Posted in Rumah Kata :)

[FF] : Dead-Line!

“Kamu ikut kan Mik?”

“emm..”

“Ayolah ! anak-anak semua ikut loh,”

“masih bingung,”

“Ah, kamu memang selalu plin plan, masih ingat sama satu tahun yang lalu?”

“mungkin”

“that’s not your mistakes, sudahlah malam ini dateng aja. Katanya mau ada penampilan artis ibukota,”

“ya udah deh,”

“ya udah apa?”

“malam ini kamu cerewet banget, udah ya, bye!”

Aku menutup telepon dari Dila. Kupandangi jam tangan hadiah ulang tahun dari ibuku. Hampir pukul tujuh malam. Sambil mengusir penat kuteguk cappuccino latte yang sengaja aku beli di kedai kopi sebelum pulang dari kantor tadi. Ah, jika mengingat tadi siang ingin rasanya aku menjadi invisible woman untuk sejenak. Tadi siang Dila begitu heboh gara-gara surat undangan yang baru saja dia terima. Surat undangan berwarna putih yang amat aku kenal.

“kamu kok nggak kaget sih Mik?” tanya Dila sambil berjalan ke mejaku. Suaranya yang melengking indah membuat semua penghuni lantai tiga kantor majalah wanita ini menatap kami.

“ah iya,jangan-jangan kamu sudah dapet undangan duluan ya?”

Aku mengangguk tanpa semangat.

“pokoknya nanti malam kamu harus datang!” Dila tersenyum centil kepadaku.

Dan kembali lagi ke malam ini. kupandangi lagi undangan berwarna putih bersih itu. Ya, itu undangan dari mantan kekasihku, Rama. Entah perasaan apa yang bersemayam di hatiku. Sepertinya aku masih belum merelakan Rama untuk orang lain. Perpisahan kami juga karena ikut campur dari orang tua Rama yang pejabat itu. Menyebalkan sekali jika mengingatnya. Rama disuruh putus denganku gara-gara jarak usia kami yang terlalu jauh. Gila kan? Ah, sudahlah orangtua konvensional memang susah diberi tahu. Padahal usiaku baru 27 tahun dan usia Rama 22 tahun. Menurutku perbedaan  lima tahun itu nggak terlalu jauh. Toh, dalam suatu hubungan yang paling penting adalah saling mengerti. Dan yang paling membuatku sakit hati adalah hubunganku dan Rama sudah terjalin hampir lima tahun. Ya, bulan depan usia pacaran kami pas lima tahun. See? Aku dan Rama saling jatuh cinta sejak kami remaja. Aku sudah berbaik hati tuh nerima Rama yang masih kelas 1 SMA untuk jadi pacarku. Yah padahal waktu itu aku kuliah semester 5. Aarggh! Sebel banget deh apalagi saat aku tahu Rama sudah punya pacar baru. Namanya Giselle. Artis remaja yang sedang naik daun. Anaknya cantik sih tapi ya ampun dia masih imut banget, 17 tahun bray! Masih SMA. Ah, mau-maunya sih Giselle pacaran sama om om (eh, berarti dulu Rama pacaran sama tante-tante dong ya!). pasangan ini lagi hot-hotnya muncul di infotaiment. Ya iya lah secara Rama yang anaknya orang terkaya di negeri ini pacaran sama artis remaja yang cantiknya pakai banget. Oh menyedihkan sekali sih diriku ini.

oke, sekarang Rama udah asyik dengan pacaran dengan pacar barunya. Nah nasibku gimana? Ternyata jadi cewek nggak segampang itu buat move on (atau nggak laku-laku?). sudah, sudah soal pacar baru harusnya dibahas nanti saja. masalahnya sekarang sudah hampir pukul delapan malam. Ah, lihat nih gaun putih gadingku sudah mulai berkerut karena aku terlalu lama duduk. Dan rambutku sudah mulai berantakan.

Handphoneku berbunyi lagi. sekarang dari Ari, sahabatku.

“Mikha, kamu dimana sih? semuanya sudah pada dateng loh, nih Rama nungguin kamu,”

“emmm..”

“ah dasar ratu plin plan! Cepetan gih kesini, makanannya enak-enak dan guess what? Banyak banget artis ibukota dateng, ini ladang berita buat kita,”

“hah?”

“kamu lagi dikejar deadline kan? Inget apa kata bos tadi siang,”

“Tapi…”

“sudah, nggak usah banyak omong cepetan datang kesini, aku sudah bawa kamera nih, tinggal nunggu kamu,”

Huaaaah ingin rasanya aku punya pesawat jet pribadi dan kabur dari tempat ini. ah seandainya….

Oke, sekarang bukan waktunya berkeluh kesah. Daripada besok aku kena semprot my perfect bos yang super ganteng mendingan malam ini aku hadapi nasibku. kembali aku memperbaiki penampilanku. Dress putih gadingku? oke. Rambutku? bravo. Make up? sip banget deh dan terakhir : My high heels! Oh thanks to penemu high heels, aku jadi nggak terlihat imut banget. Ups! Satu lagi, tanda pengenal cantik berwarna cokelat muda ini. Ya, aku harus membawanya. ini satu-satunya syarat agar aku bisa menemui Rama dan kekasihnya.

Mikha Anindita

Press

And welcome to Rama’s birthday!

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s