Posted in Cerita Pendek

[CERPEN] : A Little Thing Called Love (Sebuah Cinta Sederhana)

[KCV] A Little Thing Called Love (Sebuah Cinta Sederhana)

Penulis : Destini Puji Lestari + Destina Puji Rahayu

Pagi ini dingin sekali. Sweater merah jambu favouritku ternyata tak mampu melawan dinginnya pagi di kota ku. Aku menyesap secangkir teh hangat dengan gula rendah kalori. Cukuplah untuk membuat badanku hangat sejenak. Dengan rasa malas, kuseret kakiku menuju dapur. Segera kuhangatkan susu cair dan kusiapkan empat tangkup roti isi selai kacang. Tak lupa kuiris tiga buah apel berwarna merah menyala.

“Selamat pagi,” dia mengecup pipiku.  Rambutnya yang hitam terlihat acak-acakan. Piyamanya meninggalkan kerutan disana-sini. Hujan tadi malam membuat dia dan bahkan juga aku tertidur dengan nyenyaknya.

Setelah menenggak habis susu kalsium rendah lemaknya, dia bergegas ke kamar mandi. Suara gemericik air terdengar begitu jelas di pagi yang sunyi ini. Aku menghela nafas, ada sesuatu yang aneh dalam dadaku. Sesuatu yang ingin menyeruak dari hatiku. Seperti sebuah pemberontakan.

Dia memakai hem warna biru laut yang baru kubelikan minggu lalu sebagai hadiah ulang tahunnya yang kedua puluh lima. Kulihat dia memakai gel rambut, menyisir rambutnya, dan memakai dasi. Semuanya ia lakukan sendiri. Aku mencoba mendekat.

“Sarapan sudah siap,” kataku.

“Terima kasih,” dia mentatapku, tersenyum. Lantas kembali sibuk dengan dasinya.

Kenapa diam saja? Kau seharusnya membantunya memakai dasi itu. Kau takut? Apa yang kamu takuti? Ah, pokoknya aku takut.

Sepuluh menit kemudian kulihat dia menuju dapur. Aku masih sibuk dengan make-up dan blazer merah maroon-ku. Lipstick merah menyala kupoleskan di bibir mungilku. Tak lupa blush on warna senada kulitku menempel pas di kedua pipiku. Sekarang, waktunya memakai mascara.

“Saya makan duluan,” dia memberitahuku. Aku mengangguk kecil, sekarang sibuk dengan antingku. Dia, lagi-lagi makan di balkon rumah. Bukannya sudah kusiapkan sarapan diatas meja makan? Yang kuinginkan kita sarapan bersama. Duduk berdua dan saling bertukar cerita. Ah, dia memang tak pernah mau mengerti.

“Apa aku kurang cantik Nes?”

Nesta tertawa. Wajah orientalnya memandangku tak percaya.

“Hei, kamu kenapa sih? Lagi kena syndrome penuaan dini ya?” ledeknya.

“Entahlah. Kadang aku tak mengerti dengan sikap Hari. Akhir-akhir ini dia berubah,”

Nesta mendekatkan kursinya kearahku. Kertas-kertas berisi catatan pengeluaran perusahaan ia tinggalkan sejenak.

“Yah, aku pikir Hari tidak mencintaiku lagi,”

“Hei! Jangan bilang begitu, memang apa yang dilakukan Hari kepadamu? Dia selingkuh?”

Aku menggeleng.

“Tapi sikap kami berdua tak bisa dibilang lagi sebagai sepasang suami istri,”

“Kalian kan masih pengantin baru, mungkin masih harus beradaptasi dengan kehidupan rumah tangga,” Nesta menggenggam tanganku.

“Aku yakin kamu pasti bisa menjadi istri yang baik,”

Aku meng-amini ucapan Nesta dalam hati.

***

“Halo, saya pulang terlambat. Malam ini kamu pulang naik taksi saja ya…maafkan saya, nanti saya pesankan taksi,”

Aku mendesah pelan. Lagi-lagi seperti ini. Dia, kenapa sih dia selalu saja begini?

“Rin, aku pulang dulu ya, Rama udah jemput,” Nesta melambaikan tangannya kepadaku. Aku mengangguk pelan. Kami berpisah di lobi kantor. Nesta, sahabatku terlihat bahagia bersama suaminya. Rama adalah pria dengan sejuta perhatian, itu sebutan Nesta untuk suami tercintanya. Nesta, seandainya Hari sama seperti Rama….

Aku terjaga saat mentari pagi mengintip malu-malu lewat celah jendela kamar kami. Kulihat dia sudah  berpakaian rapi. Sedang memakai dasi di depan cermin.

“Selamat pagi Rin, hari ini saya ada rapat lebih awal, saya berangkat duluan ya?”

“Tapi saya belum bikinin kamu sarapan,”

“Tenang saja, nanti saya bisa mampir ke Wendy’s”

Dia tersenyum lantas mengecup keningku. Bergegas ia menuju ke ke garasi. Memanaskan mobil dan pergi. Aku menangis. Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya. Dimana pernikahan yang katanya indah itu? Bukan begini pernikahan yang aku harapkan. Seharusnya pagiku diwarnai dengan celoteh riang kami. Saling memeluk mesra ketika kami terjaga. Saling bercanda sembari menyesap hangatnya kopi di balkon rumah kami yang cantik. Atau  saling melengkapi cerita kami ketika sarapan. Setidaknya ada kecupan manis saat aku melangkah menuju kantorku. Ah, dimana semua keindahan itu?

“aku benar-benar lelah Nes! Aku capek dengan semua ini,”

Nesta memandangku prihatin.

“Maafkan aku, aku tak tahu harus bagaimana,” Nesta memelukku.

“Rama pasti tak seperti Hari, dia pasti selalu hangat, iya kan?”

Nesta mengangguk.

“Nesta, apa sih kekuranganku? Apa aku kurang seksi? Perasaan aku lebih seksi dan lebih cantik dari kamu, iya kan?

Kudengar Nesta tergelak.

“Aku tak akan pernah bisa mengalahkan  mantan Miss Kecantikan kebanggan almamaterku, sampai kapan pun aku tak bisa mengalahkanmu!”

“Yah, tapi dalam berumah tangga kamu berhasil mengalahkan aku, kamu berhasil mendapatkan suami yang sempurna,”

“Aku yakin Hari menyayangimu. Mungkin hanya waktu kalian saja yang selalu salah,”

Aku terdiam. Ucapan Nesta membuatku berfikir, mungkin kali ini Nesta benar.

***

Jumat malam. Itu yang sangat aku tunggu. Weekend! Yeah akhirnya kembali libur setelah satu minggu yang melelahkan. Nesta menggodaku saat aku mengeluarkan lipstick merah menyalaku.

“Ciee yang mau kencan..”

“Bagaimana? Aku cantik tidak?” aku kembali mematut diriku di depan cermin toilet kantor.

Nesta menunjukan dua jemponya.

“Hilarry Swank aja kalah,”

Aku tertawa mendengar Nesta membandingkanku dengan artis Hollywood favoritnya. Kulirik BB-ku yang sedari tadi berkedip.

“Baiklah, saya akan segera turun,”

“Sukses ya Rin..aku tunggu cerita indahmu,” Nesta melambaikan tangan kepadaku. Waduh, kok jadi seperti mau kencan pertama saja. Tiba-tiba aku merasa menjadi remaja belasan tahun lagi.

Dia berdiri di depan mobil silver metallic-nya. Rambut cepak itu, tubuh jangkung itu, dan oh Tuhan dia memakai hem biru laut favoritku.

“Maaf sudah membuatmu menunggu,”

Dia menoleh. Wajah tampan itu tersenyum. Lantas membimbingku ke mobilnya. Lagu Fly Me to the Moon-nya Frank Sinatra mengalun lembut dari radio yang kebetulan sedang membicarakan tentang Valentine. Oh iya! Bukannya hari ini valentine yah? 14 februari. Bulan merah jambu yang dulu sangat akrab di kehidupanku. Bulan yang katanya penuh dengan kasih sayang. Tiba-tiba dadaku bergemuruh.

“Kamu lapar?” dia bertanya. Tak sekalipun menoleh kepadaku. Aku tahu dia sedang konsentrasi menyetir, jadi tak kupermasalahkan itu.

“Lumayan,” jawabku. Jujur, gara-gara terlalu antusias dengan ajakan ‘pergi berdua’-nya membuatku lupa makan. Sibuk memikirkan penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Setengah jam kemudian kami sampai di sebuah tempat yang sangat familiar bagiku. Pantai Marina! Ya, ini tempat favoritku. Saat aku sedih, bahagia, atau sedang ingin menyendiri, aku pasti ke sini. Memandang debur ombak di laut seakan bisa meluluh-lantahkan semua penat di kepalaku.

Dia menggandeng tanganku. Hatiku berbisik kecil, ini bukan mimpi Rin.

“Saya akan membawamu ke suatu tempat,”

“Kemana?”

Dia tersenyum. Sungguh senyumnya membuatku mataku tak mau lepas memandang wajahnya yang menyejukkan.

Dia mengajakku duduk di atas pasir putih. Dari sini bulan terlihat begitu jelas. Malam ini purnama. Bulan bersinar penuh, bulat 360 derajat. Cantik sekali.

“Indahnya,” gumamku.

“Bagaimana kamu suka?”

Aku mengangguk. Dan untuk pertama kalinya setelah 3 bulan dari malam pertama kami, dia memandangku dengan tatapan lembutnya. Mata kita beradu dan wajah tampan itu perlahan mendekat kepadaku.

“Terima kasih ya,” dia berbisik kepadaku.

“Untuk apa?”

“Untuk semua ini, selama ini kamu begitu baik kepada saya,”

Aku terdiam. Apa maksudnya?

“Saya selalu berfikir, apakah ada yang salah dengan pernikahan kita?” tanyaku. Dia memandangku.

“Tidak,”

“Saya pikir perjodohan itu yang membuat kita menderita. Dan saya tidak pernah tahu perasaan kamu kepada saya. Kita berdua adalah korban dari sikap konvensional orang tua kita masing-masing,”

Dia masih saja terdiam. Tatapan matanya nanar memandang rembulan yang bersinar dengan indahnya.

“Saya bahkan baru melihat kamu saat malam dimana kamu dan keluargamu melamar saya,”

“Malam itu saya tidak bisa membohongi perasaan saya sendiri,  malam itu diam-diam saya mulai mencintai kamu, saya pikir pernikahan kita akan bahagia,”

“Maafkan saya,”

“Tidak, kamu tidak perlu meminta maaf,” kataku cepat.

Kami terdiam untuk beberapa saat.

“Apakah saya berperilaku seperti yang kamu harapkan?” tanyanya.

Aku menggeleng.

“Lantas, kenapa kamu tidak meninggalkan saya?”

Pertanyaannya membuat lidahku kelu. Aku juga tak tahu kenapa aku tak bisa meninggalkannya.

“Mungkin karena saya terlanjur mencintaimu,”

Dia menatapku.

“Begitu pula dengan saya.,”

“Mungkin saya bukanlah pria yang romantis yang setiap hari memberimu ucapan cinta atau setangkai mawar merah yang indah. tapi, jujur saya benar-benar mencintai kamu dengan tulus. Kamu, wanita pertama yang saya cium ketika saya selesai mengucap ijab qabul. Kamu wanita pertama yang saya lihat saat saya terjaga di pagi hari setelah malam pertama kita. kamu wanita pertama yang saya kecup setiap saya selesai bermunajah di tengah malam. Dan kamu yang nantinya akan menjadi ibu untuk anak-anak saya, sungguh saya mencintai kamu”

Seketika itu aku menangis mendengar jawabannya. Kupeluk tubuhnya yang kekar. Pria berkaca mata itu balas memelukku.

“saya sayang kamu Rin,”

Pelukan itu tiba-tiba mengendur. Sekarang dia merengkuh tubuhku dalam dekapannya.

“Oh iya sekarang hari valentine ya? Saya punya ini untukmu,”

Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

“Semoga kamu suka,”

Sudah. Aku tak bisa berkata-kata lagi. malam ini terlalu romantis untukku. Bahkan hampir sepuluh kali kucubit lenganku untuk meyakinkan diriku jika aku tidak bermimpi. Dia melingkarkan sebuah kalung perak di leherku. Lantas, dia mengecup pipiku.

“Kamu cantik,” ucapnya.

“Terima kasih..saya hanya tak menyangka kamu bisa seromantis ini, apa karena ini hari Valentine jadi kamu berubah romantis?”

Dia tertawa menampilkan deretan giginya yang putih bersih.

“Tentu saja tidak. Kamu kira saya terkena virus merah jambu itu? Arina, saya bukan lagi remaja enam belas tahun yang begitu mendewakan hari Valentine. Saya bahkan tak pernah percaya dengan hari itu. Mungkin kebetulan saja, weekend ini jatuh di tanggal 14 Februari. Bertepatan pula dengan bulan purnama yang indah. Karena bagi saya, valentine itu setiap hari. Ya, setiap ada kamu di hati saya,”

Perfect! Kamu sudah men-skak-mat kan hatiku. Ucapanmu itu seperti bukan datang dari kamu. Atau mungkin selama ini aku salah mengenalmu? Aku selalu mengira kamu itu pria berhati dingin tanpa ada sisi romantisnya sedikitpun.

Mungkin benar kata Nesta. Kerenggangan itu terjadi karena waktu kita yang selalu salah. Semenjak menikah kita selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tak ada waktu untuk saling berbagi dan bertukar cerita. Mana mungkin aku bisa mengenal suamiku seutuhnya jika tidak ada obrolan intim diantara kita berdua. Pernikahan kita dijodohkan. Ibu dan ayahku hanya memberiku kesempatan berfikir semalam saja untuk menerima atau tidak lamaran dia. Kadang, aku selalu menyalahkan waktu. Menyalahkan pernikahan itu, perjodohan itu dan tentu saja menyalahkan dia.

“Saya bahagia menikah denganmu,” kupeluk tubuh dia, suami tercintaku. Kembali bisa kurasakan wangi tubuhnya dan dekapannya yang hangat.

“Terima kasih untuk quality time-nya, kamu membuat saya jatuh cinta lagi,”

Dia mengecup keningku pelan.

“Mau saya nyanyikan sesuatu?”

Aku mengangguk. Dan dia kembali menyanyikan lagu favoritnya, Fly Me to The Moon-nya Frank Sinatra. Lagu yang pertama kali ia dendangkan saat malam pertama kita. dan itu terjadi tiga bulan yang lalu.

Fly me to the moon,

Let me play among the stars.

Let me see what spring is like on Jupiter and Mars.

In other words, hold my hand!

In other words, baby, kiss me.

Fill my heart with song,

And let me sing forever more…

Diam-diam aku mengikrarkan lagu ini sebagai lagu favoritku juga. Terima kasih Hari, terima kasih untuk quality time yang kamu berikan. Sekarang aku bisa merasakan sesuatu yang indah bernama ‘cinta’ yang diam-diam kembali membisikan kamu dihatiku.

End-

 

Boleh Copas asal mencantumkan sumber dan penulis aslinya🙂

Terima Kasih🙂

Destini + Destina

Penulis:

Sedang mencari kamu

29 thoughts on “[CERPEN] : A Little Thing Called Love (Sebuah Cinta Sederhana)

  1. Kak, kalau cerita ini diperpanjang dan dijadikan buku saya bakalan beli deh. Wkwkwk, cowoknya sosis banget, eh maksudnya so sweet deh wkwk. Andai kan aku punya sayap, wadow maksud saya andai cowok yang menjadi jodoh kakak saudara saya seperti dia #hari pasti kakak saudara saya langsung nangis jingkrak2 entah mau ngapain wkwkwk #curhatdoloeh. Huhu jadi terhura, ralat terharu.

    Suka

    1. ini siapa siiih? >,< anon jadi nggak ngerti mau manggil pake nama apaa hehe. btw makasih udah mampir dan baca cerpen saya #senengdehh haha. meski saya sedih, kadang ada yang ambil cerpen saya buat dipasang di blog mereka tanpa izin dan mencantumkan penulis aslinya😦
      belum kepikiran buat dibikin buku, mungkin suatu saat nanti ya😀 jodohnya kayak Hari, berarti mau dijodohin?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s