Posted in Curhat Tentang Film

Resensi Film : Memoirs of A Geisha

Konbanwa!

Hoahem ternyata udah melewati tengah malem hehe.. nggak tahu kenapa pengin nulis sesuatu *insomnia detected*

Yaaah gara-gara ngurusin dua proposal kegiatan jadi gini deh tuing tuing nggak jelas. Well, karena rada pusing mikirin proposal yang nggak kelar-kelar akhirnya saya pilih koping terbaik saya untuk mengurangi semua beban di kepala. Yupp…bongkar koleksi film di lepi and taraaa akhirnya nemu film yang belum saya tonton, Memoirs of A Geisha.

Sebelumnya saya sudah pernah (sedikit) membaca novelnya, dengan judul yang sama. Kira-kira waktu saya masih unyu-unyu, kelas 2 SMP *wow, unyu cekaliii. Karena dulu masih polos (?) rada nggak mudeng tuh baca novelnya dan rada takut juga sih, gara-garaaa…ya gitu deh…haha (mulai error)

Okai saya hanya akan sedikit mengulas isi filmnya. Ya emang bener sih udah telat pake ekstra banget. Soalnya ini film muncul saat saya masih SMP juga. Hitung aja, dulu aku SMP umurnya 14 tahun dan sekarang udah hampir kepala 2.ckckck…telat banget deuuu

Memoirs of Geisha merupakan film Jepang yang mengisahkan tentang kehidupan Sayuri, great geisha yang pernah ada di jamannya. Sebelum menjadi Geisha, Sayuri yang bernama asli Chiyo ini tinggal bersama kedua orang tuanya dan seorang kakaknya di pesisir laut. Karena nggak punya uang, ayah chiyo menjual chiyo dan kakaknya, Satsu ke seorang makelar Geisha dan dibawa ke district Okiya di Kyoto. Di Okiya mereka terpisah. Chiyo bekerj menjadi maiko (pelayan geisha) yaitu melayani Hatsumomo, geisha yang cantik dan terkenal di seantero Okiya. Liitle Chiyo, begitu Hatsumomo memanggilnya, mengalami masa kecil yang kurang bahagia. Ia kerap disiksa oleh hatsumomo yang dari awal memang tidak menyukainya. Di Okiya Chiyo tinggal serumah dengan Mother, Hatsumomo, Nenek, dan Pumpkin. Chiyo dan Pumpkin bersahabat karena mereka seusia. Sampai akhirnya mereka beranjak dewasa, Mother memilih pumpkin untuk diadopsi agar bisa menjadi the real geisha. Awalnya chiyo merasa putus asa dengan hidupnya sampai akhirnya ia bertemu dengan Chairman (nggak tau nama aslinya) di jembatan di atas sungai Shirikawa. Chairman menghibur Chiyo yang tengah murung dan membelikannya es serut rasa buah plum (kayaknya enak deh :D). semenjak itu Chiyo bertekad untuk menjadi seorang Geisha yang terhormat. Ia bahkan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan memberikan seluruh hatinya untuk chairman yang baik hati.

Sampai akhirnya Chiyo dilatih oleh pentolan geisha di Okiya, bernama Mameha. Chiyo diajari bagaimana menari, menyanyi, bermain alat music, merawat diri, tata cara jamuan teh sampai cara memikat lelaki *ceilaaahhh

Berkat latihan yang keras akhirnya Chiyo berhasil menjadi the great geisha seantero Okiya. Hal itu membuat Hatsumomo marah dan selalu mencari cara untuk menghancurkan Chiyo.

Endingnya sungguh so sweet karena….ya karena akhirnya Sayuri atau Chiyo ini bisa bertemu dengan Chairman, lelaki pujaannya. Ternyata eh ternyata, baik Sayuri maupun Chairman sudah saling memendam rasa cinta sejak pertama bertemu (beneran nangis waktu scene ini *payaaaaah >,<)

Little Chiyo

ini dia Sayuri waktu masih jadi Maiko (diperankan oleh Zhang Ziyi)

Kata saya :

Memoirs of Geisha saya kasih nilai 9 of 10 deh. Suka banget sama jalan ceritanya, editan filmnya. Mulai dari setting tempat yang Jepang banget (setting pra PD II). Apalagi di film ini saya sedikit tahu tentang budaya Jepang, tentang kimono, dan tentu saja tentang Geisha.

Kalau sebelum nonton film ini saya bingung, apa itu Geisha? Setelah nonton filmnya akhirnya terjawab juga.

Menurut saya Geisha itu mirip maaf PSK di negeri kita. bedanya para Geisha ini lebih terhormat dari para PSK ini. mereka harus memiliki ketrampilan khusus, kecantikan, kepribdian yang baik untuk menjadi seorang Geisha. Dan geisha tidak bisa tidur alias ngamar dengan sembarang orang karena sudah ada tata caranya sendiri. dan yang paling menyedihkan, geisha tidak boleh jatuh cinta! *oh my god, kasian bener ya hidupnya, saya mah ogah. Jatuh cinta itu anugerah, jadi patut untuk disyukuri dan dinikmati🙂

Yang tertarik nonton, silahkan googling film gratisannya (kalau ada) atau gak, baca  bukunya dengan judul yang sama Memoirs of Geisha.

not recommended untuk anak dibawah umur alias under 17 tahun🙂

Penulis:

Sedang mencari kamu

3 thoughts on “Resensi Film : Memoirs of A Geisha

  1. This is the most unfairly maligned film of the year. Some critics took it upon themselves to be the defenders of Japanese culture (without fully researching their arguments) and, in the process, betrayed their own racism. “The film is inauthentic because the actresses do not wear matronly bouffants,” one said. Riiiiiight. Matronly bouffants are a Western stereotype! But in any case, some of them do and some don’t! THAT’S authenticity. I guess critics wouldn’t know that writing reviews without seeing the film or walking out long before it’s over (some, such as Jeff Wells, do).

    Anyway, it’s a fantastic film and more than deserving of multiple Academy award nominations – which it may not get thanks to the fact that so many people decided they wanted to use the film as the sacrificial lamb for a half-baked debate about international politics, rather consider that pan-Asian casting for major roles is NOTHING new (it’s true of House of Flying Daggers, The Joy Luck Club and even Crouching Tiger) and that this film’s production might represent international cooperation at its best.

    Look out for Gong Li and Youki Kudoh in RICHLY developed supporting roles. The supporting males, while obviously not as well developed since they spend less time in the geisha quarters, still give incredible performances. Ken Watanabe was excellent, but I particularly enjoyed the performance of the actor playing Nobu. Oprah is right about the sets and costumes; they (amongst other things) make you want to savor every moment of the film. Some people have argued that the brilliant colors make it seem like some sort of Orientalist fantasy. Truth is that this would only be the case if we saw a departure from a more sedate West to a flamboyant East; instead, the film opens in a rather sedate part of Japan and then takes us to the more colorful geisha district (which introduces this fascinating paradox of great suffering in a milieu of tremendous beauty). We know from Chicago that it’s simply Rob Marshall’s aesthetic to make everything the height of beauty, even if it’s a slum. God forbid ENTERTAINMENT CIRCLES should be presented as visually spectacular! The film is by turns funny, moving and, yes, thrilling. Gasps in the audience for the film’s third act gave way to sniffles. Ziyi Zhang really managed any language difficulties well; her face has this ripple effect when she’s emoting. It’s stunning to behold. If I were voting for the Oscars, I’d definitely give her a nomination at the very least. And homegirl can dance, too! Her performance and the film itself are not boring at all; audience members laughed when she was trying to be funny and sighed when she was suffering. IMO, too much happens in the film for it to get boring; there’s a strong balance between the rivalries, the details about geisha entertainment and the romance. In the final scene, it all comes full circle. I won’t tell you how. See for yourself.

    My #1 film of the year. Brokeback Mountain, Chronicles of Narnia, Howl’s Moving Castle, King Kong and Grizzly Man aren’t far behind.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s