Posted in Cerita Pendek

Laki-Laki yang Jatuh Cinta Pada Senja

Laki-laki ini jatuh cinta pada senja. Wajahnya selalu berbinar senang jika aku mengajaknya menikmati semburat merah di kala sore.

“Nanti aku temani kamu duduk di tepian serayu, dari sana kamu bisa melihat Sawunggalihmu datang,”

Dia tersenyum. Bukan bibirnya, tapi matanya. Jelas sekali tergambar kebahagiaan di dua bola mata berwarna kecoklatan itu.

Tepat pukul 16.00 aku mengetuk pintu rumahnya. Dia muncul, lengkap dengan buku sketsa kesayangannya. Tentu saja, hadiah ulang tahun dariku saat ia genap berusia 17 tahun.

“Sudah siap?”

Dia mengangguk.

 “Cepat naik, sebentar lagi Sawunggalih datang,” aku sudah siap di atas sepeda mini milik Rani, adikku.

Ia memandangku. Ada ragu yang membuatnya tak langsung menggamit pinggangku seperti sore-sore sebelumnya.

Ia menunjuk baling-baling kertas kesayangannya rusak terkena air hujan.

“Tenang saja, besok aku buatkan yang lebih bagus lagi,”

Tubuhnya yang kurus langsung naik ke boncengan sepeda. Lengan-lengannya yang kecil menggamit tubuhku.

“Ready?” tanyaku penuh semangat.

“Redi!” jawabnya penuh sukacita.

Angin sore menerpa tubuh kami. Aku merasakan kedamaian setiap kali ia tertawa. Saat melewati persawahan, ia merentangkan kedua tangan. Wajahnya yang putih bersih menengadah ke langit. Ia tersenyum, damai. Aku tak pernah bisa melihatnya secara detail. Aku hanya bisa mendengar gelak tawanya yang kadang membuat darahku berdesir. Ada apa dengan hati ini?

Sawunggalih sudah memperingatkan kami lewat jari-jari besi yang saling bergesekan. Suaranya terdengar begitu indah.

“Hei lihat! Itu Sawunggalih kita!” teriakku.

Ia berdiri dari duduknya, bertepuk tangan dan berlari mengelilingiku. Aku tahu dia sedang bahagia. Dan entah kenapa aku juga menjadi sangat bahagia.

Sawunggalih dan senja selalu menjadi ritual sore kami. Dan saat ini, dengan ditemani serayu yang tak beriak, aku kembali menemukan kebahagiaan yang sederhana. Aku bahagia saat melihatnya tertawa. Dia bahagia saat sawunggalih datang. Aku bahagia saat dia bersedih karena aku harus kembali belajar di luar kota, itu menandakan aku berarti baginya! Dia bahagia saat aku membawanya melihat senja. Entah kenapa, dia, yang kata orang, laki-laki cacat mental, laki-laki tak waras, bisa sebegitu menarik untukku? Bagiku dia tidak cacat, ia hanya mengalami kekurangan. Dia tidak gila, dia hanya tak bisa berfikir sempurna seperti manusia-manusia pada umumnya. Entah apa lagi yang mereka bilang tentang dia. Bagiku, cukup dengan adanya senja, aku dan dia bisa bahagia. Ya, karena cinta itu sederhana.

 

@ kamar kosan. Saat menikmati senja setelah hujan turun.

Penulis:

Sedang mencari kamu

3 thoughts on “Laki-Laki yang Jatuh Cinta Pada Senja

  1. Hmm, kadang untuk mengerti seseorang kita harus melihat dari banyak perspektif, utamanya dari perspektif orang tersebut. Hal itu akan lebih membuka wawasan dan pikiran serta ‘judge’ kita pada orang lain..
    Mmmm, konfliknya kurang nendang euy (dari perspektif cerpen lho)..
    Dengan asumsi cerita di atas adalah kisah nyata, coba lebih difiktifkan agar cerita lebih menarik. Misalkan, ketika dalam perjalanan mau melihat Sawunggalih, tiba-tiba ada halangan apa gitu. Sawunggalih datangnya telat (hampir semua kereta api seperti itu, bagus buat kritik pada pemerintah. heheu), sembari menunggu KA datang, 2 karakter yang ada di dalam cerita bertengkar. Misalkan lho ini. Heheu
    Keep write!! heheu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s