Diposkan pada Rumah Kata :)

Kamu, yang Membuatku Jatuh Cinta Lagi

fb6a4949f0fb25a6ca26cfb5fb8480f8

Salwa memandangi deretan Gazebo yang berjajar di Elison Park. Berulang kali ia melirik jam tangannya.

“Sudah pukul lima sore, kemana pula Dias?bukankah tadi ia bilang mau menunggu di Gazebo Taman Elison,” Salwa bergumam sendiri. Seandainya ponselnya tidak mati karena kehabisan baterai, ia pasti sudah menghubungi Dias. Laki-laki itu memang selalu begini. Jika Salwa hendak belanja, ia seringkali menolak ikut. Alasannya sederhana: ia tak pernah bisa lama-lama diantara kerumunan manusia. Dias selalu memilih menunggu sampai Salwa selesai belanja. Ia lebih senang jalan-jalan di sekitar pertokoan, mengamati barang-barang yang disukainya, dan tentu saja suasana toko harus lengang. Selain itu, Dias lebih senang lagi jika menemukan taman. Iya, taman kota adalah spot favoritnya untuk menunggu. Laki-laki itu dengan senang hati akan duduk manis dan mulai membaca buku.

Tapi, kali ini tebakan Salwa meleset. Laki-laki berkacamata yang bilang akan menunggunya di Taman Elison tak kelihatan batang hidungnya.

“Aku yakin kegemarannnya yang suka menghilang secara tiba-tiba sedang kambuh. Aku harus mencari tahu kemana kira-kira dia pergi,” Sambil menenteng belanjaannya, Salwa berjalan menuju taman Elison. Setidaknya ia bisa duduk sejenak sambil melihat-lihat dimana Dias berada. Siapa tahu laki-laki itu tiba-tiba muncul seperti yang biasa dia lakukan.

Setengah jam berlalu. Kali ini Salwa mulai kesal karena Dias belum juga kembali. Maghrib akan datang dua jam lagi dan Salwa belum menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.

“Assalamualaikum!” suara itu sangat Salwa kenal.

“Waalaikumsalam ya Suamiku!” jawab Salwa sedikit menjerit saking kesalnya.

“Darimana saja kamu?” tanyanya lagi.

Laki-laki itu tersenyum.

“Aku beli ini. Selama ini bunda ngidam makanan ini kan?” Dias menenteng satu kotak makanan.

“Ayah beli apa?” Tanya Salwa menyelidik.

“Nasi Padang. Kebetulan saat asyik jalan-jalan di sekitar sini, ayah menemukan resto Indonesia dan taraa….ada nasi padangnya. Ayah jadi inget bunda yang ngefans berat sama nasi padang. Tiga bulan di Jerman, bunda belum pernah makan nasi padang kan?” Dias tergelak melihat ekspresi Salwa. Ekspresi kejengkelan yang sudah tak bisa diekspresikan dengan kata-kata lagi.

“Lagi-lagi ayah ngilang, bunda mending pulang sendiri ke flat,”

“Yey, siapa suruh handphone-nya mati. Ayah juga sudah berusaha telepon,”

Salwa cemberut.

“Ya udah bun, maafin ayah. Yuk pulang! Sebentar lagi adzan maghrib. Ayah nggak mau buka di jalan, ayah pengin buka puasa sama masakan bunda,”

Dias menggandeng tangan Salwa. Di tengah langit yang mulai merona merah, Salwa mulai menyadari, jika mulai saat ini ia harus memahami suaminya itu. Meskipun ia tak suka kebiasaannya yang suka menghilang tiba-tiba, namun laki-laki itulah yang bisa membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.

Di langit Aachen sore itu, Salwa seperti melihat senyumnya mengembang lebih cantik bersama laki-laki bernama, Dias.

diikutkan dalam #FF2in1 NulisBuku

Diposkan pada Rumah Kata :)

Kepada Kamu, Laki-Laki yang Dia Bilang Paling Romantis

mawar

Kamu tahu, boi, gadis mana yang selalu bilang jika kamu laki-laki paling romantis sedunia?

Mungkin kamu sudah bisa menebaknya. Setiap hari kalian selalu bersama-sama. Ke kampus, ke kantin, ke perpus. Seandainya ibumu mengijinkan, dia pasti sudah kamu ajak ke rumah.

Boi, jangan anggap aku tak tahu apa-apa ya.

Kamu masih ingat? Kamu pernah merengek kepadaku. Kamu ingin sekali berkenalan dengan si lesung pipit, teman kuliahku. Lalu aku ajak kalian bertemu. Ternyata perasaanmu bersambut, boi.

Beruntungnya dirimu…

Asal kamu tahu Boi, setiap kali dia bilang kamu laki-laki paling romantis sedunia, aku hanya bisa menahan senyumku

Dia bilang kamu suka memberinya kejutan.

Itu, sudah kamu lakukan lebih dulu kepadaku.

Dia bilang kamu suka anter-jemput kemana pun dia pergi

Bukankah, dulu kamu selalu menawarkan ingin mengantarku kemana pun aku pergi?

Dia bilang kamu selalu memberinya setangkai mawar merah dengan pita pink dililitkan ditangkainya yang berduri

Kamu sudah lebih dulu melakukannya kepadaku. Bahkan bukan hanya mawar merah. Karena aku penggila bunga, kamu suka sekali memberiku berbagai jenis bunga berwarna cerah.

Boi, seandainya kamu tahu, gadis itu bukanlah gadis satu-satunya yang bilang kamu romantis.

Aku melakukannya lebih dulu.

Apa mungkin nanti akan ada gadis lain yang bilang kamu romantis?

Jika kamu masih menganggap hati wanita hanya persinggahan sementara saja. Mungkin ribuan gadis akan memelukmu, seraya berkata,

“Kamu, laki-lakiku yang paling romantis!”

Dan aku tidak akan bisa kamu tipu lagi.

Selamat menjadi romantis!