Posted in Cerita Sehari-hari

Menjaga Cinta

mawar indah

Hai, selamat pagi blogku! Apa kabar?

Rasanya sudah lama ya saya nggak numpang curhat di lapak ini. Bukan sok sibuk sih tapi ini beneran sibuk hehehe (masih dalam kesibukan yang sama, praktik klinik yang tak kunjung usai).

Oke, kali ini saya ingin curcol tentang tema yang universal banget. Yang semua umat manusia bisa merasakan. Guess what? Yep, JATUH CINTA.

Baru saja saya iseng buka tumblr eh nemu link blognya mba Nadhira (ceritanya disini). Setelah saya baca isinya, duh, kok mirip banget ya dengan apa yang sedang saya rasakan sekaran ya (tersipu malu). Saya jadi inget percakapan dengan teman saya, sebut saja oknum G. waktu itu saya pasang pm di bbm ngucapin ultahnya teman saya, sebut saja oknum T. Nah, di salah satu doa saya tulis biar oknum T didekatkan jodoh. Dateng deh komen dari oknum G.

Oknum G: kok didekatkan jodoh sih?

Saya: loh kenapa? Gpp kan? Oknum T juga masih single

Oknum G: apa nggak kecepetan?

Saya: ya, daripada saya doanya semoga didekatkan pacar. Saya dosa dong hehe

Oknum G: hmm..iya juga sih

Nah, nyambung ke postingannya mba dhira dimana ia menuliskan perasaannya namun tetap memegang prinsipnya untuk tidak pacaran. Dulu, iya dulu sekali saya pernah mbatin, gimana ya kalau dua orang cowok cewek menikah tanpa pacaran? Darimana mereka berdua bisa saling mengenal pribadi masing-maisng? Kok bisa ya mba sama mas aktivis itu menikah hanya bermodal kertas berisi portofolio?

kalau dipikr secara jaman globalisasi gini memag aneh kan? Saya juga dulu termasuk golongan orang yang agak gimana gitu sama prosesi taaruf. Tapi setelah saya perbanyak membaca buku islami, Tanya sana sini, ikut pengajian, perlahan anggapan saya tentang taaruf mulai berubah kearah positive.

Saya mengamati, jaman sekarang banyak banget khalwat before halal. Dan itu dilakukan baik muslim atau non-muslim. Padahal jika kita belajar lagi, khalwat sama yang bukan muhrim itu nggak diperbolehkan. Nah, orang pacaran kan identik sama khalwat. Kalaupun nggak khalwat, minimal smsan, teleponan atau bahkan yang cuma mikirin si dia yang spesial itu sudah dosa.

Saya dulu pernah mengalami masa-masa jahiliyah ini. Sekedar ngikut trend yang ada. Sudah mahasiswi, masa belum punya pacar. Maka saya pacaran. Meskipun saya pacaran, saya berniat tidak akan melakukan hal-hal lebih (baca: kontak fisik yang berlebih). Namun tahukah anda, setan selalu punya cara untuk menggoda. Selama saya pacaran (setiap kali saya pergi berdua) saya merasa Allah sedang melihat saya, setan-setan sedang tertawa kepada saya. Beneran, dulu kalau lagi boncengan berdua, rasa-rasanya Allah mengawasi saya begitu dekat. Dan saya akhirnya tersadar jika ini semua bukanlah hal yang baik. Jika diteruskan maka saya akan tersesat lebih jauh lagi, setan-setan akan lebih menjerumuskan saya.

Alhamdulillah, Allah membukakan pintu hidayahNya. sekarang sedikit demi sedikit saya ingin belajar ke jenjang yang lebih baik lagi.

Saat ini saya sedang merasakan apa yang dirasa sama mbak Dhira. Duh, rasanya nano-nano sekali. Tahu kan gimana rasanya jatuh cinta tanpa bisa mengungkapkan? Duh, banyak-banyak istighfar deh. Kemana-mana yang ada di pikiran saya cuma orang itu. Menyebalkan gak sih? Siapa juga dia, berani-beraninya mengalihkan dunia saya. Kayaknya setan tau banget gimana mencari celah untuk menggoda saya.

Saat ini, di usia saya yang tidak lagi belasan, banyak oknum-oknum yang tanpa tedeng aling-aling menanyakan ‘pacar’.

Misalnya gini,

Ketemu temen SMP yang ditanya, “Pacarnya sekarang siapa?”

Ketemu teman SMA, “Ciee dari status fb, kayaknya lagi jatuh cinta ya, pacarnya siapa?”

Ketemu tetangga, “Udah punya pacar ya? Kenalin dong,”

Ketemu saudara, “Pacarnya kerja dimana?”

Bener-bener deh, memangnya di usia saya yang sekarang (oke, sekarang usia saya 21 tahun) memangnya aneh ya kalau saya memutuskan masih single? Memangnya aneh ya kalau saya nggak pacaran?

Mungkin bagi sebagian orang aneh dan sebagian lain tidak.

Dan sampai saat ini saya sedang berjuang untuk tetap istiqomah. Memang susah, berbagai godaan kadang datang tanpa diminta. Saya yakin Allah sudah mempersiapkan ‘dia’ yang pantas untuk saya. Allah akan memberikannya disaat dan waktu yang tepat. Dimana saya sudah siap untuk menyempurnakan separuh agama saya. Sekarang, tinggal bagaimana caranya saya menjemputnya. Kata ibu sih, perbaiki diri dulu di mata Allah, kan Allah yang Maha Tahu, Maha Pemberi. Kalau sudah baik dimata Allah, masa sih Allah tega memberikan kita Pangeran yang tidak baik.

Bismillah, semoga Allah meridhoi🙂

ps: semoga curcol ini bermanfaat ya🙂

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s