Diposkan pada Cerita Pendek

Lampion Cinta di Kota Jogja

Hujan mengguyur Semarang sejak satu minggu yang lalu. Aku menatap lamat-lamat jalanan di sepanjang Simpang Lima. Masih seperti satu jam yang lalu, hujan belum juga reda.

“Bentar lagi pasti macet, pulang yuk!” ajak Renita. Secepat kilat ia menghabiskan cappuccino late-nya.

“Udah jam empat sore nih,” tambahnya.

Aku melangkah menuju kasir dan membayar semua bon pesanan kami. Hari ini aku berjanji menraktir Renita.

“Makasih ya Sya untuk traktirannya. Sering-sering aja tuh tulisanmu di muat lagi di majalah, kan aku juga yang seneng,”

“Doain aja deh Ren, tahun depan masih suka nulis dan nggak kehilangan inspirasi,”

“Pasti dong! Apa sih yang nggak buat my truly bestfriend Anastasya Tamrin,”

Renita mengambil kunci mobil dari tas Buccherinya.

Pip! pip!

Kami masuk ke dalam Honda jazz putih kesayangan sahabatku ini.

“Sya, malem tahun baru besok udah ada rencana kemana gitu belum?”

“Kenapa?”

“Ya, Tanya aja Sya soalnya aku kayaknya nggak bakal bisa nemenin kamu melewatkan pergantian tahun,”

Aku sudah bisa menebak, Renita pasti anak pergi bersama Jay, kekasih barunya.

“Brian jadi ke Semarang kan Sya?”

“Mmm..ngga tahu deh Ren. Eh, aku langsung pulang ke kos aja ya Ren,”

Renita menatapku curiga. Tanpa banyak bicara ia meluncurkan mobilnya menuju kosku di daerah Tembalang.

***

“Jadi kan besok ke Semarang?”

“Aduh, sayang, bukannya aku nggak mau nonton recital itu bareng kamu, tapi kerjaanku numpuk. Minggu depan juga udah ujian semester,”

“Jadi?”

“Aku nggak berani janji. 99% aku nggak bisa,”

“Oke,”

Aku hempaskan badanku di atas kasur. Kamar 3×4 meter ini jadi terlihat semakin sempit saja. Fiuuh…apa yang harus kulakukan? Nggak mungkin aku menghabiskan malam tahun baru seorang diri di kamar kos sempit ini. Mau pulang kampung? Jarak Semarang-Jakarta itu nggak dekat. Lagian, di rumah, mama dan papa juga sibuk semua. Mau nyusul adik yang kuliah di Malang? Duh, aku nggak mau rusuh di kamar kosnya. Dia pasti juga sedang sibuk menyiapkan ujian semester.

“Hah? Brian nggak jadi ke Semarang? Seberapa sibuknyakah cowok kamu Sya?” Renita teriak-teriak di telepon saat aku bilang Brian meng-cancel rencananya main ke Semarang.

“Maklum lah Ren, tahun ini dia sibuk ngurus TA,”

“Terus rencanamu apa Sya?”

“Nyusul Brian ke Jogja!”

“Hah? Jahat banget sih kamu ke Jogja tanpa aku?”

“Lah, mau gimana lagi? Kamu kan sibuk sama pacar barumu,”

Renita kembali protes dengan rencanaku ke Jogja.

“Sebagai permintaan maafku, aku kasih dua tiket free nonton Recital pergantian tahun baru ya. Bisa kamu gunakan bareng Jay,”

“Hahh! Kamu gila ya Sya. Recital itu kan impianmu sejak bulan lalu? Aku cariin temen deh biar kamu bisa nonton,”

“Nggak Ren. Aku cuma mau ditemenin sama Brian tapi dianya nggak bisa. Santai aja lagi, itu tiket juga dikasih gratisan sama tanteku,”

“Tapi, lusa tanggal 1 Januari, kamu ultah Sya! Masa’ sih Brian tega banget sama kamu? Terus, kalau aku pengin kasih surprise ke kamu gimana?”

Renita selalu sibuk memikirkanku. Ah, sudahlah lebih baik aku sudahi saja percakapanku ini. Kepergianku ke Jogja bukan semata-mata rasa kangenku dengan Brian. Ini lebih kearah, mau berakhir dengan cara apa hubungan kami yang sudah semakin rumit ini. Sepanjang Desember ini Brian sepertinya mulai berubah. Mulai dari  sms yang jarang dibalas, telepon yang tak diangkat, bbm yang cuma di-read atau mensen twitter yang cuma dia retweet. Entahlah, aku yakin ada sesuatu di balik perubahan sikapnya.

“Oke, gue jemput di stasiun Tugu ya! See you soon in Jogja,” suara Abel melengking keras di handphoneku. Ah, itu anak memang belum berubah sejak SMA. Tiga tahun duduk satu meja dengannya sepertinya cukup bagiku untuk mengenal karakter Abel yang meledak-ledak dan serba spontan itu. Kami sahabat yang cukup dekat sejak SMA. Namun, nasib membawa kami di dua kota berbeda. Aku diterima di jurusan ilmu komunikasi di salah satu universitas negeri di Semarang, sedangakan Abel diterima di international relation di universitas negeri terbesar di kota Jogja.

Sekarang aku dalam perjalanan menuju Jogja. Di stasiun Tawang kota Semarang. Kukirim pesan singkat untuk Brian.

Hari ini aku ke Jogja. Semoga bisa bertemu disana.

Send.

Tiga jam perjalanan dari Semarang-Jogja membuat perutku sedikit kembung. Sepertinya aku mabuk darat. Stasiun Tugu memang tak pernah sepi. Aku tengok kanan dan kiri mencari sosok Abel. Namun tak ada sosok cewek bermata sipit itu. Aku putuskan untuk mampir sejenak di cafe sekitar stasiun.

Hot chocolate selalu bisa memperbaiki perasaan tak nyaman di perutku.

Hi, Asya, sorry for coming late. 5 menit lagi gue nyampe, tunggu ya!

Aku asyik mendengarkan 22-nya Taylor Swift saat Abel menepuk pundaku.

How’s your travel? First time ya ke Jogja,” suara cempereng Abel selalu ceria seperti biasa.

“Iya, first time pergi sama kamu. Lupa ya, aku kan pernah sekolah disini jaman SD dulu,” aku dan Abel tertawa.

“Yuk, langsung ke kosku aja atau mau main-main dulu?”

“Ajak aku ke kampusmu!”

Seharian Abel mengajakku keliling Jogja. Muter-muter di kampusnya yang super keren, makan gudeg Jogja di sekitaran UGM dan berburu cinderamata di Malioboro dan Kasongan.

“Jangan bilang lu kesini mau ketemu Brian,” selidik Abel sambil menyantap steak sapi lada hitam favoritnya.

“Kalau iya kenapa?”

“Yah gue kecewa..gue kan penginnya lu kesini cuma mau nemuin gue. Kalau gini caranya gue cuma jadi tempat transit lu doang nih,”

“Haha tenang aja kali Bel, aku juga kangen kamu kok,”

“Lu sama Brian baik-baik aja kan?”

Aku menggeleng. “Sepertinya kali ini aku mau bener-bener Tanya ke Brian apa yang membuatnya berubah akhir-akhir ini,”

Did you think, he has an affair?”

Maybe,”

“Terus?”

“Ya kalau masih bisa lanjut ya aku lanjutin, kalau enggak ya mau gimana lagi,”

“Sabar ya. Mungkin dia lagi sibuk aja Sya. Tau kan, dia kuliah di fakultas teknik yang terkenal sama kesibukannya. Gue aja suka ngeri liat temen kos gue yang jurusan teknik sipil, tiap hari pulang pagi, begadang di kampus buat ngelarin maket atau apa lah. Belum lagi kuliah dan tugas-tugas lagi,”

“Semoga aja begitu. Ironis banget nggak sih Bel? Disaat orang-orang mengawali tahun dengan sukacita kok aku malah sedih begini,”

“Udah lah Sya, daripada lu sedih gini mending nikmati aja liburan lu. nanti malam mau ikut nggak nonton festival lampion di Parangtritis? Kita tahun baruan disana,”

“Mm..sebelumnya aku mau ke kos Brian dulu ya Bel,”

“Mau gue temenin?”

Aku menggeleng. Jarak kosan Abel dan Brian hanya sepuluh menit dengan berjalan kaki karena terletak di komplek kampus. Tiba-tiba saja aku ingin bertemu dengan Brian. Smsku tadi pagi belum dia balas juga. Jika memang harus berakhir, aku harap hubungan kita bisa berakhir dengan baik.

Kosan berwarna hijau muda itu terlihat sepi. Sudah lebih dari lima kali aku main kesini tapi masih saja canggung jika harus masuk kosan cowok.

“Mba Asya!”

Aku menoleh. Ternyata Gilang, adik kos Brian yang kebetulan satu kamar dengannya. Sepertinya ia baru pulang dari membeli sesuatu.

“Cari mas Brian ya?”

Aku mengangguk. “Di kos nggak lang?”

“Nggak mbak. Barusan pergi, kira-kira sepuluh menit yang lalu. Akhir-akhir ini mas Gilang memang sibuk banget. Maklum mba, mahasiswa tingkat akhir,”

“Mari masuk dulu mbak,” ajak Gilang. “Kebetulan aku baru beli batagor nih, enak loh mba,”

Aku memasuki kamar Brian. Kamar ini masih sama dengan kamarnya satu tahun yang lalu. Terakhir aku menghabiskan waktu di kamar ini sambil menunggu Brian selesai kuliah. Selama 4 jam aku habiskan dengan bermain game.

“Mas Brian tuh orangnya rapi banget mbak, aku sampai nggak enak hati kalau pulang kuliah dan langsung rebahan di kasur. Mas Brian suka beres-beres soalnya,”

Kususuri sudut-sudut kamarnya. Meja belajarnya masih rapi seperti biasa, sesibuk apa pun dia. Fotoku? Mana fotoku yang biasa ia pajang di meja belajarnya? Hanya pigura kosong yamg tersisa. Dadaku langsung sesak. Mungkinkah ia sudah menemukan penggantiku? Secepat itu kah? Semudah itu kah?setelah basa-basi ala kadarnya dengan Gilang, aku segera pamit. Entah kenapa aku mulai enggam untuk bertemu Brian.

Sore ini Jogja mendung. Perayaan tahun baru nanti malam sepertinya akan ditemani rintik hujan dan udara dingin yang menusuk tulang. Apalagi jika Abel jadi mengajaku menonton festival Lampion di Parangtritis. Siap-siap saja membawa jaket dan sepatu.

Abel bersorak gembira saat aku bersedia ikut dengannya ke perayaan pergantian tahun di Parangtritis. Selepas Isya kita bersiap-siap menuju pantai paling terkenal di seantero Jogja ini.

“Tapi kita naik motor ya Sya! Nggak papa kan? Sorry banget nih kamu yang biasa naik mobil harus repot bonceng,” dengan tampang kurang enaknya Abel menyuruhku memakai helm.

“Tenang aja Bel, di Semarang kadang aku bonceng juga kok,”

“Terus, kabar Brian gimana Sya?”

“Aku lagi malas ngomongin Brian. Berangkat sekarang aja yuk!”

Abel mengangguk walau aku tahu ada seribu pertanyaan di benaknya mengenai hubunganku dengan Brian. Maaf Bel, kali ini aku tak berminat membahas hubungan ini dengan siapapun. Aku lebih suka membaginya dengan diamku.

Sama seperti Abel, Renita juga terus-menerus memantau kondisiku. Cewek blasteran Jawa-Manado itu tak henti-hentinya menelponku. Padahal aku tahu sekarang pasti ia tengah menikmati red velvet favoritnya di salah satu cafe elit di kota Atlas dan dilanjutkan dengan menonton recital di hall salah satu hotel ternama di Semarang.

Perjalanan dari kosan Abel menuju Parangtritis cukup memakan waktu. Aku sampai kedinginan diterpa angin Jogja.

Suasana pantai Parangtritis ramai sekali. Warga Jogja seperti tumpah ruah disini. Pasti mereka tidak mau melewatkan pergantian tahun hanya lewat televisi. Lampion-lampion cantik beraneka warna mulai disiapkan.

“Kamu mau satu? Kita bisa beli loh,” ajak Abel. Aku menggeleng.

Aku asyik mengamati sebuah lampion berwarna merah saat sekelompok pengunjung, yang kupikir mereka mahasiswa menghampiri Abel. Benar juga, mereka pasti teman-teman Abel. Sebelum berangkat tadi, Abel bilang hendak bertemu teman-teman kampusnya.

“Asya! Sini!” Abel memanggilku.

“Kenalin Sya temen-temen gue dari pecinta Alam,”

Abel memperkenalku dengan teman-temannya. Kebanyakan dari mereka adalah cowok. Abel memang tak berubah sejak SMA dulu, kawan laki-lakinya selalu lebih banyak dari kawan perempuannya.

“Sya, lu mau ikut nggak? Liat Bobby nyiapin lampionnya, kita mau merapat ke pantai nih, ikut yuk!”

Aku menggeleng.

“Ya udah deh Sya, enjoy your night ya. Kalau udah bosen nyusul kita aja. Oh iya, jangan pergi jauh-jauh!” ia pun segera berlari menyusul teman-temannya.

Aku hanya ingin menyendiri sejenak. Aku ingin mendinginkan hatiku yang sedikit panas ini. Diantara ratusan orang yang memadati Parangtritis, adakah salah satunya Brian? Atau malah ia tengah mengahbiskan malam tahun barunya bersama seseorang di tempat lain?

Rambut panjangku berdesir-desir tertiup angin malam. Ah, pantai, selalu saja indah walau di malam hari sekali pun.

“Sendirian?”

Aku mendongak. Kulihat cowok berkacamata ikut duduk di sebelahku.

“Boleh gabung?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Dari luar Jogja ya?”

“Kok tau?”

“Ya iya lah, hampir dua puluh tahun jadi anak Jogja, aku tahu mana warga asli, mana warga perantauan. Dari bau keringatnya ketahuan,” dia terkekeh. Aku mencoba tersenyum untuk menghormati leluconnya yang aku pikir nggak lucu.

“Kenalkan namaku Angin,” cowok itu mengajakku bersalaman.

“Asya,” balasku. Angin tersenyum kepadaku. Ia lalu merebahkan badannya diatas pasir.

“Baru putus ya?”

Aku terdiam.

“Heran, aku ndak pernah ngerti sama pemikiran cewek jaman sekarang. Ditanya baik-baik kok malah diam gitu,”

“Bukan urusan kamu kan?” balasku sengit.

“Sekarang jadi urusanku,”

“Kenapa?”

“Karena aku sudah duduk di dekatmu dan kita udah mengenal nama kita satu sama lain,”

Aku menegadah menatap langit Jogja. Gerimis kecil masih enggan pergi.

“Jatuh cinta itu memang mudah. Mudah banget malah. Tapi ya gitu, dua insan yang jatuh cinta terus mereka memutuskan untuk pacaran. Namanya juga pacaran, pasti banyak suka dan dukanya. Ketemu duka dikit, eh langsung putus. Yang cewek nyalahin cowoknya, kurang perhatian lah, nggak peka lah, punya selingkuhan lah. Nah, yang cowok juga nyalahin ceweknya, bilang kalau cerewet banget lah, suka ngatur lah. Yah, padahal sebuah hubungan itu harusnya saling melengkapi. Jangan asal tuduh, bicarakan berdua semua masalah yang ada. Have a relation is about to give. Kita nggak boleh menuntut diberi tapi teruslah berusaha untuk memberi,”

Angin menatapku. Matanya yang jenaka mencoba menggali lebih dalam kesedihanku.

“Bagaimana?” tanyanya. “Agak baikan sekarang?”

Aku masih terdiam. Mencoba mencerna kembali kata-katanya.

“Aku pamit ya. Apa pun masalah yang kamu punya dengan cowok kamu coba deh diselesaikan dengan baik. Have a nice new year eve!” seperti namanya, secepat kilat laki-laki itu menghilang dari pandanganku.

Relation is about to give. Jangan pernah menuntut untuk diberi, tetapi berusahalah untuk selalu memberi,” kalimat terakhir Angin kembali terngiang di telingaku.

“Asya!” Abel memanggilku. Tangannya melambai menyuruhku mendekat.

Aku berlari menuju bibir pantai.

“Cepat! Sebentar lagi lampionnya dilepas. Kita bakalan hitung mundur menuju 2014,”

Aku memegang lampion berwarna putih milik Abel.

“Pegang ya Sya! Aku yang bakal nyalain apinya,”

20..19..18..17..

“Sya, make a wish-mu di tahun 2014 yang pertama kali apa nih?”

16…15…14…

“Bisa sehat terus, lancar kuliah juga,”

13..12…

“Mau ketemu Brian nggak?”

Aku mengangguk

11…

“Aku kangen juga Bel sama dia,”

10…

“Sekarang aku sadar ternyata selama ini aku banyak menuntut perhatiannya tanpa pernah mau memberi lebih,”

9..8…7..

“Aku mau minta maaf Bel,”

6..5..4

“Gue kabulin sekarang ya Sya,”

3…2…

“Kita terbangin bareng ya,”

Suara itu..sepertinya aku mengenalnya.

1…

“Selamat ulang tahun my love, Anastasya Thamrin,”

Suara itu..aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya tangis yang pecah bersamaan dengan ledakan kembang api, tiupan terompet dan lampion-lampion yang terbang mengangkasa.

Brian mendekat ke arahku.

“Jangan nangis Sya, aku minta maaf banget udah cuekin kamu sebulan ini. Aku memang jahat ya Sya. Kamu boleh lakuin apa yang kamu mau. Aku siap,”

Aku terisak.

“Peluk aku,”

“Apapun alasan kamu, aku punya satu permintaan. Tolong, jangan pergi lagi,”

Aku merasakan pelukan Brian semakin kencang. Dari kejahuan, samar-samar kulihat Angin menerbangkan lampionnya. Lampion paling cantik diantara lampion lainnya. Ia tersenyum kepadaku. Belum sempat aku membalas senyumnya, kerumunan orang kembali menghilangkan sosoknya yang misterius.

“Sya, mau bantu aku?”

Aku melepaskan pelukanku. Brian mengusap air mata yang terlanjur membasahi pipiku.

“Terbangin lampion lagi yuk,”

Aku mengangguk.

Malam itu aku puas menerbangkan lampion-lampion bersama Brian. Entah kenapa lampion-lampion kita terlihat lebih terang dari lampion lainnya.

Abel berlari mendekatiku.

“Selamat ulang tahun Asya! Aku hadiahkan Parangtritis dan Brian untukmu. Surprise khusus dari aku featuring Brian!”

Aku peluk sahabat terbaiku itu. Kali ini, giliran Renita sibuk menghubungiku. Ah, Tuhan terima kasih sudah memberiku sahabat-sahabat terbaik.

“Brian!”

Laki-laki itu menoleh. “Kenapa Sya?”

“Aku baru sadar, ternyata malaikat bisa juga berwujud manusia,”

Ia tersenyum. Manis sekali. Kuacak rambut ikalnya.

“Dan aku juga baru sadar, bidadari surga ternyata ada juga di pantai Parangtritis,”

 selesai-

diikutkan dalam lomba #Nuliskilat @_PlotPoint dan @Bentangpustaka

 

 

 

Iklan
Diposkan pada Rumah Kata :)

Tokyo Tower

“Sinta! Ada telepon dari Maya. Cepat diangkat!” teriak ibu dari ruang keluarga.

Aku yang sedang asyik membaca komik Deetektif Conan lekas pura-pura tidur. Kudengar langkah kaki ibu menuju kamarku. Pintu kamar berdecit, ibu sepertinya tengah geleng-geleng kepala melihat tingkahku.

“Ibu nggak tahu apa yang terjadi antara kamu dengan Maya. Kamu nggak mungkin tidur saat ngemil cokelat Monggo,”

Ibu menarik gagang pintu dan kembali berbicara dengan Maya.

Ah, ibu memang tahu semua tentangku. Sebal, kutarik selimut strawberry shortcake favoritku.

“brak!”

Sebuah album meluncur manis dari balik selimutku. Di depannya ada fotoku dengan Maya. Ah, jika ingat Maya rasanya aku menyesal telah mengenalnya. Maya, yang katanya sahabat seumur hidupku begitu tega melupakan hari ulang tahunku. Ya, hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 15 dan Maya melupakannya. Ia malah asyik dengan teman-teman olimpiade fisikanya.

“Sinta, maaf ya hari ini aku nggak bisa nemenin jalan-jalan ke Mall. Aku ada pembahasan soal buat lomba minggu depan,”

Argh! Maya, kenapa kamu jadi sahabatku sih? Kenapa pula kamu harus cantik dan pintar? Maya, aku iri sama kamu!

***

Happy Birthday Sinta! Kamu marah ya sama Maya? Maafin Maya ya Sin soalnya Maya udah pura-pura lupa sama ultah Sinta. Kita kan sahabat Sin, jadi Maya nggak mungkin lupa hehe. Oh iya, tadi Maya izin nggak ikut latihan buat persiapan olimpiade. Sinta izin ke Bu Nani kalau mau beli kado ultah untuk sahabat Maya yang paling keren, namanya Sinta. Selamat ultah ya Sin. Semoga bahagia selalu. Maya kasih lego Tokyo tower soalnya Maya tahu Sinta pengen banget pergi ke Jepang. Maya doain semoga Sinta bisa kesana. Maya titip salam ya buat Shinichi Kudo.

Kututup album berwarna biru yang kini telah lusuh itu. Album kenanganku dengan Maya. Lima tahun sudah dia meninggalkanku menuju dunia abadinya. Maya meninggal sepulangnya ia membeli kado ultah untukku, lego Tokyo Tower dan sepasang sarung tangan berwarna baby pink, warna favoritku. Sarung tangan itu kini berada digenggamanku. Aku melangkah meninggalkan Narita International Airport. Akan kubawa ia untuk menikmati Tokyo tower bersamaku.

diikutkan dalam #FF2in1 nulisbuku

Diposkan pada Cerita Pendek, Rumah Kata :)

Untuk Melati

“Selamat pagi Melati! Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyakah?” sapa kumbang kepada sepucuk melati yang baru saja merekah di pagi hari. Melati yang cantik menguap lebar.

“Nyenyak sekali tuan kumbang. Pagi ini aku merasa segar,”

“Dan, seperti biasa kamu terlihat cantik,” kumbang menari-nari menggoda di atas Melati. Sungguh, aku sebal melihatnya. Kenapa kumbang begitu dekat dengan Melati? Dan kenapa Melati selalu terlihat cantik setiap hari?

“Angin, hei angin. Kesini sebentar,” pintaku pada Tuan Angin yang baru saja berhembus tepat di depanku.

“Ada apa kawan? Kau terlihat gelisah sekali,”

“Angin, kamu mengenal Melati?”

“Tentu saja. Seluruh penghuni taman ini mengenal si cantik Melati,”

“Bisakah kau membantuku? Berikan kabar apa saja mengenai dia,”

“Baiklah kawan. Sepertinya aku mengerti maksudmu,” Tuan Angin terkekeh demi melihat wajahku yang memerah.

Mulai saat itu, setiap Tuan Angin datang ia pasti membawa kabar tentang Melati. Tentang dirinya yang bertambah cantik dari hari ke hari. Tentang Melati yang selalu mewangi.

“Dan sepertinya kumbang menyukai Melati. Setiap hari ia pasti hinggap di sekitaran Melati,”

“Apa yang kumbang lakukan?”

“Tentu saja menggodanya,” jawab Tuan Angin. Ia menatapku penuh simpati.

“Katakan saja, kalau kamu menyukai Melati juga,” perkataan Tuan Angin sontak membuat wajahku kembali memerah. Aku malu.

“Jika kamu mau, akan kusampaikan salam darimu untuknya,”

Aku menggeleng cepat. Tidak, aku tak seberani itu untuk bilang kepada gadis secantik melati.

“Mungkin kamu memang harus berfikir ulang, kawan. Esok hari aku akan kembali dan menawari hal yang sama. Semoga engkau berubah pikiran, kawan. Ya, selagi kesempatan itu masih ada,” Tuan Angin menatapku dengan tatapan bijaknya. Lantas ia pergi berhembus menuju utara.

Aku termenung dalam diam. Rintik-rintik hujan kembali membasahi taman ini. Aku teringat Melati, pasti ia kedinginan. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Disini tempatku ini aku juga meringkuk kesepian.

Esoknya, aku terbangun dengan perasaan tak karuan. Aku rindu Melati. Aku ingin berkenalan dengannya. Hari itu, kutunggu Tuan Angin datang. Namun, hingga berhari-hari ia tak berhembus ke tempatku juga. Ah, padahal sudah kusiapkan kata-kata indah untuk Melati. Biar Tuan Angin saja yang menyampaikannya.

Hingga akhirnya kudengar dari Nona kupu-kupu yang kebetulan terbang diatasku, hari itu Melati telah tiada. Dipetik oleh seorang pengantin muda tadi pagi.

Aku si rumput teki hanya bisa menangis sedih.

Diikutkan dalam #FF2in1 Nulis Buku

Diposkan pada Rumah Kata :)

Anonymous

“Gue capek jadi anonymous!!” teriaknya kesal. Matanya yang sipit memandang ke arahku.

“Gue capek nge-stalk facebooknya, timeline twitter, postingan tumblrnya! Iya, gue capek sebagai orang yang ada tapi tak pernah dianggap ada!”

“Itu kan salahmu sendiri. Kenapa kamu tak sebut saja namamu di kolom komentar?”

“Kenapa yang koment statusnya selalu cewek-cewek manis yang rata-rata kagum sama tulisannya?”

“Ya sudah sih, kamu juga kagum kan sama tulisan dia? Tinggal komen aja kok repot,”

“Nggak segampang itu buat nulis komentar. Gue nggak ada nyali buat kenalan sama dia,”

“Cupu banget sih! Kamu kan kenalan lewat media digital, nggak ketemu langsung,”

“Tapi, selama ini gue amati, cewek-cewek yang komen ke status atau twit dia cantik-cantik semua,”

“Kamu takut dianggap kurang cantik? Gampang, kan sekarang jamannya kamera 360. Kamu self-photo aja, terus edit pakai fitur sexy-lips, dijamin kulit kamu jadi putih bersinar dengan bibir merah merona, pasang jadi profil picture,”

“Hmm..kalau gue komen terus tanggapan dia ke gue negatif gimana?”

“Lah, kamu kan belum coba buat komen. Lagian kalau cuma nyapa, mana mungkin sih dia yang kata kamu baik itu bakalan berfikir yang aneh-aneh?”

“Hei! Lihat dia online. Ya, chatnya nyala ijo. Aduh, apa yang harus gue lakuin nih?”

“Bodoh! Ini kan yang selama 3 jam kamu tunggu-tunggu. Kamu rela nggak pergi sama Naya ke toko buku cuma buat nungguin dia online,”

“Terus, gue harus ngapain?”

“Ajak chatting lah,”

“Caranya gimana?”

“Kasih salam, terus bilang aja kalau kamu mengagumi karya-karyanya,”

“Gue coba ya,”

Aku mengamati mimik wajahnya yang sedang asyik merangkai kata.

“Sudah?”

“Sudah!”

“Coba kamu klik enter,”

“Hmm..jadi kirim nggak ya?”

“Kelamaan!”

“Aku like statusnya dulu aja deh,”

“Payah,”

“Oh iya kalau dia online pasti twitter dan tumblrnya update juga,”

“Pasti mau nge-stalk lagi,”

“Gue retweet ah…wah postingan tumblrnya gue like juga,”

“Coba deh, kamu sapa dia lewat fan mail di tumblr. Aplikasi itu kayaknya cocok buat kamu,”

“Oke, aku coba ya,”

Kulihat kamu kembali sibuk mengetik sesuatu

Hai kak, salam kenal ya! 🙂

From anonymous

“Gue ubah aja from anonymous,”

“Tuh kan, apa yang gue pikirin terjadi juga,”

“Hei lihat! Dia balas fan mail gue,”

Hai,

Gimana mau kenalan kalau kamu pakai mode anonymous

Kulihat matamu berkaca-kaca dan bisa kutebak, kamu tekan tombol close di tubuhku, mencabut modem dan menutup tubuhku secepat kilat.

Aku tahu rasanya jadi anonymous, karena itulah yang aku rasakan kepadamu juga.

 

end-

sakit ya jadi anonymous :’) tiba-tiba pengin nulis tentang anonym, mungkin gara-gara saya terlalu lama menjadi anonym bagi seseorang 😀

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Barakallah untuk Mas’ul Baru KSIK 2014

“Des, amanah itu nggak pernah salah milih pundak,”

Hari ini adalah hari special bagi saya dan teman-teman saya yang tergabung dalam kelompok studi islam ilmu keperawatan (KSIK) PSIK FK UNDIP. Kenapa? Ya, karena hari ini diadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan) KSIK. Acaranya yaitu laporan pertanggungjawaban, sidang komisi dan pemilihan mas’ul/mas’uliyah.

Hari ini saya ada 3 agenda yang semuanya penting dan ingin sekali saya ikuti. Selain harus menghadiri RAT, saya juga ada acara seminar kerelawanan dari dompet dhuafa dan rapah BPH Fosimmik. Dua acara, yakni RAT dan seminar kerelawanan tersebut mulai di jam yang sama. Saya sungguh dilemma sekali. Mau datang yang mana dulu nih? Sama-sama mulai jam 8 dan sama-sama berakhir sekitar habis ashar (RAT selesai sekitar isya). Akhirnya setelah menimbang dan meninjau, saya memutuskan untuk menghadiri seminar kerelawanan sampai dhuhur. Ba’da dhuhur saya menghadiri rapat BPH Fosimmik sampai ashar, dan bakda ashar saya langsung bergabung mengikuti RAT.

Sebelum masuk ke ruangan RAT, saya merasa tidak enak dengan kawan-kawan saya yang sudah berangkat dari pagi. Duh, rasanya mau masuk aja nggak enak hati. Tapi, saya kemudian berfikir, jika saya nggak datang malah lebih parah lagi, rasa bersalahnya jadi meningkat dua kali lipat kayaknya! Setelah mengalami pergolakan batin (plus dibujuk sahabat-sahabat saya), saya memutuskan untuk datang RAT. Kedatangan saya tepat sekali dengan acara pemilihan mas’ul. Alhamdulillah terbebas dari kandidat hehe. Kandidat mas’ul dan mas’uliyah adalah teman-teman saya sendiri satu angkatan, yaitu kadept riset saya, Hantiantoro, sekum kepengurusan sebelumnya, Fida’ Husain, dan  kadept HRD, Erisca. Ketiganya keren, pinter dan jiwa kepemimpinannya nggak diragukan lagi. Toro jago banget nulis karya ilmiah. Husain, expert soal desain grafis dan Erisca, otaknya encer sekali. Setelah musyawarah yang cukup alot, akhirnya diputuskan jika pemimpin KSIK yang baru adalah….

Eng..ing..eng…

Hantiantoro

Hore! Alhamdulillah pak Kadept saya jadi mas’ul. Alhamdulillah KSIK, mas’ulnya ikhwan (8 kepengurusan sebelumnya, yang jadi mas’ul akhwat terus). Barrakallah Toro. Semoga bisa mengayomi KSIK agar bisa lebih berprestasi lagi. Benar kata Atun di awal, jika amanah tak pernah salah memilih pundak. Semoga Toro bisa mengemban amanah dengan baik. aamiiin ya Rabb 🙂

KSIK, ibadah kuat, aksi hebat, IP Empat! Allahuakbar!

Ps: untuk Husain dan Toro dan kawan-kawan semua. Maaf jika saya datangnya telat, bukan maksud hati kabur dari pencalonan, tapi memang agenda saya yang nggak bisa ditinggalkan ^^

ksik 2

hayooo, cari yang namanya Toro yang mana? 😀

kasih kode: yang posisinya paling ‘siap’ diantara 4 cowok yang duduk di sisi kanan 🙂

picture captured by: Rizky Asriningati (Kiki)

Diposkan pada Rumah Kata :)

Senja Kala Itu…

kereta api senja

Aku tak tahu kenapa saat senja datang memori otak ku langsung membawa potongan-potongan kisahku denganmu. Senja pernah membawa kita ke tepian serayu. Berdua, menatap gerbong-gerbong kereta yang melaju diatas jembatan menuju Jogja. Atau saat gerimis kecil di pelataran Sriwedari. Kita memang selalu punya waktu berdua. Tapi, entah kenapa aku tak selalu bisa menjadi diriku sendiri jika berada di dekatmu. Aku, yang kata orang suka cengengesan, tak berkutik jika melihat senyummu, yang entah kenapa bagiku adalah candu. Aku, yang katanya perempuan paling anti laki-laki, di depanmu menjadi sosok yang paling membutuhkan kehadiran kaummu.

Kesal aku dengan diriku. Kenapa aku hanya bisa diam? Malu-malu? Iya, ibu bilang belum saatnya. Aku masih terlalu muda untuk memulainya. Kamu hanyalah salah seorang.

Sore ini, aku kembali melihat serayu. Tentu saja, bersama senja yang membelah cakrawala. Aku baru saja mendapat kabar jika kapalmu telah merapat di Busan. Kamu mengirim email kepadaku, bertanya, oleh-oleh apa yang ingin aku dapat darimu.

“Hatimu saja. Itu lebih dari cukup,”

Aku urung menekan tombol send. Kulempar pandanganku keluar jendela. Senja perlahan menghilang meninggalkan rasa aneh yang terus menerus menyesakan dada.

“Dua jam lagi kita akan tiba di stasiun Tugu. Disana akan ada ayah dan ibuku yang akan menjemput kita. Mereka tak sabar ingin bertemu denganmu, tersenyumlah!”

Laki-laki berkacamata mengenggam tanganku. Dari bibirnya tersungging senyum penuh cinta.

Sekarang senja benar-benar telah menghilang. Malam mulai menyapa disertai kumandang azan maghrib di surau pinggiran desa.

“Senjanya sudah habis,” bisik lelaki itu.

Aku mengangguk. Kupejamkan kedua mataku. Aku tahu, meskipun jauh, bisa kurasakan kehadiranmu disini. Meskipun diriku telah terikat, namun bagiku, hatiku masih bebas berkelana selama senja masih ada. Selama masih ada dirimu. Selama memori otak ku masih bisa membawa kita menikmati senja di tepian Serayu.

Teruntuk Desember, yang entah berapa senja lagi aku bisa menggenggam hatimu.