan pihak kedutaan besar. Kalau saja ibu tidak menemukanku saat aku sembunyi di rumah pohon Ryan,adikku, aku mungkin tak pernah mengenal nyonya fame dan keluarganya yang hebat. Aku memang sempat menolak untuk sekolah di amerika. Aku tak bisa jauh dari ibu dan ayah. Yah, harus ku akui walaupun aku laki-laki sampai umur delapan belas tahun aku belum pernah berpisah dengan ibuku lebih dari satu minggu.

Ibu dan mr. Fame adalah sahabat, kebetulan hubungan mereka memang cukup dekat sampai dua tahun lalu, saat mr. Fame yang baik harus meninggalkan dunia untuk kembali ke peristirahatan abadinya. Bahkan nyonya famelah yang menawarkan tempat tinggal untukku. Sungguh aku sangat beruntung. Disaat ratusan mahasiswa indonesia lain harus berbagi flat dengan sekawannya, aku bisa dengan bebas  makan dan melakukan sesuatu yang aku inginkan. Nyonya fame sudah kuanggap sebagai ibu keduaku.

Udara pagi yang sangat dingin memaksaku untuk mencicipi nikmatnya kopi di coffe shop dekat sixth avenue. Dark Angel coffe shop. Entah apa filosofi si pemilik coffe shop menamai kedainya dengan sebutan dark angel.

“cring” suara lonceng di pintu berbunyi. Seorang gadis amerika tulen masuk. Rambutnya berwarna emas. Ia mengenakan mantel wol warna coklat tua. ia duduk dua meja dariku.

“ini pesanannya tuan,” seorang waitters meletakan secangkir cappucino late di depanku.

“terima kasih,” aku mengangguk dan tersenyum. Aku membaca name-tag yang tersemat di dada kirinya. Namanya georgia, mungkin ia seumuran denganku. Ia cantik dan matanya berwarna hijau. Georgia, si waitters memandangku. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

Perlahan kuhabiskan cappucino late-ku. Cewek berambut emas tengah sibuk dengan note booknya. Ia menulis seuatu sambil sesekali menikmati manisnya carrebian late yang telah dipesannya. Setiap kali ia meminum caffein itu, bibir mungilnya menyunggingkan senyum. Sungguh manis sekali, semanis carrebian late yang tertuang di cangkir dalam genggamannya.

Dua puluh lima menit aku habiskan hanya untuk menikmati cappucino late-ku, georgia dan gadis berambut emas yang duduk dua meja dariku.

“Terima kasih untuk kopinya, enak sekali,” aku mencatatnya dalam memo dan meletakannya diatas meja. Tanpa uang bonus, aku yakin georgia tahu jika aku seorang mahasiswa.

Dengan hati yang masih berdebar aku meninggalkan dark angel. Dinigin kembali menelusup ke dalam mantel wol rajutan tangan nenekku di jogja. Nenek yang penyayang dan tatapan matanya yang hangat sepertinya berhasil memberiku sedikit energi untuk melawan angin november yang semakin menjadi.

“berapa semuanya?” tanyaku. Si loper koran mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.

“two dollars?”

Ia mengangguk.

Aku tersenyum melihat cover majalah pesanan alicia. Di sampul depannya tertulis “50steps to make you prettier than now!try it!”. Pantas alicia memintaku untuk merahasiakannya dari nyonya fame. Aku bisa membayangkan nyonya fame ngomong panjang lebar dengan alicia jika ia belum pantas memakai make-up.

“don’t act like Sthepanie she looks like a clown with a thick make up covered her  face!” itu kata-kata nyonya fame saat alicia membawa sthepanie ke rumahnya. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah dua gadis kecil yang beranjak remaja itu. Sthepanie habis-habisan membujuk Alicia untuk membeli seperangkat alat make-up seperti miliknya.

“kalau kamu ingin mendapatkan justin, ikuti aku, ayo pakailah!ngga usah mikirin ibumu,” sthepanie dengan lipgloss menempel di bibir mungilnya asyik menawarkan produk-produk kecantikan yang ia miliki, tepatnya milik ibunya.

Aku menghela nafas lega saat kulihat angin mulai mereda. Aku tak perlu lagi berjalan terbungkuk-bungkuk menahan terjangan angin sampai kedua telingaku sakit. Dengan hati yang masih berdebar aku berjalan pulang. Di dalam coffe shop aku masih menyimpan secuil kerinduan untuk georgia dan si rambut emas.

Sunday, 20 November 2011

6 a.m

Seperti senin-senin sebelumnya keluarga fame memiliki senin yang sibuk. Nyonya fame selalu bangun kesiangan, begitu pula dengan ketiga anaknya. Nomor satu dylan, duduk di kelas sepuluh. Berbadan jangkung dan memiliki sorot mata yang tajam. Aku yakin banyak gadis yang menyukainya. Yang kedua Robbert, tiga tahun lebih muda dari Dylan, ia duduk di kelas tujuh. Dan terakhir  si bungsu Alicia, rambutnya berwarna hitam turunan dari ayahnya. Matanya sangat indah dan senyumnya manis. Dia baru duduk di kelas 6 SD. Setiap senin pagi, aku memutuskan untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga Fame. Walaupun aku sama sekali tidak mempunyai bakat memasak, Dylan dan Alicia sangat menyukai pancake pisang buatanku. Mereka bahkan sering memintaku untuk membuat lebih agar mereka bisa membawanya ke sekolah.

“hari ini menunya apa?” tanya Dylan, ia menggeser kursi di meja makan. Diikuti oleh kedua adiknya.

“marshmallow pancake!” teriak Alicia riang.

Aku tersenyum.

“semoga kalian menyukainya,”

“thanks benny! Kamu baik sekali,” alicia mengecup pipiku.

Nyonya fame datang sambil menenteng laptopnya. Pasti hari ini ia pulang malam lagi.

“bergegaslah anak-anak! bus sekolah sudah datang,”

Ketiga kakak beradik itu berebut mencium pipi nyonya Fame. Nyonya fame tesenyum riang. Ah, benar-benar pagi yang indah.

“okay benny, jika kamu mau pergi taruh kuncinya di tempat biasa,” nyonya Fame menepuk punggungku dan ia pun menghilang bersama rekan kantornya.

Hari ini aku  harus menemui mr. Broadwalker untuk membahas mata kuliah tambahan yang harus aku ikuti. Kelas bahasa inggris, kelas ekstra untuk mahasiswa asing yang merasa kurang menguasai bahasa global ini. Sebagai mahasiswa jurusan ekonomi dan bisnis aku memang dituntut menguasai banyak bahasa.

Aku menunggu kedatangan mr. Broadwalker bersama tujuh mahasiswa lainnya. Kebanyakan dari kami adalah asian dan amerika latin. Aku mengenal alessandro, ia seorang brazilian. Bahasa inggrisnya sangat kacau tapi ia sangat menguasai matematika. Pembawaanya serius tapi sebenarnya ia sangat kocak. Kemudian ada kim yeon, mahasiswi asal korea. Ia cantik, sangat cantik. Aku yakin adik laki-lakiku yang notabene pecinta bintang-bintang korea tak percaya jika aku memiliki teman secantik jessica snsd, bintang korea favoritnya. Kemudian ada kimura san dari jepang, hasyim  dan azhar dari malaysia, dan terakhir maprang dari thailand. Kami bertujuh mengenal satu sama lain walaupun tak begitu dekat.

Senin sore. Aku memutuskan untuk mampir ke dark angel. Aku akan menyelesaikan makalah yang ditugaskan mr. Boardwalker sambil menikmati sedapnya cappucino late kesukaanku.

Georgia kembali melayaniku. Ia tersenyum manis melihat kedatanganku, kali ini rambutnya yang bergelombang ia ikat ke belakang. Aku bisa dengan mudah melihat tengkuknya yang putih, cantik sekali.

“seperti biasa secangkir cappucino late with waffle cream,”

Georgia mengangguk. Oh, georgia lihatlah mataku. Gadis berambut pirang itu menongak. Tak sengaja mata kami beradu. Sepertinya cupid-cupid kecil mulai berterbangan mengelilingi kepalaku. Aku jatuh cinta, aku jatuh cinta kepada georgia.

“cring” bel yang menggantung di pintu masuk berbunyi. Seorang kakek tua masuk diikuti seorang gadis yang selama ini aku nantikan. Gadis berambut emas! Masih sama seperti sabtu kemarin ia duduk dua meja dariku.

Ya, sekarang aku bisa dengan mudah menikmati senyum manisnya, gaya minum kopinya yang sangat nyentrik. Gadis berambut emas itu mengeluarkan notebooknya. Ia mulai menulis dan menulis sampai aku mulai mengantuk dan makalahku sudah selesai seperempat bagian.

Georgia menghampiriku. Menyerahkan bon yang harus aku bayar. Hatiku bergemuruh saat gadis berambut pirang itu menatapku. Georgia, aku benar-benar menginginkanmu.

“terima kasih,”ucap georgia lembut saat aku menyerahkan dua lembar uang dollarku.

Aku hanya mengangguk. Sungguh lidahku kaku. Aku tak tahu harus bicara apa dengan georgia. Akhirnya dengan hati yang masih berkecamuk aku meninggalkan dark angel. Ah, seandainya autumn masih betah berlama-lama menyapa new york……….

Malam ini, ditemani Everything-nya Michael bubble aku berniat menyelesaikan makalahku. Tapi,oh kenapa wajah cantik georgia kembali membayangiku. Senyum lembutnya seakan merayuku untuk mengingatnya. Rambut gelombang georgia sangatlah indah. Aku menyukainya. Ia berbeda dengan gadis amerika lain. Yang aku tahu, ia tak suka memakai rok pendek, dandananya tidak berlebihan dan ia mempunyai hobi yang sama denganku, membaca! Aku tak menyangka georgia memiliki darah asia, pantas saja warna kulitnya berbeda dengan gadis-gadis amerika tulen.

Sabtu pagi. Syukurlah, akhirnya aku bisa menikmati weekend-ku dengan bebas, tanpa tugas kuliah tambahan dari Mr. Boardwalker. Nyonya Fame dan Alicia sibuk menyiapkan sarapan di dapur mungil mereka. Alicia kecil asyik mengaduk telur dan tepung terigu untuk dijadikan omelette.

“perlu bantuan?” tanyaku

“Oh benny! Sudah bangun rupanya! Duduklah, aku sudah menyiapkan secangkir kopi hangat untukmu,” Nyonya fame menarik satu kursi dari meja makan dan menyuruhku duduk.

“tak biasanya anda melakukan ini kepada saya ma’am,”

Alicia terbahak.

“tak usah khawatir benny, kami menyayangimu! Terima kasih untuk kebaikanmu selama seminggu terakhir, masakanmu enak juga,”

Alicia tersenyum, gadis bermata cemerlang itu mengingatkanku dengan Kemala, adik perempuanku satu-satunya. Sungguh, aku rindu kampung halaman. Aku rindu Purwokerto, rindu dengan nikmatnya tempe mendhoan dan juga rindu dengan ibuku. Nasi goreng teri-nya yang sangat nikmat, senyumnya yang hangat dan tentu kamar tersayangku yang tak pernah bebas dari amukan ayah jika aku tak mau bangun pagi untuk solat subuh.

“hey, benny!” Dylan menepuk punggungku. Aku terbatuk.

“kenalin dong cewek baru kamu?”

Aku terbatuk lagi.

“cewek?” nyonya Fame tersenyum geli ke arahku.

“ya mom! Benny sudah punya cewek, kemarin aku melihatnya jarang bareng seorang cewek asia, dia sangat cantik!” Dylan mengerling nakal ke arahku.

Asia?? Oh ya! Mungkin Dylan melihatku jalan bareng kim yeoh, mahasisiwi sains dari korea.

“tidak Dylan! Kamu salah sangka, dia hanya temanku, we’re just friend!”

“tapi, dia sangat cantik. Boleh aku mengenalnya”

Kini giliranku yang tergelak melihat Dylan mendapat lirikan tajam dari nyonya fame.

“jangan bertingkah seperti playboy Dylan! Mau kamu kemanakan Sandra dan Bianca?” celetuk Alicia, disertai cekikikan kecilnya. Dylan melotot tajam ke arah adiknya,  dan nyonya Fame segera menyudahi semuanya dengan menyuruh  Robert untuk bergabung bersama kami.

Pukul delapan pagi. Aku bersiap mengantar alicia ke perpustakaan kota untuk membantunya mengerjakan tugas bahasa inggris, namun saat kami asyik menyantap pancake terakhir kami dan bersiap pergi ramalan cuaca dari televisi di ruang tengah menginformasikan bahwa hari ini cuaca buruk. Akan ada hujan salju yang cukup deras di kawasan new york utara. Aku melongok keluar. Oh, kemanakah langit biru tadi? Awan mendung dan angin mulai datang. Nyonya fame menyuruh kami membatalkan rencana ke perpustakaan kota. Alicia menangis karena ia ingin sekali pergi ke luar. Hatiku berkecamuk. Rencananya, hari ini aku akan ke dark angel, aku ingin sekali melihat georgia, walau hanya sebentar. Sungguh, senyum manis dan rambut gelombangnya menghipnotisku semalaman. Dan hari ini aku benar-benar ingin menemuinya.

December 2 th 2011-01-30

Aku tak percaya. Sekali lagi kupandangi wajahku di cermin. Mataku terlihat kuyu, rambutku acak-acakan dan aku belum mencukur jenggotku. Aku benar-benar berantakan. Mungkin inikah efekburuk yang ditimbulkan dari cinta yang bertepuk sebelah tangan?

Tiga minggu yang lalu, aku benar-benar merindukan georgia. Hujan salju yang turun sejak pagi tidak menghentikan langkahku untuk bertemu dengan georgia. Aku sungguh merindukan senyum dan  rambut gelombangnya yang indah. Dua jam aku menunggu, aku tak menemukan georgia diantara waiterss yang sedang bertugas. Gadis berambut emas masih setia dengan notebooknya. Sesekali ia melihat ke arahku yang sedang gelisah. Akhirnya penantianku membuahkan hasil. Aku melihatnya! Melihat georgia dan rambut indahnya. Tapi..siapa laki-laki yang menggandengnya? Mereka berdua terlihat akrab. Hari itu georgia terlihat sangat cantik, ia tidak memakai seragam waiterss-nya. Dan laki-laki yang menggandengnya? Ya tuhan! Ingin sekali kupukul laki-laki yang telah merebut ‘kekasih’ku   itu. Mataku panas, kepalaku pusing. Mungkin darah di kepalaku sedang bergejolak hebat. Georgia memandangku, sepersekian detik kami berpandangan. Aneh, otakku kembali mendingin. Api yang berkobar-kobar dalam dadaku padam begitu saja. Hanya karena senyum indah dan rambut gelombang georgia, aku luluh.

Hari ini tepat tiga minggu aku tak bertemu dengan georgia. Mungkin aku telah patah hati. Aku tak lagi percaya dengan yang namanya cinta. Aku muak dengan cerita cintaku sendiri.

“benny, kamu baik-baik saja? Ini ada paket untukmu,” Alicia, tanpa aku sadari telah berdiri di belakangku.

“Apa ini?” tanyaku.

Alicia menggeleng. Ia pun segera berlalu dari hadapanku. Aku segera merobek kertas pembungkus berwarna hati. Sebuah buku kini tergenggam di tanganku. Sampulnya berwarna perak, ada gambar pohon maple dan sebuah coffe shop yang sangat ku kenal. Seorang pria dengan sweater rajutannya tengah duduk dan menikmati kopinya. Wajahnya terlihat gelisah, namun tersembunyi milyaran gelombang cinta di dalam hatinya. Sungguh, cover yang sangat bagus. Aku menganggapnya ini deja vu, aku seperti pernah berada di tempat dimana laki-laki itu duduk.

Aku membaca judulnya, “FALLING IN LOVE at THE COFFE SHOP”. Secarik kertas terjatuh dari salah satu halaman buku. Aku memungutnya, ternyata sebuah sajak.

Saat musim gugur mulai menghilang

Saat kehangatan cokelat panas mulai tergantikan dengan segelas kopi yang penuh dengan kafein

Aku melihatmu diantara keremangan hatiku yang tengah berduka

Aku melihatmu duduk dan memesan secangkir cappucino late

Senyum itu terkembang dari bibirmu

Mengapa hatiku kembali bergolak, pipiku panas

Matamu telah memecahkan bongkahan es di hatiku

Dan aku yakin  Desember akan berlalu dengan cepat secepat kamu mencuri hatiku

Aku berdiri terpaku membaca sajak yang tertulis di sebuah kertas, terselip di halaman terakhir. Bel rumah berbunyi. Alicia berlari membukakan pintu. Hening sejenak dan kudengar Alicia tergesa masuk ke kamarku.

“Ada yang mencarimu Benny,”

Alicia menggandeng tanganku untuk turun. “Dia cantik sekali,” bisik Alicia kepadaku. Entah kenapa jantungku berdebar kencang.

Seorang gadis dengan rambut gelombangnya yang sangat ku kenal berdiri tepat di depanku. Jarak kami berdua tak kurang dari satu meter. Aku membeku, kurasa. Tanganku dingin dan aku tak bisa berkata-kata. Dia Georgia.

“Selamat siang” sapanya ramah.

“Boleh pinjam kakakmu sebentar dik? Kami perlu bicara,” Alicia mengangguk. Ia tersenyum kepadaku. Ia berlari ke kamarku dan memberiku mantel wol coklat lengkap dengan kaus tangannya.

Aku mengacak rambutnya. “Terima kasih Alicia,”

“Kau sudah menerima paket dariku?” sekarang pukul lima sore dan kami sedang berjalan di sepanjang New York park. Salju mulai turun.

“maksudmu buku bersampul perak itu?”

Georgia mengangguk.

“ Kau tahu siapa penulisnya?” tanyanya lagi. Aku menggeleng. “Gadis berambut emas yang setiap hari menulis dengan notebooknya,”

“Si penggemar carebbian late?”

“Yes, kau sudah membaca sajaknya?”

Aku mengangguk.

“Itu sajak yang aku buat untuk seseorang, gadis berambut emas itu menyuruhku menulis untuknya” Georgia memandangku.

“kau tak percaya? Ah sayang sekali karena aku menulisnya dengan malu-malu,”

“untuk kekasihmu?”

“bukan, dia bukan kekasihku, aku bahkan baru bisa mengajaknya keluar sejam yang lalu,”

Georgia tertawa. Ia mengajakku duduk di bangku taman, tepat di bawah pohon maple yang mulai memutih.

Georgia memberiku buku dengan sampul perak itu, ia menyuruhku membaca bagian akhir dari buku gadis berambut emas itu.

                Hampir tiga bulan aku tidak melihatnya. Mungkin dia marah kepadaku karena pernah melihatku bersama seorang laki-laki, yang pasti dia kira sebagai kekasihku. Bukan, dia bukan kekasihku, dia adalah kakak iparku. Waktu itu kebetulan kami bertemu di tengah jalan saat aku baru pulang kuliah. John, begitu dia dipanggil mengajakku minum kopi oleh karena itu aku mengajaknya mampir di coffee shop dimana aku bekerja. selama tiga bulan itu aku sungguh merindukannya. Merindukan laki-laki berwajah asia yang memiliki senyum sehangat musim semi yang mampu menghangatkan hatiku. Oh god, i’m falling in love at the coffe shop.Ingin sekali aku bertemu dengannya lagi, meskipun itu hanya satu kali. Aku hanya ingin memberitahunya jika selama ini aku menyukainya. Jika dia memang jodohku, aku yakin hari itu akan datang. Hari dimana aku bisa dudul berdua dengannya di bawah pohon maple saat salju turun di tengah kota.

Aku menutup buku bersampul perak itu. Kupandang Georgia, gadis itu menangis. Butiran-butiran bening mengalir di kedua pipinya yang putih.

“Maafkan aku Georgia. aku juga jatuh cinta di kedai kopimu,”

Georgia tersenyum. Oh sungguh, kali ini senyumnya lima kali lebih manis dari senyumnya yang dulu.

“Aku mencintaimu, Georgia,”

Georgia menatapku. Ah ingin sekali ku kecup bibirnya yang merah itu. Ingin sekali memainkan rambutnya yang bergelombang indah.

“Aku juga mencintaimu, Benny,”

Ah, kupeluk Georgia. Pelukan kami untuk yang pertama kalinya. Sungguh ini akan menjadi cerita cinta terindah dalam hidupku. Terima kasih gadis berambut emas, terima kasih untuk maha karyamu. Berkat tarian jari-jari lentikmu itu aku menemukan Georgia-ku. Daun maple terjatuh tepat di depanku.  Autumn benar-benar telah pergi, terlintas di benakku, senyum hangat mrs. Fame, Alicia, Dylan, Robert, Ayah, Ibu, Ryan dan Kemala adikku. Aku merindukan mereka. Cepat-cepat kugandeng Georgia, melintasi New York park yang mulai ramai, akan aku tunjukkan kepada Mrs. Fame dan keluarganya bahwa sekarang aku telah memiliki Georgia, gadis di kedai kopi yang telah membuat hatiku menari di musim salju di tengah kota new York.

-end-

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s