Diposkan pada Cerita Sehari-hari

It’s About Choice, It’s About Choose

Malam ini saya hanya ingin sedikit bercerita. Cerita tentang satu tahun yang lalu. Satu tahun yang penuh dengan tangis dan tawa.

Pertama saya mau ngucapin, Congratulation! Untuk adik saya tercinta Dhiafah Qatrunnada dan Metri Wulandari. Selamat untuk Nada yang sudah diterima di akuntansi Universitas Indonesia Jakarta lewat jalur SNMPTN undangan. Selamat juga buat adikku yang cantik, Metri Wulandari yang diterim di Teknik Perencanaan Wilayah dan Tata Kota Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Saya ikut bahagia dengan kabar gembira ini karena saya tahu bagaimana proses belajar kalian yang penuh dengan lika liku.

Setahun yang lalu saya juga sedang merasakan euphoria ini. Kebahagiaan karena berhasil lulus Ujian Nasional SMA. Sehari kemudian pengumuman SNMPTN undangan keluar dan saya sukses ditolak. Ternyata saya masih dipercaya oleh Alloh untuk belajar lagi untuk menghadapi SNMPTN tertulis. Down? Sempat sih. Tapi saya buru-buru mikir, buat apa sih merasa down? Merasa bodoh? Toh saya juga sekolah bukan untuk mendapatkan gelar ‘LOLOS SNMPTN’. Saya juga bukan fans berat SNMPTN, saya hanya ababil yang sedang berusaha mencari ‘apa passion saya?’.

Menentukan jurusan apa yang kelak saya ambil memang sudah dilakukan beberapa bulan sebelum ujian nasional. Saya yang notabene anak IPA (baca : IPA kw) bingung menentukan jurusan apa yang mau saya ambil? Semua jurusan anak IPA tidak saya suka. Ada Teknik yang saya pikir itu adalah neraka dunia buat saya. Mau jadi apa saya di teknik? Mungkin IP saya tidak pernah mencapai satu. Pendidikan dokter? Saya tidak mau berkomentar apa-apa karena ternyata materi sudah menjawabnya.

Saya sibuk browsing kesana kemari. Mencari informasi jurusan yang ‘menyenangkan’. Saya cari apa yang menjadi favorit saya. Dan setelah proses pencarian yang memakan waktu lama, saya memutuskan untuk memilih sastra Indonesia. Yap, saya merasa jurusan ini keren banget! Saya pasti puas untuk membaca novel seberapa banyak yang saya mau. kuliah saya pun pastinya tak jauh-jauh dari ngomongin sastra dan novel. Sebuah pemikiran dangkal anak SMA.

Selain jurusan sasindo, saya juga sempat tertarik dengan jurusan hubungan internasional. Sempat saya akan mendaftar HI UGM dan HI UMM. Dua universitas itu memang menjadi universitas incaran saya karena terletak di dua kota favorit saya, Jogjakarta dan Malang.

Tapi dunia tiba-tiba berubah gulita saat ibu menyuruh saya mengganti jurusan yang telah saya pilih.

“Anak sastra, setelah lulus mau jadi apa?” tanya ibu, pertanyaan ibu membuatku mati kutu. Sebenarnya ingin sekali saya menjawab, “Menjadi penulis bu,” ah, tapi tatapan itu membuatku urung mengutarakannya. Malam itu setelah melewati diskusi panjang, akhirnya saya bersedia mengganti pilihan sastra Indonesia menjadi disiplin ilmu yang sedang saya pelajari sekarang. Saya akan menjadi seorang perawat.

Selama masa penantian pengumuman SNMPTN tertulis, saya mulai bergerilya mencari perguruan tinggi. Baik negeri maupun swasta saya daftar semua. Total ada 4 perguruan tinggi yang saya daftar (3 negeri, 1 swasta) dan ternyata saya diterima semua. Senang? Tentu saja. Bersyukur? Iya. Ternyata Alloh memang mendengar doa saya.

Setelah awalnya saya ragu untuk menjadi bagian dari mahasiswa kesehatan akhirnya pintu hati saya berhasil dibukakan. Setelah hampir satu tahun menjadi bagian dari sekolah keperawatan, saya merasa inilah jurusan yang terbaik buat saya. Menjadi perawat, jika ikhlas akan  ada banyak sekali pahala yang diperoleh. Di rumah sakit perawat-lah yang sebagian besar menghabiskan waktunya dengan pasien. Perawatlah yang memandikan pasien, mengganti baju pasien, memasang infuse, menginjeksi vitamin dan lain sebagainya. Jadi ngga ada alasan kan untuk tidak nabung pahala? 🙂

Di sekolah keperawatan S1 dan Ners inilah saya menemukan keluarga baru. Sahabat-sahabat yang saling mengerti disaat senang dan susah. Kakak-kakak senior yang selalu ikhlas dan mau berbagi apa saja. Dan dosen-dosen yang hebat, yang selalu mengajar dengan hati.

Kadang saya suka mengandai-andai jika saya benar-benar masuk sastra. Anak sastra yang kebetulan teman seangkatan saya bilang jika dalam satu bulan harus membaca 45 buah novel yang semuanya harus bernilai sastra. Oh Tuhan, saya pasti dengan mudah  bisa membaca buku-buku Pramoedya 😀 tapi sekarang, meskipun nggak masuk sastra, saya masih bisa membaca buku Pram sesuka saya.

Baiklah, ini hanya curhatan singkat. Curhatan mahasiswa galau karena tugas yang menumpuk. Pada intinya : untuk teman-teman, adik-adik saya tercinta baik yang sekarang lagi down atau terlarut dalam sebuah euphoria kelulusan, bangunlah!

Hei kamu yang merasa gagal diawal, lepaskan semua pemikiran pendekmu. Awal itu tak seharusnya dikatakan gagal karena kita tak tahu apa yang akan terjadi satu detik ke depan. bisa saja rencana Alloh pada pagi hari ini bisa mempengaruhi pagimu berikutnya. Iya, siapa tahu kan?

Semoga adik-adik saya tercinta bisa mencapai apa yang dicita-citakan. Sukses buat saya dan teman-teman semua 😀

bersama teman seperjuangan. saat mengikuti hospital tour ke RS Holistik Purwakarta 🙂

Menjadi seorang perawat adalah jalan saya. Mungkin ini adalah takdir saya. Saya percaya skenario Alloh lebih hebat dari sutradara tingkat dewa manapun di dunia. Ya, saya percaya itu….

*disudut kota Galau, ditemani buku Prinsip Keperawatan Pediatric, saya, penulis galau mengucapkan Selamat Malam dan Selamat Tidur 🙂

Iklan
Diposkan pada Cerita Pendek

[FF] : 780 Menit

Sabtu, 26 Mei. 07.30 WIB. Fotocopy seberang kampus.

Dua puluh lima kertas hvs 80 gram jatuh berceceran di lantai. Dengan tergesa aku memungutinya. Seorang cowok berkacamata full frame memandangku sebal karena aku telah mengacaukan paginya. Hanya sepotong kata maaf yang terlontar dari mulutku. Ternyata masih terlalu pagi untuk membuat suatu masalah.

10.00 WIB. Kampus FISIP

Kita bertemu lagi. kali ini di selasar tangga menuju lantai dua. Saat aku asyik dengan bb-ku, kamu lewat bersama tiga orang kawanmu. Kamu, dengan kacamata full framemu sejenak melirikku. Ah, aku tahu kamu masih ingat aku.

13.00 WIB. Perpustakaan FISIP

Aku sedang asyik menyalin buku ajar jurnalistik di buku catatanku. Saat itu jelas sekali aku melihat sosokmu, dan kamu melihat sosokku. Kamu lagi, mungkin itu yang kamu katakan dalam hati. ada tatapan kaget di sorot wajahmu. Begitupula aku, kenapa kita bisa bertemu lagi? bukankah kita tidak membuat sebuah janji?

20.30 WIB. Parkiran FISIP

Hujan. Aku merapatkan cardigan cokelat mudaku. Kampus sudah sepi sejak satu jam yang lalu. Anak BEM yang biasanya betah nongkrong di kampus sampai larut malam saja sudah tak kelihatang batang hidungnya. Kulihat sekeliling parkiran, hanya ada aku, dua orang mahasiswa tingkat atas, sepasang mahasiswa dan mahasiswi yang tengah mendownload sesuatu dan cowok berkacamata full frame yang sangat kukenal. Aku mendesah pelan. Kalau begini bagaimana aku bisa pulang? Tak mungkinlah aku berlari ke luar gerbang kampus dan mencegat angkot yang lewat karena hujan semakin bersemangat menghujam bumi.

20.45 WIB. Masih parkiran FISIP

Sepasang mahasiswa-mahasiswi yang tadi kulihat mulai bersiap pulang. Hujan memang sedikit mereda, tapi masih  bisa membasahkan bajuku bila aku nekat berlari menembus hujan. Tak mungkinlah aku melakukan itu mengingat  seluruh salinan tugas yang harus dikumpulkan 9 jam dari sekarang harus sudah berada di ruang dosen pembimbing tecintaku tepat waktu. No tolerant untuk keterlambatan dan kekurangan kelengkapan tugas! Aku mendesah lagi.

Dua orang mahasiswa tingkat atas bahkan sudah memacu kendaraan mereka meninggalkan aku dan cowok berkacamata full frame berdiri canggung berdua. Mencoba saling menatap namun tak ada yang berani untuk memulai bicara.

21.00 WIB. Disamping kursi rotan di parkiran FISIP.

“Pulang sendiri atau ada yang jemput?” tepat pukul Sembilan malam. Aku menoleh. Suara berat itu ternyata berasal dari cowok berkaca mata full frame yang sedari tadi hanya menatap tetes-tetes air hujan.

Sinar lampu koridor kampus membuatku bisa dengan mudah mengenali wajahnya. Mata yang tadi pagi menatapku sebal. Mata yang tadi pagi menatapku heran. Dan mata yang sekarang terperangkap bersamaku  karena hujan.

21.15 WIB. Kosan Putri ‘Laras’

“Bunga Hinata, panggil saja aku Bunga,”

“Dan aku Daun,”

Kami saling tersenyum. Tak ada lontaran kata-kata selain ucapan terimakasih dariku. Tiba-tiba entah datang darimana, sebuah senyuman tersungging di bibirku. Aku menyembunyikannya. Ya, kusembunyikan karena aku malu.

21.30 WIB. Kamar kos tercinta.

Namaku Bunga Hinata, aku 19 tahun dan aku single. Entah kenapa malam ini perasaanku membuncah senang. Senyum dan tawa senantiasa menghiasi waktuku. Aku yakin ini gara-gara 780 menit sejak aku melihatmu. Tujuh ratus delapan puluh menit sejak aku menumpahkan file fotokopimu. Terima kasih Tuhan, terima kasih untuk  scenario 780 menitMu yang begitu mempesona.

Namaku Daun, aku 20 tahun dan aku single. Entah kenapa malam ini perasaanku membuncah senang. Senyum dan tawa senantiasa menghiasi waktuku. Aku yakin ini gara-gara 780 menit sejak aku melihatmu. Tujuh ratus delapan puluh menit sejak kamu menumpahkan file fotokopiku. Terima kasih Tuhan, terima kasih untuk  scenario 780 menitMu yang begitu mempesona.

end-

Sabtu malam, ditemani my lovely pinkish lepi 🙂

 thanks to : blogham. thanks for the pict

Diposkan pada Cerita Pendek

[Cerpen] : Aku dan Hujan

Dimuat di Majalah Teen edisi 147/2011. Ditulis saat masih berseragam SMA unyu-unyu 🙂

            Aku suka memandang hujan. Entah kenapa hujan memberikan efek ketenangan hati untukku. Mungkin setiap kali turun hujan memoriku tentang ‘si mahluk manis’ yang pernah aku temui kembali terkuak.

            Dia adalah Arga, cowok pendiam, keren, jago karate dan bermata sipit yang duduk di kelas XI IPA 3, besebelahan dengan kelasku. Aku mengenal Arga secara tak sengaja.

Waktu itu mendung sudah di ujung tanduk tinggal menunggu hembusan angin untuk menurunkan butiran-butiran air ke bumi. Aku baru selesai menyelesaikan proposal untuk salah satu acara organisasi yang aku ikuti sehingga tak sadar langit mulai menghitam. Aku nekat untuk tetap pulang karena takut kehabisan angkot dan benar saja tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Aku berlari mencari tempat berteduh, untunglah aku menemukan sebuak lapak yang sepertinya sudah tak terpakai lagi. Aku berteduh seraya mencoba mengeringkan bajuku yang telah basah kuyup.

Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit hujan belum juga reda. Kulihat seorang cowok belari kearahku. Baju dan celanya basah, bahkan tas yang ia gunakan untuk perlindungan terakhir juga tak luput dari guyuran hujan. Ia berdiri di sebelahku sambil mengibask-ngibaskan baju seragamnya. Sekali-sekali ia melihatku dan tersenyum.

“Aneh banget nih cowok,” gumamku dalam hati.

“Kita senasib ya?” tanyanya kepadaku.

Aku masih tak berani menatap wajahnya secara langsung dan aku hanya mengangguk sebagai tanda bahwa aku membenarkan pernyataannya.

“Tak usah takut begitu, aku tak akan mengganggumu kok,” mukaku langsung memerah mendengar perkataannya.

“Aku sangat senang memandang hujan, kau tau kenapa?”

Aku menggeleng.

“Karena hujan memiliki beribu misteri,”

Aku mengernyitkan dahi. Apa lagi maksudnya? Hujan mengandung misteri? Bukannya hujan itu mengandung air ya? Ada-ada saja ini cowok.

“Kau suka hujan?” tanyanya lagi. Lanjutkan membaca “[Cerpen] : Aku dan Hujan”

Diposkan pada Curhat Tentang Film

[J-Movie] : Lovely Complex, Height Doesn’t Matter, Right?

Konbawa!

kembali lagi dengan review J-movie favoritku. Yap, setelah 4 hari mudik di kampung halaman akhirnya semangat hidupku meningkat lagi *uwooo T.T pulang kampung tak sia-sia. Di rumah seperti biasa, menghabiskan stok cemilan dan buah, menguasai televisi dan menjadi tukang ojek dadakan. Untunglah di sela-sela kebosanan yang melanda, iseng aku ubek-ubek lepi my lovely sister dan nyari-nyari film di lepinya. Karena aku cinta mati banget sama j-movie dan K-movie ya udah semua film berbau korea dan jepang aku copy sampai disk drive (d) ku merah *hiyah, jangan sampai ada film yang dihapus ><

Okey, ceritanya kemarin siang aku sama tetangga kos yang doyan tidur tapi  cantik bernama Intan Cahya (kalau mau kenalan klik aja ini) nonton film jepang berjudul Lovely Complex. Sepanjang film kami berdua dibuat tertawa tak ada henti. Adegan di film ini memang penuh dengan kekonyolan.

Lovely complex merupakan film Jepang yang diadaptasi dari manga dengan judul yang sama. Mengisahkan dua remaja bernama Koizumi Risa (Fujisawa Ema-16) dengan Atshushi Otani (Koikku Teppei-16) dimana keduanya memiliki kisah cinta yang hampir sama. Risa beberapa kali harus menelan pil pahit ditolak cowok karena tinggi badannya yang abnormal untuk ukuran cewek Jepang (170cm). dan Otani dengan tingginya yang dibawah rata-rata tinggi cowok (159 cm) mengalami hal yang sama dengan Risa, di tolak cewek gara-gara tingginya terlalu minimal. Jadilah keduanya dijuluki pasangan serasi oleh teman-teman sekelasnya. Otani dan Risa memang tak pernah akur, keduanya selalu berantem. Otani memanggil Risa dengan ‘beanstalk’ dan Risa menjuluki Otani ‘shorty’. Bener-bener kawaiiii ^^ Lanjutkan membaca “[J-Movie] : Lovely Complex, Height Doesn’t Matter, Right?”

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Curhat Dadakan Sebelum Tidur

Selamat malam….

Heran nih kenapa ya sampai larut malem kayak aku belum tidur? Padahal biasanya udah tepar. Mungkin gara-gara too excited karena baru isi pulsa modem setelah hampir setengah bulan sakau gak bisa online *terima kasih ibu, peluk dan cium hanya untukmu :*

Iseng karena saking boorednya, aku buka-buka blog teman. Istilah kerennya blogwalking gitu, tengok sana tengok sini siapa tau ada yang kenal dan ternyata gak ada *temen gue lebih seneng twitter dan facebook daripada ngeblog -___- semoga pasang statusnya gak alay-alay jijay mengingat pasukan alay sudah menginvansi twitter.

Oke, ini iseng juga ya, udah lama pengin banget aku lakuin tapi selalu kelupaan. Sambil menahan rasa haus karena tukang galon gak jadi dateng padahal udah pesen air, aku iseng ngetik namaku di tante google yang cantik *aku yakin elo elo yang baca tulisan ini juga pernah ngelakuin kan? Kalau belum berarti CUPU 😛

 taraaaaa! Keluar dah namaku dan beberapa tulisan yang pernah aku muat di blog (wordpress, kompasiana). Iseng terus aja aku cari namaku sampai aku nemuin dua link yang menurutku ‘wow’. Yup, setelah aku cek link yang berisi namaku itu ternyata nyambung dengan situs publisher indie Nulisbuku.com. Ajiah..namaku ada di salah satu buku keroyokan yang diterbitin nulisbuku. Aku jadi garuk-garuk kepala, kapan aku nulisnya? Heiho, amnesia ikiiii

Setelah proses mengingat berakhir (pake ritual keramas sambil joget chibi-chibi) akhirnya aku sadar juga, dulu pernah (iseng) ikut proyek nulis keroyokan gitu. Jaman alay ababil SMA gituh deh, jaman-jamannya galau, bimbang, labil nunggu pengumuman SNMPTN. Waaah hampir satu tahun yah? Kok nggak ada pemberitahuan sih?? Minimal dimensen gitu twitterku. Lagian dulu diminta ngelampirin alamat facebook n twitter, email juga, terus itu semua buat apaaa? Koleksi? Buat di loak kali yah-____-

Mungkin karena namanya penyelenggara amatiran kali ya, terserah deh ini hidup, hidup gue, elo gak usah ganggu, tinggal nulis doang, mungkin gitu pemikiran mereka. Saat awal pengumuman proyek nulis sempat diberitahu kalau honornya akan disumbangkan kepada orang yang tidak mampu gitu. Aku sih positive thingking aja,perkara duit hasil penjualannya mau dipake buat yang lain, yang nanggung dosa siapa? ya elo! Siapa lagi :p

Kedua tulisan saya yang sempat dan Alhamdulillah nangkring di nulisbuku.com adalah He’s (not) The One (Book of Cheat 3) dan aku dan Desember (Perjuangan Cinta). Senang nggak nih? Tentu saja seneng lah, pengennya sih pengin cepet-cepet beli via paket gitu. Tapi ternyata eh ternyata si ibu ngirim duitnya telat, maklum tanggal tua belum ada duit. Semoga bulan depan bisa membeli dua sekaligus *aminnn, lumayan bisa dipajang di rak rumah :p

Okey dokey, kayaknya nih mata udah nggak mau diajak kompromi. Ngantuk banget! Ini curhat malam ini cukup sampai disini aja deh, takutnya ntar malah keterusan hehe. Besok ada kuliah pagi mennn…dan guess what?? Mata kuliah besok Stress koping dan Pancasila *eww. I don’t know why when I heard Pancasila with its lecturer, I feel soo soo soo BLUE! Hahaha padahal aku siepen -____- ibu tolong akuuuu

Diposkan pada Cerita Pendek

[FF] : Karena Aku Mencintai Hujan

Kau tahu kenapa aku menyukai hujan? Akan banyak sekali alasan yang keluar dari mulutku. Mungkin kamu akan bosan mendengarnya. Tapi, tak apa kan sekali ini saja kamu meluangkan waktumu untukku? Lihatlah sudah kusiapkan dua cangkir macchiato favorit kita. aku tambahkan sepiring biscuit kacang kesukaanmu. Tinggalkanlah sejenak semua bisnismu, tugas kuliahmu, sekarang minum saja macchiato yang sudah aku buat. Sambil menyesapnya akan kuputar lagu kesukaan kita.

Lihatlah, balkon ini sepertinya sudah menunggu kita untuk kembali. Saling bercanda dan tertawa seperti waktu dulu. Saat kamu belum sesibuk sekarang, saat kamu belum seacuh sekarang dan saat kamu belum mengenal dia.

Kau selalu bertanya, kenapa aku menyukai hujan. Kemarilah, biar aku beri tahu rahasiaku. Kenapa aku selalu menyukai hujan? Yap, karena hujanlah yang membuatmu kembali kesini, ke balkon ini. kau pernah bilang kan?

“Aku selalu menyukai hujan, selalu. Karena hujanlah aku bisa tertahan disini, di balkon ini. disini aku bisa memandang wajahmu yang sendu. Seperti hujan, sendu yang menyejukkan,”

Lupa ya? Pasti kamu lupa. Sudahlah, mungkin penantianku akan dirimu adalah sia-sia. Kamu sekarang sudah bersama dia. Dia yang kamu bilang seribu kali lebih baik dari aku.  Jika nanti kamu kembali ke balkon ini, jika nanti kamu bilang kamu merindukanku, jika nanti kamu bilang kamu jatuh cinta lagi denganku, itu semua salahku atau salahmu?

picture taken from : thisblog

Diposkan pada Curhat Tentang Film

[Dorama] : Kimi Ni Todoke, Saat Sadako Jatuh Cinta

Koniciwaaaa

Rasanya lama banget nih gak update ini blog *siapin sabit buat cabut rumput :P. Yah, selama 2 minggu ini memang lagi puncak akhir blok 2. Itu artinya saya lagi dikejar-kejar detlen buat menyelesaikan praktek ketrampilan dasar dalam keperawatan. Macam nginjeksi, nginfus, balut luka dll. asyik sih, tapi sedikit ribet 😀 sudah, balik to main topic.

Semalam saya nonton film Jepang berjudul Kimi Ni Todoke. Entah kenapa kemarin malam saya kangen sekali dengan dorama Jepang. Jadi deh saya putuskan untuk meninggalkan tugas-tugas saya sejenak dan mulai menonton film

Kimi Ni Todoke menceritakan kisah cinta jaman SMA. Film ini diadaptasi dari manga Jepang berjudul yang sama. Mengisahkan seorang cewek yang dianggap aneh oleh teman-temannya bernama Sawako Kuronuma (diperankan Mikako Tabe). Sawako adalah pribadi yang pendiam, cenderung introvert dan tidak memilki teman. Sejak dia kecil kawan-kawan sepermainannya selalu memanggilnya Sadako karena rambutnya yang panjang dan wajahnya yang dingin.

Kehidupan Sadako sepertinya nggak enak ya? Dimasa-masa remaja yang seharusnya memiliki banyak teman kok malah nggak punya teman? Apalagi di sekolahnya beredar gossip jika Sadako memiliki kutukan. Siapa saja yang berani menatap wajah Sadako akan terkena kutukan. Banyak siswa-siswi SMA dimana Sadako sekolah mempercayainya. Namun, ada seorang siswa cowok yang memiliki perhatian lebih kepada Sadako, namanya Shota  Kazehaya (diperankan Haruma Miura). Shota yang popular dan disukai banyak cewek keren di sekolah ternyata jatuh cinta dengan Sadako yang biasa-biasa saja *khas manga Jepang, cowok popular jatuh cinta sama cewek freak, iya kan? Lanjutkan membaca “[Dorama] : Kimi Ni Todoke, Saat Sadako Jatuh Cinta”