Posted in Cerita Pendek

Surat Merah Jambu

“Kamu Rinta kan?” suara seorang laki-laki membuyarkan konsentrasiku pada setumpuk novel yang harus aku edit. Aku celingukan, siapa tahu yang dia maksud bukan aku.

“Iya, pasti nggak salah nih, kamu Rinta Anggraini kan? Dulu SMA mu di SMAN 1 kan? Kelas XII IPA 1. Ah iya, nggak salah lagi pasti kamu Rinta!” laki-laki itu lalu mengambil kursi di depanku.

“Boleh ya aku duduk di sini? Kangen ngobrol sama teman lama,” dia terkekeh lantas tanpa canggung memesan waffle dan machiatto.

“Maaf ya, apa kita saling kenal?” tanyaku pada akhirnya. Tenru saja, setelah orang di depanku ini akhirnya memberiku kesempatan untuk bicara.

“Ah! Kamu pasti lupa ya? aku Yanto! Suryanto temen sekelas kamu waktu SMA. Kita sekelas di kelas 3!”

Dahiku berkenyit. Adakah temanku yang bernama Yanto?

“Ingat surat merah jambu nggak? Kamu pasti nggak bakalan lupa sama yang satu ini.” dia terbahak. Mukaku memerah.

“Yanto?! Kamu Yanto gendut itu? Ih, kok sekarang kurusan sih?” surprise ternyata kata kunci surat merah jambunya bisa membuatku mengingat cowok berjambul itu.

“hahahah tentu saja! gimana? Aku keren nggak sekarang?”

“Banget! Sama siapa kesini?”

“Ntar juga kamu tahu,”

“Eh, sama istri kamu ya?”

Yanto menggeleng. “Aku masih single Rin,” dan kami masuk dalam percakapan-percakapan masa lampau.

“Eh Rin, temenku mau kesini nih,” kata Yanto sambil ngetik sesuatu di handphonennya.

“suruh kesini aja,”

“Yakin kamu? Nggak nyesel?”

“nggak lah! Kenapa harus nyesel?”

“Oke kalau itu yang kamu mau,”

Satu jam berlalu. Yanto mulai sibuk dengan hpnya. Katanya temannya yang berniat menyusul sudah di depan caffe. Aku mempersilahkan dia untuk menjemputnya.

“Rin, masih inget dia nggak?” tanya Yanto. Aku menghentikan acara membaca novelku.

Hei, aku lagi nggak bermimpi kan?

Aku masih hidup kan?

Ini bukan di surga kan?
seorang laki-laki berdiri di samping Yanto. Wajahnya sangat familiar bagiku. Dia tersenyum dan ya, senyumnya sungguh sangat aku kenal.

“Rin! Kamu lihat nggak sih? Denis ngajak salaman tuh,” bentak Yanto membuatku tersadar.

Laki-laki itu tersenyum.

“Boleh duduk?” tanyanya. Aku mengangguk, canggung sekali.

“Apa kabar Rin?”tanyanya. aku gelagapan. Mataku tak mampu untuk melihatnya. Hatiku terlalu berbunga-bunga demi melihat senyumnya.

“Bb..baik..kamu, apa kabar?” aku balik bertanya.

“Baik juga,”

Aku senang bukan kepalang. Mimpi apa ya aku semalam bisa ketemu sama Denis? Ya, siapa lagi kalau bukan Denis Adrian. Pria tampan nan atletis di depanku ini adalah cinta pertamaku. Dulu waktu kita masih duduk di bangku SMA, kita pernah berteman cukup dekat. Yeah, tentu saja Denis tak setampan sekarang. Dan baru kali ini aku menyesal pernah mengacuhkan perhatiannya.

“Oh ya Denis mau ngasih surprise buat kamu Rin,” kata Yanto. Membuatku semakin susah bernafas saja.

Denis tersenyum lalu mengambil sesuatu dari tasnya.

“aku mau kasih ini Rin, kebetulan kita bisa ketemu langsung. Jangan lupa datang ya,”

Aku melongo. Di depanku tergeletak sebuah wedding card berwarna putih. Ada foto Denis dan seorang wanita berwajah oriental. Di foto itu keduanya terlihat bahagia.

“Rin?”

“Ya?”

“Bisa datang kan?”

Aku terdiam.

“Maaf Den, aku ke toilet dulu ya,”

Belum sampai ke toilet, air mataku sudah membanjiri kedua pipiku. Ada nyeri yang menghujam hatiku. Nyeri itu seperti mengutuki kebodohanku. Kebodohan terbesar untuk menunggunya hampir sepuluh tahun ini.

diikutkan dalam #FF2in1 oleh @nulisbuku

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s