Posted in Cerita Sehari-hari

Ibuk

“Para ibu selalu mempunyai tempat untuk menampung duka, lalu mengecupnya dan bangkit,” Helvy Tiana Rosa

Ibu, itu kata pertama yang saya ucapkan saat berlatih bicara. Ibu juga lah yang senantiasa saya rindukan kehadirannya. Ah, jadi teringat kebiasaan waktu kecil saat ibu pergi ke luar kota adalah mencium baju ibu. Yap, supaya saya nggak nangis, pasti selalu dikasih wangi baju ibu. Dan anehnya saya pasti langsung diam :’)

Jika teringat pengorbanan ibu, ingin rasanya saya berlari dan memeluknya. Ibu saya merupakan sosok wanita yang tangguh. Sampai usia saya yang ke 18 saya belum pernah melihat ibu menangis. Pertama kali saya meihatnya menangis saat kakak laki-laki saya ditempatkan kerja di KPPN Takengon, Aceh Tengah. Mungkin karena kakakku adalah anak lelaki satu-satunya dan ibu begitu menyayangi kakakku sehingga beliau tak tega untuk melepasnya pergi jauh dari rumah. Waktu kecil kehidupan saya tidak seenak sekarang. Bapak dan ibu hanya berprofesi sebagai guru SD. Berapa sih gaji guru SD jaman dulu? Untuk membeli baju baru saja susah. Namun, mereka berdua sangat mengedepankan pendidikan kami. Saya dan kakak-kakak saya tak pernah kehabisan sumber bacaan. Mulai dari majalah, buku cerita, komik semuanya ada. Itu semua tak lain dari usaha bapak yang sangat mendukung kegiatan belajar kami. Dari kecil saya memang kurang begitu suka membeli mainan seperti boneka, peralatan masak-masakan dll. saya lebih memilih untuk dibelikan majalah. Inget banget majalah pertama yang saya baca adalah BOBO. Saya juga mengoleksi INA, Tablo dan majalah kuncung (jadul banget :P).mungkin karena itulah sampai sekarang saya sangat menyukai aktivitas ini🙂

Beranjak remaja kehidupan kami berangsur membaik. Saya menjalani masa-masa SMP dengan suka cita. Menjadi pengurus OSIS, pengurus harian kelas, les bahasa inggris dan pramuka menjadi kegiatan saya selama duduk di sekolah menengah pertama. Saat kelas 3 SMP, setiap pagi ibu selalu membawakan bekal makan siang. Aduh, jika ingat ini saya jadi pengin nangis😥. Apalagi saat SMA saya harus ngekos karena sekolah di luar kota. Awal-awal ngekos saya selalu kangen ibu, sampai nangis juga hehe.

Begitu banyak pengorbanan yang ibu lakukan untuk saya. Diantara anak-anak ibu yang lain saya memang anak yang paling bandel dan suka bikin repot. Lihat saja, kakak saya yang pertama, anaknya rajin, ibadahnya keren, dan pinter banget. Dia kuliah di UGM untuk kemudian keluar karena diterima di STAN Jakarta sampai akhirnya ditempatkan di Aceh Tengah. Terus, kakak kembar saya, dia adalah sosok wanita tulen. Penyabar, rajin ibadah, ceria dan pinter masak. Dia juga bersedia mewarisi profesi bapak dan ibu untuk menjadi seorang guru. Bagaimana dengan saya?🙂 ah, benar-benar saya merasa minder jika dibandingkan dengan mereka berdua. Namun ibu menyayangi kami semua dengan adil.

Saat kelas 2 SMA saya harus menjalani operasi FAM. Waktu itu saya begitu takut dan rasanya sebentar lagi hidup saya akan berakhir. Sebelum menjalani operasi saya harus diopname terlebih dahulu. Dua hari dua malam ibu terus berada di samping saya. Setelah menjalani operasi, saat saya tengah berada dalam keadaan setengah sadar dan menangis karena menahan sakit, sayup-sayup kudengar suara ibu , “ya Alloh, kenapa bukan saya saja yang menanggung sakit ini semua?” deeg, jantung saya langsung merasakan suatu kasih sayang yang sangat luar biasa dari sosok ibuku. Ibu, sejujurnya aku pun tak rela jika ibu yang harus menanggung rasa sakitku.

Dunia perkuliahan pun tiba. Siapa yang sibuk mempersiapkan semua kebutuhanku saat pertama kali datang ke Semarang? Ibu. Ibu rela menahan pusing untuk mengantar saya mencari rumah kos. Ibu rela berpanas-panas berkeliling mencari tempat kos terbaik buat saya. Setiap minggu ibu pasti telepon untuk menanyakan kabar saya.

Akhir-akhir ini ibu jarang telepon. Ibu bilang jika ibu menelpon tak pernah saya angkat. Memang benar, akhir-akhir ini saya sedang sibuk dengan kegiatan organisasi, bahkan di hari sabtu dan minggu pun masih ada acara di kampus. Kadang saya merasa bersalah pada ibu, namun saya juga memiliki amanah di organisasi yang saya ikuti. Ibu selalu berpesan agar saya tetap ingat amanah utama beliau yaitu kuliah dengan baik. amanah dari ibu itu seperti stimulant yang paling ampuh saat saya kufur semangat. Seperti mala mini, saat tugas begitu menggunung, saya akan mengingat terus amanah dari ibu. Lihat, ibu saja kuat dengan berbagai macam cobaan hidup, kenapa saya juga harus lelah saat rentetan tugas datang menjemput?

Mulai saat ini saya harus semangat kuliah. Saya tak ingin membuatnya kecewa, yang saya inginkan adalah : BISA MEMBUAT IBU BANGGA.

Terima kasih ibu atas segala cinta yang engkau curahkan. Semangat dan kesabaranmu itulah yang kelak akan aku coba terapkan dalam kehidupanku. Senyummu adalah satu-satunya alasanku untuk tetap semangat😀

 “Pada setiap nafasnya, bunda selalu memberi matahari baru dalam jiwaku,” Abdurrahman Faiz

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s