Posted in Cerita Pendek

Lampion Cinta di Kota Jogja

Hujan mengguyur Semarang sejak satu minggu yang lalu. Aku menatap lamat-lamat jalanan di sepanjang Simpang Lima. Masih seperti satu jam yang lalu, hujan belum juga reda.

“Bentar lagi pasti macet, pulang yuk!” ajak Renita. Secepat kilat ia menghabiskan cappuccino late-nya.

“Udah jam empat sore nih,” tambahnya.

Aku melangkah menuju kasir dan membayar semua bon pesanan kami. Hari ini aku berjanji menraktir Renita.

“Makasih ya Sya untuk traktirannya. Sering-sering aja tuh tulisanmu di muat lagi di majalah, kan aku juga yang seneng,”

“Doain aja deh Ren, tahun depan masih suka nulis dan nggak kehilangan inspirasi,”

“Pasti dong! Apa sih yang nggak buat my truly bestfriend Anastasya Tamrin,”

Renita mengambil kunci mobil dari tas Buccherinya.

Pip! pip!

Kami masuk ke dalam Honda jazz putih kesayangan sahabatku ini.

“Sya, malem tahun baru besok udah ada rencana kemana gitu belum?”

“Kenapa?”

“Ya, Tanya aja Sya soalnya aku kayaknya nggak bakal bisa nemenin kamu melewatkan pergantian tahun,”

Aku sudah bisa menebak, Renita pasti anak pergi bersama Jay, kekasih barunya.

“Brian jadi ke Semarang kan Sya?”

“Mmm..ngga tahu deh Ren. Eh, aku langsung pulang ke kos aja ya Ren,”

Renita menatapku curiga. Tanpa banyak bicara ia meluncurkan mobilnya menuju kosku di daerah Tembalang.

***

“Jadi kan besok ke Semarang?”

“Aduh, sayang, bukannya aku nggak mau nonton recital itu bareng kamu, tapi kerjaanku numpuk. Minggu depan juga udah ujian semester,”

“Jadi?”

“Aku nggak berani janji. 99% aku nggak bisa,”

“Oke,”

Aku hempaskan badanku di atas kasur. Kamar 3×4 meter ini jadi terlihat semakin sempit saja. Fiuuh…apa yang harus kulakukan? Nggak mungkin aku menghabiskan malam tahun baru seorang diri di kamar kos sempit ini. Mau pulang kampung? Jarak Semarang-Jakarta itu nggak dekat. Lagian, di rumah, mama dan papa juga sibuk semua. Mau nyusul adik yang kuliah di Malang? Duh, aku nggak mau rusuh di kamar kosnya. Dia pasti juga sedang sibuk menyiapkan ujian semester.

“Hah? Brian nggak jadi ke Semarang? Seberapa sibuknyakah cowok kamu Sya?” Renita teriak-teriak di telepon saat aku bilang Brian meng-cancel rencananya main ke Semarang.

“Maklum lah Ren, tahun ini dia sibuk ngurus TA,”

“Terus rencanamu apa Sya?”

“Nyusul Brian ke Jogja!”

“Hah? Jahat banget sih kamu ke Jogja tanpa aku?”

“Lah, mau gimana lagi? Kamu kan sibuk sama pacar barumu,”

Renita kembali protes dengan rencanaku ke Jogja.

“Sebagai permintaan maafku, aku kasih dua tiket free nonton Recital pergantian tahun baru ya. Bisa kamu gunakan bareng Jay,”

“Hahh! Kamu gila ya Sya. Recital itu kan impianmu sejak bulan lalu? Aku cariin temen deh biar kamu bisa nonton,”

“Nggak Ren. Aku cuma mau ditemenin sama Brian tapi dianya nggak bisa. Santai aja lagi, itu tiket juga dikasih gratisan sama tanteku,”

“Tapi, lusa tanggal 1 Januari, kamu ultah Sya! Masa’ sih Brian tega banget sama kamu? Terus, kalau aku pengin kasih surprise ke kamu gimana?”

Renita selalu sibuk memikirkanku. Ah, sudahlah lebih baik aku sudahi saja percakapanku ini. Kepergianku ke Jogja bukan semata-mata rasa kangenku dengan Brian. Ini lebih kearah, mau berakhir dengan cara apa hubungan kami yang sudah semakin rumit ini. Sepanjang Desember ini Brian sepertinya mulai berubah. Mulai dari  sms yang jarang dibalas, telepon yang tak diangkat, bbm yang cuma di-read atau mensen twitter yang cuma dia retweet. Entahlah, aku yakin ada sesuatu di balik perubahan sikapnya.

“Oke, gue jemput di stasiun Tugu ya! See you soon in Jogja,” suara Abel melengking keras di handphoneku. Ah, itu anak memang belum berubah sejak SMA. Tiga tahun duduk satu meja dengannya sepertinya cukup bagiku untuk mengenal karakter Abel yang meledak-ledak dan serba spontan itu. Kami sahabat yang cukup dekat sejak SMA. Namun, nasib membawa kami di dua kota berbeda. Aku diterima di jurusan ilmu komunikasi di salah satu universitas negeri di Semarang, sedangakan Abel diterima di international relation di universitas negeri terbesar di kota Jogja.

Sekarang aku dalam perjalanan menuju Jogja. Di stasiun Tawang kota Semarang. Kukirim pesan singkat untuk Brian.

Hari ini aku ke Jogja. Semoga bisa bertemu disana.

Send.

Tiga jam perjalanan dari Semarang-Jogja membuat perutku sedikit kembung. Sepertinya aku mabuk darat. Stasiun Tugu memang tak pernah sepi. Aku tengok kanan dan kiri mencari sosok Abel. Namun tak ada sosok cewek bermata sipit itu. Aku putuskan untuk mampir sejenak di cafe sekitar stasiun.

Hot chocolate selalu bisa memperbaiki perasaan tak nyaman di perutku.

Hi, Asya, sorry for coming late. 5 menit lagi gue nyampe, tunggu ya!

Aku asyik mendengarkan 22-nya Taylor Swift saat Abel menepuk pundaku.

How’s your travel? First time ya ke Jogja,” suara cempereng Abel selalu ceria seperti biasa.

“Iya, first time pergi sama kamu. Lupa ya, aku kan pernah sekolah disini jaman SD dulu,” aku dan Abel tertawa.

“Yuk, langsung ke kosku aja atau mau main-main dulu?”

“Ajak aku ke kampusmu!”

Seharian Abel mengajakku keliling Jogja. Muter-muter di kampusnya yang super keren, makan gudeg Jogja di sekitaran UGM dan berburu cinderamata di Malioboro dan Kasongan.

“Jangan bilang lu kesini mau ketemu Brian,” selidik Abel sambil menyantap steak sapi lada hitam favoritnya.

“Kalau iya kenapa?”

“Yah gue kecewa..gue kan penginnya lu kesini cuma mau nemuin gue. Kalau gini caranya gue cuma jadi tempat transit lu doang nih,”

“Haha tenang aja kali Bel, aku juga kangen kamu kok,”

“Lu sama Brian baik-baik aja kan?”

Aku menggeleng. “Sepertinya kali ini aku mau bener-bener Tanya ke Brian apa yang membuatnya berubah akhir-akhir ini,”

Did you think, he has an affair?”

Maybe,”

“Terus?”

“Ya kalau masih bisa lanjut ya aku lanjutin, kalau enggak ya mau gimana lagi,”

“Sabar ya. Mungkin dia lagi sibuk aja Sya. Tau kan, dia kuliah di fakultas teknik yang terkenal sama kesibukannya. Gue aja suka ngeri liat temen kos gue yang jurusan teknik sipil, tiap hari pulang pagi, begadang di kampus buat ngelarin maket atau apa lah. Belum lagi kuliah dan tugas-tugas lagi,”

“Semoga aja begitu. Ironis banget nggak sih Bel? Disaat orang-orang mengawali tahun dengan sukacita kok aku malah sedih begini,”

“Udah lah Sya, daripada lu sedih gini mending nikmati aja liburan lu. nanti malam mau ikut nggak nonton festival lampion di Parangtritis? Kita tahun baruan disana,”

“Mm..sebelumnya aku mau ke kos Brian dulu ya Bel,”

“Mau gue temenin?”

Aku menggeleng. Jarak kosan Abel dan Brian hanya sepuluh menit dengan berjalan kaki karena terletak di komplek kampus. Tiba-tiba saja aku ingin bertemu dengan Brian. Smsku tadi pagi belum dia balas juga. Jika memang harus berakhir, aku harap hubungan kita bisa berakhir dengan baik.

Kosan berwarna hijau muda itu terlihat sepi. Sudah lebih dari lima kali aku main kesini tapi masih saja canggung jika harus masuk kosan cowok.

“Mba Asya!”

Aku menoleh. Ternyata Gilang, adik kos Brian yang kebetulan satu kamar dengannya. Sepertinya ia baru pulang dari membeli sesuatu.

“Cari mas Brian ya?”

Aku mengangguk. “Di kos nggak lang?”

“Nggak mbak. Barusan pergi, kira-kira sepuluh menit yang lalu. Akhir-akhir ini mas Gilang memang sibuk banget. Maklum mba, mahasiswa tingkat akhir,”

“Mari masuk dulu mbak,” ajak Gilang. “Kebetulan aku baru beli batagor nih, enak loh mba,”

Aku memasuki kamar Brian. Kamar ini masih sama dengan kamarnya satu tahun yang lalu. Terakhir aku menghabiskan waktu di kamar ini sambil menunggu Brian selesai kuliah. Selama 4 jam aku habiskan dengan bermain game.

“Mas Brian tuh orangnya rapi banget mbak, aku sampai nggak enak hati kalau pulang kuliah dan langsung rebahan di kasur. Mas Brian suka beres-beres soalnya,”

Kususuri sudut-sudut kamarnya. Meja belajarnya masih rapi seperti biasa, sesibuk apa pun dia. Fotoku? Mana fotoku yang biasa ia pajang di meja belajarnya? Hanya pigura kosong yamg tersisa. Dadaku langsung sesak. Mungkinkah ia sudah menemukan penggantiku? Secepat itu kah? Semudah itu kah?setelah basa-basi ala kadarnya dengan Gilang, aku segera pamit. Entah kenapa aku mulai enggam untuk bertemu Brian.

Sore ini Jogja mendung. Perayaan tahun baru nanti malam sepertinya akan ditemani rintik hujan dan udara dingin yang menusuk tulang. Apalagi jika Abel jadi mengajaku menonton festival Lampion di Parangtritis. Siap-siap saja membawa jaket dan sepatu.

Abel bersorak gembira saat aku bersedia ikut dengannya ke perayaan pergantian tahun di Parangtritis. Selepas Isya kita bersiap-siap menuju pantai paling terkenal di seantero Jogja ini.

“Tapi kita naik motor ya Sya! Nggak papa kan? Sorry banget nih kamu yang biasa naik mobil harus repot bonceng,” dengan tampang kurang enaknya Abel menyuruhku memakai helm.

“Tenang aja Bel, di Semarang kadang aku bonceng juga kok,”

“Terus, kabar Brian gimana Sya?”

“Aku lagi malas ngomongin Brian. Berangkat sekarang aja yuk!”

Abel mengangguk walau aku tahu ada seribu pertanyaan di benaknya mengenai hubunganku dengan Brian. Maaf Bel, kali ini aku tak berminat membahas hubungan ini dengan siapapun. Aku lebih suka membaginya dengan diamku.

Sama seperti Abel, Renita juga terus-menerus memantau kondisiku. Cewek blasteran Jawa-Manado itu tak henti-hentinya menelponku. Padahal aku tahu sekarang pasti ia tengah menikmati red velvet favoritnya di salah satu cafe elit di kota Atlas dan dilanjutkan dengan menonton recital di hall salah satu hotel ternama di Semarang.

Perjalanan dari kosan Abel menuju Parangtritis cukup memakan waktu. Aku sampai kedinginan diterpa angin Jogja.

Suasana pantai Parangtritis ramai sekali. Warga Jogja seperti tumpah ruah disini. Pasti mereka tidak mau melewatkan pergantian tahun hanya lewat televisi. Lampion-lampion cantik beraneka warna mulai disiapkan.

“Kamu mau satu? Kita bisa beli loh,” ajak Abel. Aku menggeleng.

Aku asyik mengamati sebuah lampion berwarna merah saat sekelompok pengunjung, yang kupikir mereka mahasiswa menghampiri Abel. Benar juga, mereka pasti teman-teman Abel. Sebelum berangkat tadi, Abel bilang hendak bertemu teman-teman kampusnya.

“Asya! Sini!” Abel memanggilku.

“Kenalin Sya temen-temen gue dari pecinta Alam,”

Abel memperkenalku dengan teman-temannya. Kebanyakan dari mereka adalah cowok. Abel memang tak berubah sejak SMA dulu, kawan laki-lakinya selalu lebih banyak dari kawan perempuannya.

“Sya, lu mau ikut nggak? Liat Bobby nyiapin lampionnya, kita mau merapat ke pantai nih, ikut yuk!”

Aku menggeleng.

“Ya udah deh Sya, enjoy your night ya. Kalau udah bosen nyusul kita aja. Oh iya, jangan pergi jauh-jauh!” ia pun segera berlari menyusul teman-temannya.

Aku hanya ingin menyendiri sejenak. Aku ingin mendinginkan hatiku yang sedikit panas ini. Diantara ratusan orang yang memadati Parangtritis, adakah salah satunya Brian? Atau malah ia tengah mengahbiskan malam tahun barunya bersama seseorang di tempat lain?

Rambut panjangku berdesir-desir tertiup angin malam. Ah, pantai, selalu saja indah walau di malam hari sekali pun.

“Sendirian?”

Aku mendongak. Kulihat cowok berkacamata ikut duduk di sebelahku.

“Boleh gabung?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Dari luar Jogja ya?”

“Kok tau?”

“Ya iya lah, hampir dua puluh tahun jadi anak Jogja, aku tahu mana warga asli, mana warga perantauan. Dari bau keringatnya ketahuan,” dia terkekeh. Aku mencoba tersenyum untuk menghormati leluconnya yang aku pikir nggak lucu.

“Kenalkan namaku Angin,” cowok itu mengajakku bersalaman.

“Asya,” balasku. Angin tersenyum kepadaku. Ia lalu merebahkan badannya diatas pasir.

“Baru putus ya?”

Aku terdiam.

“Heran, aku ndak pernah ngerti sama pemikiran cewek jaman sekarang. Ditanya baik-baik kok malah diam gitu,”

“Bukan urusan kamu kan?” balasku sengit.

“Sekarang jadi urusanku,”

“Kenapa?”

“Karena aku sudah duduk di dekatmu dan kita udah mengenal nama kita satu sama lain,”

Aku menegadah menatap langit Jogja. Gerimis kecil masih enggan pergi.

“Jatuh cinta itu memang mudah. Mudah banget malah. Tapi ya gitu, dua insan yang jatuh cinta terus mereka memutuskan untuk pacaran. Namanya juga pacaran, pasti banyak suka dan dukanya. Ketemu duka dikit, eh langsung putus. Yang cewek nyalahin cowoknya, kurang perhatian lah, nggak peka lah, punya selingkuhan lah. Nah, yang cowok juga nyalahin ceweknya, bilang kalau cerewet banget lah, suka ngatur lah. Yah, padahal sebuah hubungan itu harusnya saling melengkapi. Jangan asal tuduh, bicarakan berdua semua masalah yang ada. Have a relation is about to give. Kita nggak boleh menuntut diberi tapi teruslah berusaha untuk memberi,”

Angin menatapku. Matanya yang jenaka mencoba menggali lebih dalam kesedihanku.

“Bagaimana?” tanyanya. “Agak baikan sekarang?”

Aku masih terdiam. Mencoba mencerna kembali kata-katanya.

“Aku pamit ya. Apa pun masalah yang kamu punya dengan cowok kamu coba deh diselesaikan dengan baik. Have a nice new year eve!” seperti namanya, secepat kilat laki-laki itu menghilang dari pandanganku.

Relation is about to give. Jangan pernah menuntut untuk diberi, tetapi berusahalah untuk selalu memberi,” kalimat terakhir Angin kembali terngiang di telingaku.

“Asya!” Abel memanggilku. Tangannya melambai menyuruhku mendekat.

Aku berlari menuju bibir pantai.

“Cepat! Sebentar lagi lampionnya dilepas. Kita bakalan hitung mundur menuju 2014,”

Aku memegang lampion berwarna putih milik Abel.

“Pegang ya Sya! Aku yang bakal nyalain apinya,”

20..19..18..17..

“Sya, make a wish-mu di tahun 2014 yang pertama kali apa nih?”

16…15…14…

“Bisa sehat terus, lancar kuliah juga,”

13..12…

“Mau ketemu Brian nggak?”

Aku mengangguk

11…

“Aku kangen juga Bel sama dia,”

10…

“Sekarang aku sadar ternyata selama ini aku banyak menuntut perhatiannya tanpa pernah mau memberi lebih,”

9..8…7..

“Aku mau minta maaf Bel,”

6..5..4

“Gue kabulin sekarang ya Sya,”

3…2…

“Kita terbangin bareng ya,”

Suara itu..sepertinya aku mengenalnya.

1…

“Selamat ulang tahun my love, Anastasya Thamrin,”

Suara itu..aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya tangis yang pecah bersamaan dengan ledakan kembang api, tiupan terompet dan lampion-lampion yang terbang mengangkasa.

Brian mendekat ke arahku.

“Jangan nangis Sya, aku minta maaf banget udah cuekin kamu sebulan ini. Aku memang jahat ya Sya. Kamu boleh lakuin apa yang kamu mau. Aku siap,”

Aku terisak.

“Peluk aku,”

“Apapun alasan kamu, aku punya satu permintaan. Tolong, jangan pergi lagi,”

Aku merasakan pelukan Brian semakin kencang. Dari kejahuan, samar-samar kulihat Angin menerbangkan lampionnya. Lampion paling cantik diantara lampion lainnya. Ia tersenyum kepadaku. Belum sempat aku membalas senyumnya, kerumunan orang kembali menghilangkan sosoknya yang misterius.

“Sya, mau bantu aku?”

Aku melepaskan pelukanku. Brian mengusap air mata yang terlanjur membasahi pipiku.

“Terbangin lampion lagi yuk,”

Aku mengangguk.

Malam itu aku puas menerbangkan lampion-lampion bersama Brian. Entah kenapa lampion-lampion kita terlihat lebih terang dari lampion lainnya.

Abel berlari mendekatiku.

“Selamat ulang tahun Asya! Aku hadiahkan Parangtritis dan Brian untukmu. Surprise khusus dari aku featuring Brian!”

Aku peluk sahabat terbaiku itu. Kali ini, giliran Renita sibuk menghubungiku. Ah, Tuhan terima kasih sudah memberiku sahabat-sahabat terbaik.

“Brian!”

Laki-laki itu menoleh. “Kenapa Sya?”

“Aku baru sadar, ternyata malaikat bisa juga berwujud manusia,”

Ia tersenyum. Manis sekali. Kuacak rambut ikalnya.

“Dan aku juga baru sadar, bidadari surga ternyata ada juga di pantai Parangtritis,”

 selesai-

diikutkan dalam lomba #Nuliskilat @_PlotPoint dan @Bentangpustaka

 

 

 

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s