Posted in Cerita Pendek, Rumah Kata :)

Untuk Melati

“Selamat pagi Melati! Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyakah?” sapa kumbang kepada sepucuk melati yang baru saja merekah di pagi hari. Melati yang cantik menguap lebar.

“Nyenyak sekali tuan kumbang. Pagi ini aku merasa segar,”

“Dan, seperti biasa kamu terlihat cantik,” kumbang menari-nari menggoda di atas Melati. Sungguh, aku sebal melihatnya. Kenapa kumbang begitu dekat dengan Melati? Dan kenapa Melati selalu terlihat cantik setiap hari?

“Angin, hei angin. Kesini sebentar,” pintaku pada Tuan Angin yang baru saja berhembus tepat di depanku.

“Ada apa kawan? Kau terlihat gelisah sekali,”

“Angin, kamu mengenal Melati?”

“Tentu saja. Seluruh penghuni taman ini mengenal si cantik Melati,”

“Bisakah kau membantuku? Berikan kabar apa saja mengenai dia,”

“Baiklah kawan. Sepertinya aku mengerti maksudmu,” Tuan Angin terkekeh demi melihat wajahku yang memerah.

Mulai saat itu, setiap Tuan Angin datang ia pasti membawa kabar tentang Melati. Tentang dirinya yang bertambah cantik dari hari ke hari. Tentang Melati yang selalu mewangi.

“Dan sepertinya kumbang menyukai Melati. Setiap hari ia pasti hinggap di sekitaran Melati,”

“Apa yang kumbang lakukan?”

“Tentu saja menggodanya,” jawab Tuan Angin. Ia menatapku penuh simpati.

“Katakan saja, kalau kamu menyukai Melati juga,” perkataan Tuan Angin sontak membuat wajahku kembali memerah. Aku malu.

“Jika kamu mau, akan kusampaikan salam darimu untuknya,”

Aku menggeleng cepat. Tidak, aku tak seberani itu untuk bilang kepada gadis secantik melati.

“Mungkin kamu memang harus berfikir ulang, kawan. Esok hari aku akan kembali dan menawari hal yang sama. Semoga engkau berubah pikiran, kawan. Ya, selagi kesempatan itu masih ada,” Tuan Angin menatapku dengan tatapan bijaknya. Lantas ia pergi berhembus menuju utara.

Aku termenung dalam diam. Rintik-rintik hujan kembali membasahi taman ini. Aku teringat Melati, pasti ia kedinginan. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Disini tempatku ini aku juga meringkuk kesepian.

Esoknya, aku terbangun dengan perasaan tak karuan. Aku rindu Melati. Aku ingin berkenalan dengannya. Hari itu, kutunggu Tuan Angin datang. Namun, hingga berhari-hari ia tak berhembus ke tempatku juga. Ah, padahal sudah kusiapkan kata-kata indah untuk Melati. Biar Tuan Angin saja yang menyampaikannya.

Hingga akhirnya kudengar dari Nona kupu-kupu yang kebetulan terbang diatasku, hari itu Melati telah tiada. Dipetik oleh seorang pengantin muda tadi pagi.

Aku si rumput teki hanya bisa menangis sedih.

Diikutkan dalam #FF2in1 Nulis Buku

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s