Posted in Rumah Kata :)

#13HariNgeblogFF : Cuti Sakit Hati

“Re, aku tahu semuanya,” Kanaya menyusulku yang tengah menikmati indahnya hamparan kebun teh di belakang villanya. Bogor dingin sekali pagi ini. Kurapatkan cardigan marah maroonku.

“Ya, tentang kamu dan Yosea,”

Aku terkesiap. Ada sedikit rasa bersalah di hatiku. Sekarang aku tak berani menatap mata jernih nan indah milik sahabatku itu.

“Maafkan aku Aya, bukan maksudku untuk memanfaatkan situasi seperti ini,”

Kanaya menarik nafas panjang.  Tatapan matanya nanar memandang hamparan pucuk teh yang menghijau. “Kau tahu Re, aku masih mencintainya,”

***

Jakarta, pukul 10:00 p.m

“Kenapa sih 2 hari ini kamu banyak diam?”

Aku menatap lamat-lamat laki-laki yang hampir dua bulan ini memenuhi hatiku. Yosea melingkarkan lengannya di pinggangku. Malam ini hujan turun dengan derasnya dan kami terjebak di pelataran kantor.

“Jawab aku Re,”

Aku menggeleng. “Aku baik-baik saja Yosea sayang,”

“Tapi matamu bilang tidak,”

“Kamu sok tahu,”

Yosea terbahak. Lalu ia mengecup keningku, lama.

***

“Re, kamu yakin dengan pria itu,” tanya Frey kepadaku. Aku berfikir sejenak. Sambil mengamati buih cappuccino di cangkirku, pikiranku melayang kepada dua orang yang selama ini aku anggap sebagai sahabat. Kanaya dan Yosea, dua sejoli sejak kami berada di tahun pertama kuliah. Dua orang ini adalah pasangan paling serasi yang pernah kulihat, dan aku menyukai mereka. Kanaya yang cantik dan Yosea yang baik. Semuanya berjalan lancar sampai hari itu tiba. Hari saat Kanaya tahu jika selama ini Yosea sama sekali tidak mencintainya. Kanaya akhirnya tahu jika Yosea mencintai gadis lain. Dan gadis itu adalah aku, Renata si mata sipit. Sedih? Tentu saja tidak. Ya, itu karena aku telah lama menyukai Yosea. Bahkan sebelum kanaya mengenalnya. Ah, Yosea kenapa dari dulu kita tak mau jujur dengan hati kita masing-masing?

“Re, aku Cuma mau ngasih kamu ini,” Frey memberiku dua lembar foto.

“Jangan nangis ya, tapi itu memang pernah terjadi. Tepatnya saat liburan tahun lalu,”

Aku menatap kedua foto itu bergantian.

“Re, coba kamu pikirkan lagi keputusanmu. Getting marry is not about one, two, or three days. It takes your whole life,”

Aku merasakan dingin kembali menjalar ke hatiku.

***

“Sayang, hari ini jadi kan survey undangan untuk pernikahan kita?” suara Yosea diujung telepon.

“Aku malah lupa,” jawabku singkat.

“Kamu baik-baik saja kan?”

“Perfectly fine,”

“Kita jadi nikah kan?”

Senyap. Aku menarik nafas panjang. “Maaf Yosea, kali ini hatiku punya request nih, cukup tahun ini saja dia pengin cuti, iya, cuti dari sakit hati yang selama ini terus dia rasakan,”

Klik. Kututup ponselku. Selamat tinggal Yosea, sepertinya aku akan benar-benar pergi dari hidupmu. Aku akan cuti dari kantorku, cuti seumur hidup agar aku tidak bertemu denganmu lagi, dengan sosok Yosea yang aku cinta.

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s