Diposkan pada Cerita Buku

[Review]: Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya

10808649_363792987131148_1873406145_n

Weekend ini saya habiskan dengan jalan-jalan ke Gramedia. Berhubung saya sedang suntuk berat plus sifat introvert lagi muncul jadinya saya memilih pergi ke toko buku sendiri. Istilah gaulnya ya me time gitu deh 😀

Setelah muter-muter di gramed selama hampir 2 jam, saya memutuskan membeli buku Sabtu Bersama Bapak karangan Adhitya Mulya. Actually ini buku sudah saya incar sejak seminggu yang lalu, pas main ke Gramed di kampung halaman langsung jatuh cinta pada pandangan pertama #eaaa. Jujur, ini buku pertama dari mas Adhitya Mulya yang saya baca (Kalau bukunya Mba Ninit sih sudah banyak hehe #ceritanyapenggemarninityunita)

Oke, buku ini adalah buku tercepat yang saya baca dalam sekali waktu. Yups, cukup 3 jam buku ini selesai baca (sambil sesekali mainan games hehe). Dan buku ini sukses bikin saya nangis, terharu, ketawa, dan sebel. Ceritanya ada sebuah keluarga yang awalnya hidup bahagia namun tiba-tiba sang Ayah divonis dokter menderita kanker yang membuat dia hanya bisa bertahan hidup selama setahun, pria itu bernama Gunawan Garnida. Menyadari hidupnya tak lama lagi, pak Gunawan memiliki ide untuk membuat video yang berisi nasihat-nasihatnya demi mempersiapkan anak-anaknya tumbuh dengan baik meski dirinya telah tiada. Sepeninggal pak Gunawan, ibu Itje, istri dari pak Gunawan memutar video-video itu untuk kedua anak mereka, Satya dan Cakra setiap sabtu sore. Di sabtu sore itulah mereka bisa bercengkerama dengan bapak. Hal itu berlangsung sampai mereka dewasa karena memang pak Gunawan telah mempersiapkan video tersebut sampai kedua anaknya menikah. Video-video itu berisi banyak sekali nasihat mengenai bagaimana menjadi ayah, anak, istri, dan suami yang baik. Sampai akhirnya Satya dan Cakra menemukan jodohnya masing-masing, video-video dari bapak mereka tetap diputar dan dijadikan panutan untuk membangun rumah tangga.

Selain membuat saya mingsek-mingsek nangis bombay, buku ini juga bikin mupeng NIKAH! Hayoooo gawat nggak nih, kenapa ujung-ujungnya nikaaaah? Aaaak tolong deh.

Quote-quote keren yang ada di buku:

“Menikah itu banyak tanggung jawabnya. Rencanakan. Rencanakan untuk kalian. Rencanakan untuk anak-anak kalian.” p.21

“Jika ingin menilai seseorang, jangan nilai dari bagaimana dia berinteraksi dengan kita, karena bisa saja itu tertutup topeng. Tapi nilai dia dari bagaimana orang itu berinteraksi dengan orang-orang yang dia sayang.”

“Dia percaya bahwa manusia ditempatkan di dunia untuk membuat dunia ini lebih baik untuk sebagian orang lain. Jika pun seseorang sudah berguna bagi 1-2 orang. Orang itu sudah membuat dunia menjadi lebih baik,” p.30

Dan ini percakapan yang paling saya suka dari keseluruhan buku. Sekali baca ini saya merasa Wow! Adhitya Mulya is so genius!

Mereka berjalan pulang menuju area parkir dengan saling terdiam, terkadang dengan saling curi pandang.

“Mas, nanya dong,” Ayu memecah keheningan.

“Apa tuh?”                                     

“Mas, pernah bilang, bagi Mas, saya itu perhiasan dunia akhirat,”

“Iya,”

“Kenapa bisa bilang begitu?”

“Kamu pintar. That goes without question. Kamu cantik. Itu jelas,”

“Itu semua dunia,” potong Ayu.

“Dan karena pada waktunya, saya selalu lihat sepatu kamu di musala perempuan.”

Gimana? So touched kaaaaan?

Kan, kan kan saya jadi mewek lagi (ealahhh lebay banget deh).

Eniwei, ini buku rekomended banget loh buat para jomblo agar jangan putus asa mencari jodoh, plus jangan banyak gombal gambul. Jika nemu cewek yang baik, yang membuat susah tidur, susah makan karena kepikiran dia terus, sudah deh buruan lamar daripada nanti direbut orang :p, buat para ayah dan calon ayah disini banyak banget petuah yang keren banget, buat para ibu dan calon ibu, hayuk latihan masak! 😀

Selamat membaca!

Iklan
Diposkan pada Rumah Kata :)

Sejatinya Cinta

“Sudah siap?” Dhira tiba-tiba masuk ke dalam kamarku.

“Tunggu sebentar,” aku segera memasang bros bergambar bunga tulip. Warnanya senada dengan jilbabku.

“Sampai kapanpun sepertinya aku nggak bisa ngalahin cantiknya kamu,” Dhira memandangku. “Yuk, berangkat!”

Jujur aku masih ragu. Malam ini tidak seharusnya aku duduk di sebelah Dhira. Duduk di dalam taksi yang membawa kami ke sebuah tempat yang istimewa bagi seseorang.

“Kamu kenapa sih Faz? Daritadi nggak senyum, jangan grogi gitu dong,” Dhira menggodaku.

“Dhir..kamu tahu kan gimana aku? Duh, nanti kalau aku menunjukan tanda-tanda mau pingsan cepat antar aku pulang ya,”

Dhira terbahak mendengar jawabanku.

***

Gedung berwarna hijau pastel berdiri megah dihadapanku. Perutku tiba-tiba saja mulas. Duh…

Ayolah Faza kamu kuat…kamu kuat…

Aku merapikan lagi jilbabku. Gamis berwarna dusty pink ini setidaknya membuatku merasa sedikit nyaman.

Alunan musik bernuansa Arab mengalun merdu dari dalam gedung. Puluhan orang menyemut berjalan menuju pintu masuk gedung.

“Hai Faza, Dhira!” sapa seseorang.

“Kalian udah ditunggu, yuk ikut aku,” Naya menggamit lenganku. Gadis keturunan arab itu membawa kami kepada dua orang yang paling bahagia malam ini.

Aku gugup. Aku yakin Dhira tahu apa yang aku rasakan. Cepat-cepat ia menggenggam tanganku, berbisik kepadaku kalau ini akan segera berakhir.

“Dika! Selamat ya! Kamu pinter banget loh bikin surprise!” Naya mengucapkan selamat seraya memeluk laki-laki itu. Wajah tampannya semakin mempesona saat ia tersenyum manis melihat kedatanganku dan Dhira.

“Faza, Dhira, wah aku kira kalian lupa tanggal pernikahanku. Dari tadi pagi aku nungguin kalian datang, kok nggak bareng teman kantor?” laki-laki itu menatapku.

Aku tergagap.

“Eh..itu…ehm,”

“Aku tadi pagi nggak enak badan Dik, jadinya ngebatalin dateng bareng teman-teman kantor. Daripada sendirian aku maksa Faza buat nemenin aku, maaf ya Dik..,” cepat Dhira mengambil alih percakapan menyebalkan ini.

“Oh iya, happy wedding ya! Semoga sakinah mawwadah warrahmah,” Dhira menyalami kedua mempelai. Perlahan aku mengikuti apa yang Dhira lakukan. Sesi salam-salaman selesai dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

“Za, are you okay?” Dhira menghampiriku yang tengah duduk di pojok ruangan. Entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa mual.

“Pulang aja yuk,” ajak Dhira.

Aku menggeleng. Biarlah Dhira, biarlah aku disini barang sebentar saja. Di sudut ini aku bisa menemukan cintaku bahagia. Laki-laki itu, meskipun aku belum yakin bisa melepasnya, tapi aku akan mencoba. Iya, aku akan mencoba belajar untuk mencintai yang sebenarnya. Merelakan ia bahagia dengan wanita yang menjadi takdirnya.

diikutkan dalam FF2in1 Nulisbuku

Diposkan pada Rumah Kata :)

yang Namanya Cinta itu…

rain

Hujan. Banyak orang membenci hujan. Tapi lebih banyak lagi yang jatuh cinta kepada hujan. Menurutku, populasi terbanyak adalah mereka yang mengaku suka hujan, senang sekali berkoar-koar di media sosial jika ia jatuh cinta dengan hujan, namun sejatinya mereka menghindari hujan itu sendiri.

Bagaimana bisa?

Bisa saja. Toh, sepanjang hidup sudah beberapa kali aku menemukan kasus seperti ini. Manusia-manusia yang suka bilang kalau dirinya pecinta hujan namun saat hujan turun buru-buru membuka payung atau berlarian mencari tempat untuk berteduh. Berusaha melindungi diri dari tetes-tetes air hujan.

“Kan mau kuliah, kalau basah gimana?”

“Ada meeting penting,”

“Ini kan baju baruku. Baru dipakai pertama kali pula. Duh, kenapa harus hujan sih?”

Mungkin itu alasan-alasan yang tak sengaja mereka lontarkan.

Bukankah yang namanya cinta itu selalu rindu untuk bertemu ya? Cinta itu tak akan menghindar jika yang dicintainya datang mendekat?

Tapi mereka itu beda.

Para pecinta hujan gadungan itu hanya ingin dianggap sok nyastra, biar kece, biar disangka manusia-manusia puitis.

Lebih baik laki-laki itu. Iya, laki-laki berkacamata yang tak sengaja aku temui tadi pagi di pelataran parkir gedung Rektorat kampus.

“Hujan mas, masih nekat pulang?” kataku, berusaha mencegah laki-laki itu menerobos hujan. Laki-laki itu tersenyum kepadaku. Ia menengadahkan tangannya, membiarkan telapak tangannya basah oleh air hujan.

“Lihatlah, tanganku masih utuh kan? Tidak terluka. Hanya basah saja,”

“Lah kan memang kena air mas, ya basah dong,” protesku.

“Kalau basah itu tidak menyakitimu, kenapa kamu mesti takut?” Ia berlari kecil ke arah motornya. Cepat ia memasang helm dan menghidupkan motor Supra bebeknya.

Saat melewati tempatku berdiri, ia melambatkan sepeda motornya dan mengangguk sopan. Aku balas tersenyum kepadanya. Meski hujan, ia terlihat biasa saja. Raut wajahnya sama sekali tidak menampilkan kekesalan.

***

“Kenapa? Kamu masih mau protes sama para pecinta hujan gadungan itu?” tanya Rosyida saat kita selesai mengikuti kajian di masjid kampus. Kebetulan hujan baru saja turun dengan derasnya. Mulailah kudengar keluhan-keluhan klise dari beberapa mahasiswa.

“Nggak. Lagian mau diprotes berapa kali mereka pasti akan tetap begitu. Kerjaannya sibuk mengeluh tapi dilain waktu memuji-muji bak seorang putri. Aneh kan?”

“Sudahlah, kamu itu terlalu menganggap serius semua ini,” Rosyida memilih untuk sibuk dengan gadgetnya. Mungkin ia tengah mengirim sms ke adik-adik menteenya tentang jadwal halaqoh yang harus tertunda karena hujan.

Aku terdiam. Kualihkan pandanganku pada pelataran masjid kampus yang luas.

Seorang laki-laki, berkacamata berjalan menerobos hujan. Wajahnya tak pernah menunjukan kekesalan. Ia dengan bebas menyebrangi halaman masjid dan melompat masuk ke dalam angkot yang kebetulan lewat.

Laki-laki itu?

Mungkinkah ia sebenarnya yang pantas dijuluki pencinta hujan?

Yang namanya cinta itu kan harus berkorban. Laki-laki itu mengorbankan dirinya dengan dingin yang menjalar di seluruh tubuhnya

Yang namanya cinta itu kan harus bersabar. Laki-laki itu menunggu hujan karena ia tak tahu kapan sejatinya kekasihnya itu akan turun

Yang namanya cinta itu penuh keikhlasan. Hanya kamu dan Tuhanmu saja yang tahu seberapa besar rasa cinta yang kamu miliki untuk sesuatu yang kamu cintai itu.

Jika seperti itu, aku mungkin juga sama dengan para pecinta hujan gadungan itu.

Karena sejatinya,

Aku jatuh cinta kepadamu tapi tak ingin benar-benar bertemu.

photo by: physicworld