Posted in Cerita Pendek

[CERMIN] : Bulan Merah Jambu

BULAN MERAH JAMBU

Maybe, for those people who believe, toworrow is a valentine day, but for me tomorrow just like another tuesday :) 

                Namanya Amelia, panjangnya  Cahya Amelia. Anaknya cantik dan baik hati. Ia anak yang rajin, tak pernah terlambat  ke sekolah. Tugas dan pekerjaan rumah dari bapak ibu guru pun selalu dikerjakan tepat waktu. Aku tak tahu kenapa ia selalu memilih untuk duduk di depanku. Aku bukanlah tipe siswa yang terkenal, aku tidak tampan dan prestasiku biasa-biasa saja. Amelia bilang, aku adalah pendengar yang baik dan ia seorang pencerita yang hebat. Ya, aku paham betul jika Amelia suka bercerita, ia bercerita apa saja kepadaku. Tentang keluarganya, ibunya yang pintar menyanyi, ayahnya yang seorang dokter dan kedua adik kembarnya yang masih TK. Amelia suka menggambar dan memasak, ia adalah seorang chef yang jago.

Hari ini adalah hari pertama di bulan Februari. Mendadak anak-anak cewek di kelasku rajin berdandan. Mereka tampil lebih cantik dan wangi. Setiap hari yang mereka bicarakan hanyalah valentine, cupcake,  cokelat dan pesta valentine.

“Pssttt…..sekarang bulan merah jambu, Di,” bisik Amelia kepadaku. Matanya yang bulat menari-nari dengan lincahnya. Huh, bulan merah jambu? Apa pula filosofinya, hanya karena valentine semua orang sibuk dengan pesta, coklat dan tampil cantik.

Aku semakin berang dengan valentine. Siang ini, aku menemani Tia, adikku untuk membeli alat tulis di salah satu pusat perbelanjaan ternama di kotaku. Di sepanjang pusat perbelanjaan yang kulihat hanyalah warna merah jambu,merah jambu dan merah jambu.  Mulai dari balon, rak sabun mandi, pamflet di toko kaset sampai pakaian karyawannya pun berwarna merah jambu! Apa mereka buta? Bukanlah valentine itu adalah akal-akalan kaum jahiliyah, mengapa pula mereka yang mengaku muslim masih banyak yang merayakan valentine?

“Di, datang ya ke pesta ulang tahunku?” Annisa memberiku sebuah undangan dengan warna yang membuat darahku kembali bergolak. Merah jambu!

“Kapan?’

“tanggal 14 Februari, sekalian merayakan valentine, ajak juga pacar kamu,”

Setelah Annisa pergi,tanpa membacanya  aku segera meremas kartu undangan itu dan membuangnya ke tempat sampah. Aku pusing dan mual.

Aku dan Amelia bukan dua sejoli. Namun aku selalu merasa aku dan Amelia adalah satu paket lengkap makan siang yang tak bisa dipisahkan. Aku pincang tanpa Amelia. Senyumnya yang manis dan pembawaannya yang selalu ceria membuat hatiku berdebar bila ia berada di dekatku.

“Di, aku sekarang jualan kue,” Amelia menyodorkan sekotak kue-kue cantik di depanku.

“Wah, kelihatannya enak,”

“Untukmu aku kasih gratis, tapi cukup ambil satu aja,”

Amelia, lagi-lagi ia tersenyum, membuatku kehilangan konsentrasi. Aku mengambil kue coklat dengan parutan keju di atasnya.

“Dalam rangka apa nih kamu jualan kue? Pengin mendadak kaya?”

Amelia mencubit lenganku. Ia tersenyum, “Bukan Di, ini kue untuk valentine,”

Aku terdiam. Shock. Masih untung aku tidak tersedak, jadi kuhentikan kunyahan terakhirku.

“Lumayan Di, teman-teman banyak yang pesen, katanya sih buat pacar mereka,hihi lucu ya Di, aku juga pengin loh dapet cokelat di hari valentine,”

Deeg, jantungku berdegup kencang. Antara marah dan bingung campur jadi satu. Kenapa sekarang Amel ikutan merayakan valentine? Bah, menyebalkan benar si virus bernama valentine ini. Bisa-bisanya Amel yang cerdas ikut tertular virus pembodohan ini. Aku hanya mengelus dada.

“Mel tanggal 14 besok ada acara?” tanyaku. Saat ini aku dan Amel tengah menikmati kelezatan es krim cokelat di kantin sekolah.

Amel menggeleng.

“Bagus deh, aku pengin ngajak kamu ke suatu tempat,”

Amel menatapku bingung. Es krim cokelatnya sampai menempel di kedua pipinya yang gempal.

“Oh ya, jangan lupa bawa kue yang banyak ya, besok aku jemput kamu,”

Amel hanya mengangguk dalam kebingungannya.

 

Pukul 08.00 tepat. Kunyalakan sepeda motor Yamaha Mio milik mama. Kuarahkan mesin bermotor itu ke rumah Amelia. ternyata gadis berlesung pipit itu sudah menungguku di depan rumahnya. Pakaiannya rapi dan ia terlihat cantik sekali. Oh ya Tuhan, baru kali ini aku melihatnya berdandan. Perona pipi dan pemerah bibir bisa membuatnya terlihat lima kali lebih cantik dari biasanya.

“Kita mau kemana Di?”

Aku ingin tertawa melihat Amel kesulitan berjalan di tengah gunungan sampah yang becek, bau dan menghitam.

“Sudahlah, ikut aku saja, eh kamu tak lupa bawa kue yang aku pesan kan?”

“Ya, ini sudah kubuatkan lima puluh cupcake cokelat plus dua toples besar permen bergambar hati,”

Aku mengacungkan jempol tanganku mencoba menghiburnya namun Amel tetap cemberut.

“Apa isi kantong plastik itu?” tanya Amel, penasaran dengan kantong plastik besar yang aku bawa. Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan senyuman.

“Kak Adi datang! Kak Adi datang!” seorang bocah berlari menghampiriku. Diikuti dengan lima bocah kecil lainnya.

Seorang bapak setengah baya menyuruhku masuk ke dalam sebuah bangunan sederhana.

Kulirik Amel, terlihat jelas tanda tanya besar diatas kepalanya.

“Nah, adik-adik ini buku-buku yang kak Adi janjikan seminggu yang lalu, ayo Ali bagikan ini kepada teman-temanmu,” anak yang bernama Ali membantuku membagikan buku-buku yang aku bawa kepada lima belas temannya.

“Nah hari ini siapa yang mau maju membaca puisi atau menyanyi lagu nasional?” tanyaku. Kulihat Ghufron mengacungkan jari telunjuknya. Anak laki-laki dengan koreng di kaki itu membaca puisinya dengan penuh penghayatan. Aku berani bertaruh, kelak ia akan menjadi the next Sutardji Calzoum Bachri.

“Adik-adik hari ini ada kakak Amel yang akan membagikan kue-kue enak buatannya sendiri, ayo semua berbaris dengan rapi,”

Amel kaget mendengar namanya disebut. Lima belas anak-anak jalanan itu berbaris rapi.

“Jadi apa tujuanmu membawaku kesini?”

“Aku ingin mengingatkanmu jika bulan merah jambu bukan hanya untuk mereka yang memiliki kekasih, bulan merah jambu pun bisa digunakan untuk berbagi, bukankah agama kita tidak membenarkan untuk merayakan bulan merah jambu? Tapi untuk berbagi dengan anak-anak ini, siapa yang melarang?”

Amelia tersenyum, senyum pertama kali setelah kami melewati gunungan sampah yang bau dan kotor.

“Terima kasih untuk mencoba tampil cantik, tanpa perona dan pemerah bibir itu kamu sudah cantik Mel, dan  lihatlah anak-anak itu, mereka  lebih berhak mendapatkan kue-kue lezat buatanmu,”

“Ya, daripada aku jual untuk mereka yang telah terbodohi oleh bulan merah jambu,”

Kami tertawa bersama. Terima kasih Amelia, terima kasih untuk mencoba berubah. Aku yakin bulan merah jambu-mu itu tak akan berakhir di angka dua puluh delapan atau dua puluh sembilan, karena bagiku kamu menciptakan bulan merah jambu untukku setiap hari.

End

 

Catatan : Cerpen ini pernah dilombakan dalam event Lomba Menulis Cerpen : Memperbaiki Indonesia (Generasi Muda Muslim Say No to Valentine) berhasil masuk 15 besar🙂

 

dilarang mengkopi isi cerpen tanpa izin penulis

Penulis:

Sedang mencari kamu

2 thoughts on “[CERMIN] : Bulan Merah Jambu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s