Posted in Rumah Kata :)

Sejatinya Cinta

“Sudah siap?” Dhira tiba-tiba masuk ke dalam kamarku.

“Tunggu sebentar,” aku segera memasang bros bergambar bunga tulip. Warnanya senada dengan jilbabku.

“Sampai kapanpun sepertinya aku nggak bisa ngalahin cantiknya kamu,” Dhira memandangku. “Yuk, berangkat!”

Jujur aku masih ragu. Malam ini tidak seharusnya aku duduk di sebelah Dhira. Duduk di dalam taksi yang membawa kami ke sebuah tempat yang istimewa bagi seseorang.

“Kamu kenapa sih Faz? Daritadi nggak senyum, jangan grogi gitu dong,” Dhira menggodaku.

“Dhir..kamu tahu kan gimana aku? Duh, nanti kalau aku menunjukan tanda-tanda mau pingsan cepat antar aku pulang ya,”

Dhira terbahak mendengar jawabanku.

***

Gedung berwarna hijau pastel berdiri megah dihadapanku. Perutku tiba-tiba saja mulas. Duh…

Ayolah Faza kamu kuat…kamu kuat…

Aku merapikan lagi jilbabku. Gamis berwarna dusty pink ini setidaknya membuatku merasa sedikit nyaman.

Alunan musik bernuansa Arab mengalun merdu dari dalam gedung. Puluhan orang menyemut berjalan menuju pintu masuk gedung.

“Hai Faza, Dhira!” sapa seseorang.

“Kalian udah ditunggu, yuk ikut aku,” Naya menggamit lenganku. Gadis keturunan arab itu membawa kami kepada dua orang yang paling bahagia malam ini.

Aku gugup. Aku yakin Dhira tahu apa yang aku rasakan. Cepat-cepat ia menggenggam tanganku, berbisik kepadaku kalau ini akan segera berakhir.

“Dika! Selamat ya! Kamu pinter banget loh bikin surprise!” Naya mengucapkan selamat seraya memeluk laki-laki itu. Wajah tampannya semakin mempesona saat ia tersenyum manis melihat kedatanganku dan Dhira.

“Faza, Dhira, wah aku kira kalian lupa tanggal pernikahanku. Dari tadi pagi aku nungguin kalian datang, kok nggak bareng teman kantor?” laki-laki itu menatapku.

Aku tergagap.

“Eh..itu…ehm,”

“Aku tadi pagi nggak enak badan Dik, jadinya ngebatalin dateng bareng teman-teman kantor. Daripada sendirian aku maksa Faza buat nemenin aku, maaf ya Dik..,” cepat Dhira mengambil alih percakapan menyebalkan ini.

“Oh iya, happy wedding ya! Semoga sakinah mawwadah warrahmah,” Dhira menyalami kedua mempelai. Perlahan aku mengikuti apa yang Dhira lakukan. Sesi salam-salaman selesai dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

“Za, are you okay?” Dhira menghampiriku yang tengah duduk di pojok ruangan. Entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa mual.

“Pulang aja yuk,” ajak Dhira.

Aku menggeleng. Biarlah Dhira, biarlah aku disini barang sebentar saja. Di sudut ini aku bisa menemukan cintaku bahagia. Laki-laki itu, meskipun aku belum yakin bisa melepasnya, tapi aku akan mencoba. Iya, aku akan mencoba belajar untuk mencintai yang sebenarnya. Merelakan ia bahagia dengan wanita yang menjadi takdirnya.

diikutkan dalam FF2in1 Nulisbuku

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s