Posted in Rumah Kata :)

#13HariNgeblogFF : Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

“Wah lucunyaaaa,” Dita asyik mengamati album fotoku.

“Jadi, kamu punya saudara kembar?” tanyanya antusias.

Aku mengangguk dan kembali asyik dengan permainan football manager di laptopku.

“Kok kamu nggak pernah cerita sih?”

“Sepertinya itu bukan hal yang bisa aku banggain deh,”

Kulihat Dita sejenak. Kekasihku itu masih saja asyik mengamati fotoku. Air mukanya bersinar cerah.

“Siapa namanya?”

“Dani,”

Dita terbahak. “Kok nggak nyambung sih? Dika-Dani. Tapi sekilas memang mirip sih,”

“Boleh ya aku ketemu Dani?”

Aku terdiam. Pertanyaan Dita tak langsung aku jawab. Sepertinya butuh pertimbangan ekstra untuk mempertemukan Dita dengan Dani.

***

“Dika, weekend ini pulang ke Jakarta ya?” suara mama diseberang telepon.

“Ma, Dika kan udah  bilang, Dika males bolak-balik Semarang-Jakarta. Lagian minggu kemarin kan Dika udah balik,”

“Weekend ini saja Dik, Dani pulang dari London,”

Dani pulang? Kenapa mendadak begini? Bukannya seharusnya dia pulang sebulan lagi?

“Dika?”

“Iya ma, Dika pulang,”

***

Sore ini rumah terlihat lengang. Kulihat dua orang pegawai mama tengah membersihkan halaman depan.

“Assalamualaikum…mbak Tanti, tolong bukain pintu,”

Tergopoh-gopoh, gadis delapan belas tahun itu berlari ke arahku.

“Mas Dani kok cepet banget nyampenya? Kata ibu baru nyampe nanti malam,”

“Saya Dika mbak,”

Kulihat ekspresi malu di wajahnya.

“Oh maaf mas, saya kira mas Dani…habis mirip sih,”

“Lagian mbak, mana mungkin sih Dani pulang naik ojek?” mbak Tanti tersenyum dan segera membantu membawa barang-barangku.

Pukul sepuluh malam. Suara deru mobil yang sangat kukenal memasuki halaman depan rumah. Mama segera merapikan jilbabnya.

“Dika…ayo turun! Lihat, siapa yang datang,”

Kutinggalkan chattinganku dengan Dita. Yah, seharusnya malam minggu ini aku dan Dita sedang asyik nonton teater universitasku pentas di Simpang Lima.

“Hei Dika! Wah…kurusan kamu!” seseorang yang hampir satu tahun menetap di kota favoritku, London menghampiri dan memeluku. Ia kemudian mengacak rambutku dan yah, kulihat perubahan yang sangat signifikan terutama pada fisiknya. Dia semakin cakep! Oke, ku akui mulai detik itu aku iri pada kakak kembarku, Dani.

Suasana sarapan mendadak berubah ceria sejak kedatangan Dani. Papa, mama, Cherry adikku yang masih SMP, semuanya asyik melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar London dan keindahannya. Kulihat Dani semakin rupawan. Gaya bicaranya, tatapan matanya, dan intinya Dani memiliki semuanya diatasku.

“Kapan balik ke Semarang Dik?” tanya Dani, membuyarkan lamunanku.

“Oh, rencanyanya besok pagi,”

“Cepet banget sih, nggak kangen kamu sama aku?”

“Kan kita udah ketemu, kamu bakal liburan lama kan di Jakarta?”

Dani mengangguk.

“Kak Dika sudah kangen sama Mbak Dita,” celetuk Cherry. Ingin aku jitak kepala adikku itu. Bisa-bisanya ngomongin Dita di depan Dani.

“Pacarmu?” tanya Dani penuh selidik.

“Bukan, Cuma teman,” jawabku sebal. Dan entah kenapa sejak itu Dani terus merengek minta ikut ke Semarang dan ingin ketemu Dita.

***

Hatiku was-was sejak dua hari yang lalu. Ya, sejak aku memutuskan membawa Dani ke Semarang. Sudah dua hari ia numpang di kamar kosku. Ia selalu saja berceloteh betapa murahnya kamar kosku dengan segudang fasilitasnya daripada flatnya di London yang sempit namun harganya sangat mahal. Ah, Dani kamu pasti lupa ya selama ini tinggal dimana?

Malam nanti, selepas maghrib aku akan memperkenalkan Dani dengan Dita. Dua orang terpenting dalam hidupku akhirnya akan ketemu. Dani terus membujukku untuk bertemu Dita, dan Dita terus menrengek untuk ketemu Dani. Klop! Padahal hatiku berontak, aku takut sekali Dita berubah menyukai Dani.

Dan satu jam lagi mereka akan bertemu.

***

“Gimana?” tanyaku sembari menyerahkan helm untuk Dita.

“Dani orang yang baik, sama kayak kamu,”

“sudah itu saja?”

“Iya, kenapa yang? Kok tanyannya gitu banget? Cemburu ya?”

Aku terkekeh. Iya, aku cemburu. Kulihat mobil Dani keluar dari pelataran parkir mall terbesar di Kota Semarang. Aku memang sengaja meminjamkan mobilku untuk Dani, lebih baik aku pulang dengan motor Dita. Lebih eksklusif, tidak ada gangguan dari Dani.

“Tenang sayang, aku menepati janji kok, aku nggak bakalan jatuh cinta sama Dani,” jawab Dita.

“Janji ya?”

“Suer!” Dita menunjukkan jari kelingkingnya, tanda dia berjanji.

Aku tersenyum dan segera menyalakan motor matik Dita.

“Sayang, sekarang aku tahu apa perbedaan kalian berdua,” bisik Dita ditelingaku. Laju motor aku kurangi sedikit.

“Apa?” tanyaku polos.

“Dani lebih ganteng, tapi dia nggak punya senyum kayak kamu, senyum yang selalu bisa membuatku jatuh cinta,”

Dita mengencangkan pelukannya. Darahku berdesir merasakan tubuh Dita bersandar di punggungku.

“Sayang boleh aku minta sesuatu,” tanyanya.

“Tentu saja, apa sih yang nggak boleh buat kamu?”

“Jatuh cinta dengan Dani,”

Aku tertawa membenarkan pernyataan Dita. “Aku mau kacang rebus, satu,”

Aku segera menepikan sepeda motorku. Kulihat disepanjang jalan Pahlawan, semua penjual kacang rebus seperti tersenyum kepadaku.

 

🙂

Penulis:

Sedang mencari kamu

6 thoughts on “#13HariNgeblogFF : Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s