Diposkan pada Cerita Pendek

#FF2in1 Dandelion di Taman Sriwedari

“Lihat! Aku menemukan bunga kesukaanmu,” Galih berlari ke arah kumpulan bunga liar yang tak sengaja tumbuh di sekitaran Sriwedari.

“Dandelion!” senyumnya merekah indah seraya menyerahkan dandelion kepadaku.

“Terima kasih, kamu selalu penuh kejutan,”

Laki-laki itu tertawa renyah. Menggaruk rambutnya yang kurasa tidak gatal dan tersenyum simpul. Menggemaskan sekali jika melihatnya.

“Kamu tahu kenapa aku menyukai Dandelion?” tanyaku.

“Mungkin karena kebanyakan dari dandelion berwarna putih. Kau kan suka warna putih,”

Aku tersenyum. Sedikit membenarkan jawabannya.

“Salah satunya memang itu, tapi aku lebih suka dengan alas an yang ini,”. Kutiup serat-serat dandelion hingga terbang melayang tertiup angin.

“Suatu hari aku ingin seperti Dandelion, dia bisa terbang bebas kemana saja,”

“Begitukah?” Galih sepertinya tidak menyetujui pendapatku tentang dandelion.

“Bebas itu tak selamanya enak. Kadang bebas malah membuat diri kita lelah,”

“Lelah dengan kebebasan?” tanyaku. Sepertinya aku baru tahu jika ada manusia yang lelah dengan kebebasan.

“Ya, lelah karena bosan, lelah karena terlalu lama bebas. Sama seperti hati kita juga,” Galih menghentikan langkahnya. Ia mengarahkan kamera SLR kesayangannya. Bidikannya ia arahkan pada sepasang kupu-kupu yang asyik hinggap di rerumputan.

“Sebebas-bebasnya manusia, mereka pasti membutuhkan sesuatu yang terikat,” ucapnya, masih asyik dengan kameranya. Aku tersenyum. Sepertinya aku tahu apa yang dimaksud kekasihku ini.

“Jadi?” tanyaku pura-pura tak mengerti.

“Jadi kapan hati kamu mau move on dari kebebasan? Di depanmu ini ada laki-laki yang ingin cepat-cepat mengikatnya,”

Aku tertawa. Kulihat wajah Galih memerah.

“Kenapa tertawa? Aku serius. Bagaimana pendapatmu tentang kata-kataku tadi?”

“Kamu pujangga yang payah,” jawabku sambil tertawa.

Ia melengos dan kembali asyik dengan kameranya.

Sriwedari mulai sepi. Langit di atas sana sepertinya mulai murung.

“Gerimis,” Galih menengadahkan telapak tangannya ke atas. Tetes-tetes air mulai membasahi kedua telapak tangannya.

“Sebaiknya kita segera berteduh,” laki-laki itu menggandeng tanganku, mencari tempat berteduh di sekitaran Sriwedari. Untung saja, kami menemukan Gazebo di pinggir pintu keluar taman.

“Tentang tawaranmu sepertinya kamu benar-benar serius,” kataku memecah kesunyian.

Galih memandangku, lantas mengangguk.

Aku terdiam. Ia terdiam. Kami terdiam dalam derasnya hujan diatas langit Sriwedari.

“Tahun ini,”

Galih menoleh mendengar ucapanku.

“Ya, tahun ini aku ingin mengikat hatiku. Tapi entahlah, apakah tawaran laki-laki di depanku ini masih berlaku atau tidak, karena sepertinya aku terlalu lama membuatnya penasaran,”

Laki-laki ini tersenyum. Aku memandangnya.

“Bagaimana?”

Galih tersenyum lantas ia memeluku, dengan hangat. Lanjutkan membaca “#FF2in1 Dandelion di Taman Sriwedari”

Diposkan pada Cerita Pendek

#FF2in1 Hari Bahagia

“Sudah siap nis?” suara teh Ina membangunkan lamunanku. Aku melihat jam tangan metalik pemberian ibu, lima menit lagi hal terbesar dalam hidupku akan dimulai.

“Nisa,  ayo keluar!” Zaskia mengamit lenganku, menyuruhku untuk segera keluar dari ruang sempit di dekat dapur.

“Kamu lagi ngapain sih? Semua orang sudah menunggumu,” Zaskia mendorong tubuhku ke ruang tamu, tempat dimana kerabat, teman dan keluargaku berkumpul.

“Zasi, kau lihat Dika?” akhirnya pertanyaan ini keluar juga dari mulutku. Pertanyaan yang sebenarnya urung untuk aku tanyakan pada sahabatku.

“Sampai saat ini aku belum melihatnya, mungkin dia telat. Sudahlah kok malah ngomongin orang nggak penting sih! Yuk, semua sudah menunggumu,”

Aku menyibak gordyn yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang tamu. Kulihat hampir semua teman, baik dari teman SMP, SMA dan kuliah datang. Begitupula dengan kerabat dan keluargaku. Sebegitu sayangkah mereka denganku?

Ibu tersenyum memandangku.

“kau siap nduk?” Tanya ibu perlahan.

Aku mengangguk. Sebenarnya masih ada satu orang yang aku tunggu di hari bahagiaku ini, hari dimana aku akan menyempurnakan separuh agamaku. Aku berhasil membuktikan jika aku, Faranisa, meskipun aku tak lagi memiliki sepasang kaki yang utuh aku bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang yang aku butuhkan. Aku memandang sekeliling. Ya, tak ada Dika. Laki-laki yang dulu selalu bilang aku tak akan bisa kuliah, aku tak akan bisa menjadi sarjana dan tak akan ada laki-laki yang menyukai gadis cacat seperti. Tapi nyatanya? Sampai sekarang aku masih bisa bertahan, aku seorang sarjana, aku memiliki pekerjaan dan sebentar lagi akan memiliki seorang suami yang mencintaiku. Aku memandang wajah calon suamiku, sepertinya malaikat benar-benar bisa berwujud manusia.

diikutkan dalam #FF2in1 Nulis Buku