Posted in Cerita Pendek

[FF] Sawunggalih

Suara lenguh kereta sudah terdengar. Aku segera beranjak dari bangku panjang di depan loket karcis. Dua orang remaja tanggung yang menjajakan Koran terus mengikutiku, mencoba menawarkan Koran pagi mereka.

Suara dari pengeras suara mulai terdengar. Kereta Sawunggalih jurusan stasiun Senen sudah tiba. Berulang kali kulirik pintu masuk stasiun. Tak ada tanda-tanda keberadaannya. Bahkan siluet tubuhnya yang kekar pun tak bisa kulihat.

Mungkin memang harus berakhir. Tiga bulan bersama dan akhirnya selesai. Tamat. Pupus sudah harapanku membayangkan dia berdiri disampingku di hari pernikahanku. Pupus sudah mimpi-mimpi ibu untuk memiliki menantu seorang arsitek.

Sebelum memasuki sawunggalih, kupastikan lagi pintu masuk stasiun. Aku hampir berteriak kegirangan saat kulihat pemuda berkacamata berlari melewati pintu masuk. Tapi sayang, itu bukan dia. Pemuda itu ternyata sama-sama penumpang. Mungkin dia mahasiswa sepertiku. Perlahan dia masuk dan duduk di sampingku. Ternyata hari ini aku beruntung ditemani seorang pemuda ganteng selama hampir sepuluh jam perjalanan. Dia menyapaku, menanyakan siapa namaku dan kalimat basa-basi lainnya. Aku menjawab seperlunya dan kembali menatap peron-peron yang semakin ramai. Kutatap lamat-lamat wajah-wajah orang di seberang jendelaku. Mungkin saja wajahnya ada diantara puluhan orang yang semakin menyemut di depan loket penjualan karcis.

Ah, sudahlah dia mungkin tak akan datang. Itu berarti musim cinta kita harus berakhir. Sakit. Ya, hatiku sakit sekali.

Ping!

BBku menyala. Ada pesan masuk.

“Lihatlah keluar jendela,”

Aku menoleh. Dia! Iya ada dia di depan mataku. Dia tersenyum. Lenguh panjang Sawunggalih kembali terdengar. Tidak! Sungguh aku ingin menemuinya. Oh Tuhan, bisakah hentikan kereta ini barang 2 menit saja? Aku benar-benar ingin memeluknya.

Kulihat dia berlari menjauh dari jendelaku. Kemana? Pergi lagi?

KUTUNGGU KAU, SAMPAI SAWUNGGALIH MEMBAWAMU KEMBALI LAGI, KE KOTA INI. KOTA KITA

Aku menangis. Dia menulis kata-kata indah itu diatas kertas manila putih. Menulisnya dengan spidol hitam dan ditulisnya besar-besar.

Sekarang aku tahu, dia mencintaiku.

Untukmu yang selalu seperti matahari di setiap pagiku

Sungguh, senyummu adalah hal terindah yang pernah kulihat diatas Sawunggalih

Tak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku

Penulis:

Sedang mencari kamu

3 thoughts on “[FF] Sawunggalih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s