Posted in Rumah Kata :)

Senja Kala Itu…

kereta api senja

Aku tak tahu kenapa saat senja datang memori otak ku langsung membawa potongan-potongan kisahku denganmu. Senja pernah membawa kita ke tepian serayu. Berdua, menatap gerbong-gerbong kereta yang melaju diatas jembatan menuju Jogja. Atau saat gerimis kecil di pelataran Sriwedari. Kita memang selalu punya waktu berdua. Tapi, entah kenapa aku tak selalu bisa menjadi diriku sendiri jika berada di dekatmu. Aku, yang kata orang suka cengengesan, tak berkutik jika melihat senyummu, yang entah kenapa bagiku adalah candu. Aku, yang katanya perempuan paling anti laki-laki, di depanmu menjadi sosok yang paling membutuhkan kehadiran kaummu.

Kesal aku dengan diriku. Kenapa aku hanya bisa diam? Malu-malu? Iya, ibu bilang belum saatnya. Aku masih terlalu muda untuk memulainya. Kamu hanyalah salah seorang.

Sore ini, aku kembali melihat serayu. Tentu saja, bersama senja yang membelah cakrawala. Aku baru saja mendapat kabar jika kapalmu telah merapat di Busan. Kamu mengirim email kepadaku, bertanya, oleh-oleh apa yang ingin aku dapat darimu.

“Hatimu saja. Itu lebih dari cukup,”

Aku urung menekan tombol send. Kulempar pandanganku keluar jendela. Senja perlahan menghilang meninggalkan rasa aneh yang terus menerus menyesakan dada.

“Dua jam lagi kita akan tiba di stasiun Tugu. Disana akan ada ayah dan ibuku yang akan menjemput kita. Mereka tak sabar ingin bertemu denganmu, tersenyumlah!”

Laki-laki berkacamata mengenggam tanganku. Dari bibirnya tersungging senyum penuh cinta.

Sekarang senja benar-benar telah menghilang. Malam mulai menyapa disertai kumandang azan maghrib di surau pinggiran desa.

“Senjanya sudah habis,” bisik lelaki itu.

Aku mengangguk. Kupejamkan kedua mataku. Aku tahu, meskipun jauh, bisa kurasakan kehadiranmu disini. Meskipun diriku telah terikat, namun bagiku, hatiku masih bebas berkelana selama senja masih ada. Selama masih ada dirimu. Selama memori otak ku masih bisa membawa kita menikmati senja di tepian Serayu.

Teruntuk Desember, yang entah berapa senja lagi aku bisa menggenggam hatimu.

Penulis:

Sedang mencari kamu

8 thoughts on “Senja Kala Itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s