Posted in Cerita Pendek

FF: Serayu

serayu

Senja di tepian serayu selalu saja cantik. Itulah mengapa aku selalu menyukai tempat ini, resto Mercusii. Didirikan di tepian serayu, berbatasan langsung dengan hutan pinus yang mempesona berhasil membuatku betah berlama-lama duduk disini. Aku jadi teringat bagaimana dulu kita bertemu.
Bukan, bukan di resto ini. Kita bertemu di stasiun Lempuyangan. Gara-gara nasi pecel combrang yang dijual simbah di dekat pintu masuk stasiun. Dulu belum ada penertiban, jadi kita masih bisa leluasa makan beraneka macam jajanan, bukan?
“Tinggal satu nduk, tapi sudah duluan dipesan sama mas ini,” ujar simbah penjual pecel sambil menujukan telunjuknya ke arahku.
Aku dan kamu saling berpandangan. Lalu kamu tersenyum ke arahku. Aku yang tengah sibuk mencari recehan sedikit gusar. Aku tak enak hati kepadamu.
“Oh nggih sampun mbah, maurnuwun,” katamu, seraya mengangguk sopan ke arahku dan beranjak pergi.
“Tunggu! Kalau mau, ambil saja,” tawarku. Entah bujukan malaikat mana, aku bisa langsung berbaik hati kepadamu. Biasanya kan aku paling anti menjadi dermawan jika menyangkut pecel combrang favoritku ini.
Kamu menolak lembut pemberianku. Namun, sepertinya tergoda juga saat aku menyodorkan satu pincuk pecel combrang. Bau bumbunya yang menguar harum dari dalam pincuk tak mungkin bisa membuatmu menahan godaan untuk menyantapnya. Dan, mulai saat itu aku memanggilmu dengan nama, Hayu.
Hayu yang ayu. Begitu aku sering mengumamkan namamu. Tentu saja, hanya aku dan Tuhanku saja yang tahu. Ya, mungkin ditambah dengan cicak, kecoa, dan nyamuk yang menjadi penghuni kamar kosku yang sempit.
Ternyata Hayu asli Purwokerto. Satu kampus denganku. Cuma beda angkatan, ia lebih tua satu tahun dariku. Ah, kakak tingkat.
Gara-gara tragedy pecel combrang aku jadi akrab dengannya. Pernah kita duduk satu bangku di kereta pulang menuju Purwokerto. Saat melewati Serayu, Hayu selalu memekik senang.
“Itu kali favoritku, saat kecil dulu aku sering bermain di tepiannya,” ucapnya dengan nada gembira.
“Suatu hari temenin aku makan di resto itu ya. Aku ingin makan ditemani serayu yang ayu,” ia menunjuk sebuah resto di tepian Serayu
Ah, Hayu, yang ayu itu bukan hanya Serayu. Kamu malah seribu lebih ayu darinya.
***
Dan disinilah aku terdampar. Seusai adegan klimaks sabtu malam lalu. Sabtu malam yang seharusnya bertabur bunga malah berubah menjadi rekaman adegan sedih hiperbolis dariku.
“Maksudnya?” Hayu mengernyitkan alisnya.
“Ya, aku serius sama kamu Yu, aku ingin hubungan kita ke jenjang yang lebih lagi,” aku mencoba mengatakannya sebaik mungkin.
“Aku nggak ngerti,” Hayu memandangku.
“Aku mau kita..pacaran,”
“Hahaha..kamu bercanda Adri! Aku nyaman seperti ini,”
“Jadi?”
“Hmm…sudah terjawab kan?” Hayu memainkan anak rambutnya.
“Sudah ah, lebih baik kita pulang saja. Udah sore,”
Sekarang, jika aku memandang sungai itu, seketika aku merasa Serayu seribu kali lipat lebih cantik dari Hayu Prabawati. Gadis manis asli Purwokerto yang sebentar lagi akan menikah, ya, selamat untukmu Hayu. Semoga kamu bahagia.

#FF #ceritamini

Penulis:

Sedang mencari kamu

2 thoughts on “FF: Serayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s