Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Pray

heran ya, kenapa aku bisa sesedih ini?

serapuh ini?

selabil ini?

Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Membolak-balikan hati. Kuatkanlah aku disini. Di perantauan ini. Demi menuntut ilmuMu ya Allah…

Maafkan aku jika Engkau selalu aku repotkan dengan tangisanku, dengan doa-doaku, dengan keluhanku.

Aku yakin ada sesuatu yang indah yang telah Engkau siapkan untukku.

 

kuselipkan doa di menjelang siang. Saat sebongkah daging bernama hati ini terkoyak oleh kerinduan akan sosok bapak dan ibu yang sungguh menjadi candu untukku.

Iklan
Diposkan pada Cerita Pendek

Surat Merah Jambu

“Kamu Rinta kan?” suara seorang laki-laki membuyarkan konsentrasiku pada setumpuk novel yang harus aku edit. Aku celingukan, siapa tahu yang dia maksud bukan aku.

“Iya, pasti nggak salah nih, kamu Rinta Anggraini kan? Dulu SMA mu di SMAN 1 kan? Kelas XII IPA 1. Ah iya, nggak salah lagi pasti kamu Rinta!” laki-laki itu lalu mengambil kursi di depanku.

“Boleh ya aku duduk di sini? Kangen ngobrol sama teman lama,” dia terkekeh lantas tanpa canggung memesan waffle dan machiatto.

“Maaf ya, apa kita saling kenal?” tanyaku pada akhirnya. Tenru saja, setelah orang di depanku ini akhirnya memberiku kesempatan untuk bicara.

“Ah! Kamu pasti lupa ya? aku Yanto! Suryanto temen sekelas kamu waktu SMA. Kita sekelas di kelas 3!”

Dahiku berkenyit. Adakah temanku yang bernama Yanto?

“Ingat surat merah jambu nggak? Kamu pasti nggak bakalan lupa sama yang satu ini.” dia terbahak. Mukaku memerah.

“Yanto?! Kamu Yanto gendut itu? Ih, kok sekarang kurusan sih?” surprise ternyata kata kunci surat merah jambunya bisa membuatku mengingat cowok berjambul itu.

“hahahah tentu saja! gimana? Aku keren nggak sekarang?”

“Banget! Sama siapa kesini?”

“Ntar juga kamu tahu,”

“Eh, sama istri kamu ya?”

Yanto menggeleng. “Aku masih single Rin,” dan kami masuk dalam percakapan-percakapan masa lampau.

“Eh Rin, temenku mau kesini nih,” kata Yanto sambil ngetik sesuatu di handphonennya.

“suruh kesini aja,”

“Yakin kamu? Nggak nyesel?”

“nggak lah! Kenapa harus nyesel?”

“Oke kalau itu yang kamu mau,”

Satu jam berlalu. Yanto mulai sibuk dengan hpnya. Katanya temannya yang berniat menyusul sudah di depan caffe. Aku mempersilahkan dia untuk menjemputnya.

“Rin, masih inget dia nggak?” tanya Yanto. Aku menghentikan acara membaca novelku.

Hei, aku lagi nggak bermimpi kan?

Aku masih hidup kan?

Ini bukan di surga kan?
seorang laki-laki berdiri di samping Yanto. Wajahnya sangat familiar bagiku. Dia tersenyum dan ya, senyumnya sungguh sangat aku kenal.

“Rin! Kamu lihat nggak sih? Denis ngajak salaman tuh,” bentak Yanto membuatku tersadar.

Laki-laki itu tersenyum.

“Boleh duduk?” tanyanya. Aku mengangguk, canggung sekali.

“Apa kabar Rin?”tanyanya. aku gelagapan. Mataku tak mampu untuk melihatnya. Hatiku terlalu berbunga-bunga demi melihat senyumnya.

“Bb..baik..kamu, apa kabar?” aku balik bertanya.

“Baik juga,”

Aku senang bukan kepalang. Mimpi apa ya aku semalam bisa ketemu sama Denis? Ya, siapa lagi kalau bukan Denis Adrian. Pria tampan nan atletis di depanku ini adalah cinta pertamaku. Dulu waktu kita masih duduk di bangku SMA, kita pernah berteman cukup dekat. Yeah, tentu saja Denis tak setampan sekarang. Dan baru kali ini aku menyesal pernah mengacuhkan perhatiannya.

“Oh ya Denis mau ngasih surprise buat kamu Rin,” kata Yanto. Membuatku semakin susah bernafas saja.

Denis tersenyum lalu mengambil sesuatu dari tasnya.

“aku mau kasih ini Rin, kebetulan kita bisa ketemu langsung. Jangan lupa datang ya,”

Aku melongo. Di depanku tergeletak sebuah wedding card berwarna putih. Ada foto Denis dan seorang wanita berwajah oriental. Di foto itu keduanya terlihat bahagia.

“Rin?”

“Ya?”

“Bisa datang kan?”

Aku terdiam.

“Maaf Den, aku ke toilet dulu ya,”

Belum sampai ke toilet, air mataku sudah membanjiri kedua pipiku. Ada nyeri yang menghujam hatiku. Nyeri itu seperti mengutuki kebodohanku. Kebodohan terbesar untuk menunggunya hampir sepuluh tahun ini.

diikutkan dalam #FF2in1 oleh @nulisbuku

Diposkan pada Cerita Pendek

Langit Jakarta

Malam itu adalah malam yang dingin di bulan Juni. Rintik hujan mulai berjatuhan di langit Jakarta. Aku memutuskan untuk segera menyelesaikan kerjaku. Rumah mulai sepi dan aku tenggelam dalam hangatnya secangkir cappuccino hangat plus sajak-sajak dari Sapardi Djoko Damono. Entah perasaan apa yang tiba-tiba datang ke hatiku, aku ingin menelepon dia.

“Ya, ada apa Win?” tanya suara di seberang. Suara yang sangat aku rindukan.

“Kamu sehat?”

“Alhamdulillah sehat. Ada apa Win kamu telepon malam-malam gini?”

“Ah enggak, aku Cuma kangen aja,”

Kudengar suara di seberang tertawa. Lalu kami asyik ngobrol sampai tak terasa malam telah berganti pagi.

***

“Gimana Win? Kamu sudah bilang sama Dani?” tanya ibu seraya menyiapkan sarapanku. Setangkup roti gandum plus teh manis dengan gula rendah kalori.

Aku mengangguk.

“Terus, apa komentarnya?”

“Dia masih sibuk bu. Wina nggak bisa maksain mas Dani buat secepatnya datang ke Jakarta,”

“Sudah bilang kan kalau dia nggak cepat-cepat, kamu bakalan ada yang…”

Belum sempat ibu menuntaskan kalimatnya, aku sudah berdiri dan cepat-cepat menyelesaikan sarapanku.

“Makasih bu, sarapannya enak. Nanti aku coba ngomong sama mas Dani ya,”

***

Seharian Jakarta dirundung mendung. Sedikit aneh memang, hujan di bulan Juni. Seperti puisi-puisinya Sapardi. Aku duduk sendirian di Starbucks. Sambil menyesap lamat-lamat black coffeku, iseng aku memandangi gallery photo di handphoneku. Tiba-tiba handphoneku berdering. Ada telepon masuk, dari Mas Dani.

“Wina, akhir bulan ini kosongkan jadwalmu ya?” katanya.

“Kenapa?”

“Aku akan pulang ke Jakarta. Pastikan kamu lagi nggak keluar kota ya?”

“Mas? Yakin mau ke Jakarta?”

“Iya, aku udah ngajuin cuti. Oh ya, sekalian ya, habis ini bilang ke ibumu, nggak perlu cemas lagi soal pernikahan anak gadisnya,”

“Jadi?”

“ya, pulangku kali ini khusus untuk meminangmu Win,”

Aku gemetaran. Tak terasa butiran bening turun begitu saja membanjiri kedua pipiku. Kulihat keluar jendela. Hujan lagi. Ah, indahnya hujan bulan ini. Sepertinya aku tak punya perkataan lain selain aku mulai jatuh cinta dengan hujan di bulan Juni.

“Win?”

“Ya?”

“kamu mau kan?” suaranya mulai terdengar cemas.

“Tentu saja. Aku tunggu di Jakarta ya,”

Dan kami tertawa dalam derai hujan di langit Jakarta.

diikutkan dalam #FF2in1 oleh @nulisbuku

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Chit-Chat :D

Assalamualaikum 🙂

Apa kabar blogku? Pasti lah ini blog sudah banyak sarang laba-labanya. Eh iya, gimana lebarannya? Minal aidzin walfaidzin ya, mohon maaf lahir dan batin. Maaf banget deh kalau saya pernah nulis sesuatu yang menyinggung perasaan anda-anda semua (berasa yang baca blog ini banyak aja);P

Kali ini saya mau cerita tentang ramadhan plus lebaran kemarin.Ya,nggak ada yang istimewa sih, cuma tahun ini berasa ada peningkatan dalam ibadah *walaupun cuma dikit*. Empat hari menjelang lebaran, kakak saya yang sulung pulang dari merantau. Jauh-jauh datang dari Aceh ke Jawa cuma buat lebaran doang. Kalau si kakak pulang emang semuanya nyenengin. Bapak sama ibu tiap hari mukanya ceria gitu. Apalagi ibu, tiap hari masak enak terus. Gini ya emang kalau jauh, pulangnya bikin kangen!

Okedeh, gara-gara si abang pulang, saya dikasih deh angpau buat beli baju lebaran (padahal udah dibeliin baju lebaran sama ibu). Alhamdulillah deh rezeki 🙂 Malam lebaran saya habiskan dengan online! Ya, kayaknya takbirannya di facebook deh-__- soalnya masjid isinya krucil krucil semua. kalau nggak ya  mbah-mbah sama bapak-bapak. Anak gadis sama ibu-ibu lagi pada sibuk masak. Kalau saya sih sibuk makan kayaknya hehehe

Seperti malam lebaran pada umumnya. Handphone terus terusan terima sms, pada ngucapin selamat lebaran dan maaf-maafan. Saya jadi inget sama seseorang. Iya,si masnya yang pernah menjadi seseorang yang istimewa di hati saya. Semenjak saya putuskan untuk tidak menganggapnya sebagai ‘the special one’ dia nggak pernah kontak saya lagi. Padahal saya udah minta maaf loooh. Sakt hati mungkin yaa. Yasudahlah. Akhirnya, malam lebaran saya beranikan untuk sms dan minta maaf. Alhamdulillah responnya baik. Dia memaafkan semua kesalahan saya! 🙂

Oke, besoknya saya dan keluarga, ada bapak, ibu, abang dan mbak kembar saya shalat ied di masjid terdekat. Habis itu salam-salaman sama tetangga. idih, ada yang nangis segala. Haduh, entah kenapa ya saya ini susah banget buat nangis (kecuali nonton drama korea hehe). Setelah shalat, langsung deh cus ke rumah dan makan! Nggak deng…saya harus jemur baju dulu -__- habis itu salam-salaman sama bapak dan ibu. sama si abang dan mbak kembar saya juga. Terus baru deh di sambung ke rumah mbah dari pihak bapak.

Habis salam-salaman sama tetangga ,saya dan keluarga pergi mengunjungi sanak saudara yang lain dari pihak ibu. Nah, seneng nih kalau udah gini. Ceritanya, dari pihak ibu inilah trah kembar saya didapatkan. Pakde saya kembar, cucunya pakde saya kembar, anaknya adiknya pakde saya (ibu saya) anaknya kembar (saya dan mbak kembar saya) dan satu lagi pasangan kembar lainnya dari pihak kakaknya mbah saya. Gak mudeng ya? Ya udahdeh,nggakkeluar juga di ujian hehehe. Di tempat pakde, saya ketemu Ara-Ari, the another twin sister 😀 lucu deh ngeliat mereka berdua. Mirip banget! Tapi katanya sih kembarnya lebih miripan saya sama mbak kembar saya. Haduuuh.

Seharian kami muter-muter untuk salaman. Bener-bener deh ternyata keluarga saya banyak juga! (hari itu saya pakai heels, dan tahu kan gimana rasanya bolak-balik dari rumah ke rumah dengan heels? Cape dan tentu saja, sakit!). Karena udah gedhe juga (mahasiswi cuy!) nggak dapet begitu banyak salam tempel.ya, ada sih beberapa,lumayan buat beli baterai notebook yang rusak.

Pokoknya hari-hari menjelang lebaran dan seminggu setelah lebaran adalahhari-hari yang menyenangkan. Sedih banget kalau abang saya sudah balik kerja lagi ke Aceh. Rumah jadi sepi. Apalagi mbak kembar saya juga sudah mulai kuliah lagi. Jadi pengen balik ke Semarang ya? Nggak juga sih hehehe

Selama liburan saya juga banyak menghabiskan waktu sama ibu. Curhat sana curhat sini. Ada beberapa obrolan yang menurut saya jlebb banget.

S: darimana bu?

I: dari warung. Eh itu rumah si x (nyebutin nama seorang cewek) ramai banget ya. Banyak anak cowok pada datang.

S: oh ya? (dengan ekspresi datar)

I: iya, katanya ada pacarnya

S: oh udah punya pacar ya?(berharap ibu segera ganti topik)

I: iya, kayaknya bukan sama kayak yang dulu deh

S: udah ganti mungkin bu

I: kalau anak gadis ibu mah nggak boleh kayak gitu. Ibu penginnya, kalau udah sreg langsung nikah aja. Nggak pakai pacaran malah lebih bagus.Semoga dapet yang berkualitas ya! Nggak cuma fisiknya tapi juga agamanya…”

S: aamiiin buuu (semangat banget hehe :D)

Well, saya aminin dengan sepenuh hati doa Ibu. Semoga terkabul ya Rabb. Duh, siapa sih yang nggak pengin punya suami tampan, alim dan pinter?bagi saya sih, nggak tampan-tampan amat juga nggak apa-apa yang penting ilmu agamanya baik dan bisa jadi imam rumah tangga ^^

*maaf jadi curcol ini sepertinya gara-gara kena sindrom cewek-cewek usia 20 tahun yang mulai galau masalah jodoh:P

Sepertinya cukup sekian aja yak. Seminggu lagi sepertinya saya sudah berada di kota Lunpia. Yeah, Semarang I’m coming!