Posted in Curhat Tentang Film

Habibie dan Ainun, Kisah Cinta Klasik yang Cantik

habibie ainun

Alhamdulillah, hutang saya dengan diri saya terbayar sudah setelah nonton film Habibie dan Ainun. Semenjak film ini rilis dua puluh desember 2012, saya sudah merancang waktu untuk menontonnya. Sampai akhirnya tadi malam, dua jam sebelum postingan ini dibuat saya sudah melunasinya😀

Awalnya saya penasaran dengan gembar gembor film ini di sosmed. Apalagi di twitter, sepertinya kalau saya online ada aja yang posting tentang film ini. ya sudah, karena ada yang ngajak akhirnya saya nonton film ini deh. Selain itu saya juga ingin melampiaskan kekecewaan gara-gara nggak bisa nonton 5 cm (di Citra 21 udah nggak ada -__-).

Saya dan dua teman saya, Resti dan Fitri booking kursi di pemutaran pukul 20.30 WIB. Sebenarnya kami ingin nonton yang jam 19.30 WIB tapi berhubung tiketnya sold out kami akhirnya nonton agak malaman dikit, yah daripada balik lagi ke kosan, mengulang kisah lama lagi nggak jadi nonton gara-gara tiket habis.

Film ini dibuka dengan cerita saat Pak Habibie duduk di bangku SMP. Saat itu guru mereka menyuruh Pak Habibie bertemu bu Ainun untuk mendengarkan penjelasan bu Ainun mengapa awan berwana biru. Dari saat itulah mereka ‘dijodoh-jodohkan’ oleh teman-temannya. Sampai suatu hari, saat pulang sekolah Pak Habibie menemui bu Ainun yang sedang asyik ngobrol dengan teman-temannya dan menyebut bu Ainun hitam, jelek, gendut, seperti gula jawa. Mereka berpisah selama kurang lebih 8 tahun. Pak Habibie melanjutkan studinya di Jerman dan bu Ainun tetap belajar di Indonesia. Benar mungkin yang dikatakan orang-orang, jika jodoh tak akan kemana. Bu Ainun dan Pak Habibie akhirnya bertemu kembali setelah berpisah cukup lama. Bu Ainun yang beprofesi sebagai seorang dokter merupakan kembang desa, banyak laki-laki yang ingin mempersuntingnya, namun bu Ainun memilih Pak Habibie untuk mendampingi hidupnya.

Film ini juga mengisahkan perjuangan Habibie Ainun untuk hidup di negeri orang, jauh dari keluarga dengan penghasilan yang seadanya. Sampai akhirnya Pak Habibie mendapat gelar professor dan teorinya mengenai kinematika benda ringan diterima oleh ilmuan-ilmuan Jerman, kehidupan beliau semakin membaik. Demi janjinya untuk membangun ibu pertiwi, Pak Habibie kembali ke Indonesia dan membangun perindustrian pesawat terbang ,hingga Indonesia mampu membuat pesawat terbang yang pertama yaitu N250. Selama pengabdiannya untuk Indonesia, Bu Ainun senantiasa mendampingi pak Habibie. Sosok bu Ainun membuat saya begitu mengaguminya. Benar sekali jika ada pepatah “Behind the great man, stand every great woman,”🙂

At least, saya puas dengan film garapan sutradara Faozan Rizal ini. mulai dari script yang matang, setting tempat yang pas, dan music yang mantap. Dari departemen acting, saya juga memberikan apresiasi yang besar karena bisa mendapatkan actor yang benar-benar bisa menggambarkan karakter pak habibie. Kali ini saya acungi dua jempol untuk actor ganteng Reza Rahardian dan si cantik BCL. Chemistri antara keduanya juga bagus. Acting BCL sebagai bu Ainun diluar ekspetasi saya. Bagaimana BCL mengekspresikan kekhawatiran, cemas dll saya rasa pas dengan sifat ibu Ainun. Yang membuat saya ingin berkomentar sedikit ‘nyelekit’ adalah adanya produk placement yang seenak jidat. Masa, ada Gerry Chocolatos di era 97-an? Ada bedak wardah dan sirup markisa -__- ewww..lain kali promosinya jangan terlalu intens lah…inget banget, saat adegan anak Pak Habibie memberi satu kotak Gerry Chocolatos ke Pak Habibie dan bu Ainun. Terlepas dari kekurangan itu, saya rasa film ini pas banget ditonton bersama keluarga atau ‘ehem’ sama kekasih tersayang. Dijamin deh untuk yang cewek-cewek pasti pada langsung mupeng buat cepetan married, terutama cewek-cewek usia 20-an😛

FYI, entah kenapa nonton film ini saya nggak nangis ya? Barangkali gara-gara saya kepikiran dengan motor saya yang saya parkir di parkiran dengan batas maksimal pukul 21.30 WIB. Alhamdulillah pukul 22.30 WIB masih buka juga😀 *thanks to Pak Satpam. Daaaan kami pulang dengan hati bahagia. Simpang lima sudah mulai sepi namun bakul kacang rebus masih setia menemani beberapa muda-mudi yang masih asyik hang-out di Jl. Pahlawan.  Kalau sudah seperti ini, Semarang seakan milik bertiga😀

Penulis:

Sedang mencari kamu

2 thoughts on “Habibie dan Ainun, Kisah Cinta Klasik yang Cantik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s