Posted in Cerita Pendek

Dear Dio,

Dear Dio,

Dio, Diosaurus!

Begitu dulu aku suka memanggilmu. Kulit sawo matang, rambut jigrak dan senyum manis itu langsung menyambutku. Sungguh, pagiku langsung berubah cerah. Gerimis yang turun sejak tadi malam seakan menguap, menghilang tanpa sedikitpun jejak. Aku menyukai senyummu, aku menyukai tawamu, aku menyukai semuanya tentangmu.

Dio,

Kita tumbuh bersama. Masuk di TK yang sama,bahkan aku duduk di sebelahmu saat duduk di kelas nol besar. Dulu, aku sangat menyukai hari Rabu, saat pelajaran menyanyi atau membaca puisi. Aku menyukainya karena ibu guru selalu menyuruh kita untuk membaca puisi bergantian. Yah, waktu TK kan cuma kamu dan aku yang bisa membaca dan menulis dengan lancar.

Dio,

Aku kira masa remajaku akan indah dengan adanya kamu. Kamu ingat, kamu selalu bilang, “Tenang saja, nggak usah takut, kalau ada cowok yang gangguin kamu, panggil aja aku,” Aaaah! Aku kangen mendengarnya langsung darimu. Kamu selalu berusaha menjagaku. Kamu tahu aku cengeng, kamu tahu aku penakut, kamu tahu aku tak suka berdebat. Yang jelas aku butuh seseorang untuk melindungiku, dan itu kamu!

Dio,

Aku senang, kaget, dan cemburu saat kamu bilang, kamu jatuh cinta. Dada ini sesak rasanya saat mendengar kamu menyebutkan nama gadis yang tinggal di komplek sebelah, bukan namaku yang kau sebut. Dia Riani, duhai indahnya nama gadis itu. Yap, seindah wajah dan wataknya. Kamu tahu Dio? Riani itu sahabatku, dialah satu-satunya teman yang aku punya saat itu. Riani cantik tapi tidak sombong, Riani pintar tapi tidak menggurui, Riani popular tapi herannya ia masih mau berteman dengan aku yang biasa-biasa saja. Aku tidak cantik, tidak pintar, dan aku tidak popular.

Dio,

Selamat ya! Akhirnya kamu di terima di SMA favorit di kota kita. Sebuah SMA elit dan prestisius. Tempatnya anak-anak pintar yang berkantong tebal. Meskipun nilaiku mencukupi untuk masuk dan bergabung denganmu di dalamnya, namun aku tahu diri. Tak mungkinlah aku bisa mengimbangi pergaulan mereka, para malaikat kecil dari orang-orang yang setiap harinya mengendarai BMW, Mercedez, Honda Jazz atau Pajero.

Dio,

Masa SMA ku mungkin tidak seindah seperti yang kamu miliki. aku masuk ke sebuah sekolah kejuruan, aku konsisten dengan cita-citaku, aku ingin menjadi seorang desainer terkenal. Aku belajar dan bekerja keras mewujudkan cita-citaku sampai aku lupa caranya berdandan. Mungkin aku satu-satunya siswi yang selalu hadir di sekolah dengan make-up polos. Tidak seperti teman-teman perempuanku yang lain, mereka cantik, segar dan modis.

Dio,

untuk soal cinta jangan remehkan aku. Kau tahu? Bukan kamu saja yang bisa menggandeng Riani. Sekarang aku juga bisa menggandeng Danar. Ya, kamu pasti tahu siapa Danar. Kamu dan dia kan musuh bebuyutan semenjak SMP. Sampai saat ini aku juga masih heran kenapa Danar bisa menyukaiku, si gadis bertampang cupu yang aneh.

Dio,

Diosaurus!

Begitu aku memanggilmu. Kini kamu sudah beranjak dewasa dan kamu tumbuh dengan sempurna. Wajah oriental, dan tubuh yang atletis itu semakin membuatmu terlihat mempesona. Aku dengar kamu berhasil lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru ya? Wah hebat! Selamat buat kamu. Kamu berhasil mewujudkan cita-citamu untuk bisa satu almamater dengan Ir. Soekarno, mantan Presiden Republik ini.

Tadi ibuku bilang, kalau dua hari yang lalu kamu datang mencariku. Kamu datang dengan seplastik buah Pear dan sekotak pie Apel. Wah ternyata kamu masih ingat makanan kesukaanku. Ibu bilang, kamu mencariku. Uh Dio, kenapa sih waktu kita selalu salah? Kamu datang saat aku sedang pergi bersama Danar. Lagian siapa suruh kamu datang di malam minggu? Kemana pula Riani? Tidakkah kamu mengunjunginya?

Dio,

Entahlah, haruskah aku sedih atau senang melihatmu putus dengan Riani? Break up! Selesai sudah semua cerita cinta indah kamu dan gadis berlesung pipit itu. Riani bilang kamu yang memutuskannya, memintanya untuk melupakanmu. Riani bilang, kamu menyukai gadis lain, kamu menduakan Riani.

Sedih! Ya jujur aku sedih, Riani sahabatku. Tak sepantasnya kamu melakukan itu Dio. Aku tahu Riani mencintaimu apa adanya. Ia tak pernah memandang fisikmu, keluargamu apalagi kekayaanmu!

Tapi, sudahlah cinta memang tak bisa dipaksakan. Biarlah ia mengalir, jangan terburu-buru, jangan tergesa-gesa karena nanti kamu  yang akan merusak jalan ceritanya sendiri.

Dio,

Hari ini kita bertemu. Ya, setelah sekian tahun kita hanya saling menatap dari balkon rumah kita. Just say ‘hello’ dan saling melambaikan tangan sudah cukup buatku. Namun, kali ini dadaku membuncah senang saat kau benar-benar berdiri di depanku. Kau bilang, aku semakin manis saja. Kamu tahu Dio? Sungguh ingin rasanya aku memelukmu saat itu juga! Aku terlampau gembira mendengar pujian dari mulutmu itu.

Wajah oriental, senyum renyahh itu…ah…kamu masih sama seperti dulu.

Dio,

Diosaurus

Tak pernah hilang dari ingatanku saat kamu mengucapkan kalimat itu. Sebuah kalimat yang membuat perasaanku hancur. Kamu bilang kan waktu itu jika kamu akan melanjutkan kuliahmu di Belanda? Kamu berhasil lolos seleksi beasiswa. Kamu cerdas, aku tahu itu. Mendapat beasiswa sepertinya sudah melekat erat dengan dirimu yang bersahaja. Namun, sepertinya perpisahan itu begitu cepat. Lima jam lagi burung besi akan membawamu ke ranah Eropa dan disini aku kalah oleh waktu.

“Tenang saja, saat aku pulang nanti akan aku bawakan sesuatu untukmu, sesuatu yang membuat mimpi-mimpimu kembali menyala,”

Aku tersenyum. Malam itu aku tidur dengan memeluk mimpiku…..

***

Dear Ivy,

Poison, Poison Ivy!

Begitu dulu aku suka memanggilmu. Kulit putih bersih, rambut hitam panjang dan senyum manis itu langsung menyambutku. Sungguh, pagiku langsung berubah cerah. Gerimis yang turun sejak tadi malam seakan menguap, menghilang tanpa sedikitpun jejak. Aku menyukai senyummu, aku menyukai tawamu, aku menyukai semuanya tentangmu.

Ivy,

Kita tumbuh bersama. Masuk di TK yang sama,bahkan aku duduk di sebelahmu saat duduk di kelas nol besar. Dulu, aku sangat menyukai hari Rabu, saat pelajaran menyanyi atau membaca puisi. Aku menyukainya karena ibu guru selalu menyuruh kita untuk membaca puisi bergantian. Yah, waktu TK kan cuma kamu dan aku yang bisa membaca dan menulis dengan lancar.

Ivy,

Aku kira masa remajaku akan indah dengan adanya kamu. Kamu ingat, aku selalu bilang, “Tenang saja, nggak usah takut, kalau ada cowok yang gangguin kamu, panggil aja aku,” Aaaah! Aku kangen mengucapkan itu untukmu. Aku selalu berusaha menjagamu. Aku tahu kamu cengeng, aku tahu kamu penakut, aku tahu kamu tak suka berdebat. Yang jelas kamu butuh seseorang untuk melindungimu, dan itu aku!

Ivy,

Apakah kamu senang, kaget, dan cemburu saat aku bilang, aku jatuh cinta? Dada ini sesak rasanya saat aku menyebutkan nama gadis yang tinggal di komplek sebelah, bukan namamu yang aku sebut. Dia Riani, duhai indahnya nama gadis itu. Yap, seindah wajah dan wataknya. Kamu tahu Ivy? Riani itu sahabatmu, dialah satu-satunya teman yang kamu punya saat itu. Riani cantik tapi tidak sombong, Riani pintar tapi tidak menggurui, Riani popular tapi herannya ia masih mau berteman denganmu yang biasa-biasa saja. Dulu, aku kira kamu tidak menyukaiku. Aku kira kamu hanya suka dengan buku-buku fiksimu sampai matamu minus begitu.

Ivy,

Kamu mengucapkan selamat saat aku diterima di SMA kota kita. Sebuah SMA elit dan prestisius, katamu. Tempatnya anak-anak pintar yang berkantong tebal. Meskipun nilaimu mencukupi untuk masuk dan bergabung denganku di dalamnya, namun kamu tak menginginkannya. Jangan sampai kamu memiliki pikiran jika kamu tak bisa mengimbangi pergaulan kami yang setiap harinya berangkat diantar BMW, Mercedez, Honda Jazz atau Pajero.

Ivy,

Masa SMA ku mungkin tidak seindah seperti yang kamu kira. Aku masuk ke sekolah ini karena paksaan dari kedua orang tuaku. Mereka selalu menuntutku untuk berprestasi di bidang akademik. Nilai-nilaiku harus tinggi. Aku harus selalu menjadi si nomor satu. Teman-temanku bilang aku si gila belajar. Aku memang tak begitu menyukai pesta-pesta yang selalu diadakan setiap minggu oleh kawan-kawanku yang bergaya hidup hedon. Aku lebih suka menghabiskan malam mingguku dengan tumpukan buku, novel dan sajak. Diam-diam aku juga suka mengamatimu.

Dear Ivy,

Poison Ivy

Begitu aku memanggilmu. Kini kamu sudah beranjak dewasa dan kamu tumbuh dengan sempurna. Wajah gadis jawamu yang ayu, dan kaki-kaki yang jenjang itu semakin membuatmu terlihat mempesona. Aku dengar kamu berhasil diterima di sebuah rumah busana desainer favoritmu. Selamat ya buat kamu! Akhirnya kamu bisa mewujudkan cita-citamu, menjadi seorang desainer terkenal.

Dua hari yang lalu aku datang mencarimu. aku datang dengan seplastik buah Pear dan sekotak pie Apel. Ini semua makanan favoritmu kan? Oh Ivy, kenapa sih waktu kita selalu salah? aku datang saat kamu sedang pergi bersama Danar. Lagian siapa suruh aku datang di malam minggu?

Ivy,

Tak pernah hilang dari ingatanku saat aku mengucapkan kalimat itu. Sebuah kalimat yang membuat perasaanku hancur. Aku bilang kan waktu itu jika aku akan melanjutkan kuliahku di Belanda? Alhamdulillah, aku berhasil lolos seleksi beasiswa. Sepertinya perpisahan ini rasanya begitu cepat. Lima jam lagi burung besi akan membawaku ke ranah Eropa dan disini aku kalah oleh waktu. Saat itu aku berjanji kepadamu, jika aku akan membawa sesuatu yang bisa membuat mimpi-mimpimu kembali menyala. Aku pasti akan merindukanmu….

Dear Diary,

Hari ini mama berulang tahun. Aku senang sekali karena papa merelakan weekend-nya untuk aku ajak kerjasama memberi surprise party untuk mama. Aku baru menyadari jika cinta papa untuk mama sangat tulus. Papa rela bangun pagi buta, memasak kue ultah dan cake saus strawberry favorit mama. Memesan satu booket bunga mawar kesukaan mama, dan membereskan semua pekerjaan mama, mulai dari memasak sarapan, menyiram bunga dan mencuci piring. Yah, mama memang sibuk, weekend ini, di hari ulang tahunnya mama tetap bekerja dari pagi hingga sore, pesanan baju di butik kami sedang banyak-banyaknya. Namun, yang paling aku suka adalah saat papa memanggil mama dengan nama yang sungguh unik, Ivy, Poison Ivy. Ah, aku tahu itu pasti panggilan sayang papa untuk mama. Setelah itu  mama pasti menjawabnya dengan memanggil papa, Dio, Diosaurusku.

Mama dan papa semoga pernikahan ini adalah jalan menuju kebahagiaan kalian.

Di sudut kota Bintang,

anakmu yang selalu cantik,

Mutiara Rengganis

 end-

boleh copas asal mencantumkan penulis asli🙂

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s