Posted in Cerita Pendek

Langit Jakarta

Malam itu adalah malam yang dingin di bulan Juni. Rintik hujan mulai berjatuhan di langit Jakarta. Aku memutuskan untuk segera menyelesaikan kerjaku. Rumah mulai sepi dan aku tenggelam dalam hangatnya secangkir cappuccino hangat plus sajak-sajak dari Sapardi Djoko Damono. Entah perasaan apa yang tiba-tiba datang ke hatiku, aku ingin menelepon dia.

“Ya, ada apa Win?” tanya suara di seberang. Suara yang sangat aku rindukan.

“Kamu sehat?”

“Alhamdulillah sehat. Ada apa Win kamu telepon malam-malam gini?”

“Ah enggak, aku Cuma kangen aja,”

Kudengar suara di seberang tertawa. Lalu kami asyik ngobrol sampai tak terasa malam telah berganti pagi.

***

“Gimana Win? Kamu sudah bilang sama Dani?” tanya ibu seraya menyiapkan sarapanku. Setangkup roti gandum plus teh manis dengan gula rendah kalori.

Aku mengangguk.

“Terus, apa komentarnya?”

“Dia masih sibuk bu. Wina nggak bisa maksain mas Dani buat secepatnya datang ke Jakarta,”

“Sudah bilang kan kalau dia nggak cepat-cepat, kamu bakalan ada yang…”

Belum sempat ibu menuntaskan kalimatnya, aku sudah berdiri dan cepat-cepat menyelesaikan sarapanku.

“Makasih bu, sarapannya enak. Nanti aku coba ngomong sama mas Dani ya,”

***

Seharian Jakarta dirundung mendung. Sedikit aneh memang, hujan di bulan Juni. Seperti puisi-puisinya Sapardi. Aku duduk sendirian di Starbucks. Sambil menyesap lamat-lamat black coffeku, iseng aku memandangi gallery photo di handphoneku. Tiba-tiba handphoneku berdering. Ada telepon masuk, dari Mas Dani.

“Wina, akhir bulan ini kosongkan jadwalmu ya?” katanya.

“Kenapa?”

“Aku akan pulang ke Jakarta. Pastikan kamu lagi nggak keluar kota ya?”

“Mas? Yakin mau ke Jakarta?”

“Iya, aku udah ngajuin cuti. Oh ya, sekalian ya, habis ini bilang ke ibumu, nggak perlu cemas lagi soal pernikahan anak gadisnya,”

“Jadi?”

“ya, pulangku kali ini khusus untuk meminangmu Win,”

Aku gemetaran. Tak terasa butiran bening turun begitu saja membanjiri kedua pipiku. Kulihat keluar jendela. Hujan lagi. Ah, indahnya hujan bulan ini. Sepertinya aku tak punya perkataan lain selain aku mulai jatuh cinta dengan hujan di bulan Juni.

“Win?”

“Ya?”

“kamu mau kan?” suaranya mulai terdengar cemas.

“Tentu saja. Aku tunggu di Jakarta ya,”

Dan kami tertawa dalam derai hujan di langit Jakarta.

diikutkan dalam #FF2in1 oleh @nulisbuku

Penulis:

Sedang mencari kamu

5 thoughts on “Langit Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s