Posted in Cerita Pendek

Teru-Teru Bozu

images (3)

Onee-chan selalu melakukan ini,” Ken menggantung boneka berkepala botak di jendela kamar Dania.

“Bonekanya nyeremin,” Dania berdiri di belakang punggung Ken.

“Kamu takut?”

“Sedikit, mungkin kalau aku tahu siapa nama boneka ini, takutku akan sedikit hilang,”

Ken tertawa. Ia meloncat dari ranjang Dania dan menatap mata gadis cilik di depannya.

“Namanya Teru-Teru Bozu, dan aku yakin besok akan cerah,”

Mulai saat itu aku mulai mencintai hujan. Bagiku hujan itu sendu. Seperti wajahmu, sendu yang menyejukkan.

***

Ohayou Dani-chan!”

Tanpa menoleh ke arah pintu, aku sudah tahu pasti itu Ken. Sapaan selamat pagi seperti ini hanya Ken yang punya.

Ohayou Kenichi-chan, hei kenapa dengan rambutmu?”  kutinggalkan sejenak scrap book yang tengah aku susun dan mulai beralih memperhatikan penampilan cowok yang hampir sepuluh tahun menemaniku ini.

Honto? Keren kan? Aku pasti terlihat kakkoi,” Ken sibuk bercermin dengan gaya sok ganteng.

“Kenapa kamu memotongnya? Aku lebih suka rambut panjangmu,” aku menangkap ada sesuatu yang berubah dari sikap sahabatku hari ini. seperti akan ada hal besar yang akan terjadi. Apalagi Ken berani memotong rambut panjang kebanggaannya.

“Dania, kamu harus percaya ini! sobatmu yang kakkoi ini akhirnya jatuh cinta! Yeah Dania, I’m in love!” Ken mengacak rambutku. Aku mendengus sebal dengan kebiasaan Ken yang satu ini. Rambutku jadi berantakan.

“Selamat deh, berarti sahabatku yang satu ini normal,” aku mencoba tersenyum. Lagi-lagi Ken mengacak rambutku. Ia tertawa. Matanya yang sipit semakin tak terlihat, hanya menyisakan dua garis memanjang di wajahnya yang putih. Menggemaskan.

“Karena aku sedang bahagia, aku ingin nraktir kamu di Bubble Café, kupesenin makanan yang paling mahal deh!”

Aku menggeleng. Entahlah, tiba-tiba aku merasa hariku berubah muram.

“Kenapa Dani-chan? Kamu sakit?” Ken menempelkan telapak tangannya ke keningku.

“Nggak panas kok, kamu sehat,”

“Nggak Ken, maaf kali ini aku sibuk. Lihatlah, masih banyak tugas yang harus aku kerjakan,” kutunjukan dua buah novel sastra Indonesia karya Ahmad Tohari.

“Keduanya butuh diresensi,”

Ken terdiam. Kurasa ia kecewa kepadaku. Memang tak biasanya aku seperti ini. menolak makanan gratis di Bubble café bukanlah hal yang mudah. Makanan dan minuman disana semuanya enak. Aku menyesali keputusan bodohku ini.

Li go, akan kutemani kamu disini. Aku bisa memesan pizza atau cheese burger,” Ken malah berbaring disampingku. Sebenarnya aku malas untuk bertemu Kenichi hari ini. ya, sebelum dia datang menemuiku dan bilang jika ia jatuh cinta, aku sudah lebih dulu mengetahuinya. Kenichi menyukai Lika, teman klub bahasa Jepangnya. Lika sendiri anak sastra Inggris. Setiap hari bahkan aku sering berpapasan dengannya karena kami satu fakultas. Dan kuakui dia gadis yang sangat cantik.

“Dani-chan, hari ini kamu ada kuliah?”

Aku menggeleng. Ken melirik tumpukan buku yang harus aku resensi. Ia melihat kearahku dan menghela nafas. Kecewa.

“Kenapa? Kau ingin mengajakku pergi?” tanyaku.

“Sebenarnya iya, aku ingin mencari kado untuk gadis paling cantik yang pernah aku lihat. Seminggu lagi dia ulang tahun, tapi sudahlah. Lebih baik ditunda saja, aku lihat kamu sangat sibuk,” Ken kembali merebahkan kepalanya di kasur lantaiku. Matanya menerawang menatap langit-langit.

“Oke, terserah kamu,” jawabku setengah menggumam.

“Dani-chan..,” Ken memanggilku. Kali ini tatapan matanya tepat memandang wajahku. Aku jadi sedikit grogi menatap Ken sedekat ini.

“Iya…”

“Boleh aku tanya sesuatu?”

“Tentu saja Ken,”

“Kenapa kamu nggak tanya siapa gadis yang aku suka?”

Kutatap wajah Ken. Aku terdiam. Kami saling berpandangan hampir 10 detik. Yap, aku terperangkap dalam sepuluh detik yang menyebalkan. Sepuluh detik terlama yang pernah ada di hidupku.

***

Kenichi Sakurai, lahir di Perfecture Aomori sembilan belas tahun yang lalu. Aku mengenalnya saat ayah membawaku ke rumahnya yang hanya terletak dua blok dari rumahku. Ayah Ken adalah seorang ekspatriat dari negeri matahari terbit dan ibunya orang Indonesia asli. Ia lahir dan besar di Jepang. Saat usianya menginjak 9 tahun, ayahnya memutuskan untuk pindah ke Indonesia karena tuntutan pekerjaan. Aku tumbuh dan besar bersama Kenichi karena usia kami hanya terpaut 3 bulan. Awalnya Kenichi suka memanggilku Onee-chan karena usiaku lebih tua 3 bulan darinya. Menyebalkan, memang aku setua itu? Ken-chan (kadang aku memanggilnya begitu) suka sekali dengan hujan. Katanya hujan itu menarik, penuh dengan misteri. Tiap tetesnya seperti mengandung pesan-pesan tertentu. Ken-chan selalu menganggap jika tiap tetes air hujan membawa pesan dari Tuhan. Entahlah, itu menurut Kenichi.

“Dani-chan! Lihat! Aku bawa apa?”

“Setumpuk manga Jepang,” jawabku tanpa menoleh kepadanya. Siapa suruh dia mengangguku saat aku tengah asyik meresapi alur yang dibuat Ahmad Tohari di novelnya yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.

“Dani-chan..seharusnya dulu kamu nggak masuk sastra Indonesia, lihatlah wajahmu mirip sekali dengan novel yang sedang kamu pegang,” Ken terkekeh. Aku ikut tertawa mendengar leluconnya.

“Udah bisa senyum kan? Dani-chan, Kawaii ne! lihatlah kamu manis sekali jika tersenyum,”

“Ngga usah merayuku!” kutimpuk bahunya dengan novelku.

“Dani-chan, kamu pasti tak percaya ini,” Ken tersenyum kepadaku. Bola matanya bergerak jenaka.

“Cepat katakan atau kamu kutimpuk lagi dengan dua buah novelku, semuanya tebal!”

Ken tertawa. “Two Ticket for Tropical Land, I will have a date!” kulihat mata Ken berbinar senang. Seketika itu senyumku runtuh.

Hey, ada apa dengan diriku? Kenapa aku selalu menunjukan antiklimaks dengan apa yang Ken lakukan? Kenapa aku nggak mendukungnya? Kenapa hati ini rasanya sakit setiap kali Ken ngomongin Lika? Pertanyaannya, jatuh cintakah ini? jatuh cintakah aku dengan Ken?

“Tenang saja Dani-chan, kamu masih tetap sahabat terbaiku, aku membeli 3 ticket. Satu ticket ekstra untukmu, kamu boleh ikut. Kita bertiga akan bersenang-senang bersama,” Ken mengacak rambutku.

“Tersenyumlah!”

Kupaksakan kedua bibirku untuk tersenyum. Yah setidaknya ini lebih baik. Aku tak mau Ken tahu tentang perasaanku yang sebenarnya. Aku takut persahabatan yang sudah lama terjalin ini akan hancur gara-gara satu hal kecil bernama cinta.

“Tidak Ken, aku tidak akan menganggumu. Aku sudah ada janji dengan Ryan, bersenang-senanglah bersama Lika!”

Ken tersenyum menatapku, “ Arigatoo Dani-chan! Kamu memang sahabat terbaikku,”

well, Kenichi Sakurai sebenarnya aku ingin kamu menganggapku lebih dari itu

***

Jika kamu memasangnya terbalik, maka akan terjadi hal sebaliknya. Hujan akan turun dengan deras, itulah kerja si Teru-Teru Bozu, mengerti Dani-chan?”

“Apa yang kamu lakukan Dania?” Tanya Ryan keheranan melihatku membuat boneka gundul dari kain perca berwarna putih.

“Diamlah, aku sedang memikirkan misi besar,”

Ryan menatapku sebal. Mungkin ia sakit hati karena terus aku cuekin. Ia kembali sibuk dengan majalah otomotifnya. Mahasiswa teknik mesin ini memang sedang dekat denganku. hampir 3 bulan kita jalan bersama. Meskipun tanpa status yang jelas, aku menikmatinya.  aku menempatkan Ryan bukan sebagai teman dekatku seperti Ryan menempatkanku dihatinya. Aku hanya menganggap Ryan sebagai teman, tak ada yang lebih.

“Dani-chan aku tak sabar menunggu hari esok tiba. Besok pasti akan menjadi hari yang paling indah buatku!”  suara Ken ditelepon terdengar begitu bersemangat.

“Aku sudah membelikannya boneka beruang yang sangat besar. Lika-chan suka sekali dengan beruang,”

“Tapi ramalan cuaca mengatakan kalau besok akan berawan,” tambahnya.

“Kamu takut hujan?”

“Iya,”

“Kenapa nggak kamu pasang Teru-Teru Bozu?”

Kudengar Ken tertawa. “itu bukan ide bagus Dani-chan, kita sudah dewasa. Itu hanya permainan anak kecil. Okey Dani-chan aku akan menyiapkan kejutan, bye-bye!”

Aku memandang lima boneka berkepala botak diatas meja belajarku. Sepertinya ini akan sia-sia.

***

15.00 pm waktu Jakarta

“Kenapa ya kita harus jadi sahabat?” Ken mengaduk secangkir coffe late-nya.  Udara di luar dingin sekali. Hujan masih turun sejak tiga jam yang lalu.

“Entahlah,” jawabku. Mataku menerawang menembus tiap tetes hujan yang bergulir di jendela tepat di depan kursiku.

“Aku benci jatuh cinta,” Ken menggumam.

Aku tahu bagaimana perasaan Ken saat ini. seharusnya kencan ini lancar jika hujan tak turun. Semuanya normal sebelum tiga jam yang lalu. Wajah bahagia Ken saat ia memamerkan penampilan super kece-nya. Wajah bahagia Ken saat ayahnya mengizinkan ia membawa mobil sendiri. sampai saat itu tiba, saat Ken tak sengaja melihat Lika pergi bersama seorang cowok blasteran eropa dan membatalkan janjinya dengan alasan ‘hujan’. Menyedihkan. Padahal kelima boneka botak itu sudah teronggok mengenaskan di tempat sampahku.

“Dani-chan sepertinya ada yang salah dengan kita,” Ken kembali bertatapan dengan late-nya. Aku pura-pura sibuk dengan BB-ku.

“Ada hal yang ingin kutanyakan kepadamu,”

Aku mendongak mendengar keseriusan nada bicara Ken.

“Apakah persahabatan antara laki-laki dan perempuan selamanya hanya akan menjadi sahabat? Bisakah kita lebih dari itu?”

Aku hampir tersedak kopiku sendiri saat kudengar Ken mengatakan semua itu dengan santainya. Sebenarnya aku bisa dengan mudah menjawab ‘ya’ maka semuanya selesai. Happy ending. Namun lihatlah Ken, ada satu hal yang sama dari kita. Kita sama-sama kesepian. Bedanya, kamu mencari dan aku menunggu.

Pwt, 2 Agustus 2012. 12.03 a.m dpl2011

 

Foot note :

Onee-chan : Kakak perempuan

Kakkoi : ganteng

Kawaii : lucu, imut

Chan : panggilan untuk orang kedua

Ohayou : selamat pagi

Li go : baiklah

Arigatoo : terima kasih

Kelimat terakhir diambil dari novel Dee Lestari, Madre.

 

 

 

 

Penulis:

Sedang mencari kamu

4 thoughts on “Teru-Teru Bozu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s