Posted in Cerita Pendek

[Cerpen] : Strabucks Coffee, di Malam Itu…

 

Mentari senja perlahan menghilang dari peraduannya. Starbucks mulai ramai, beberapa remaja mulai berdatangan. Mereka datang berkelompok  dan asyik ngobrol entah tentang apa, mungkin tentang kuliah mereka, atau soal kekasih-kekasih mereka. Dua diantara mereka berjenis kelamin sama sepertiku. Cewek berambut panjang itu memakai hot pants yang bisa membuat cowok dimanapun ia lewat,  otomatis melirik malu-malu mau, memperhatikan, melupakan kekasih-kekasih mereka sejenak. Aku ingat masa kuliahku dulu, tak pernah sedikitpun ibu mengizinkanku berpakaian minim seperti itu.

Carrebian moccachino ku sudah habis setengahnya. Dengan ditemani sepiring waffle kutunggu dia datang. Di sofa dekat pintu masuk.

“Yan, aku mau curhat, tunggu aku di Starbucks Kemang sepulang kerja,” Daniel berbicara serius denganku tadi siang. Tak biasanya dia menelponku saat jam kerja, apalagi minta aku untuk mendengar curhatnya. Aku mendesah pelan. Kupikir Daniel menelponku untuk mengajakku keluar makan siang.

“Yaneise,” seseorang memanggil namaku. Aku menoleh.

“Susan!” teriakku. Susan, teman sekelasku waktu SMA menghampiriku. Ia datang dengan seorang pria.

“Ngapain kamu disini? Bukannya kamu di Bandung?” tanyanya kaget.

Aku menggeleng.

“Gila ya kamu! Kamu melepas kesempatan untuk bekerja di kantor Oomku? Itu kan perusahaan besar Yan,”

“Ini sudah menjadi pilihanku San, walaupun disini aku bekerja di perusahaan kecil tapi aku menikmatinya,” jawabku, mencoba bijak.

“Terserah deh, tapi ini bukan karena Daniel gagal diterima di perusahaan itu kan?” tanya Susan penuh selidik.

Aku terkejut dan langsung  aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat.

“Nggak lah!,”

Susan tersenyum. Ia lalu mengenalkan si pria atletis yang sedari tadi berdiri disampingnya sebagai kekasihnya. Namanya Lian, seorang pemuda yang menarik, pikirku. Aku dan Lian berjabat tangan. Entah kenapa dadaku membuncah senang saat kedua telapak tangan kami saling menempel. Cepat, kutepis perasaan itu. Aku takut ini akan menjadi awal yang buruk. Ternyata Lian bekerja di sebuah Bank di dekat kantorku. Kami bercakap sebentar untuk kemudian Susan pamit pulang.

Pukul 20.00 WIB

Starbucks semakin ramai. Dua gelas carrebian moccachino sudah berhasil kutuntaskan, namun aku tak melihat sedikit pun sosok Daniel. Ah, kemana pula pria itu.

“Maaf menunggu lama,”

Kulihat Daniel dengan kemeja bergarisnya menghampiriku.

“Sudahlah, aku tahu kamu bakal telat,”

Daniel memesan secangkir kopi hitam dan burger tanpa mayonese. Pria ini memang benci dengan yang namanya mayonese sejak ia kecil.

“Yaneise aku butuh bantuanmu,” ucap Daniel, matanya memandangku dengan serius.

“Kamu membuatku takut Niel,” kataku sambil tertawa.

“Aku serius Yan, aku butuh bantuanmu segera,”

“Apa?” tanyaku akhirnya.

“Karina hamil,” katanya pendek.

Aku terdiam. Ingatanku mulai dipenuhi dengan wajah gadis murahan yang membuat Daniel tergila-gila setahun terakhir ini.

“Awalnya aku kira dia bohong, tapi tadi siang dia menunjukkan test pack itu, dan hasilnya positif,”

“Dari dulu sudah kubilang, jauhi perempuan itu,” kataku sebal.

“Apa yang harus kulakukan Yan? Aku mencintanya!” pria dihadapanku itu mulai menunjukkan wajah frustasinya.

“Mau gimana lagi, kamu berani melakukannya, harus berani pula bertanggung jawab, nikahi dia!”

Daniel menutup mukannya. Ia kalut. Sebenarnya aku kasihan melihatnya seperti ini. aku benar-benar ingin menolongnya. Ingin sekali aku memeluk Daniel, menenangkan hatinya dalam dekapanku. Tapi aku sadar, siapa aku? Aku hanya sebatas sahabat dekatnya saja. Tidak kurang dan tidak lebih.

“Aku butuh banyak uang Yan, tolonglah aku,”

“Untuk pernikahanmu?”

Daniel mengangguk.

“Aku memang salah Yan, aku khilaf. Bukan akhir seperti ini yang aku inginkan, aku mencintai Karina tapi…” ucapan Daniel terhenti.ia menatapku dalam.

“Tapi apa Niel?”

Pria itu menggeleng. Aku mengeluarkan cek dan mulai menulis angka-angka.

“Segini cukup?” tanyaku.

“Terima kasih Yan, kamu memang sahabat terbaikku,” Daniel mengacak rambutku. Kami ngobrol sebentar. Tepatnya sih aku hanya menjadi pendengar setia Daniel. Ia mengeluarkan semua beban yang ada di pikirannya. Sampai akhirnya aku sadar Daniel sebentar lagi akan menjadi seorang suami, seorang ayah, dan ia akan memiliki keluarga sendiri.

Hampir pukul tiga dini hari. Tapi aku belum bisa tidur. Pikiranku masih saja seputar Daniel. Pria dua puluh delapan tahun, teman dan sahabatku sejak kecil. Kami tumbuh bersama, sekolah di tempat yang sama, sampai akhirnya kami bekerja di kantor yang sama. Mungkin aku salah telah menyimpan perasaan ini. Aku yang selalu membiarkan Daniel mencontek tugas-tugasku saat kami sekolah dulu. Aku rela bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal untukku dan Daniel. Ah, Daniel tahukah kamu jika aku melepas kesempatan  bekerja di perusahan besar di Bandung itu juga karena kamu? sore itu aku tahu kamu kecewa karena gagal diterima di perusahaan manufacture terbesar di negeri ini.  Sore itu pula aku sadar aku tak bisa jauh darimu sampai akhirnya keputusan bodoh itu datang, aku menolak pekerjaan itu. Pekerjaan yang sedari kuliah aku impikan. Aku malah memilih untuk menemanimu disini.  Bodohnya aku berharap kamu bisa mencintaiku. Aku terlalu percaya kata-kata  oma-ku, beliau bilang witing tresno saka kulina. Ya jatuh cinta karena terbiasa. Aku pikir dengan kebersamaan kita yang cukup lama bisa menumbuhkan benih-benih cinta dalam hatimu. Ternyata pepatah jawa itu hanya berlaku untukku, bukan untukmu.

Drrrt..Drrt..

Blackberry-ku bergetar, ternyata ada telepon masuk.

“Yaniese bisa kita ketemu sebentar?” suara di seberang itu benar-benar aku hafal. Daniel, lagi-lagi ia meneleponku. Di pagi buta seperti ini pula.

“Ngapain?” tanyaku mencoba bersikap biasa saja.

“Surprise! Aku jemput kamu satu jam dari sekarang ya,”

Aku gelagapan. Apa yang harus aku lakukan? Tak biasanya ia memperlakukan aku seperti ini.

“Ada apa sih  Niel? Kok kayaknya kamu bahagia banget?” tanyaku. Daniel duduk si sebelahku, siap mengemudi. Mobil Volvo hitam itu meluncur membelah pagi kota Jakarta.

Daniel, lagi-lagi mengajakku ke tempat favoritnya. Jika dia ingin bercerita sesuatu yang penting, Starbuck lah tujuannya.

“Lihat ini!” Daniel memberiku sebuah undangan berwarna putih gading. Undangan yang cantik sekali. Bisa aku lihat dengan jelas foto cantik Karina mendekap erat calon suaminya, Daniel Saputra.

“Gimana menurutmu?” Tanya Daniel antusias. Aku hanya mengangguk kecil, pura-pura sibuk menuangkan gula rendah kalori ke dalam kopiku. Jadi ini tujuan Daniel membangunkanku pagi-pagi buta? Cuma mau pamer undangan pernikahannya? Ya ampun, aku hanya bisa menangis sedih.

Kejadian tadi pagi menjadi awal kejadian buruk selanjutnya. Malam ini oma-ku yang super cerewet jauh-jauh datang dari Padang ke apartemenku. Membawa oleh-oleh ini itu, ada nasi kapau, rendang, kain songket dan masih banyak lagi. awalnya aku senang dengan kedatangan oma, karena secara otomatis stok makananku bertambah. Obrolan kami yang awalnya hangat tiba-tiba berubah dingin saat oma mulai membicarakan ‘jodoh’.

“Jadi, intinya kamu masih mengharapkan laki-laki kurus kerempeng itu?” Tanya oma, wajahnya memerah. Mungkin beliau kecewa. Laki-laki kurus kerempeng adalah sebutan oma untuk Daniel-ku.

“Aku mencintainya oma,” aku mencoba memberanikan diri untuk menjawab.

“Kau memang aneh Yaneise! Sudah oma bilang, jauhi laki-laki itu! Bisakah kau buka mata hatimu? Masih banyak laki-laki lain menunggumu diluar sana, cobalah kamu bagi hatimu dengan laki-laki lain..” oma memandangku prihatin.

“Tahun ini usiamu sudah 28 tahun. Bagi perempuan, kamu sudah sepantasnya menikah, malahan kamu sudah cocok menimang bayi, oma takut kamu menjadi….” Belum sempat oma menyelesaikan kalimatnya, aku segera memotongnya.

“Sudahlah oma! Jangan pikirkan jodohku! Aku yakin Tuhan mempersiapkan pria terbaik untukku!”

Kulihat mata sayu oma berkaca-kaca. Aku baru tersadar telah salah membentak oma-ku yang sudah renta. Segera kupeluk oma.

“Maafkan Yaneise Oma..Yaneise gak bermaksud membentak oma,” tangisku pecah.

Dengan lembut oma membelai rambutku.

“Kamu satu-satunya cucu perempuan oma, oma sayang kamu Yaneise. Oma hanya ingin yang terbaik buatmu,”

Disela-sela tangisku, kulihat mata sayu oma mengeluarkan butiran-butiran bening yang kini telah membasahi kedua pipinya.

***

Sejak malam itu, oma sibuk mencarikan laki-laki yang cocok untukku. Oma kira aku lemah dalam urusan percintaan. Ah, oma salah kira. Siapa bilang aku lemah dalam urusan cinta? Buktinya tak sampai satu minggu setelah ‘ditagih’ jodoh oleh oma, aku punya pacar baru. Namanya Lian. Yah, Lian mantan pacar Susan.

Lian bilang padaku, dia tak pernah bisa tidur setelah malam itu di starbuck café . Malam saat Susan mengenalkannya padaku.

“Kamu punya mata yang indah Yaneise. Itu yang aku suka darimu,” Lian mengecup keningku lembut. Aku tertawa menghadapi rayuannya.

“Sekarang cowok memang pandai merayu,”

“Kali ini aku jujur kok,”

“Buktinya?”

“Ini!’ secepat kilat Lian mendaratkan ciumannya di pipi kananku. Aku tersipu.

“Sudahlah, nanti bertindak terlalu jauh lagi,” kataku mencoba menenangkan diri. Sebenarnya aku mau menutupi salah tingkahku.

Kedatangan Lian memang belum sepenuhnya bisa menggantikan sosok Daniel. Mungkin tak akan pernah bisa. Tapi sejauh ini, aku menikmati hubunganku dengan Lian. Dia laki-laki yang baik. Pembawaannya yang tenang membuatku nyaman untuk berada disisinya. Lian tak banyak menuntut. Ia memang sosok laki-laki family-minded. Dan mungkin ia akan menjadi ayah untuk anak-anakku kelak. Aku hanya bisa berdoa.

Hari pernikahan Daniel akhirnya tiba juga. Bersama Lian aku menghadiri pesta yang cukup mewah. Diselenggarakan di sebuah gedung berarsitektur Eropa. Hampir mirip istana raja-raja Spanyol. Entah darimana Daniel mendapat uang untuk membayar semua sewa tempat, catering sampai pegawai yang tersebar di setiap sudut meja. Entahlah.

Aku menggamit lengan Lian. Aku ingin terlihat mesra dihadapan Daniel. Aku bertanya dalam hati, sebenarnya apa yang aku lakukan? Membuat Daniel cemburu? Mana bisa! Daniel kan nggak sedikitpun suka kepadaku! Aku mengomel dalam hati, mengutuki sikap bodohku ini.

“Selamat ya Karina, titip Daniel ya?” aku bercipika-cipiki dengan cewek blasteran Belanda-Manado itu. Karina tersenyum lebar. Iseng aku lihat perutnya. Ah, sudah keliatan membuncit. Baju pengantin bergaya noni Belanda ini pun gagal menutupi aibnya. Hari itu aku melihat Daniel tersenyum tiada henti. Ah, Daniel ternyata kamu bahagia menikahi Karina, walau jalan menuju pernikahan itu penuh dengan dosa.

Enam bulan setelah pernikahan Daniel, Karina melahirkan anak pertama mereka. Seorang bayi perempuan yang cantik. Rambutnya pirang seperti Karina. Matanya hitam tajam seperti ayahnya. Aku dan Lian berebut menggendongnya.

“Jadi pengin punya momongan,” kataku seraya menimang putri pertama sahabatku, Daniel.

“Yuk bikin,” celetuk Lian nakal. Daniel dan Karina tertawa melihat tingkah kami. Kedua orang tua muda itu dengan mesranya berpelukan di depanku yang bahkan belum tahu kapan akan menikah. Rasa cemburu diam-diam menelusup di dalam kalbuku. Cepat kutepis rasa itu sebelum akhirnya berujung semu.

***

Setahun hubunganku dengan Lian. Oma sudah memaksaku untuk menikah di tahun ini.

“Jika tahun ini kamu belum juga menikah, tak usahlah kamu menikah!” bentak oma di telepon. Aku hanya bisa mengiyakan dengan suara sepelan mungkin.

Saat aku ceritakan masalahku kepada Lian, pria bertubuh atletis itu hanya tertawa.

“Belum saatnya sayang, tapi aku janji akan menikahimu, sekarang, siapkan dulu hati kita masing-masing,” Lian menatapku penuh keyakinan. Aku yakin yang harus kulakukan sekarang hanyalah memeluknya.

Janji Lian sepertinya hanya sebatas janji belaka. Malam itu, saat mendung menyelimuti kota Jakarta, aku kembali duduk di Starbuck café. Tadi siang Lian meneleponku, memintaku untuk menemuinya sepulang kerja di Starbucks café. Ah, seperti mengenang setahun yang lalu. Wajah kalut Daniel langsung terbayang di kepalaku, wajah saat ia memberitahuku tentang kehamilan Karina. Wajah bingungnya dengan semua yang telah ia lakukan.

Aku merapatkan sweaterku. Pukul 20.00 WIB.

Lian masuk ke kafe dengan raut wajah yang tidak biasanya. Tidak ada lagi tatapan menenangkan itu. Yang ada hanyalah wajah bingung dan cemas menghiasi wajah orientalnya.

“Yaneise terima kasih kamu telah datang, dan maaf telah membuatmu menunggu,”

“Tak biasanya kamu bersikap seperti ini, ada apa?” tanyaku penasaran. Biasanya Lian mengecup keningku terlebih dahulu lantas kita baru bertukar cerita.

“Sepertinya hubungan kita harus berakhir,”

Bagai mendengar bunyi petir di malam hari, hatiku hancur. Apa maksudnya? Hubungan kita harus berakhir? Putus?

Aku terisak. Lian berusaha menenangkanku.

“Kenapa? Apa salahku?” tanyaku dengan suara parau menahan isak tangis.

“Susan hamil Yan,”

“Lantas, apa hubungannya denganmu?” tanyaku.

“Aku ayah dari bayi yang dikandungnya,”

Aku menangis sesenggukan.

“Maafkan aku Yan..aku tahu aku salah.., sekali lagi maafkan aku,” Lian mencoba menggenggam tanganku. Cepat aku menepisnya.

“Aku tak bisa berbohong Yan, jauh dilubuk hatiku, aku masih menyayangi Susan,”

“Jadi, selama ini kamu membohongiku? Cinta itu? Sayang itu?”

“Yan..aku sayang kamu…makanya aku tak ingin menjalani hubungan yang nantinya akan merugikan kamu, kamu cantik Yan..masih banyak laki-laki yang lebih cocok dan pantas untukmu,”

Kata-kata Lian tak sepenuhnya bisa aku cerna. Malam ini aku sungguh kacau. Apa yang salah dengan aku ya Tuhan? Saat bayangan pesta pernikahan sudah di depan mata, laki-laki yang aku harapkan menjadi imam keluargaku malah merusaknya. Haruskah aku melepas keperawananku agar bisa menikah? Dua kali, laki-laki yang aku cintai menikahi wanita karena mereka hamil diluar nikah! Aku mendesah kesal. Dunia benar-benar kejam. Sejenak kupandang wajah Lian. Tatapan itu mungkin menjadi tatapan terakhirku untuknya. Malam ini sudah kuputuskan untuk pergi meninggalkan Jakarta. Meninggalkan dua pria yang aku cintai, meninggalkan Starbucks yang seolah menjadi saksi bisu dengan semua kisah cintaku. Cepat kukeluarkan BB-ku “Oma, sepertinya aku benar-benar tak akan menikah,” kataku cepat. Terdengar desahan nafas panjang oma-ku. Sebelum beliau menasihatiku panjang lebar, segera kumatikan teleponku. Kucabut batere dan simcardnya. Segera kuhentikan taksi yang kebetulan melintas di depanku.

“Bandara Soekarno-Hatta pak, aku harus mengejar pesawatku ke Singapore,”

-End-

 

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s