Diposkan pada Rumah Kata :)

[FF]: Postcard

images kimono

Aku memandangi deretan postcard yang dikirim Erina seminggu yang lalu. Postcard bergambar landmark kota Tokyo, Tokyo tower, bunga sakura, dan beberapa kuil cantik di Jepang berjejer di meja kerjaku. Sengaja aku letakan begitu.

Hmm..Erina ya? Jika mengingat gadis itu rasanya dadaku langsung bergemuruh. Antara rindu tapi tak ingin bertemu. Kamu pernah merasakannya bukan?

Dia sahabatku, ya setidaknya diantara kami berdua selalu bilang begitu ke orang lain. Erina menikah enam bulan yang lalu. Suaminya orang Malaysia yang sedang bekerja di Tokyo. Mereka bertemu saat kuliah. Ya, Erin melanjutkan pendidikannya ke universitas di Tokyo. Erin magang di kantor dimana suaminya sekarang bekerja. Cinta lokasi. Dan jadilah mereka sepasang suami istri. Begitulah yang Erin bilang kepadaku lewat BBM.

Saat Erin bilang ia akan menikah, aku langsung berteriak histeris. Aku ingat, saat itu sedang ada rapat mingguan kantorku. Iseng aku mengirim Erin BBM, dan tiba-tiba dia mengatakan kalau ia akan menikah.

Deeg. Sepotong hatiku berbinar senang dan sepotong yang lain tidak. Erin menikah? Bagaimana denganku? Bukankah sedari kecil kita berdua selalu bersama-sama? Lalu Erin menikah, kapan Ratih akan menikah? Mestinya itu yang akan ditanyakan orang-orang. Ya, orang-orang yang mengenal seberapa dekatnya kami selama ini.

Tenang aja Ratih, aku nggak akan berubah meski sudah menikah. Kamu masih bisa menghubungiku 24 jam penuh.

Itu yang Erina bilang 6 bulan yang lalu. Sehari sebelum pesta pernikahannya berlangsung. Dua bulan setelahnya aku masih bisa mengajak dia ngobrol di chat, atau telepon lewat BBM, skype dan kirim-kiriman email. Namun sekarang sepertinya statusya menjadi seorang istri perlahan menjauhkan kami. Erin bukan lagi teman yang bisa diajak 24 jam ngobrol, bukan lagi menjadi orang yang pertama memberiku selamat ulang tahun, bukan lagi ini, bukan lagi itu. Aku menerima saja. Toh, bukannya tugas dia yang utama adalah melayani suaminya?

Dan postcard itu, satu persatu datang ke meja kerjaku.

Ada satu postcard yang menarik. Bergambar sepasang pengantin menggunakan kimono. Cantik sekali.

Sebenarnya postcard ini tak lebih cantik dari postcard bergambar festival hanami di Tokyo Ueno Park yang Erin kirim bulan April lalu. Hanya saja, postcard ini Erin kirim menggunakan amplop tertutup.

Ada dua lembar foto didalamnya. Foto Erin dengan suaminya yang tengah bergandengan tangan. Saat aku balik foto itu, terdapat tulisan yang membuatku tak bisa berkata-kata.

Ratih. See how’s love work. I’m pregnant.

Aku merasakan butiran bening mengalir di kedua pipiku. Sahabatku, si cantik Erin tengah hamil?

Aku segera meneleponnya. Bodo amat jika harus kehabisan banyak pulsa. Aku hanya ingin mendengar Erin bilang jika ia tengah hamil. aku ingin memberinya ucapan selamat secara langsung. Iya, itu saja.

Lima kali kucoba, selalu saja mailbox yang menjawabnya.

Ini yang keenam kalinya. Erin berbicara di seberang.

“Iya, halo ratih!”

“Erin selamat ya..,”

“Ratih, kamu udah terima postcardnya? Ah, iya ini sebenarnya ide Mahmud untuk mengirimu foto itu. Maaf ya Ratih jika agak mengganggumu,”

Lalu mengalirlah cerita-ceritanya sepanjang 6 bulan pernikahannya. Berulang kali aku menggigit bibir, menahan tangis. Berdoa semoga ini semua cepat berakhir.

***

Siang ini ditemani red velvet dari bakery seberang kantor, aku kembali sibuk dengan postcard ku. Lima buah postcard dengan tema kepulauan Indonesia siap aku kirimkan ke Eropa dan Asia. Ada dua temanku, sesama postcrosser yang tinggal di Ukrain, menginginkan postcard dari keindahan alam Indonesia. Tiga yang lain postcrosser dari Korea dan Jepang.

“Mba Ratih ada surat,” suara Debi, anak magang di kantorku mengalihkanku dari tumpukan postcard koleksiku.

Surat dari Bandung. Dari Ibu.

Isinya singkat, padat, dan jelas.

Ratih, awal ramadhan ini pulang ya. Ada yang ingin ibu kenalkan kepadamu. Kamu masih ingat laki-laki yang menolong ibu saat jatuh dari motor sebulan yang lalu? Kemarin ibu tak sengaja bertemu saat pengajian di masjid raya. Dia bekerja di kedutaan besar. Ibu menanyakan apakah dia sudah menikah? Ternyata dia masih membujang. Ibu tawarkan untuk berkenalan denganmu, Ratih. Sepertinya dia cocok denganmu. Setidaknya untuk pekerjaan, kalian berada di jalur yang sama.

Dua kali aku baca surat dari ibu.

Aku mengambil postcard bergambar hati, koleksiku yang aku dapat dari hasil swap dengan postcrosser asli Jakarta.

Kepada ibu aku tuliskan,

Tentu saja ibu, dengan senang hati aku akan pulang.

Kupandangi deretan postcardku. Entah kenapa, postcard bergambar pengantin Jepang berkimono itu seperti tersenyum kepadaku.

Ah, iya. Aku harus menghubungi Erina. Hari ini dia merayakan ulang tahun putrinya yang pertama.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Jomblo Ideologis

jemput-jodoh

Kenapa ya kalau ketemu teman lama pasti ujung-ujungnya ditanya tentang mahluk-bernama-laki-laki yang-sedang-di-hati. Antara sebel dan lucu aja kalau mengalami ini. Seperti kemarin, saya smsan sama teman saya waktu SMA. Namanya Ratna. Dulu kita berdua pernah sekelas waktu kelas XI dan XII. Temen deketku ya Ratna. Sekarang dia kuliah di Jogja dan saya di semarang. Jadi deh, komunikasi sedikit mengalami kendala apalagi Ratna sempat ganti nomor hp dan jarang online di socmed. Beberapa hari yang lalu saya mencoba menghubungi Ratna, Alhamdulillah nomer terakhir yang dia kasih nyambung. Awalnya kita smsan tanya kabar. Tentu saja saya tanya-tanya tentang Jogja (selalu excited dengan Jogja :D). eh ditengah-tengah Ratna nanya, “udah punya pacar belum?” nah lo. Akhirnya ditanya juga. Saya sih pede aja, dengan mantap saya ngetik di keypad beranak, “belum,hehe,”. Dan Ratna juga ternyata lagi jomblo juga. Ya udah deh kita jadinya cerita-cerita.

Saya: pacaran nggak seenak yang dibayangkan. Lebih baik jomblo single aja dulu, lebih bebas. Untuk sekarang enakan nyari banyak temen dulu. Biar entar tinggal milih 😀

Ratna: iya bener tuh

Saya: jadi single tp yg berkualitas ya na 😀

Saya nggak pernah malu karena nggak pacaran. Toh, emang saya belum siap dan belum ingin pacaran. Untuk saat ini ingin focus kuliah dulu 🙂 (sambil terus memperbaiki diri). Katanya sih jodoh itu representative diri kita loh.

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

Eh ada loh yang bilang gini, |Kalau nggak pacaran itu susah nikahnya!|nggak pacaran?beneran? nanti kenalannya gimana?|takut ah, kalau langsung nikah gitu, takut nggak cocok|

Ehm. Gini ya, pacaran tuh nggak menjamin jodoh seseorang. Yang menentukan jodoh kita tuh Allah SWT. Jadi, selama kita mengerjakan perintah-Nya dan terus berdoa, nggak usah takut nggak dapet jodoh. Tanpa pacaran kita bisa saling kenal juga loh. Dan untuk cocok tidak cocoknya, apa ya harus pakai proses pacaran? Kalau menurut saya, proses pacaran itu malahan proses coba-coba yang sebenarnya. Apa ya kita mau jadi bahan percobaan? Kelinci aja males hehe. Pacaran juga nggak menjamin suatu pernikahan akan langgeng. Begitu pula dengan menikah tanpa pacaran. Itu semua tergantung dengan individu masing-masing 🙂

oh iya jadi inget postingannya anak UI di tumblr, bunyinya gini:

“Kita adalah jomblo-jomblo ideologis bro, jomblo yang disebabkan bukan karena nasib, tapi prinsip!”

(IP, 2013)

Nah, setuju deh sama quote diatas.

Kalau milih jomblo (atau single) jadilah jomblo, jadilah single yang berkualitas.

Oke deh, selamat memperbaiki diri (sambil menunggu jodoh )! 🙂

533760_647271375306522_2052522496_n

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

A Young Pregnant Mother. Did you think first before got pregnant?

pregnant

Kali ini saya pengin cerita tentang praktik klinik yang sedang saya jalani. Berhubung di salah satu postingan saya bilang saya lagi sibuk sama praktik klinik, oke saya putuskan untuk cerita saja tentang pengalaman praktik. Yep, here the story hehehe

Awal Juni kemarin, tepatnya tanggal 2 Juni 2014, saya memulai praktik klinik stase maternitas di RSUD di kabupaten/kota Semarang. Praktik klinik ini dilaksanakan selama 4 minggu, dari tanggal 2-28 Juni 2014. Saya mendapat rezeki, praktik di RS X bareng ke 8 teman saya. Dua minggu pertama, saya dan keempat teman saya, yaitu Ayu, Fani, Inneke dan Ambar kebagian dinas di ruang VK a.k.a Verlous Kamer atau bahasa gaulnya ruang bersalin. Dan empat teman saya lainnya yaitu Aluh, Fitriya, Anis mamdeh, sama Kris dinas di ruang nifas.

Pertama kali saya sift disini, saya takut setengah mampus. Kenapa? Ya jujur saja saya ini paling takut sama orang melahirkan. Nah, berhubung saya dapat ruang bersalin mau tak mau saya harus berhadapan sama orang melahirkan. See? Betapa merinding disconya saya waktu pertama kali lihat partus (persalinan). Saat itu tanggal 3 Juni saya mendapat sift siang. Sekitar pukul 15.00 WIB ada pasien baru masuk dengan keluhan ketuban pecah dini. Ibunya masih muda, sekitar 21 tahunan gitu (berarti seumuran saya dong!). karena usia kehamilan yang sudah lebih bulan (disebut serotinus) maka si ibu harus segera melahirkan anaknya, apalagi air ketubannya sudah pecah. Cap cus deh bidan yang bertugas segera menyuntikan obat untuk merangsang kontraksi. Saya bareng praktikan bidan disuruh pengawasan per setengah jam untuk menghitung denyut jantung janin (DJJ) dll. Saya yang masih bau kencur di masalah kayak ginian cuma ngeliatin para calon ibu bidan bertugas. Ih, pinter banget deh mereka. Kayak udah nggak canggung gitu sama ibu hamil. Sebaliknya saya rada-rada gimana gitu waktu pertama kali megang perut ibunya buat pemeriksaan Leopold. It’s the first time to me for touch pregnant mother’s belly! Wooohhh! Rasanya lucu deh, saya bisa meraba dimana letak kepala sama bokong si janin. Menarik ya?

Sekitar pukul 18.00 WIB si ibu mengeluh kesakitan. Sampai ibunya meremas-remas tangan saya (suaminya mana? Suami?). duh sakit sih sebenernya dicengkeram kuat banget. Tapi saya yakin sakitnya saya nggak bisa ngalahin sakitnya ibu tadi.

Bidan yang bertugas segera melakukan pemeriksaan VT (Vaginal touch) untuk mengetahui penurunan janin, apakah sudah pembukaan lengkap atau belum. Dan ternyata..pembukaan sudah lengakp bo! Kita para praktikan disuruh membantu. Ada yang membantu megangin kaki ibu, membantu memberi minum ibu, memandu meneran, monitor tetesan infus dan kesadaran ibu, dll. Seru deh pokoknya. Waktu itu saya kebagian…megangin tangan ibunya sambil memberinya semangat! Hehe

Ibu bidan pun memimpin persalinan. Beneran deh ini mirip kayak di film-film tentang adegan melahirkan. Bedanya kalau di fim kebanyakan mereka mengejan sambil berteriak, ketahuilah para sutradara, aturan yang benar saat mengejan adalah tanpa ada suara, karena disitulah puncak kontraksi berada. Bersuara hanya akan membuat ibu cepat kehilangan energy dan ujung-ujungnya kelelahan. Setelah berkutat hampir 15 menit, si jabang bayi pun lahir. Kita semua mengucap syukur, terutama saya yang dari tadi sudah pucat pasi melihat keadaan ibu yang meneran terus menerus tapi bayinya nggak lahr-lahir. Saya bersyukur banget waktu itu saya nggak pingsan melihat begitu banyak darah. Si bayi yang ternyata berjenis kelamin laki-laki segera dialihtugaskan kepada perawat yang bertugas di perinatalogi untuk diperiksa antopometri dan dibersihkan. Aiiih, bayinya lucu banget loh, ganteng!

Itulah pengalaman pertama saya melihat partus. Ngilu-ngilu gimana gitu. Apalagi waktu ibunya harus di hecting alias dijahit karena laserisasi. Oh god! Saya seketika pengen meluk ibu saya. Saya yakin, para anak di dunia kalau baru pertama lihat persalinan normal yang dibayangin pertama kali adalah, “dulu ibu gue ngelahirin gue apakah sesakit ini juga?”. Yep, dan saya merasa bodoh seminggu ini belum sms ke ibu untuk mengirim kabar.

Selama dinas dua minggu di VK saya banyak mengalami kejadian-kejadian menarik. Saya suka dinas di VK karena bisa nonton adegan romantis gratis. Eh, jangan salah sangka dulu ya, maksudnya tuh banyak banget saya lihat pasangan muda yang menunjukan cinta mereka. Si istri mau lahiran, suaminya 24 jam mendampingi. Sampai ada loh yang kena pukul istrinya gara-gara istrinya gak kuat nahan sakit. Terus para bapak muda ini juga sabar banget menghadapi istri-istri mereka saat mereka kesakitan. Ada yang kasih ciuman di kening, elus-elus punggung, meluk istri, pegangan tangan, aiiiiih jadi mupeng kan? Haha.

Tapi ada juga kisah miris dibalik kisah-kisah romantis itu. Ada beberapa pasien usia muda (muda banget malah) datang tanpa suami. Mudahnya, mereka hamil di luar nikah. Mirissss banget saya lihatnya. Ada pasien 16 tahun, tanpa suami. Ngaku dihamilin pacarnya. Ini enggak tahu so sweet atau nggak, selama dirawat di RS, pacarnya setia mendampingi loh. Nona ini mengaku masih kelas 1 SMA!

Terus ada lagi pasien 19 tahun, mau curatge untuk membersihkan sisa-sisa aborsi. Jelasnya gini, si mbaknya sudah aborsi di tempat lain (hamilnya juga sama pacar) tapi masih ada sisa janin di dalam. Nah rencananya mau bersihin di RS. Duuuuh, Ya Allah, saya nggak habis pikir sama yang ginian. Kenapa nggak mau tanggung jawab sama apa yang udah diperbuat sih?

Dan terakhir yang paling heboh adalah pasien remaja usia 14 tahun yang hamil 9 bulan. Itu juga karena hamil di luar nikah, sama pacarnya yang usianya 17 tahun. Dan si nona 14 tahun ini masih kelas 1 SMP. Heran sungguh heran, memangnya pergaulan anak jaman sekarang separah apa sih? Dua minggu dinas di ruang bersalin, 3 kali dapat kasus beginian. Saya hanya bisa beristighfar, semoga dijauhkan dari godaan syetan.

Para bayi-bayi yang lahir dari rahim wanita-wanita ini tidak ada yang dosa, mereka lahir dalam keadaan suci. Mereka juga nggak bisa milih kan untuk dilahirkan dari ibu yang mana? Dari peristiwa ini semua saya banyak belajar. Saya harus membentengi diri saya dari godaan syetan, selalu ingat sama Allah, dan juga menghindari hal-hal yang bisa menyeret ke arah ini. Ngeri banget ngebayangin yang ginian, kesian baby-babynya!

Kebanyakan ibu-ibu muda yang super muda ini, tingkat emosionalnya belum stabil. Hamil dan melahirkan itu adalah peristiwa langka dimana Allah mengamahkan nyawa di dalam rahim wanita. Proses hamil dan melahirkan juga nggak gampang. Sembilan bulan membawa janin di perut, bayangkan gimana perasaan mereka yang kehamilannya gak diinginkan? Malu kan? Terus dikucilkan sama tetangga gara-gara hamil nggak ada suami. Bisa-bisa mereka depresi. Dan inilah yang saya lihat ada pada pasien dengan kehamilan di luar nikah. Mereka belum sepenuhnya menerima anak mereka.

Bayangkan saja, anak 14 tahun, melahirkan, punya anak. Dia harus menyusui dan merawat anaknya, padahal apa sih yang seharusnya dilakukan oleh anak usia 14 tahun? Ya, mereka seharusnya asyik belajar, bermain bersama teman-teman sebayanya, mencari sebanyak-banyaknya pengalaman, pengetahuan untuk bekal hidupnya di masa depan. Dan sejatinya mereka masih pantas untuk dirawat! Ya, bukan merawat.

Dari kisah-kisah ini saya cuma ingin mengajak kalian semua (yang baca tulisan saya ataupun yang nggak sengaja baca), yuk lindungi diri kita. Jika kalian masih remaja belasan tahun, jangan gegabah dalam melakukan suatu tindakan. Mungkin saat ini kalian sedang asyik-asyiknya ngegebet sana sini, punya pacar lebih dari satu, ingatlah wahai adikku, masa depan kalian tuh masih panjaaaaang banget. Jangan deh buat masa depanmu suram gara-gara hal beginian. Masa remaja itu masa yang paling nano-nano. Banyak banget kegiatan positive yang bisa dilakukan selain pacaran. Nasihat saya sih (ciee berasa dewasa banget hehe) pintar-pintarlah cari teman! Dan bekali masa remaja kalian dengan ilmu agama. Insha Allah jalan lurus akan kalian ambil 🙂

Dan hei, bagi kalian teman-teman seangkatan saya (usia 20 something hihi). Seharusnya kita sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Kita bukan lagi ababil unyu-unyu yang suka galau. Kita ini sudah beranjak dewasa, jadi saya yakin kawan-kawan semua sudah mengerti apa yang seharusya dilakukan 🙂

Ah, saya jadi inget percakapan saya sama oknum I

Saya: “Aku boleh pacaran nggak?”

Oknum I: “Siapa cowonya?

Saya: “Nggak ada. Aku kan Cuma Tanya, boleh pacaran nggak?”

Oknum I: “Hahaha dasar, dikira kamu ada yang pedekatein,”

Saya: “Ih ngejek ya. Kamu kan cowok ya, menurutmu apa sih manfaatnya pacaran bagi cewek?”

Oknum I: “Nggak ada! Kamu pokoknya jangan pacaran dulu. Pacaran itu banyak enaknya di cowok, banyak ruginya di cewek,”

Saya: “Ooh jadi karena banyak enaknya di cowok, jadi kamu pacaran?”

Oknum I: “Aku pacaran karena khilaf,hehe,”

Saya: “Hadeeeh kalau khilaf kok nyampe 4 tahun ya,”

Oknum I: “hahaha terserah deh. Pokoknya kamu jangan pacaran dulu. Titik. Selesein kuliah, kerja, baru nikah,”

Saya: “Oke. Siap bos!”

Ada-ada saja. Saya ketawa kalau ingat obrolan ini. Dari hari ke hari saya makin mengerti omongan Oknum I ini. Dia bener-bener mau ngingetin saya supaya jangan pacaran dulu. Banyak ruginya di cewek (dan enak di cowok). Ah, syudahlah, kalau ngomongin kayak ginian buntutnya saya bisa nulis berlembar-lembar lagi nih hehe.

Oke, ini sedikit cerita praktik klinik saya. Sebenernya masih banyak pengalaman, pelajaran yang saya dapatkan selama praktik klinik. Dilain waktu saya bisa sharing lagi. Sekarang saya ngantuk, habis dinas malam, saya pamit istirahat.

Semoga bermanfaat.

bonus hiburan, statusnya si Kris saat ada pasien baru.

status fb

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Menjaga Cinta

mawar indah

Hai, selamat pagi blogku! Apa kabar?

Rasanya sudah lama ya saya nggak numpang curhat di lapak ini. Bukan sok sibuk sih tapi ini beneran sibuk hehehe (masih dalam kesibukan yang sama, praktik klinik yang tak kunjung usai).

Oke, kali ini saya ingin curcol tentang tema yang universal banget. Yang semua umat manusia bisa merasakan. Guess what? Yep, JATUH CINTA.

Baru saja saya iseng buka tumblr eh nemu link blognya mba Nadhira (ceritanya disini). Setelah saya baca isinya, duh, kok mirip banget ya dengan apa yang sedang saya rasakan sekaran ya (tersipu malu). Saya jadi inget percakapan dengan teman saya, sebut saja oknum G. waktu itu saya pasang pm di bbm ngucapin ultahnya teman saya, sebut saja oknum T. Nah, di salah satu doa saya tulis biar oknum T didekatkan jodoh. Dateng deh komen dari oknum G.

Oknum G: kok didekatkan jodoh sih?

Saya: loh kenapa? Gpp kan? Oknum T juga masih single

Oknum G: apa nggak kecepetan?

Saya: ya, daripada saya doanya semoga didekatkan pacar. Saya dosa dong hehe

Oknum G: hmm..iya juga sih

Nah, nyambung ke postingannya mba dhira dimana ia menuliskan perasaannya namun tetap memegang prinsipnya untuk tidak pacaran. Dulu, iya dulu sekali saya pernah mbatin, gimana ya kalau dua orang cowok cewek menikah tanpa pacaran? Darimana mereka berdua bisa saling mengenal pribadi masing-maisng? Kok bisa ya mba sama mas aktivis itu menikah hanya bermodal kertas berisi portofolio?

kalau dipikr secara jaman globalisasi gini memag aneh kan? Saya juga dulu termasuk golongan orang yang agak gimana gitu sama prosesi taaruf. Tapi setelah saya perbanyak membaca buku islami, Tanya sana sini, ikut pengajian, perlahan anggapan saya tentang taaruf mulai berubah kearah positive.

Saya mengamati, jaman sekarang banyak banget khalwat before halal. Dan itu dilakukan baik muslim atau non-muslim. Padahal jika kita belajar lagi, khalwat sama yang bukan muhrim itu nggak diperbolehkan. Nah, orang pacaran kan identik sama khalwat. Kalaupun nggak khalwat, minimal smsan, teleponan atau bahkan yang cuma mikirin si dia yang spesial itu sudah dosa.

Saya dulu pernah mengalami masa-masa jahiliyah ini. Sekedar ngikut trend yang ada. Sudah mahasiswi, masa belum punya pacar. Maka saya pacaran. Meskipun saya pacaran, saya berniat tidak akan melakukan hal-hal lebih (baca: kontak fisik yang berlebih). Namun tahukah anda, setan selalu punya cara untuk menggoda. Selama saya pacaran (setiap kali saya pergi berdua) saya merasa Allah sedang melihat saya, setan-setan sedang tertawa kepada saya. Beneran, dulu kalau lagi boncengan berdua, rasa-rasanya Allah mengawasi saya begitu dekat. Dan saya akhirnya tersadar jika ini semua bukanlah hal yang baik. Jika diteruskan maka saya akan tersesat lebih jauh lagi, setan-setan akan lebih menjerumuskan saya.

Alhamdulillah, Allah membukakan pintu hidayahNya. sekarang sedikit demi sedikit saya ingin belajar ke jenjang yang lebih baik lagi.

Saat ini saya sedang merasakan apa yang dirasa sama mbak Dhira. Duh, rasanya nano-nano sekali. Tahu kan gimana rasanya jatuh cinta tanpa bisa mengungkapkan? Duh, banyak-banyak istighfar deh. Kemana-mana yang ada di pikiran saya cuma orang itu. Menyebalkan gak sih? Siapa juga dia, berani-beraninya mengalihkan dunia saya. Kayaknya setan tau banget gimana mencari celah untuk menggoda saya.

Saat ini, di usia saya yang tidak lagi belasan, banyak oknum-oknum yang tanpa tedeng aling-aling menanyakan ‘pacar’.

Misalnya gini,

Ketemu temen SMP yang ditanya, “Pacarnya sekarang siapa?”

Ketemu teman SMA, “Ciee dari status fb, kayaknya lagi jatuh cinta ya, pacarnya siapa?”

Ketemu tetangga, “Udah punya pacar ya? Kenalin dong,”

Ketemu saudara, “Pacarnya kerja dimana?”

Bener-bener deh, memangnya di usia saya yang sekarang (oke, sekarang usia saya 21 tahun) memangnya aneh ya kalau saya memutuskan masih single? Memangnya aneh ya kalau saya nggak pacaran?

Mungkin bagi sebagian orang aneh dan sebagian lain tidak.

Dan sampai saat ini saya sedang berjuang untuk tetap istiqomah. Memang susah, berbagai godaan kadang datang tanpa diminta. Saya yakin Allah sudah mempersiapkan ‘dia’ yang pantas untuk saya. Allah akan memberikannya disaat dan waktu yang tepat. Dimana saya sudah siap untuk menyempurnakan separuh agama saya. Sekarang, tinggal bagaimana caranya saya menjemputnya. Kata ibu sih, perbaiki diri dulu di mata Allah, kan Allah yang Maha Tahu, Maha Pemberi. Kalau sudah baik dimata Allah, masa sih Allah tega memberikan kita Pangeran yang tidak baik.

Bismillah, semoga Allah meridhoi 🙂

ps: semoga curcol ini bermanfaat ya 🙂

Diposkan pada Rumah Kata :)

Selasar Moewardi

thumb (2)

Minggu pagi di selasar Moewardi, ada semburat pelangi yang tersirat diantara sapamu. Terlintas lagi suatu waktu saat kita pertama bertemu.

Aku terpikat denganmu?

Aku jatuh cinta?

Ah, bukan. Ini pasti hanya euphoria. Iya, lagi-lagi aku dihinggapi perasaan ini. Menyedihkan.

Sekarang, aku mau pulang. Ke rumahku lagi. Berpisah dengan kamu, berarti aku harus menyimpan rindu.

Mungkin Tuhan masih mencari jalan untuk kita agar bisa bertemu lagi. Setidaknya kita tidak bosan dengan pertemuan yang selalu biasa. Setidaknya, kita masih menghirup udara yang sama bukan?

Tentang pertemuan kita, entahlah, apakah untuk bertemu dengan kamu, berarti aku harus memutar atau menempuh jalan yang berliku?

Semoga saja, saat waktunya tiba, perasaan kita bisa menjawabnya.