Posted in Rumah Kata :)

Mengartikan Senja- @azharnurnala

reblog dari: azharologia

abc-header-800x277

Aku selalu berpikir apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan senja.

Ia hadir sejenak membawa keindahan, untuk kemudian pergi menyisakan ketiadaan.

Apakah senja ada, untuk sekadar menjadi metaforabahwa di muka bumi ini segala bentuk keindahan yang kita kagumi selalu fana? Bahwa dalam setiap kata hadir selalu terkandung janin perpisahan  yang bisa lahir kapan saja tanpa pernah kita tahu persis waktunya?

Adakah yang tahu apa yang dimaksudkan Tuhan ketika menciptakan senja?

Kita menantinya, menikmati pesonanya, tapi pada akhirnya kita selalu terperangkap oleh gelap yang mengikutinya.

Aku tak pernah tahu pasti apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan senja.

Satu hal yang aku tahu, darinya aku belajar bahwa perpisahansedramatis apapun ia berlangsungtak selamanya getir. Kadang ia berjalan begitu manis. Tapi perpisahan, semanis apapun ia berlangsung, selapang apapun hati kita menerimanya, tetap saja menyisakan kehampaan.

Sebab itu barangkali Jalaluddin Rumi menghibur mereka yang mengalami tragedi keterpisahan lewat potongan sajaknya. Keterpisahan ini, kata Rumi, hanyalah tipu daya waktu.

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s