Posted in Curhat Tentang Film

Pride and Prejudice-Movie Review

Pride_&_Prejudice_(2005)_Bennet_sisters_screenshot

The Bennet Sisters

Telat banget mungkin ya bagi saya untuk mereview film ini. Secara film Pride and Prejudice ini keluaran 2005 (coba hitung, sekitar 9 tahun yang lalu! :D). tapi, tak apalah, wong saya baru nonton tadi siang. Itu juga setelah saya nonton The Lord of The Ring 3 (telat lagi haha).

Pride and Prejudice adalah film roman Inggris dengan latar masa Victorian. Film ini diangkat dari novel karya Jane Austen dengan judul yang sama. Film ini menceritakan tentang sebuah keluarga dengan lima anak perempuan. Mr. and Mrs. Bennet memiliki lima anak perempuan, dan semuanya belum menikah. Mereka adalah Jane, kakak tertua, paling cantik dan lembut. Putri kedua Elizabeth, paling cerdas dan pemberani, kemudian ada Mary si kutu buku dan Lidya and Kitty, mereka berdua adalah putri yang aggak ‘liar’ dan gampangan dengan cowok.

Mrs. Bennet sangat cemas dengan keadaan putri-putrinya. Ia sibuk mencarikan jodoh untuk putrinya, terutama putrinya yang tertua yaitu Jane Bennet. Suatu pagi tersiar kabar jika ada bangsawan baru yang membeli kastil. Dia bernama Mr. Bingley. Beruntungnya lagi, Mr. Bingley masih single. Dari situ dimulailah percomblangan yang dilakukan Mrs. Bennet untuk Mr. Bingley agar mau menikahi salah satu putrinya. Dan beruntungnya Jane, Ia menjadi satu-satunya gadis di desa mereka yang mendapat perhatian Mr. Bingley. Selain Mr. Bingley, kastil tersebut ditinggali oleh kakak perempuan Mr. Bingley dan Mr. Darcy, teman Mr. Bingley. Nah, Mr. darcy inilah yang akan menyita banyak perhatian karena ia terkenal angkuh, sombong, dan cuek.

Awalnya Elizabeth Bennet sangat membenci Mr. darcy karena perangainya ini. Ia bahkan bersumpah, jika harus menikah, laki-laki terakhir yang harus ia nikaih adalah Mr. Darcy. Kebencian Elizabeth diperparah dengan desas-desus yang menyebutkan jika Mr. Darcy tidak suka dengan hubungan Mr. Bingley dan Jane Bennet, sehingga mereka harus berpisah. Jane patah hati, begitu pula dengan Elizabeth, dia semakin membenci Darcy. Namun, Mr. Darcy yang terkenal angkuh itu luluh juga dengan Elizabeth. Ia pun menyatakan cintanya kepada putri kedua keluarga Bennet itu. Setelah rangkaian kejadian-kejadian lain, akhirnya Elizabeth menyadari sikapnya selama ini salah dalam menilai Mr. Darcy. Apalagi saat Mr. Darcy kembali mempertemukan Jane dan Mr. Bingley hingga akhirnya mereka bertunangan dan menikah.

Mr. Darcy dan Miss Elizabeth Bennet akhirnya mengakui perasaan masing-masing. Mereka pun akhirnya menikah.

***

Yeah, akhirnya ceritanya happy ending juga. Saya sempat menyangka, tokoh Elizabeth bakalan jadi perawan tua karena sifat keras kepalanya itu. Tapi, akhirnya Liz berjodoh dengan Tuan Darcy. Film ini sungguh memanjakan mata saya yang notabene penggemar film roman (ceilahh). Keira Kneightly bermain sebagai Elizabeth Bennet mengingatkan saya dengan Anna Karenina. Di film itu Keira juga bermain apik dan cantik. Dia memang cocok dengan gaya Victorian. Film ini benar-benar so ladies! ya, di film ini jelas sekali digambarkan bagaimana respon cewek-cewek jika ada salah seorang lelaki yang sedang menyukainya. Cewek itu suka bisik-bisik nggak jelas kalau ada cowok ganteng, saling curhat tentang cowok yang disukainya, berpusing ria tentang penampilan mereka, dan tentu saja rapuh saat patah hati. Ckckck rempong bener ya jadi cewek (padahal saya juga cewek hehe).

Yang saya kurang suka dari film ini adalah, pemeran cowoknya, yaitu Mr. Darcy kurang ganteng! Terlalu tua hehe. Katanya dalam novel Pride and Prejudice, Mr. Darcy digambarkan sebagai tokoh yang tampan dan tegas. Tapi kok, di filmnya terlihat menye-menye ya? Apa karena tatapan matanya yang sendu itu? Aku sih penginnya diperanin sama Orlando Bloom aja (f.y.i, saya jatuh cinta sama Legolas gara-gara nonton The Lord of The Ring -_-). At least, saya menyukai film ini. Ceritanya ringan, pemandangannya bagus, banyak dance, ball, dan tentu saja cewek banget! Hehe. Oh iya, film ini dibintangi sama Carrie Mulligan juga loh, dia berperan jadi Katty, adik Elizabeth Bennet yang centil (tapi centilan Lidya daripada Katty). Dan di film ini Carrie terlihat masih sangat muda (ya iyalah, secara itu film 9 tahun yang lalu :P).

Saya masih berharap untuk membaca novel ini. Biasanya versi novel lebih mendatangkan ‘feel’nya🙂

Terima kasih sudah mampir dan membaca.

Penulis:

Sedang mencari kamu

4 thoughts on “Pride and Prejudice-Movie Review

  1. Soalnya gw juga suka nonton film. Tp buat ngeluarin pendapat msh susah. “Bagus”, “bosenin”, “yg main cantik”, “yg cwok jelek”, paling bisanya gitu doang.

    Nah, yg di artikel ini, ada juga penilaian yg kyk gitu, msalnya: “Pemeran cowoknya, yaitu Mr. Darcy kurang ganteng! Terlalu tua” Tapi, juga ada wawasan lain: “Dalam novel Pride and Prejudice, Mr. Darcy digambarkan sebagai tokoh yang tampan dan tegas. Tapi di filmnya terlihat menye-menye. Apa karena tatapan matanya yang sendu itu?” Dan, plus, juga ada tawaran, semacam koreksi: “Aku sih penginnya diperanin sama Orlando Bloom aja” Jadinya keren kan?🙂

    Suka

    1. waaah…menurut saya sih ini masih dangkal banget nge-reviewnya hehe. Nggak kayak review di blog yang memang khusus dibuat untuk nge-review movie.
      makasih banget udah mengapresiasi😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s