Diposkan pada Rumah Kata :)

#13HariNgeblogFF : Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

“Wah lucunyaaaa,” Dita asyik mengamati album fotoku.

“Jadi, kamu punya saudara kembar?” tanyanya antusias.

Aku mengangguk dan kembali asyik dengan permainan football manager di laptopku.

“Kok kamu nggak pernah cerita sih?”

“Sepertinya itu bukan hal yang bisa aku banggain deh,”

Kulihat Dita sejenak. Kekasihku itu masih saja asyik mengamati fotoku. Air mukanya bersinar cerah.

“Siapa namanya?”

“Dani,”

Dita terbahak. “Kok nggak nyambung sih? Dika-Dani. Tapi sekilas memang mirip sih,”

“Boleh ya aku ketemu Dani?”

Aku terdiam. Pertanyaan Dita tak langsung aku jawab. Sepertinya butuh pertimbangan ekstra untuk mempertemukan Dita dengan Dani.

***

“Dika, weekend ini pulang ke Jakarta ya?” suara mama diseberang telepon.

“Ma, Dika kan udah  bilang, Dika males bolak-balik Semarang-Jakarta. Lagian minggu kemarin kan Dika udah balik,”

“Weekend ini saja Dik, Dani pulang dari London,”

Dani pulang? Kenapa mendadak begini? Bukannya seharusnya dia pulang sebulan lagi?

“Dika?”

“Iya ma, Dika pulang,”

***

Sore ini rumah terlihat lengang. Kulihat dua orang pegawai mama tengah membersihkan halaman depan.

“Assalamualaikum…mbak Tanti, tolong bukain pintu,”

Tergopoh-gopoh, gadis delapan belas tahun itu berlari ke arahku.

“Mas Dani kok cepet banget nyampenya? Kata ibu baru nyampe nanti malam,”

“Saya Dika mbak,”

Kulihat ekspresi malu di wajahnya.

“Oh maaf mas, saya kira mas Dani…habis mirip sih,”

“Lagian mbak, mana mungkin sih Dani pulang naik ojek?” mbak Tanti tersenyum dan segera membantu membawa barang-barangku.

Pukul sepuluh malam. Suara deru mobil yang sangat kukenal memasuki halaman depan rumah. Mama segera merapikan jilbabnya.

“Dika…ayo turun! Lihat, siapa yang datang,”

Kutinggalkan chattinganku dengan Dita. Yah, seharusnya malam minggu ini aku dan Dita sedang asyik nonton teater universitasku pentas di Simpang Lima.

“Hei Dika! Wah…kurusan kamu!” seseorang yang hampir satu tahun menetap di kota favoritku, London menghampiri dan memeluku. Ia kemudian mengacak rambutku dan yah, kulihat perubahan yang sangat signifikan terutama pada fisiknya. Dia semakin cakep! Oke, ku akui mulai detik itu aku iri pada kakak kembarku, Dani.

Suasana sarapan mendadak berubah ceria sejak kedatangan Dani. Papa, mama, Cherry adikku yang masih SMP, semuanya asyik melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar London dan keindahannya. Kulihat Dani semakin rupawan. Gaya bicaranya, tatapan matanya, dan intinya Dani memiliki semuanya diatasku.

“Kapan balik ke Semarang Dik?” tanya Dani, membuyarkan lamunanku.

“Oh, rencanyanya besok pagi,”

“Cepet banget sih, nggak kangen kamu sama aku?”

“Kan kita udah ketemu, kamu bakal liburan lama kan di Jakarta?”

Dani mengangguk.

“Kak Dika sudah kangen sama Mbak Dita,” celetuk Cherry. Ingin aku jitak kepala adikku itu. Bisa-bisanya ngomongin Dita di depan Dani.

“Pacarmu?” tanya Dani penuh selidik.

“Bukan, Cuma teman,” jawabku sebal. Dan entah kenapa sejak itu Dani terus merengek minta ikut ke Semarang dan ingin ketemu Dita.

***

Hatiku was-was sejak dua hari yang lalu. Ya, sejak aku memutuskan membawa Dani ke Semarang. Sudah dua hari ia numpang di kamar kosku. Ia selalu saja berceloteh betapa murahnya kamar kosku dengan segudang fasilitasnya daripada flatnya di London yang sempit namun harganya sangat mahal. Ah, Dani kamu pasti lupa ya selama ini tinggal dimana?

Malam nanti, selepas maghrib aku akan memperkenalkan Dani dengan Dita. Dua orang terpenting dalam hidupku akhirnya akan ketemu. Dani terus membujukku untuk bertemu Dita, dan Dita terus menrengek untuk ketemu Dani. Klop! Padahal hatiku berontak, aku takut sekali Dita berubah menyukai Dani.

Dan satu jam lagi mereka akan bertemu.

***

“Gimana?” tanyaku sembari menyerahkan helm untuk Dita.

“Dani orang yang baik, sama kayak kamu,”

“sudah itu saja?”

“Iya, kenapa yang? Kok tanyannya gitu banget? Cemburu ya?”

Aku terkekeh. Iya, aku cemburu. Kulihat mobil Dani keluar dari pelataran parkir mall terbesar di Kota Semarang. Aku memang sengaja meminjamkan mobilku untuk Dani, lebih baik aku pulang dengan motor Dita. Lebih eksklusif, tidak ada gangguan dari Dani.

“Tenang sayang, aku menepati janji kok, aku nggak bakalan jatuh cinta sama Dani,” jawab Dita.

“Janji ya?”

“Suer!” Dita menunjukkan jari kelingkingnya, tanda dia berjanji.

Aku tersenyum dan segera menyalakan motor matik Dita.

“Sayang, sekarang aku tahu apa perbedaan kalian berdua,” bisik Dita ditelingaku. Laju motor aku kurangi sedikit.

“Apa?” tanyaku polos.

“Dani lebih ganteng, tapi dia nggak punya senyum kayak kamu, senyum yang selalu bisa membuatku jatuh cinta,”

Dita mengencangkan pelukannya. Darahku berdesir merasakan tubuh Dita bersandar di punggungku.

“Sayang boleh aku minta sesuatu,” tanyanya.

“Tentu saja, apa sih yang nggak boleh buat kamu?”

“Jatuh cinta dengan Dani,”

Aku tertawa membenarkan pernyataan Dita. “Aku mau kacang rebus, satu,”

Aku segera menepikan sepeda motorku. Kulihat disepanjang jalan Pahlawan, semua penjual kacang rebus seperti tersenyum kepadaku.

 

🙂

Iklan
Diposkan pada Rumah Kata :)

#13HariNegblogFF : Sambungan Hati Jarak Jauh

“Halo, sayang? Aku lihat di berita, Jakarta banjir besar, kosanmu ikut jadi kolam renang dadakan nggak?” suara Rayya di ujung telepon terdengar cemas.

“Tenang saja sayang, rumah kosku memang kebanjiran, tapi kamarku ada di atas jadi it’s okay. Semua barang-barangku selamat,”

Kudengar Rayya mengucap syukur. Lantas, seperti biasa ia menasehatiku ini itu. Makan jangan sampai telat, jangan lupa sholat, jangan main game terus, banyak minum air putih dan masih banyak lagi rentetan nasihatnya. Kadang aku heran, Rayya sepertinya lebih cocok jadi ibu daripada pacarku.

“Sayang, Kori baik-baik aja kan? Udah ngobrol belum sama dia?”

“Emm..iya, Kori sehat wa afiat kok, tadi pagi malah aku keluarin ke balkon,”

“Baguslah, jaga Kori baik-baik ya.disini Kora juga sehat dan bahagia, daaah sayang!”

Klik. Aku mematikan BBku. Kulihat Kori, kura-kura peliharaanku sedang berjalan-jalan diatas meja belajarku. Sengaja aku keluarkan dia dari akuarium. Sebenarnya Kori adalah kura-kura peliharaan Rayya. Pacarku itu punya sepasang kura-kura kembar, namanya Kora dan Kori. Rayya menitipkan Kori kepadaku, katanya sih biar Kori bisa tahu apakah aku setia atau tidak selama di rantau. Ah, geli banget kalau inget ini. Kori, kamu tahu nggak kalau akhir-akhir ini ada yang salah dengan hatiku?

***

“Dam, terima kasih sudah mengantarku,”

“sama-sama Lisa, kebetulan kosan kita searah,”

Lisa melambaikan tangan kepadaku lantas menghilang dibalik pintu kosnya. Aku menatapnya lamat-lamat. Aneh, sepertinya ada rasa yang sama saat pertama kali aku melihat Rayya.

***

“Sayang, sibuk nggak?” Rayya telepon lagi.

“Sedikit. Kenapa yang?”

Kudengar Rayya menangis dibalik teleponnya. “Kora hilang, padahal tadi pagi sebelum aku berangkat kuliah dia masih di dalam akuarium…,”

“Sudah coba kamu cari di sudut-sudut kamar? Mungkin dia nyempil,”

“Sudah tapi enggak ada..mama sama papa juga enggak lihat, aduh, gimana dong yang?” Suara Rayya terdengar panik.

“Uda, santai aja, kalau aku pulang nanti, janji deh bakalan nemenin kamu beli Kora yang baru,”

“Iiih..terus Kori gimana? Dia bakalan kesepian dong!”

Loh, bukannya selama ini Kori selalu sendiri ya? Ada-ada saja pacarku ini.

“Tenang saja Kori sehat kok,”

“Yaudah jaga Kori baik-baik ya yang…”

“siap!”

“Dadah sayang,”

“Iya…”

Syukurlah pembicaraan sia-sia ini berakhir juga. Kenapa pula di usia hampir dua puluh tahun ini masih saja sibuk mengurus hal remeh temeh macam Kora dan Kori?

“Siapa yang telepon?” Lisa menyerahkan secangkir kopi panas yang baru ia buat di dapur kos ku. Aku menjawab asal jika yang telepon tadi adalah adik bungsuku yang suka rewel.

“Dam, terima kasih ya, akhir-akhir ini kamu banyak membantuku,”

Aku menatap gadis keturunan Solo ini. Matanya sungguh cantik dan senyumnya manis sekali. Kugenggam tangannya. Kukecup keningnya lembut dan kurengkuh dia dalam dekapanku.

“Dam…kemana Kura-kuramu?” bisiknya di telingaku.

Aku melihat ke dalam akuarium. Kosong. Tidak ada lagi Kori yang selalu mengamatiku. Aku aman.

semarang, 17 Januari 2013.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

It’s Time To Let Go : Moving Day :D

moving-out (1)

Assalamualaikum…

Wah kayaknya cukup lama ya nggak curhat di lapak ini. akhir-akhir ini tulisanku  memang kebanyakan fiksinya daripada ‘real’nya :p

Oh iya pertama saya mau mengucapkan HAPPY HOLIDAY DESTINI 😀 Alhamdulillah yahhh akhirnya liburan semester datang juga. Berarti ini waktunya saya untuk go travel! 😀 enggak peduli lagi ada duit apa nggak yang penting jalan-jalan hehehe

Hari jumat besok insyaallah saya mau mudik ke rumah, Purwokerto tercinta. Sudah ditunggu nih sama keluarga tercinta. Daaan sebeum mudik saya mau pindahan kos dulu teman-teman. Kenapa sih saya pindah kos? Wah, kalau diceritain disini panjang lebar pasti nggak akan surprise :p

Alhamdulillah kosan baru sudah nemu, tinggal nanti sore saya move dari kosan lama ini. huhuhu sedih juga siiih mengingat banyak banget kenangan yang terukir di kosan ini. Goodbye my room 🙂 dan tahu enggak, yang pindahan bukan Cuma saya tapi semua penghuni kosan ini. Yey, pindahannya bareng-bareng 😀

Semoga hari ini cerah, pindahannya lancar dan besok saya bisa pulang ke Purwokerto 🙂

Diposkan pada Rumah Kata :)

#13HariNgeblogFF : Cuti Sakit Hati

“Re, aku tahu semuanya,” Kanaya menyusulku yang tengah menikmati indahnya hamparan kebun teh di belakang villanya. Bogor dingin sekali pagi ini. Kurapatkan cardigan marah maroonku.

“Ya, tentang kamu dan Yosea,”

Aku terkesiap. Ada sedikit rasa bersalah di hatiku. Sekarang aku tak berani menatap mata jernih nan indah milik sahabatku itu.

“Maafkan aku Aya, bukan maksudku untuk memanfaatkan situasi seperti ini,”

Kanaya menarik nafas panjang.  Tatapan matanya nanar memandang hamparan pucuk teh yang menghijau. “Kau tahu Re, aku masih mencintainya,”

***

Jakarta, pukul 10:00 p.m

“Kenapa sih 2 hari ini kamu banyak diam?”

Aku menatap lamat-lamat laki-laki yang hampir dua bulan ini memenuhi hatiku. Yosea melingkarkan lengannya di pinggangku. Malam ini hujan turun dengan derasnya dan kami terjebak di pelataran kantor.

“Jawab aku Re,”

Aku menggeleng. “Aku baik-baik saja Yosea sayang,”

“Tapi matamu bilang tidak,”

“Kamu sok tahu,”

Yosea terbahak. Lalu ia mengecup keningku, lama.

***

“Re, kamu yakin dengan pria itu,” tanya Frey kepadaku. Aku berfikir sejenak. Sambil mengamati buih cappuccino di cangkirku, pikiranku melayang kepada dua orang yang selama ini aku anggap sebagai sahabat. Kanaya dan Yosea, dua sejoli sejak kami berada di tahun pertama kuliah. Dua orang ini adalah pasangan paling serasi yang pernah kulihat, dan aku menyukai mereka. Kanaya yang cantik dan Yosea yang baik. Semuanya berjalan lancar sampai hari itu tiba. Hari saat Kanaya tahu jika selama ini Yosea sama sekali tidak mencintainya. Kanaya akhirnya tahu jika Yosea mencintai gadis lain. Dan gadis itu adalah aku, Renata si mata sipit. Sedih? Tentu saja tidak. Ya, itu karena aku telah lama menyukai Yosea. Bahkan sebelum kanaya mengenalnya. Ah, Yosea kenapa dari dulu kita tak mau jujur dengan hati kita masing-masing?

“Re, aku Cuma mau ngasih kamu ini,” Frey memberiku dua lembar foto.

“Jangan nangis ya, tapi itu memang pernah terjadi. Tepatnya saat liburan tahun lalu,”

Aku menatap kedua foto itu bergantian.

“Re, coba kamu pikirkan lagi keputusanmu. Getting marry is not about one, two, or three days. It takes your whole life,”

Aku merasakan dingin kembali menjalar ke hatiku.

***

“Sayang, hari ini jadi kan survey undangan untuk pernikahan kita?” suara Yosea diujung telepon.

“Aku malah lupa,” jawabku singkat.

“Kamu baik-baik saja kan?”

“Perfectly fine,”

“Kita jadi nikah kan?”

Senyap. Aku menarik nafas panjang. “Maaf Yosea, kali ini hatiku punya request nih, cukup tahun ini saja dia pengin cuti, iya, cuti dari sakit hati yang selama ini terus dia rasakan,”

Klik. Kututup ponselku. Selamat tinggal Yosea, sepertinya aku akan benar-benar pergi dari hidupmu. Aku akan cuti dari kantorku, cuti seumur hidup agar aku tidak bertemu denganmu lagi, dengan sosok Yosea yang aku cinta.

Diposkan pada Info Lomba

[Info Lomba] : Menulis FF DL 13 Januari

copas dari page sebelah. Entah kenapa saya lagi kangen ikut lomba nulis kayak gini lagi. siapa tahu menag heheh 😀

DL  13 Januari 2013

 

Assalamualaikum Wr, Wb…

 

Hai, Boliners, langsung aja, ya.

Kali ini aku mau bikin lomba sekaligus dalam 2 tema, ya. Yang pertama bertema “Secret Admirer” atau pengagum rahasia, kedua bertema “Misteri Angka 13”.

 

Tentang “Secret Admirer”

Naskah masih menggunakan tokoh utama remaja berusia 17-20 tahun. Menjadikan tema bukan sekedar pelengkap kisah, tapi kekuatan utama dalam cerita. Posisikan tokoh telah dalam keadaan mengagumi seseorang, adapun perkenalan atau perjumpaan mereka, dll-nya bisa dijelaskan sebagai pelengkapnya. Cerita bisa dibuat kocak, unik, romantis, sedih, haru, dlsb.

 

Tentang “Misteri Angka 13”

Naskah masih menggunakan tokoh utama remaja berusia 17-20 tahun. Cerita naskah terserah penulis, yang pasti harus menjadikan angka 13 sebagai tema utama untuk dibahas. Misal tentang kejadian ganjil di SMA 13, di rumah nomor 13, di jam 13, atau 13 13 lainnya. Cerita bisa dibuat kocak, unik, romantis, sedih, haru, dlsb.

 

Gimana cara join-nya? Let’s check this out (harap baca infonya dengan jelas, ya. Jangan setengah-setengah! ^-^)

 

SYARAT & KETENTUAN

 

Lomba bersifat gratis dan terbuka untuk semua kalangan tanpa batasan usia, yang ingin berpartisipasi

Untuk memudahkan komunikasi, peserta wajib berteman dengan FB Penerbit Harfeey(http://www.facebook.com/pharfeey) & LIKE FP Boneka Lilin (http://www.facebook.com/BonekaLilin) untuk tau info-info seputar lomba

Peserta wajib menyebar luaskan info event ini agar semakin banyak teman-teman yangjoin dengan cara meng-copy-paste-nya di catatan facebook masing-masing. Tag 25 orang teman FB yang menggiati dunia literasi, termasuk FB Penerbit Harfeey (Tag dari peserta akan muncul di pemberitahuan FB Penerbit Harfeey dan secara otomatis terdaftar sebagai pemenuhan syarat peserta, tapi tidak masuk ke profil karena setting-an FB kami)

Naskah fiksi remaja bertema “Secret Admirer” dan/atau “Misteri Angka 13”.Naskah berbentuk flash fiction (cerita pendek) yang terdiri dari narasi dan dialog

1 peserta hanya boleh mengirimkan 1 naskah untuk masing-masing tema. Boleh mengikuti kedua event (Secret Admirer & Misteri Angka 13), namun di masing-masing event-nya hanya mengirimkan 1 naskah terbaik dan dikirim dengan subjek email yang berbeda (sesuai dengan tema event)

Naskah merupakan karya asli penulis, belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, dan tidak sedang diikutkan dalam event lain

Tulis naskah dalam format microsoft words, font times new roman 12 pt, 1,5 spasi, size kertas A4, margin normal, justify, dengan panjang naskah 500-700 kata termasuk judul (dilarang kurang dari 500 kata, atau lebih dari 700 kata) (Cara untuk mengetahui jumlah kata yang telah ditulis : Block naskah ceritamu, lihat di sudut kiri bawah layar komputer yang ada tulisan “Words”). Simpan dengan nama file : Judul naskah – Nama Penulis. Contoh : Tak Tersentuh – Boneka Lilin

Di bawah naskah (bukan dalam file terpisah) sertakan biodata narasimu sebanyak maksimal 60 kata yang wajib berisi info nama akun FB dan alamat email

Kirim naskah yang berisi cerita sepanjang 500-700 kata dan biodata narasi maksimal 60 kata melalui lampiran/attachment (bukan di badan email) HANYA ke email :bolin_cihuy@y7mail.com (ada angka 7-nya), dengan subjek :

 

-Untuk Event “Secret Admirer” : SA_Judul Naskah_Nama Penulis (nama kamu, ya) Contoh : SA_Tak Tersentuh_Boneka Lilin

-Untuk Event “Misteri Angka 13” : MA13 _Judul Naskah_Nama Penulis (nama kamu, ya) Contoh: MA13_Surat ke-13_Boneka Lilin

 

Update peserta bisa dilihat di catatan FB Penerbit Harfeey

Deadline tanggal 13 Januari 2012. Tidak ada perpanjangan waktu

Pengumuman peserta yang lolos di masing-masing tema dan 3 jawara utama, insyaAllah 1 minggu setelah DL

 

 

REWARD

 

Seluruh naskah dari masing-masing event yang tulisannya dinilai memenuhi semua syarat dan ketentuan serta menarik dan kreatif versi panitia akan dibukukan secara indie di Penerbit Harfeey (bisa dalam 1 atau 2 jilid judul buku, tergantung dari banyaknya naskah yang terpilih) dengan 2 judul yang berbeda tentunya, sesuai tema event

Seluruh penulis kontributor akan mendapatkan e-sertifikat yang dikirim melalui alamat email masing-masing

Seluruh penulis kontributor terpilih mendapatkan voucher penerbitan buku lengkap senilai Rp50.000,- dari Penerbit Harfeey (Voucher tidak dapat diungkan dan/atau diakumulasikan. Satu voucher hanya berlaku untuk satu judul buku)

Seluruh penulis kontributor terpilih mendapatkan royalti berupa potongan harga senilai 15% setiap pembelian bukunya jika sudah terbit (Bukan hanya sekali, tapi seterusnya).Semakin banyak buku yang kamu jual, sebanyak itu juga royalti yang akan kamu dapatkan (Fair, ya. Kita sama-sama menulis cerita dan mempromosikan bukunya dengan keuntungan yang juga setimpal, sesuai kerja keras)

JUARA UTAMA untuk masing-masing event

 

-JUARA 1 : 1 buku bukti terbit yang dikirim gratis ke alamat penulis di seluruh Indonesia, e-sertifikat, & voucher penerbitan buku lengkap senilai Rp200.000,- dari Penerbit Harfeey

-JUARA 2 : 1 buku bukti terbit yang dikirim gratis ke alamat penulis di seluruh Indonesia, e-sertifikat, & voucher penerbitan buku lengkap senilai Rp150.000,- dari Penerbit Harfeey

-JUARA 3 : 1 buku bukti terbit yang dikirim gratis ke alamat penulis di seluruh Indonesia, e-sertifikat, & voucher penerbitan buku lengkap senilai Rp100.000,- dari Penerbit Harfeey

 

*Info tarif penerbitan untuk penggunaan voucher bisa dilihat di sini :https://www.facebook.com/notes/penerbit-harfeey/cara-menerbitkan-buku-di-penerbit-harfeey-tarif-rp350000-/131736106967008

 

Karena infonya sudah jelas, semoga nggak ada lagi pertanyaan yang jawabannya terdapat dalam info ini, ya! 🙂 (Ex : Apa aku boleh ikut? DL-nya kapan? Update pesertanya di mana? Kirim ke mana? Hadiahnya apa? Dlsb). Seandainya pun ada hal yang kurang dipahami dan ingin ditanyakan, harap ajukan pertanyaan hanya di kolom komentar note info event FB penyelenggara (Penerbit Harfeey & Boneka Lilin), bukan lewat inbox, wall, apalagi sms.

 

Sekian, semoga teman-teman berkenan untuk join. Thank you. 🙂

 

Wassalamu’alaikum Wr, Wb…

 

Diposkan pada Cerita Pendek

Teru-Teru Bozu

images (3)

Onee-chan selalu melakukan ini,” Ken menggantung boneka berkepala botak di jendela kamar Dania.

“Bonekanya nyeremin,” Dania berdiri di belakang punggung Ken.

“Kamu takut?”

“Sedikit, mungkin kalau aku tahu siapa nama boneka ini, takutku akan sedikit hilang,”

Ken tertawa. Ia meloncat dari ranjang Dania dan menatap mata gadis cilik di depannya.

“Namanya Teru-Teru Bozu, dan aku yakin besok akan cerah,”

Mulai saat itu aku mulai mencintai hujan. Bagiku hujan itu sendu. Seperti wajahmu, sendu yang menyejukkan.

***

Ohayou Dani-chan!”

Tanpa menoleh ke arah pintu, aku sudah tahu pasti itu Ken. Sapaan selamat pagi seperti ini hanya Ken yang punya.

Ohayou Kenichi-chan, hei kenapa dengan rambutmu?”  kutinggalkan sejenak scrap book yang tengah aku susun dan mulai beralih memperhatikan penampilan cowok yang hampir sepuluh tahun menemaniku ini.

Honto? Keren kan? Aku pasti terlihat kakkoi,” Ken sibuk bercermin dengan gaya sok ganteng.

“Kenapa kamu memotongnya? Aku lebih suka rambut panjangmu,” aku menangkap ada sesuatu yang berubah dari sikap sahabatku hari ini. seperti akan ada hal besar yang akan terjadi. Apalagi Ken berani memotong rambut panjang kebanggaannya.

“Dania, kamu harus percaya ini! sobatmu yang kakkoi ini akhirnya jatuh cinta! Yeah Dania, I’m in love!” Ken mengacak rambutku. Aku mendengus sebal dengan kebiasaan Ken yang satu ini. Rambutku jadi berantakan.

“Selamat deh, berarti sahabatku yang satu ini normal,” aku mencoba tersenyum. Lagi-lagi Ken mengacak rambutku. Ia tertawa. Matanya yang sipit semakin tak terlihat, hanya menyisakan dua garis memanjang di wajahnya yang putih. Menggemaskan.

“Karena aku sedang bahagia, aku ingin nraktir kamu di Bubble Café, kupesenin makanan yang paling mahal deh!”

Aku menggeleng. Entahlah, tiba-tiba aku merasa hariku berubah muram.

“Kenapa Dani-chan? Kamu sakit?” Ken menempelkan telapak tangannya ke keningku.

“Nggak panas kok, kamu sehat,”

“Nggak Ken, maaf kali ini aku sibuk. Lihatlah, masih banyak tugas yang harus aku kerjakan,” kutunjukan dua buah novel sastra Indonesia karya Ahmad Tohari.

“Keduanya butuh diresensi,”

Ken terdiam. Kurasa ia kecewa kepadaku. Memang tak biasanya aku seperti ini. menolak makanan gratis di Bubble café bukanlah hal yang mudah. Makanan dan minuman disana semuanya enak. Aku menyesali keputusan bodohku ini.

Li go, akan kutemani kamu disini. Aku bisa memesan pizza atau cheese burger,” Ken malah berbaring disampingku. Sebenarnya aku malas untuk bertemu Kenichi hari ini. ya, sebelum dia datang menemuiku dan bilang jika ia jatuh cinta, aku sudah lebih dulu mengetahuinya. Kenichi menyukai Lika, teman klub bahasa Jepangnya. Lika sendiri anak sastra Inggris. Setiap hari bahkan aku sering berpapasan dengannya karena kami satu fakultas. Dan kuakui dia gadis yang sangat cantik.

“Dani-chan, hari ini kamu ada kuliah?”

Aku menggeleng. Ken melirik tumpukan buku yang harus aku resensi. Ia melihat kearahku dan menghela nafas. Kecewa.

“Kenapa? Kau ingin mengajakku pergi?” tanyaku.

“Sebenarnya iya, aku ingin mencari kado untuk gadis paling cantik yang pernah aku lihat. Seminggu lagi dia ulang tahun, tapi sudahlah. Lebih baik ditunda saja, aku lihat kamu sangat sibuk,” Ken kembali merebahkan kepalanya di kasur lantaiku. Matanya menerawang menatap langit-langit.

“Oke, terserah kamu,” jawabku setengah menggumam.

“Dani-chan..,” Ken memanggilku. Kali ini tatapan matanya tepat memandang wajahku. Aku jadi sedikit grogi menatap Ken sedekat ini.

“Iya…”

“Boleh aku tanya sesuatu?”

“Tentu saja Ken,”

“Kenapa kamu nggak tanya siapa gadis yang aku suka?”

Kutatap wajah Ken. Aku terdiam. Kami saling berpandangan hampir 10 detik. Yap, aku terperangkap dalam sepuluh detik yang menyebalkan. Sepuluh detik terlama yang pernah ada di hidupku.

***

Kenichi Sakurai, lahir di Perfecture Aomori sembilan belas tahun yang lalu. Aku mengenalnya saat ayah membawaku ke rumahnya yang hanya terletak dua blok dari rumahku. Ayah Ken adalah seorang ekspatriat dari negeri matahari terbit dan ibunya orang Indonesia asli. Ia lahir dan besar di Jepang. Saat usianya menginjak 9 tahun, ayahnya memutuskan untuk pindah ke Indonesia karena tuntutan pekerjaan. Aku tumbuh dan besar bersama Kenichi karena usia kami hanya terpaut 3 bulan. Awalnya Kenichi suka memanggilku Onee-chan karena usiaku lebih tua 3 bulan darinya. Menyebalkan, memang aku setua itu? Ken-chan (kadang aku memanggilnya begitu) suka sekali dengan hujan. Katanya hujan itu menarik, penuh dengan misteri. Tiap tetesnya seperti mengandung pesan-pesan tertentu. Ken-chan selalu menganggap jika tiap tetes air hujan membawa pesan dari Tuhan. Entahlah, itu menurut Kenichi.

“Dani-chan! Lihat! Aku bawa apa?”

“Setumpuk manga Jepang,” jawabku tanpa menoleh kepadanya. Siapa suruh dia mengangguku saat aku tengah asyik meresapi alur yang dibuat Ahmad Tohari di novelnya yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.

“Dani-chan..seharusnya dulu kamu nggak masuk sastra Indonesia, lihatlah wajahmu mirip sekali dengan novel yang sedang kamu pegang,” Ken terkekeh. Aku ikut tertawa mendengar leluconnya.

“Udah bisa senyum kan? Dani-chan, Kawaii ne! lihatlah kamu manis sekali jika tersenyum,”

“Ngga usah merayuku!” kutimpuk bahunya dengan novelku.

“Dani-chan, kamu pasti tak percaya ini,” Ken tersenyum kepadaku. Bola matanya bergerak jenaka.

“Cepat katakan atau kamu kutimpuk lagi dengan dua buah novelku, semuanya tebal!”

Ken tertawa. “Two Ticket for Tropical Land, I will have a date!” kulihat mata Ken berbinar senang. Seketika itu senyumku runtuh.

Hey, ada apa dengan diriku? Kenapa aku selalu menunjukan antiklimaks dengan apa yang Ken lakukan? Kenapa aku nggak mendukungnya? Kenapa hati ini rasanya sakit setiap kali Ken ngomongin Lika? Pertanyaannya, jatuh cintakah ini? jatuh cintakah aku dengan Ken?

“Tenang saja Dani-chan, kamu masih tetap sahabat terbaiku, aku membeli 3 ticket. Satu ticket ekstra untukmu, kamu boleh ikut. Kita bertiga akan bersenang-senang bersama,” Ken mengacak rambutku.

“Tersenyumlah!”

Kupaksakan kedua bibirku untuk tersenyum. Yah setidaknya ini lebih baik. Aku tak mau Ken tahu tentang perasaanku yang sebenarnya. Aku takut persahabatan yang sudah lama terjalin ini akan hancur gara-gara satu hal kecil bernama cinta.

“Tidak Ken, aku tidak akan menganggumu. Aku sudah ada janji dengan Ryan, bersenang-senanglah bersama Lika!”

Ken tersenyum menatapku, “ Arigatoo Dani-chan! Kamu memang sahabat terbaikku,”

well, Kenichi Sakurai sebenarnya aku ingin kamu menganggapku lebih dari itu

***

Jika kamu memasangnya terbalik, maka akan terjadi hal sebaliknya. Hujan akan turun dengan deras, itulah kerja si Teru-Teru Bozu, mengerti Dani-chan?”

“Apa yang kamu lakukan Dania?” Tanya Ryan keheranan melihatku membuat boneka gundul dari kain perca berwarna putih.

“Diamlah, aku sedang memikirkan misi besar,”

Ryan menatapku sebal. Mungkin ia sakit hati karena terus aku cuekin. Ia kembali sibuk dengan majalah otomotifnya. Mahasiswa teknik mesin ini memang sedang dekat denganku. hampir 3 bulan kita jalan bersama. Meskipun tanpa status yang jelas, aku menikmatinya.  aku menempatkan Ryan bukan sebagai teman dekatku seperti Ryan menempatkanku dihatinya. Aku hanya menganggap Ryan sebagai teman, tak ada yang lebih.

“Dani-chan aku tak sabar menunggu hari esok tiba. Besok pasti akan menjadi hari yang paling indah buatku!”  suara Ken ditelepon terdengar begitu bersemangat.

“Aku sudah membelikannya boneka beruang yang sangat besar. Lika-chan suka sekali dengan beruang,”

“Tapi ramalan cuaca mengatakan kalau besok akan berawan,” tambahnya.

“Kamu takut hujan?”

“Iya,”

“Kenapa nggak kamu pasang Teru-Teru Bozu?”

Kudengar Ken tertawa. “itu bukan ide bagus Dani-chan, kita sudah dewasa. Itu hanya permainan anak kecil. Okey Dani-chan aku akan menyiapkan kejutan, bye-bye!”

Aku memandang lima boneka berkepala botak diatas meja belajarku. Sepertinya ini akan sia-sia.

***

15.00 pm waktu Jakarta

“Kenapa ya kita harus jadi sahabat?” Ken mengaduk secangkir coffe late-nya.  Udara di luar dingin sekali. Hujan masih turun sejak tiga jam yang lalu.

“Entahlah,” jawabku. Mataku menerawang menembus tiap tetes hujan yang bergulir di jendela tepat di depan kursiku.

“Aku benci jatuh cinta,” Ken menggumam.

Aku tahu bagaimana perasaan Ken saat ini. seharusnya kencan ini lancar jika hujan tak turun. Semuanya normal sebelum tiga jam yang lalu. Wajah bahagia Ken saat ia memamerkan penampilan super kece-nya. Wajah bahagia Ken saat ayahnya mengizinkan ia membawa mobil sendiri. sampai saat itu tiba, saat Ken tak sengaja melihat Lika pergi bersama seorang cowok blasteran eropa dan membatalkan janjinya dengan alasan ‘hujan’. Menyedihkan. Padahal kelima boneka botak itu sudah teronggok mengenaskan di tempat sampahku.

“Dani-chan sepertinya ada yang salah dengan kita,” Ken kembali bertatapan dengan late-nya. Aku pura-pura sibuk dengan BB-ku.

“Ada hal yang ingin kutanyakan kepadamu,”

Aku mendongak mendengar keseriusan nada bicara Ken.

“Apakah persahabatan antara laki-laki dan perempuan selamanya hanya akan menjadi sahabat? Bisakah kita lebih dari itu?”

Aku hampir tersedak kopiku sendiri saat kudengar Ken mengatakan semua itu dengan santainya. Sebenarnya aku bisa dengan mudah menjawab ‘ya’ maka semuanya selesai. Happy ending. Namun lihatlah Ken, ada satu hal yang sama dari kita. Kita sama-sama kesepian. Bedanya, kamu mencari dan aku menunggu.

Pwt, 2 Agustus 2012. 12.03 a.m dpl2011

 

Foot note :

Onee-chan : Kakak perempuan

Kakkoi : ganteng

Kawaii : lucu, imut

Chan : panggilan untuk orang kedua

Ohayou : selamat pagi

Li go : baiklah

Arigatoo : terima kasih

Kelimat terakhir diambil dari novel Dee Lestari, Madre.

 

 

 

 

Diposkan pada Curhat Tentang Film

Habibie dan Ainun, Kisah Cinta Klasik yang Cantik

habibie ainun

Alhamdulillah, hutang saya dengan diri saya terbayar sudah setelah nonton film Habibie dan Ainun. Semenjak film ini rilis dua puluh desember 2012, saya sudah merancang waktu untuk menontonnya. Sampai akhirnya tadi malam, dua jam sebelum postingan ini dibuat saya sudah melunasinya 😀

Awalnya saya penasaran dengan gembar gembor film ini di sosmed. Apalagi di twitter, sepertinya kalau saya online ada aja yang posting tentang film ini. ya sudah, karena ada yang ngajak akhirnya saya nonton film ini deh. Selain itu saya juga ingin melampiaskan kekecewaan gara-gara nggak bisa nonton 5 cm (di Citra 21 udah nggak ada -__-).

Saya dan dua teman saya, Resti dan Fitri booking kursi di pemutaran pukul 20.30 WIB. Sebenarnya kami ingin nonton yang jam 19.30 WIB tapi berhubung tiketnya sold out kami akhirnya nonton agak malaman dikit, yah daripada balik lagi ke kosan, mengulang kisah lama lagi nggak jadi nonton gara-gara tiket habis.

Film ini dibuka dengan cerita saat Pak Habibie duduk di bangku SMP. Saat itu guru mereka menyuruh Pak Habibie bertemu bu Ainun untuk mendengarkan penjelasan bu Ainun mengapa awan berwana biru. Dari saat itulah mereka ‘dijodoh-jodohkan’ oleh teman-temannya. Sampai suatu hari, saat pulang sekolah Pak Habibie menemui bu Ainun yang sedang asyik ngobrol dengan teman-temannya dan menyebut bu Ainun hitam, jelek, gendut, seperti gula jawa. Mereka berpisah selama kurang lebih 8 tahun. Pak Habibie melanjutkan studinya di Jerman dan bu Ainun tetap belajar di Indonesia. Benar mungkin yang dikatakan orang-orang, jika jodoh tak akan kemana. Bu Ainun dan Pak Habibie akhirnya bertemu kembali setelah berpisah cukup lama. Bu Ainun yang beprofesi sebagai seorang dokter merupakan kembang desa, banyak laki-laki yang ingin mempersuntingnya, namun bu Ainun memilih Pak Habibie untuk mendampingi hidupnya.

Film ini juga mengisahkan perjuangan Habibie Ainun untuk hidup di negeri orang, jauh dari keluarga dengan penghasilan yang seadanya. Sampai akhirnya Pak Habibie mendapat gelar professor dan teorinya mengenai kinematika benda ringan diterima oleh ilmuan-ilmuan Jerman, kehidupan beliau semakin membaik. Demi janjinya untuk membangun ibu pertiwi, Pak Habibie kembali ke Indonesia dan membangun perindustrian pesawat terbang ,hingga Indonesia mampu membuat pesawat terbang yang pertama yaitu N250. Selama pengabdiannya untuk Indonesia, Bu Ainun senantiasa mendampingi pak Habibie. Sosok bu Ainun membuat saya begitu mengaguminya. Benar sekali jika ada pepatah “Behind the great man, stand every great woman,” 🙂

At least, saya puas dengan film garapan sutradara Faozan Rizal ini. mulai dari script yang matang, setting tempat yang pas, dan music yang mantap. Dari departemen acting, saya juga memberikan apresiasi yang besar karena bisa mendapatkan actor yang benar-benar bisa menggambarkan karakter pak habibie. Kali ini saya acungi dua jempol untuk actor ganteng Reza Rahardian dan si cantik BCL. Chemistri antara keduanya juga bagus. Acting BCL sebagai bu Ainun diluar ekspetasi saya. Bagaimana BCL mengekspresikan kekhawatiran, cemas dll saya rasa pas dengan sifat ibu Ainun. Yang membuat saya ingin berkomentar sedikit ‘nyelekit’ adalah adanya produk placement yang seenak jidat. Masa, ada Gerry Chocolatos di era 97-an? Ada bedak wardah dan sirup markisa -__- ewww..lain kali promosinya jangan terlalu intens lah…inget banget, saat adegan anak Pak Habibie memberi satu kotak Gerry Chocolatos ke Pak Habibie dan bu Ainun. Terlepas dari kekurangan itu, saya rasa film ini pas banget ditonton bersama keluarga atau ‘ehem’ sama kekasih tersayang. Dijamin deh untuk yang cewek-cewek pasti pada langsung mupeng buat cepetan married, terutama cewek-cewek usia 20-an 😛

FYI, entah kenapa nonton film ini saya nggak nangis ya? Barangkali gara-gara saya kepikiran dengan motor saya yang saya parkir di parkiran dengan batas maksimal pukul 21.30 WIB. Alhamdulillah pukul 22.30 WIB masih buka juga 😀 *thanks to Pak Satpam. Daaaan kami pulang dengan hati bahagia. Simpang lima sudah mulai sepi namun bakul kacang rebus masih setia menemani beberapa muda-mudi yang masih asyik hang-out di Jl. Pahlawan.  Kalau sudah seperti ini, Semarang seakan milik bertiga 😀

Diposkan pada Rumah Kata :)

Tentang Cinta

going_home_by_tamarar-d5hk5c2

Orang bilang jatuh cinta itu berjuta rasanya.

“Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu menari di perutmu,”

“Manis. Semanis gula-gula yang dijual di pasar malam,”

“Seperti cokelat. Selalu ada rindu untuk melihatnya lagi,”

Ah, tapi menurutku jatuh cinta itu seperti sedang menunggu bus jemputan. Ya, karena selalu ada alasan hatiku untuk kembali pulang dan mengucapkan “I love you” ke hatimu.

 

 

pic captured from this site