Posted in Cerita Pendek

Sudah, Sampai disini Saja

Aku tahu ini salah. Jelas sekali salah. Sudah larut malam dan aku belum juga sampai di rumah. Beberapa kali kulirik jam tanganku. Duh, sudah hampir pukul sebelas malam.

“Kenapa?” tanyanya heran.

“Dingin,” jawabku sekenanya. Tanganku sibuk mengaduk secangkir kopi. Tanpa aku sadari, dia sudah berdiri di belakangku, melingkarkan jaket di tubuhku.

“Terimakasih,” jawabku pendek.

“Kamu kenapa sih? Kok akhir-akhir beda banget,” Dia mencoba mencari tanganku yang aku lipat di bawah jaketnya.

“Cuma ingat Laura aja,” aku mencoba tersenyum. Akhirnya tangannya menemukan tanganku. Seperti biasa ia berubah romantis jika aku menyebutkan malaikat kecilku itu.

“Aku usahakan yang terbaik ya,”

Aku diam.

“Aku pikir apa yang kita lakukan ini salah,”

Dia memandangku.

“Bukannya kamu sudah tahu sejak memutuskan berhubungan lebih jauh denganku?”

Aku memandangnya. Kali ini, entah kenapa aku begitu takut memandang kedua matanya. Takut jika aku kembali terjebak dalam manik matanya yang selalu membuatku susah melupakannya.

“Sampai sini aja ya, sepertinya kita sudah terlalu jauh. Sepertinya bukan ini yang dulu aku inginkan,”

“Hanya sebatas teman kan?”

Aku mengangguk.

“Susah. Bagiku susah sekali untuk tidak mencintai wanita sepertimu,”

“Terimakasih, tapi aku ingin semuanya selesai, cukup sampai disini saja,”

“Kenapa?” ia semakin erat mengenggam tanganku.

Ah, andai kamu tahu, siang tadi istrimu menelponku. Ya, istrimu yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Dia bilang kamu selingkuh dengan seseorang. Dia bisa lihat dari gelagatmu setiap pulang kerja. Dia tahu, istrimu sudah tahu. Dan yang lebih parah lagi, anak gadisku, Laura. Dia selalu bertanya-tanya kenapa aku selalu pulang larut dan kenapa aku mulai jarang mengunjungi makam almarhum ayahnya.

“Aku masih bisa mencintai dengan logis. Aku tak mau merusak semuanya. Semua yang sudah kamu bangun dan semua yang sudah aku miliki,”

Perlahan dia mulai melepas genggamannya.

“Dari awal aku tahu, aku pasti akan jatuh cinta jika bertemu denganmu. Ya, sejak istriku bercerita banyak hal tentang kamu. Dan semuanya benar,”

Aku mengembalikan lagi jaketnya.

“Mari kita pulang,” Laki-laki itu membimbingku ke mobilnya.

Asal kamu tahu, aku juga jatuh cinta kepadamu sejak istrimu bercerita banyak hal tentangmu. Dan, ternyata benar. Baik aku, maupun kamu ternyata membawa masalah untuk masing-masing diri kita. Lain kali, aku tak mau terperangkap dalam hatimu lagi. Rasanya, susah sekali harus melepas hati yang terlanjur terpaut, bahkan sebelum kedua manik mataku melihat sosokmu.

end-

diikutkan dalam #FF2in1 NulisBuku

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s