Posted in Cerita Pendek

[Cerpen] : Sayang, Malam Ini Aku Melihat Seribu Bintang Tersenyum Kepadamu

Yang, pagi tadi hujan turun.  Dingin memang, sampai-sampai aku telat bangun. Suara adzan subuh di mushola sebelah rumah seakan menguap, menghilang ditengah sayup-sayup gerimis kecil yang turun dari langit. Kota kita mendadak berubah sepi. tak ada lagi anak-anak yang berlarian di gang depan rumah untuk berangkat sekolah. Tukang sayur yang biasanya mangkal di depan rumahku juga tak keliatan batang hidungnya. Bahkan si belang, kucing tetangga yang suka lewat di tembok rumah sampai menghasilkan siluet hitam itu pun seakan absen. Ah yang, bagaimana dengan kotamu sekarang?

Yang, aku tahu saat ini kamu sedang asyik dengan tumpukan Koran, kertas dan leptop bututmu. Oh ya! Pasti tangan kananmu sedang memegang secangkir kopi hitam yang aku bawakan dari rumah. Bagaimana rasanya? Enak bukan? Itu asli buatanku. Aku petik sendiri biji kopi di kebun milik bapak. Aku keringkan biji-bijinya dan aku tumbuk. Semuanya dari hasil jerih payahku agar lebih terasa nikmat jika kau hirup baunya.

—–

Yang, hari ini ibu tanya macam-macam lagi. Ibu bilang tahun ini usiaku 19 tahun. Sudah saatnya aku menikah. Kau tahu kan yang, bagaimana kedua orang tuaku? Meskipun aku bilang, aku masih ingin kuliah, ibu dan bapak tetap bersikukuh untuk menikahkan aku. Bapak bilang, aku bisa tetap kuliah walaupun sudah menikah.

Yang,aku benci bapak! Bapak sudah bohong kepadaku. Dulu, aku mau kuliah karena aku tak mau dijodohkan dengan Sultan, anak kepala desa yang terkenal nakal. Sekarang, saat aku tengah menikmati dunia kampusku, tiba-tiba bapak menjodohkan aku secara sepihak dengan seorang laki-laki bernama Yudhis. Aku dengar dari percakapan ibu dan bapak, Yudhis adalah seniorku di kampus. Setahun lagi dia lulus, sarjana. Bahkan kabarnya dia mendapat beasiswa ke Amerika untuk melanjutkan S2 nya. Bapak juga bilang, Yudhis adalah laki-laki impian para gadis. Tak cuma pintar, iman dan islamnya juga patut diacungi jempol. Maklum dia lulusan sebuah pondok modern yang terkenal di Jawa Timur.

Kamu jangan marah ya yang jika aku terlalu menuliskan kehebatan Yudhis. Toh, memang kenyataannya begitu. Banyak teman cewekku yang berebut mendapatkan perhatiannya. Tapi tenang saja yang, cintaku hanya untuk kamu. Malam ini tidur cepat ya yang, biar nanti malam bisa solat tahajud dan mendoakan aku agar bapak membatalkan semua perjodohannya

Yang, hari ini aku mau ke toko buku. Kabarnya, penulis favorit kamu datang ke pembukaan toko buku di mall dekat kampusku. Tenang saja yang, aku pasti akan minta tanda tangannya khusus buat kamu. Jaga diri baik-baik ya yang. Oh iya, jangan lupa pesananku! Aku tunggu saat kau pulang nanti. Salam sayang untukmu selalu.

Yang, kenapa akhir-akhir ini kamu tak balas suratku? Kamu marah ya? Atau terlalu sibuk? Maafkan aku yang, jika di surat-suratku yang dulu aku banyak melakukan kesalahan. Aku kangen kamu yang. Peluk dan cium dariku selalu.

Sayaaaaang! Terima kasih kadonya, indah sekali. Warnanya cocok sekali denganku. Baru tadi pagi pak pos mengantarnya ke rumah dan malamnya langsung aku tulis surat untukmu. Tak peduli mau kamu baca atau tidak. Sayang, aku senang sekali bapak membatalkan perjodohanku dengan Yudhis. Kau tahu kenapa yang? Karena ternyata Yudhis lebih memilih kuliah dan kariernya. Bapak dan ayah Yudhis memang terlihat kecewa, tapi aku malah berjingkrak senang. Cepat pulang ya yang, bapak bilang ingin bertemu denganmu. Kecup dan sayang untukmu selalu.

New York City, 9:00 am

Hari ini hari minggu. Karena kantor televisi dimana aku bekerja libur, maka kusempatkan untuk jalan-jalan ke taman kota. Ah, bulan September yang indah. Daun-daun maple mulai berubah warna menjadi kemerahan. Oke, hello autumn, I hope it’ll be my best autumn in the last 4 years i lived in New York.

“Autumn tahun ini sungguh berbeda ya,” kata istriku. Aku mengangguk lantas membimbingnya untuk duduk di bench tepat di bawah pohon oak tua.

“Aku harap dia lahir dengan selamat,” istriku yang selalu cantik itu tersenyum kepadaku. Kuelus perutnya yang semakin membuncit.

“Kamu ingin anak cewek atau cowok yang?” tanyaku.

“Aku ingin anak pertamaku cewek,” istriku tersenyum sambil mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang. Ah, tak terasa sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah.

“Jika lahir cewek, pasti dia akan cantik seperti kamu,” gemas kucubit pipinya yang semerah pie apel.

“Kamu selalu pintar merayu yang,” semburat merah muncul dari kedua pipinya. Detik itu juga rasa sayangku untuknya bertambah. Dialah wanita yang akan melahirkan anak-anakku kelak.

“Eh, jika nanti anak kita perempuan, boleh aku memberinya nama Nadia?” tanya istriku hati-hati.

Aku terdiam untuk beberapa menit. Ingatanku mulai dipenuhi dengan surat-surat itu. Ah Nadia….

***

Assalamualaikum yang

Sedang apa malam ini? Pasti sedang sibuk dengan kuliahmu, iya kan? Yang, tadi pagi aku merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku. Aku kira ini sakit biasa yang dalam dua jam bisa sembuh. Jadi, aku biarkan saja. Tapi tak kusangka, malamnya sakit ini kambuh lagi. bahkan lebih sakit dari sakit yang tadi pagi aku rasakan. Bahkan aku sampai pingsan yang. Untung saja ayah cepat membawaku ke rumah sakit. Saat aku menulis surat ini, aku tengah berbaring nyaman di kasur rumah sakit kota kita. Perawat dan dokter disini baik-baik yang, aku menyukai mereka. Bagaimana kamu disana yang? Semoga kamu dalam keadaan sehat

Yang, surga  itu seperti apa sih? Apa benar kata pak Ustad, kalau disana mengalir sungai dari susu? Apa benar kalau di surga itu ada bidadari-bidadari cantik? Aduh yang, kalau memang benar aku kalah cantik dong J

Yang, dalam tidurku tadi aku bermimpi. Kamu dan aku tengah berjalan berdua menikmati malam di kota kita. Kamu mengajakku naik bianglala. Dari atas sana aku bisa melihat semua yang ada di kota kita. Sungguh cantik sekali. Malam itu kamu juga membelikan aku arum manis berbentuk hati. Kamu mengecup pipiku lembut dan sepertinya kamu bilang,”aku sayang kamu,” aku lupa yang, soalnya ini kan mimpi, jadi samar-samar saja suaramu terdengar hehe. Tapi yang, tiba-tiba aku seperti ditarik. Seperti ada seseorang yang menarikku dari atas. Aku dibawa menjauh darimu. Naik terus ke atas, sampai kamu hanya terlihat seperti secorak tinta hitam yang sangat kecil. Aku takut sekali yang, aku takut berpisah denganmu. Aku kira aku benar-benar tak bisa melihatmu lagi, tapi ternyata dari atas sana aku masih bisa melihatmu. Tapi yang, kenapa wajahmu muram begitu? Kamu kangen ya sama aku? Jika kamu kangen, kenapa saat aku panggil namamu, kamu nggak menoleh sedikitpun? Yang, sungguh aku menangis dalam mimpiku. Aku takut kehilangan kamu. Ada jutaan rasa sayangku untukmu tersimpan disini, di hatiku.

Assalamualaikum sayang, bagaimana kedaanmu sekarang? Aku yakin kamu sekarang sedang membaca suratku sambil menghirup hangatnya cokelat panas di flatmu yang katanya sempit itu J

Yang, foto daun maple itu sudah sampai dengan baik. Sungguh cantik sekali yang. Warnanya indah bukan? merah menyala laksana api di tengah dinginnya udara musim gugur. Yang, aku ingin suatu hari nanti bisa melihat secara langsung pohon maple yang ada di fotomu itu. Aku ingin kita berfoto bersama dibawahnya J

Yang, semalam aku mimpi lagi. sebenarnya aku sendiri takut dengan mimpiku ini karena di dalam mimpiku aku melihatmu bersama seorang wanita tapi itu bukan aku yang. Tapi anehnya aku tidak marah dengan hubungan kalian, aku malah tersenyum bahagia. Yang, aku harap jika memang aku harus meninggalkanmu untuk selamanya, secepatnya kau bisa mendapatkan penggantiku. Pengganti yang lebih baik daripada aku. Tenang saja yang, aku tidak akan cemburu.

Sayang, minggu depan aku akan dioperasi. Ini mungkin menjadi operasi penentu apakah hidupku bisa dipertahankan atau tidak. Jika operasi ini gagal, maka ini surat terakhirku untukmu yang. Tapi tenang saja yang, jangan bersedih. Karena sesungguhnya malam itu, dalam mimpiku aku melihat seribu bintang tersenyum kepadamu. Kamu tidak akan sendiri yang.

Untuk sayangku,

Alfian Alif

Terima kasih untuk delapan tahun yang penuh warna, penuh cinta dan penuh dengan mimpi-mimpi kita.

Aku menyayangimu selalu,

Nadia Maula

***

“Aku ingin dia tumbuh setegar Nadia,” Aisha, istriku yang selalu cantik bergelayut manja di lenganku.

“Baiklah, jika itu maumu sayangku,” kuacak rambutnya lembut. Kukecup keningnya penuh kasih sayang.

Nadia, memang benar. Seminggu setelah surat itu datang, ibuku menelpon, memberiku kabar duka tentang kematian Nadia. Operasinya gagal, kanker otak yang ia derita sejak kecil telah mengalahkan perjuangannya. Aku menangis? Tentu saja. Banyak sekali kenangan yang aku lewati bersamanya. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat.

Nadia, lagi-lagi kau benar. Setahun sepeninggal kamu, aku bertemu Aisha. Dialah yang sekarang menjadi belahan jiwaku. Aisha sama sepertimu, dia sangat mencintai autumn.

Nadia, jika Alloh berkehendak Oktober tahun ini, anak pertamaku lahir. Istriku ingin memberinya nama sesuai namamu. Dia bilang agar kelak anak kita bisa tumbuh setegar kamu, sebaik kamu, dan secantik kamu. Ah, Nadia Kamu memang hebat, tenanglah kamu di sana. Bermainlah bersama bidadari-bidadari surga. Aku yakin diantara bidadari surga yang lain, kaulah bidadari yang paling cantik yang pernah aku lihat. Tenanglah disana Nadia, karena dalam mimpiku aku melihat seribu bintang tersenyum manis kepadamu. Kamu tidak sendiri, Nadia.

 

Semarang, 5 Januari 2012

Ditemani soundtrack Ada band-Nadia

Untuk seseorang, entah dimana dia sekarang. Terima kasih untuk tiga tahun yang begitu berharga. Terima kasih untuk cinta yang telah kamu berikan. Kamu mengajariku bagaimana indahnya memberi dan menerima. Ya, karena menurutku, itulah makna cinta sesungguhnya.

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s