Posted in Cerita Pendek

September di Nagoya

Nagoya, pukul lima sore. Aku beranjak dari tempatku duduk, memastikan pelajar SMP bergaya nyentrik adalah pengunjung  terakhir toko dimana aku bekerja.

“Arigatoo,” cowok SMP itu mengucapkan terima kasih setelah membayar sekotak brownies kacang. Aku tersenyum dan bersiap menutup toko. Yah, hari ini sepertinya menjadi hari ku yang paling sibuk. Pagi hari kuliah dan sorenya membantu paman dan bibi menjaga toko kuenya.

“Terima kasih sudah membantu, Lika,” Kobayashi Oji memberiku sekantong jeruk mandarin. Lelaki berumur setengah abad itu terlihat senang karena aku telah membantu menjaga tokonya.

“Besok saya datang lagi, tapi hanya bisa bekerja di pagi hari,” Kobayashi Oji mengangguk.

“Terima kasih untuk jeruknya Oji, koniciiwa,”

Hari ini adalah hari pertama di bulan September. Musim panas segera berakhir dan akan terganti dengan musim gugur yang dingin. Aku berjalan sedikit tergesa melewati Osu. Pusat perbelanjaan elektronik itu selalu ramai di pagi dan sore hari.

Kurebahkan tubuhku sesampainya di flat yang aku sewa. Dari jendela kamarku kulihat Nakamoto-kun sedang memasak. Flat kami memang bersebelahan, dari kamarku bisa kulihat dengan jelas kegiatannya seharian. Nakamoto-kun, pemuda 23 tahun itu bekerja di Toko Elektronik di kawasan Osu. Dia tipe pemuda yang supel, dan ku akui dia tampan.

Nakamoto sadar kalau aku tengah mengamatinya. Ia tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Kubalas senyumannya. Ah, Nakamoto, kamu selalu ramah.

“Tok tok tok,” ada yang mengetuk pintu flatku.

“Menganggu saja,” gumamku. Saat ini aku tengah asyik menonton televisi di sofa kesayanganku.

“Koniciiiwa Lika-chan,  apa aku mengganggu?” aku terpana. Nakamoto telah berdiri di depan pintu flatku, ia tersenyum manis sekali.

“Oh nggak kok, silahkan masuk,” Kupersilahkan Nakamoto duduk di sofa dan aku bergegas mengambil sekaleng jus jeruk. Ini minuman favoritnya.

“Sebenarnya aku mau mengantar ini,” Nakamoto menyodorkan sepiring makanan.

“Wow ini kan Cotto Makassar! Bagaimana kamu memasaknya??” aku memandangnya heran. Sejak kapan Nakamoto masak makanan khas Indonesia?

Pemuda tampan itu tertawa, menyisakan dua garis memanjang di wajahnya yang menggemaskan.

“Aku suka Indonesia, bulan lalu aku baru saja ke Jakarta, dan aku menemukan masakan ini, enak sekali! Aku tanya resepnya ke chef hotel dan aku masak disini,”

“Kau ke Indonesia?”

“Ya, tugas kerja. Sekarang aku tak lagi bekerja di Osu, aku sudah pindah ke sebuah Perusahaan di kawasan Imaike, kebetulan bos ku punya cabang di Indonesia,”

Aku mengangguk mengerti.

“Ayo cobalah, katakan kalau ini enak,”

Aku tertawa. Kucicipi cotto makassar ala Nakamoto. Oh damn! Ini enak banget.

Semalaman kami habiskan dengan ngobrol tentang Indonesia. Nakamoto bilang dia sangat menyukai Jakarta dan orang-orangnya. Dan satu lagi, dia bilang kalau gadis Indonesia itu cantik.

Pukul lima pagi.

Ponselku berdering, di lcdnya tertera “Dika’s Birthday 21 years old”

Segera kulirik kalender mejaku. Dua September 2011.

“Oh god..kenapa aku harus diingatkan lagi dengan cowok ini?”

***

“Dika sebentar lagi kamu ulang tahun,kamu mau minta apa?” aku bergelayut manja di lengan kekar Dika. Cowok berkaca mata itu tersenyum dan mengacak rambutku lembut.

“Mmm..apa yah? Aku pengin mobil baru,” ia melirikku.

“Yah..jangan yang mahal-mahal dong, minta yang sekiranya aku bisa beli!” aku kesal. Dika tertawa melihatku.

“Aku hanya bercanda, tenang saja aku nggak pengin apa-apa kok,” Dika menatapku. Sinar matanya mampu menyihirku untuk tetap balas memandangnya.

“Yang aku inginkan kamu selalu ada di sampingku, kapanpun,”

“Bisa kan?”

Aku mengangguk. Sejak sebulan yang lalu Dika banyak berubah. Pribadinya yang dulu cuek seakan hilang dan tergantikan dengan perhatian dan kasih sayangnya yang sangat besar kepadaku.

“aku sayang kamu, Lika,” Dika mengecup keningku lembut. Saat itu aku sangat yakin cinta Dika tulus hanya untukku.

***

“Lika!” aku menoleh. Kulihat tubuh jangkung Nakamoto menghampiriku. Hari ini dia terlihat sangat menarik. Kemeja panjang dan rambut hitamnya yang ia potong pendek semakin memanjakan mataku.

“Mau ke Mei-eki?”

Aku mengangguk.

“Bareng ya,”

Nakamoto berjalan disampingku. Tubuh jangkungnya membuatku merasa aman berada di sampingnya.

“Kok murung? Ada masalah?” tanyanya melihatku hanya diam sepanjang perjalanan ke Mei-eki.

Aku menggeleng.

“Tak ada, tenang aja aku baik-baik saja kok,” aku berusaha tersenyum.

“Oh kalau begitu syukurlah,”

Selama perjalanan Nakamoto banyak bercerita tentang pekerjaan barunya. Dia bilang bosnya sekarang sangat baik dan peduli dengan semua karyawannya, bahkan Nakamoto telah mendapat beasiswa dari perusahaannya untuk kuliah lagi. Aku senang melihatnya bahagia seperti pagi ini.

***

Kami berpisah di Chikusa, hari ini aku ada shift kerja di toko Kobayashi Oji, di kawasan Mitsukoshi. Dan Nakamoto, tentu saja ia pergi ke kantor barunya. Kobayashi Oji terlihat gembira melihat kedatanganku.

“Oh syukurlah kau datang Lika, hari ini kondisi istriku tak sehat, aku titipkan toko ini kepadamu sampai aku kembali dari rumah sakit,”

“Baik Oji, serahkan saja pada Lika,”

Segera kubereskan toko kue dengan simbol buah cherry ini. Sepertinya aku mulai menyukai toko ini, setiap sudutnya seakan telah menyatu denganku. Seperti biasa kubiarkan tubuhku nyaman di kursi kasir. Hari ini sepertinya tak banyak pengunjung dan itu bisa membuatku sedikit beristirahat.

***

“Kenapa kau mencintaiku?” saat itu aku tengah menikmati bintang di bukit di belakang villa milik keluarga Dika.

Dika berbaring di sampingku. Matanya asyik mengamati ribuan bintang yang bertebaran di langit.

“Entahlah, Cinta itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, terlalu sulit,” jawabnya.

“Aku sayang kamu Dika,”

Dika tertawa, ia mengelus rambutku.

“Kau tahu kenapa aku menyukai September?”

“Karena kamu ulang tahun di bulan September!” jawabku pede.

Lagi-lagi Dika tertawa. “Ya itu benar tapi ada yang lebih benar lagi, karena di bulan inilah pertama kalinya aku melihat seorang bidadari, dengan tampang abg-nya menangis mencari kucingnya yang hilang,”

Dika menoleh ke arahku. Kucubit lengannya. “Itu kan akuuuu,”

“Bulan september juga pertama kalinya aku bilang suka sama cewek, dan cewek itu kamu,”

Aku tersenyum. Dika melingkarkan tangannya ke leherku.

“Janji ya untuk tetap bersamaku?” pintaku manja. Dika mengangguk dan aku tak menyangka jika malam itu ternyata adalah malam terakhirku bersama Dika.

***

“Lika, aku ingin mengatakan sesuatu,” Nakamoto menatapku. Kali ini tatapannya serius.

“Katakanlah, kau ini seperti orang asing saja menatapku seperti itu,”

“Aku menyukaimu Lika, maukah kau jadi kekasihku?”

“Kau bercanda kan?” tanyaku tak percaya.

“Aku serius! Sudah lama aku menyukaimu sejak pertama kali kamu menjadi tetangga baruku, sejak itu rasa suka itu muncul, kau gadis yang baik, Lika,”

Aku terdiam. Butiran bening mengalir di kedua pipiku. Nakamoto mendekap tubuhku ke dalam pelukannya. Hari ini tepat setahun yang lalu, di bulan kesayangannya, Dika menghembuskan nafas terakhirnya. Ternyata di balik sosoknya yang kuat ia terkalahkan juga dengan kanker otak yang telah menyerangnya sejak dia SMP. Dan hari ini tepat setahun setelah kepergiannya aku menemukan pangeranku yang baru. Pengganti Dika yang  aku yakin bisa menjagaku seutuhnya. Untuk September, kali ini aku sungguh menyukaimu.

selesai

Penulis:

Sedang mencari kamu

2 thoughts on “September di Nagoya

  1. saya senang sekali membaca cerpin saudara sangat menyentuh hati saya????????? Kamu memang wanita yang sangat pandai dalam berkarya!?????? Buat lah cerpen yang lebih bagus lagi????? Bukanya cerpen barusan tidak bagus …kalau bisa cari judul yang lebih bagus lagi???????

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s