Posted in Rumah Kata :)

yang Namanya Cinta itu…

rain

Hujan. Banyak orang membenci hujan. Tapi lebih banyak lagi yang jatuh cinta kepada hujan. Menurutku, populasi terbanyak adalah mereka yang mengaku suka hujan, senang sekali berkoar-koar di media sosial jika ia jatuh cinta dengan hujan, namun sejatinya mereka menghindari hujan itu sendiri.

Bagaimana bisa?

Bisa saja. Toh, sepanjang hidup sudah beberapa kali aku menemukan kasus seperti ini. Manusia-manusia yang suka bilang kalau dirinya pecinta hujan namun saat hujan turun buru-buru membuka payung atau berlarian mencari tempat untuk berteduh. Berusaha melindungi diri dari tetes-tetes air hujan.

“Kan mau kuliah, kalau basah gimana?”

“Ada meeting penting,”

“Ini kan baju baruku. Baru dipakai pertama kali pula. Duh, kenapa harus hujan sih?”

Mungkin itu alasan-alasan yang tak sengaja mereka lontarkan.

Bukankah yang namanya cinta itu selalu rindu untuk bertemu ya? Cinta itu tak akan menghindar jika yang dicintainya datang mendekat?

Tapi mereka itu beda.

Para pecinta hujan gadungan itu hanya ingin dianggap sok nyastra, biar kece, biar disangka manusia-manusia puitis.

Lebih baik laki-laki itu. Iya, laki-laki berkacamata yang tak sengaja aku temui tadi pagi di pelataran parkir gedung Rektorat kampus.

“Hujan mas, masih nekat pulang?” kataku, berusaha mencegah laki-laki itu menerobos hujan. Laki-laki itu tersenyum kepadaku. Ia menengadahkan tangannya, membiarkan telapak tangannya basah oleh air hujan.

“Lihatlah, tanganku masih utuh kan? Tidak terluka. Hanya basah saja,”

“Lah kan memang kena air mas, ya basah dong,” protesku.

“Kalau basah itu tidak menyakitimu, kenapa kamu mesti takut?” Ia berlari kecil ke arah motornya. Cepat ia memasang helm dan menghidupkan motor Supra bebeknya.

Saat melewati tempatku berdiri, ia melambatkan sepeda motornya dan mengangguk sopan. Aku balas tersenyum kepadanya. Meski hujan, ia terlihat biasa saja. Raut wajahnya sama sekali tidak menampilkan kekesalan.

***

“Kenapa? Kamu masih mau protes sama para pecinta hujan gadungan itu?” tanya Rosyida saat kita selesai mengikuti kajian di masjid kampus. Kebetulan hujan baru saja turun dengan derasnya. Mulailah kudengar keluhan-keluhan klise dari beberapa mahasiswa.

“Nggak. Lagian mau diprotes berapa kali mereka pasti akan tetap begitu. Kerjaannya sibuk mengeluh tapi dilain waktu memuji-muji bak seorang putri. Aneh kan?”

“Sudahlah, kamu itu terlalu menganggap serius semua ini,” Rosyida memilih untuk sibuk dengan gadgetnya. Mungkin ia tengah mengirim sms ke adik-adik menteenya tentang jadwal halaqoh yang harus tertunda karena hujan.

Aku terdiam. Kualihkan pandanganku pada pelataran masjid kampus yang luas.

Seorang laki-laki, berkacamata berjalan menerobos hujan. Wajahnya tak pernah menunjukan kekesalan. Ia dengan bebas menyebrangi halaman masjid dan melompat masuk ke dalam angkot yang kebetulan lewat.

Laki-laki itu?

Mungkinkah ia sebenarnya yang pantas dijuluki pencinta hujan?

Yang namanya cinta itu kan harus berkorban. Laki-laki itu mengorbankan dirinya dengan dingin yang menjalar di seluruh tubuhnya

Yang namanya cinta itu kan harus bersabar. Laki-laki itu menunggu hujan karena ia tak tahu kapan sejatinya kekasihnya itu akan turun

Yang namanya cinta itu penuh keikhlasan. Hanya kamu dan Tuhanmu saja yang tahu seberapa besar rasa cinta yang kamu miliki untuk sesuatu yang kamu cintai itu.

Jika seperti itu, aku mungkin juga sama dengan para pecinta hujan gadungan itu.

Karena sejatinya,

Aku jatuh cinta kepadamu tapi tak ingin benar-benar bertemu.

photo by: physicworld

Penulis:

Sedang mencari kamu

One thought on “yang Namanya Cinta itu…

  1. Kalau menurut saya, “mereka” bukan pecinta gadungan.
    Karena cinta punya kadarnya sendiri-sendiri,
    yang kadang dilengkapi oleh rasa takut,
    kadang dihinggapi rasa khawatir,
    kadang diisi sedikit benci dan ragu.
    Karena kecuali TUHAN, tak ada yang pantas dicintai tanpa tapi.
    karena kecuali TUHAN, semua selalu punya sisi hitam atau abu-abu yang akan mewarnai rasa cinta itu sendiri.

    Sama dengan mencinta hujan.
    Sesekali menghindari basah, bukan berarti tak sejati mencintainya.
    Sesekali menutup telinga dan takut akan gelegar petir yang menyertai, bukan berarti setengah hati mencintai.
    Karena sekali lagi,
    meski ada ragu, ada takut, ada khawatir, ada sedikit benci,
    bukan berarti itu bukan cinta.🙂
    Mungkin itu justru cara “mereka” yang berupaya mencintai hujan apa-adanya,
    seperti hujan yang juga mencintai apa-adanya “mereka”.🙂

    Salam,
    Seseorang yang juga belajar mencintai hujan apa-adanya. ^_^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s