Posted in Rumah Kata :)

[FF]: Postcard

images kimono

Aku memandangi deretan postcard yang dikirim Erina seminggu yang lalu. Postcard bergambar landmark kota Tokyo, Tokyo tower, bunga sakura, dan beberapa kuil cantik di Jepang berjejer di meja kerjaku. Sengaja aku letakan begitu.

Hmm..Erina ya? Jika mengingat gadis itu rasanya dadaku langsung bergemuruh. Antara rindu tapi tak ingin bertemu. Kamu pernah merasakannya bukan?

Dia sahabatku, ya setidaknya diantara kami berdua selalu bilang begitu ke orang lain. Erina menikah enam bulan yang lalu. Suaminya orang Malaysia yang sedang bekerja di Tokyo. Mereka bertemu saat kuliah. Ya, Erin melanjutkan pendidikannya ke universitas di Tokyo. Erin magang di kantor dimana suaminya sekarang bekerja. Cinta lokasi. Dan jadilah mereka sepasang suami istri. Begitulah yang Erin bilang kepadaku lewat BBM.

Saat Erin bilang ia akan menikah, aku langsung berteriak histeris. Aku ingat, saat itu sedang ada rapat mingguan kantorku. Iseng aku mengirim Erin BBM, dan tiba-tiba dia mengatakan kalau ia akan menikah.

Deeg. Sepotong hatiku berbinar senang dan sepotong yang lain tidak. Erin menikah? Bagaimana denganku? Bukankah sedari kecil kita berdua selalu bersama-sama? Lalu Erin menikah, kapan Ratih akan menikah? Mestinya itu yang akan ditanyakan orang-orang. Ya, orang-orang yang mengenal seberapa dekatnya kami selama ini.

Tenang aja Ratih, aku nggak akan berubah meski sudah menikah. Kamu masih bisa menghubungiku 24 jam penuh.

Itu yang Erina bilang 6 bulan yang lalu. Sehari sebelum pesta pernikahannya berlangsung. Dua bulan setelahnya aku masih bisa mengajak dia ngobrol di chat, atau telepon lewat BBM, skype dan kirim-kiriman email. Namun sekarang sepertinya statusya menjadi seorang istri perlahan menjauhkan kami. Erin bukan lagi teman yang bisa diajak 24 jam ngobrol, bukan lagi menjadi orang yang pertama memberiku selamat ulang tahun, bukan lagi ini, bukan lagi itu. Aku menerima saja. Toh, bukannya tugas dia yang utama adalah melayani suaminya?

Dan postcard itu, satu persatu datang ke meja kerjaku.

Ada satu postcard yang menarik. Bergambar sepasang pengantin menggunakan kimono. Cantik sekali.

Sebenarnya postcard ini tak lebih cantik dari postcard bergambar festival hanami di Tokyo Ueno Park yang Erin kirim bulan April lalu. Hanya saja, postcard ini Erin kirim menggunakan amplop tertutup.

Ada dua lembar foto didalamnya. Foto Erin dengan suaminya yang tengah bergandengan tangan. Saat aku balik foto itu, terdapat tulisan yang membuatku tak bisa berkata-kata.

Ratih. See how’s love work. I’m pregnant.

Aku merasakan butiran bening mengalir di kedua pipiku. Sahabatku, si cantik Erin tengah hamil?

Aku segera meneleponnya. Bodo amat jika harus kehabisan banyak pulsa. Aku hanya ingin mendengar Erin bilang jika ia tengah hamil. aku ingin memberinya ucapan selamat secara langsung. Iya, itu saja.

Lima kali kucoba, selalu saja mailbox yang menjawabnya.

Ini yang keenam kalinya. Erin berbicara di seberang.

“Iya, halo ratih!”

“Erin selamat ya..,”

“Ratih, kamu udah terima postcardnya? Ah, iya ini sebenarnya ide Mahmud untuk mengirimu foto itu. Maaf ya Ratih jika agak mengganggumu,”

Lalu mengalirlah cerita-ceritanya sepanjang 6 bulan pernikahannya. Berulang kali aku menggigit bibir, menahan tangis. Berdoa semoga ini semua cepat berakhir.

***

Siang ini ditemani red velvet dari bakery seberang kantor, aku kembali sibuk dengan postcard ku. Lima buah postcard dengan tema kepulauan Indonesia siap aku kirimkan ke Eropa dan Asia. Ada dua temanku, sesama postcrosser yang tinggal di Ukrain, menginginkan postcard dari keindahan alam Indonesia. Tiga yang lain postcrosser dari Korea dan Jepang.

“Mba Ratih ada surat,” suara Debi, anak magang di kantorku mengalihkanku dari tumpukan postcard koleksiku.

Surat dari Bandung. Dari Ibu.

Isinya singkat, padat, dan jelas.

Ratih, awal ramadhan ini pulang ya. Ada yang ingin ibu kenalkan kepadamu. Kamu masih ingat laki-laki yang menolong ibu saat jatuh dari motor sebulan yang lalu? Kemarin ibu tak sengaja bertemu saat pengajian di masjid raya. Dia bekerja di kedutaan besar. Ibu menanyakan apakah dia sudah menikah? Ternyata dia masih membujang. Ibu tawarkan untuk berkenalan denganmu, Ratih. Sepertinya dia cocok denganmu. Setidaknya untuk pekerjaan, kalian berada di jalur yang sama.

Dua kali aku baca surat dari ibu.

Aku mengambil postcard bergambar hati, koleksiku yang aku dapat dari hasil swap dengan postcrosser asli Jakarta.

Kepada ibu aku tuliskan,

Tentu saja ibu, dengan senang hati aku akan pulang.

Kupandangi deretan postcardku. Entah kenapa, postcard bergambar pengantin Jepang berkimono itu seperti tersenyum kepadaku.

Ah, iya. Aku harus menghubungi Erina. Hari ini dia merayakan ulang tahun putrinya yang pertama.

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s