Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Belajar dari Kawan-Kawan LPM GK FH

perawat

Sabtu, 18 Mei 2013 kemarin, saya berkesempatan untuk mengikuti seminar kepemudaan dan jurnalistik yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Gema Keadilan Fakultas Hukum Undip. Tepat pukul 07.00 pagi saya berangkat menuju Vina House Wedding and Meeting Hall bersama rekan majalah Capsoul keperawatan UNDIP, Mumu dan pemrednya Erika Prilly. Kami bertiga meluncur menuju tempat seminar dan sampai di lokasi sekitar pukul 08.00. Setelah registrasi, kami dibagikan seminar kit berupa notes, bolpoint dan 3 ekslempar  majalah dan tabloid karya LPM GK.  Sambil menunggu acara di mulai kami pun menghabiskan waktu dengan membaca karya anak-anak GK ini. Ada satu tabloid yang bertajuk G’corner. Di dalamnya berisi tentang budaya Indonesia karena tahun ini tema yang di ambil adalah seni dan budaya Indonesia. Selanjutnya ada majalah tahunan LPM GK yang  bertajuk, Save Tembalang, Undip!. Tema ini saya rasa sangat bagus menilik kondisi Tembalang saat ini sangat tidak kondusif terutama untuk keadaan alam dan lalu lintasnya yang serba kocar-kacir. Sering sekali cuaca yang sangat panas di siang hari, tiba-tiba menyusut di sore harinya, bahkan kadang di susul hujan deras. Ini jelas sekali bisa mengganggu kesehatan mahasiswa dan masyarakat Tembalang. Selain itu, banyaknya pendatang yang membawa kendaraan pribadi menambah semrawut sistem lalu lintas kota Tembalang. Dalam majalah ini disebutkan beberapa sebab kondisi Tembalang yang tidak seramahdan se-asri dulu. Ada juga rubrik Kiprah yang di dalamnya berisi dialog reprter GK dengan rektor Undip, Prof. Sudharto mengenai kondisi Tembalang dan Undip berkaitan dengan konsep Undip Rumah Kita yang dihubungkan dengan kontribusi Undip untuk program penghijauan. Dan majalah ketiga adalah majalah edisi jurnal dimana di dalamnya merupakan kumpulan jurnal yang pernah ditulis mahasiswa Fakultas Hukum. Saya benar-benar terkagum-kagum dengan produk LPM GK ini. Semuanya bagus dan berkualitas. Maklum juga sih, usia LPM GK tahun ini 36 tahun (dan GK adalah LPM tingkat fakultas). Sangat berbeda jauh dengan usia Capsoul yang tahun ini memasuki usia ke 3 dan hanya berkutat di jurusan saja. Setelah melihat karya GK, saya, Prilly dan Mumu memiliki keinginan untuk membuat LPM tingkat fakultas Kedokteran sebagus dan sekeren GK 🙂 *semoga bisa tercapai*.

Seminar dimulai pukul 10.00 (molornya kebablasan) dari jam awal pukul 08.00 pagi. Dibuka dengan penampilan band andalan fakultas hukum yang membawakan lagu dari Bon Jovi (kalau tak salah). Dan selanjutnya ada pembicara pertama yaitu Gilang Prawirasani, mahasiswa FEB jurusan manajemen Undip 2009 sekaligus presiden AIESEC Undip periode 2013. Di sesi ini mas Gilang banyak berbicara mengenai peran pemuda Indonesia. Para peserta di suruh untuk mencari partner dan menuliskan mimpi kita masing-masing di selembar kertas tentang Indonesia di tahun 2030 dan kita di tahun 2030. Di sesi ini saya mendapat teman baru, namanya Dika dari Fisika Unnes 2011. Dia bercerita tentang mimpinya untuk menjadi seorang professor di bidang Fisika dan memiliki rumah singgah untuk para peneliti yang tertarik dan berminat pada sains. Saya berkesempatan untuk men-share-kan mimpi Dika ke peserta lainnya (Alhamdulillah di sesi ini dapet doorprize :D).  Acara berakhir dengan saling share tentang mimpi masing-masing dan juga mimpi mas Gilang yang ternyata sangat mulia. Kalau tak salah, dua dari tiga mimpinya adalah memiliki keluarga yang sakinah dengan 2 orang anak dan satu orang istri dan memiliki sekolah untuk memperbaiki penididikan di Indonesia. Saya sendiri menuliskan mimpi saya untuk bisa membangun rumah sakit yang berbasis keislamanan dan mengedepankan prinsip “rumah sakit bersahabat”, memiliki rumah singgah, dan menggalakan ‘perawat mengabdi’ dimana perawat-perawat freshgraduated harus mau dan mampu mengabdikan dirinya di pelosok negeri (terinspirasi Indonesia mengajar).

Acara puncak mulai pukul 12.30. saya tidak begitu tahu jam berapa mas Alfito Deannova memasuki ruangan karena kebetulan saya melaksanakan sholat dhuhur terlebih dahulu. Alfito Deannova (news anchor TV one) sebagai pembicara utama tampil dengan menawan. Masih dengan kacamatanya yang khas, baju batik dan celana jeans, Alfito terlihat lebih tampan dari yang sering saya lihat di televisi :). Mas Alfito banyak berbicara mengenai jurnalistik dan media teknologi. Menurut beliau saat ini adalah Era for the new media. Semua hal bisa dilakukan dengan mudah karena media dan teknologi. Mas Alfito menyebutkan jika 20 tahun mendatang masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang no leader, monoloyality, critical, rational, dan sophisticated. Semua itu terjadi karena perkembangan zaman terutama bidang teknologi. Oleh karena itu sebagai jurnalis, harus selalu siap siaga dengan pecepatan zaman yang semakin ekstrim dimana informasi tidak bisa dipublikasikan hanya lewat media konvensional saja.  Saat ini media modern seperti internet adalah wadah yang sangat baik untuk menyampaikan informasi ke masyarakat luas. Tak bisa dipungkiri memang, saya sebagai mahasiswa yang katanya kaum intelek jarang sekali membeli Koran karena lebih enak browsing di internet dan membuka portal berita online seperti detik, okezone, kompasiana dll. selain cepat dalam mengakses, murah pula. Di penghujung acara, mas Alfito juga berpesan sebagai jurnalis kita harus selalu update dan bisa mencari berita yang menarik.

“Bekerjalah sesuai idealism kita, walaupun tidak selamanya idealism selalu berbanding lurus dengan realita yang ada,” ucap beliau ketika ditanya mengenai lebih baik yang mana antara idealisme jurnalis dan kewenangan pemilik yang membiayai seluruh keperluan pemberitaan yang kadang menyusup sampai ke luar konteks jurnalis.

Alhamdulillah, sekitar pukul 15.00 acara seminar ini berakhir. Banyak sekali manfaat yang saya terima di seminar ini. selain menambah teman, seminar ini juga bisa menjadi penyemangat saya dalam menjalani amanah sebagai reporter Capsoul. Semangat untuk bisa menerbitkan karya sebagus LPM GK Undip 🙂

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Dreams :)

paris-6.jpg

“The world is a book, and those do not travel only read a page,”

jika membaca quotes diatas, rasanya ingin sekali saya pergi ke kantor imigrasi dan bikin pasport!

yeah, siapa sih yang nggak suka traveling? sudah 20 tahun saya menikmati indahnya hidup ini tapi belum pernah sekali pun mencicipi nuansa luar negeri. Yah, paling jauh saya pergi ke Malang. Masih sekitaran pulau Jawa. What a pity! benar-benar masih cupu nih :3

Andai Allah meridhoi, saya ingin sekali mengunjungi beberapa tempat keren di dunia, mereka adalah :

1. Tokyo, Japan

dari kecil saya suka sekali lihat anime dan baca manga. Beranjak remaja saya tergila-gila dengan dorama sampai sekarang. mungkin hal ini yang bikin saya jatuh cinta sama Tokyo. Pengin tahu aja what’s the real Tokyo *nggak cuma baca di manga doang hehe

2. London, UK

alasannya sederhana saja : saya pengin naik bis tingkat yang kaya di Harry Potter 🙂 sekalian main di Anfield stadium, siapa tahu bisa ketemu om Gerrard 😀

3.  Paris, Perancis

Nada bicara orang Paris itu seksi. Pengin aja mendegarnya secara langsung dari native-nya orang Paris. Paris juga pusat mode dunia jadi nggak ada salahnya nge-gaul disana hehe

4. Copenhagen, Demark

saya suka kota ini gara-gara tulisannya alaya setya, ninit yunita dkk di bukunya Belok Kanan : Barcelona. tokoh Retno kan ceritanya kerja di kopenhagen (atau farah ya?) dan disana digambarkan kopenhagen itu rapi, tenang dan banyak kedai kopi 😀 saya banget deh!

5. Dubai

Tertarik aja. sepertinya bagus! 🙂

6. Seoul, Korea

bukan karena ada boyband dan girlband, jujur! saya tertarik dengan korea karena sejarahnya yang awesome 🙂

7. Makkah, Saudi Arabia

sepertinya ini yang paling utama deh. Pokoknya kalau udah ibadah haji ke Makkah, saatnya go travel around the world 😀

dream

nggak cuma luar negeri sih yang jadi destinasi saya. Tempat-tempat cantik nan eksotis juga banyak ditemui di Indoensia. Yap! my another dream is diving di Wakatobi 🙂 pengin deh kesana bareng orang terkasih, suamiku di masa depan (Aamiiin) kayaknya romantis yak! 🙂 *kalau gitu saya harus latihan diving dulu hehe

wakatobi

senjanya cantik bangeeettt

Diposkan pada Rumah Kata :)

Metamorfosis

Melepas penatku malam ini berbeda. Bukan lagi dengan merapal namamu. Bukan lagi melihat status yang kamu tulis hari ini di facebookmu. Atau sekedar me-retweet kicauanmu. Bahkan ucapan selamat malammu yang biasa kujadikan penutup malamku pun perlahan menghilang.Ya,  walau belum sepenuhnya hilang.

Selamat malam, kamu.

Mungkin ini ritual melepas penatku di malam hari yang terdahulu. Mungkin ini yang terakhir. Aku berproses dan senantiasa memproses diriku. Aku akan terjaga dan menjaga diriku.

Aku yakin sekali kamu bertanya-tanya dalam hati.

“Kemana aku yang dahulu?”

Ketahuilah kamu, aku yang dahulu sedang bermetamorfosis. Aku mungkin sekarang sedang menjadi ulat, kasta terendah dari metamorphosis kupu-kupu. Tapi kamu tahu, suatu saat ulat ini akan memiliki sayap, berubah menjadi indah. Aku akan terbang. Dan, jika memang takdir kita satu, aku akan menemukan dirimu atau kamu yang terbang menemuiku. Jadi, tunggu saja aku…

kupu-kupu

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Aku Telah Menangkap Ja(t)uh

Surga dunia adalah pisang cokelat plus secangkir cappuccino hangat pukul sepuluh malam. Setelah kau tanggalkan tas dan semua beban yang berhimpun di dalamnya. Setelah kau cuci muka dan kaki tapi bukan mandi. Sehabis kau ganti bajumu yang sedikit basah akibat resapan sisa-sisa hujan yang mengiringimu sepanjang perjalanan. Sesederhana itu.

Prosa di atas adalah salah satu dari puluhan tulisan Azhar Nurun Ala dalam bukunya yang berjudul Ja(t)uh. Yeah, finally saya bisa menikmati buku ini setelah Kamis, 2 Mei 2013 tukang paket dari JNE mengantarnya ke kosan saya. Saya benar-benar jatuh (hati) saat pertama membaca tulisan Azhar di blognya. Kebetulan saat itu, teman saya, Kartika bilang kalau dia mau pesan buku tulisan wakil ketua BEM UI.

“Bukunya bagus banget des,” itu komentar Tika tentang Ja(t)uh. Saya dengan muka pah poh (karena baru selesai rapat langsung ditodong pesen buku) cuma mengangguk-angguk. Sampai akhirnya saya putuskan untuk searching dengan keyword Ja(t)uh Azhar Nurun Ala. Saya klik salah satu link (kalau gak salah dari kompasiana) yang meresensi buku Ja(t)uh dan beberapa blog juga saya intip hingga akhirnya hati saya benar-benar jatuh dengan Ja(t)uh.

Prosa-prosa Azhar Nurun Ala bisa dibilang segar dan menggoda. Iya, menggoda untuk menuntaskannya dalam sekali duduk. Saya suka cara Azhar menuangkan pengalamannya, pemikirannya ke dalam kata-kata. Indah dan penuh makna.

Setelah saya mencoba mengenal Azhar lebih jauh (visit blog dan twitter), tak salah memang kalau penulis satu ini mengidolakan Dewi ‘Dee’ Lestari. Saya juga penyuka karya-karya Dee;  filosofi kopi, Madre, keempat seri supernova sudah tamat saya lahap. Dan membaca karya Azhar, saya seperti melihat the another Dee with the another taste. Yap, Azhar berhasil memikat saya lewat kata-kata.  Dan terakhir, saya benar-benar terkesan dengan Ja(t)uh, banyak pelajaran hidup yang ternyata bisa dirangkai menjadi kata yang indah, memberi pelajaran dan menginspirasi banyak orang.

Tetap menulis Azhar, sekarang aku benar-benar telah menangkap Ja(t)uh!

Favourite quote :

“Pada momentum tertentu diam adalah melakukan. Adalah merekam. Adalah mengalami,” @azharnurnala

azhar

sumber gambar : facebook azhar nurun ala

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

May Day : Surat Untuk Presiden

surat

oleh : Fahd Djibran

Pak Presiden yang baik,

Tentang kenaikan harga minyak, kami mungkin tidak pandai berhitung: Bagaimana sebenarnya harga minyak ditentukan? Bagaimana neraca perekonomian nasional diperlakukan? Atau pertimbangan apa yang dipakai sehingga satu-satunya pilihan untuk ‘menyelamatkan seluruh bangsa’ harus sama dan sebangun dengan menaikkan harga-harga? Bagi kami, angka-angka selalu terdengar sebagai ilusi belaka, Pak. Setiap hari kami mendengar satuan ‘miliar’ atau ‘triliun’ disebutkan dalam berita-berita, tanpa pernah benar-benar melihatnya dalam bentuk yang sesungguhnya—apalagi menghitungnya satu per satu.

Hidup kami sederhana, disambung lembaran-lembaran uang recehan. Ilmu hitung kami kelas rendahan: berapa untuk makan sehari-hari, uang jajan anak sekolah, biaya transportasi, biaya listrik bulanan, dan kadang-kadang cicilan motor, dispenser atau DVD player. Tak perlu kalkulator. Bila sedang beruntung, kami bisa punya sisa uang untuk jalan-jalan di akhir pekan. Bila sedang sulit, kami tidak kemana-mana, Pak: Kami mencari kebahagiaan gratisan di televisi—meski kadang-kadang justru dibuat pusing dengan berita-berita tentang beberapa anak buah Bapak yang korupsi.

Tahukah Bapak, dalam televisi, juga koran-koran dan majalah: kami seperti tak punya presiden! Kami seperti tak punya pemimpin! Negara ini terlanjur dikuasai para bandit, Pak!

Ah, mungkinkah Bapak tak sempat menonton TV atau membaca koran sehingga Bapak tak mengetahuinya? Tapi, kemana saja sih Bapak selama ini? Mengapa hanya muncul untuk bernyanyi, mengucapkan belasungkawa, atau membacakan pidato-pidato bernada lemah yang berisi kabar buruk, permohonan maaf, dan keprihatinan?

Kami, rakyat biasa, sesekali butuh kabar gembira, Pak! Kadang-kadang kami berkhayal bahwa jangan-jangan kami sedang hidup dalam sinetron? Mungkinkah yang berpidato di televisi itu bukan Bapak—tapi kembaran Bapak yang menyamar atau tertukar? Mungkinkah kepala Bapak terbentur batu dan lantas hilang ingatan? Tetapi, tentu saja itu bukan kabar gembira.

Pak Presiden yang baik,

Kelak bila harga BBM naik, dengan gagah dan baik hati konon Bapak akan memberi kami kompensasi: Bapak akan membuat kami mengantre untuk mendapatkan uang bantuan agar kami tak merasa kesulitan. Tapi, pikiran kami sederhana saja, Pak, benarkah Bapak suka melihat kami mengantre—panjang-mengular dari Sabang sampai Merauke? Kami tidak suka itu, Pak. Kami tak suka terlihat miskin, apalagi menjadi miskin. Kalau memang Bapak punya uang untuk dibagikan kepada kami, pakailah uang itu, kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan ‘perekonomian nasional’ yang konon sedang gawat itu. Tak perlu naikkan BBM, pakailah uang kami itu: kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan bangsa!

Bila perlu, berdirilah di hadapan kami, katakan apa yang negara perlukan dari kami untuk menyelamatkan kegawatan bencana ekonomi negara ini? Bila Bapak perlu uang, kami akan menjual ayam, sapi, mesin jahit, jam tangan, atau apa saja agar terkumpul sejumlah uang untuk melakukan pembangunan dan penyelamatan perekonomian bangsa. Bila Bapak disandra mafia, pejabat-pejabat yang bangsat, atau pengusaha-pengusaha yang menghisap rakyat, tolong beritahu kami: siapa saja mereka? Kami akan bersatu untuk membantumu melenyapkan mereka. Tentu saja, semoga Anda bukan salah satu bagian dari mereka!

Pak Presiden yang baik,

Dengarkanlah kami, berdirilah untuk kami, berbicaralah atas nama kami, belalah kami: maka kami akan selalu ada, berdiri, bahkan berlari mengorbankan apa saja untuk membelamu. Berhentilah berdiri dan berbicara atas nama sejumlah pihak—membela kepentingan-kepentingan golongan. Berhentilah jadi bagian dari mereka yang akan kami benci sampai mati. Jangan jadi penakut, Pak Presiden, jangan jadi pengecut!

Buanglah kalkulatormu, singkirkan tumpukan kertas di hadapanmu, lupakan bisikan-bisikan penjilat di sekelilingmu! Lalu dengarkanlah suara kami, tataplah mata kami: tidak pernah ada satupun pemimpin di atas dunia yang sanggup bertahan dalam kekuasaannya jika ia terus-menerus menulikan dirinya dari suara-suara rakyatnya!

Pak Presiden,

Sekali lagi, tentang kenaikan harga minyak, barangkali kami memang tak pandai berhitung. Tapi, sungguh, kami tak perlu menghitung apapun untuk memutuskan mencintai atau membenci sesuatu; termasuk mencintai atau membencimu!

 

reblog dari Fahd Djibran www.fahdisme.com