Posted in Curhat Tentang Film

Assalamualaikum Beijing, Assalamualaikum Cinta

Assalamualaikum Beijing

Assalamualaikum Beijing merupakan film adaptasi dari novel karya Asma Nadia. Film ini menceritakan tokoh Asmara yang akrab dipanggil Asma/Ra yang mencoba bangkit setelah cintanya kandas karena ulah tunangannya.

Film ini dibuka dengan adegan antara Asmara (Revalina S.Temat) dengan tunangannya, Dewa (Ibnu Jamil). Pernikahan Asma yang tinggal sebentar lagi terpaksa dibatalkan karena Dewa mengaku telah selingkuh dengan cewek bernama Anita sampai Anita hamil. Dewa terus bersikeras untuk mempertahankan hubungannya dengan Asmara. Namun, wanita mana sih yang mau dimadu? Apalagi ini belum menikah sudah diselingkuhi. Akhirnya Asmara merelakan cintanya kandas dan ia memilih untuk menutup lembaran hidupnya bersama Dewa.

Tiga bulan kemudian, Asma terbang ke Beijing untuk melakukan tugasnya sebagai reporter. Disana ia bertemu dengan sahabatnya yang bernama Sekar (Laudya Chintya Bella) dan suami Sekar bernama Ridwan (Deddy Mahendra Desta). Sekar yang enerjik dan Ridwan yang kaku membuat Asmara harus terbiasa mendengar keributan-keributan kecil yang dihasilkan dari pasangan muda ini.

Suatu hari, saat Asma dalam perjalanan untuk mencari berita, ia bertemu dengan cowok ganteng bernama Zhungwen (Morgan Oey). Zhungwen membantu Asma menunjukkan halte bus yang Asma tuju. Mereka pun berkenalan. Zhungwen tertarik dengan cara Asma memberi salam, ia menolak menerima jabat tangan dari Zhungwen, Asma membalas salamnya dengan menangkupkan tangannya di depan dada. Ya, karena bagi muslimah haram hukumnya menyentuh yang seseorang yang bukan muhrimnya. Pada pertemuan pertama tersebut Zhungwen berjanji untuk menemui Asma lagi untuk menceritakan legenda favoritnya yang bernama Ashima (Zhungwen tidak bisa mengucapkan Asma, ia selalu memanggil Asma dengan Ashima).

Pertemuan singkat itu ternyata berlanjut. Zhungwen dan Asma kembali bertemu. Zhugwen yang ternyata seorang tour guide ditugaskan menjadi tour guide Asma selama di Beijing. Jadilah mereka berdua banyak menghabiskan waktu bersama. Zhungwen semakin tertarik dengan Asma. Ia pun sedikit demi sedikit mulai belajar tentang Islam.

Menonton film ini membuat saya tertawa, terharu dan berteriak gemas. Ya, meskipun film ini sejujurnya bukan film yang ingin saya tonton banget, saya bisa bilang kalau film ini tidak membuat saya menyesal. Menonton film ini membuka kembali lembaran lembaran mimpi-mimpi saya semasa awal kuliah dulu. Yup, go abroad. Melihat Beijing di film ini membuat saya ingin berada disana. Ikut menari tari tradisioal China atau berjalan melintasi megahnya Great Wall. Selain setting tempat yang mempesona, saya juga terhibur dengan aktor dan aktris yang bermain disini. Tokoh Asma diperankan oleh Revalina S. Temat dan menurut saya Reva mampu memvisualisasikan tokoh Asma yang cerdas dan mandiri. Selain itu duo Sekar-Ridwan juga menjadi favorit saya. Sekar yang notabene drama-queen banget sukses diperankan oleh Laudya Chintya Bella. Dan Desta juga bisa memerankan Ridwan yang terkesan kaku dan nggak romantis. Dialog-dialog mereka kocak dan membuat saya tertawa. Ibnu Jamil memerankan tokoh Dewa, laki-laki yang pengecut dan tidak bertanggung jawab. Greget banget deh saya sama tokoh Dewa ini. Kalau ada yang seperti ini dikehidupan nyata mending langsung kirim aja ke planet Mars (:p). dan taraaaa tokoh Zhungwen juga membuat saya kesengsem. Ehm, lebih tepatnya saya terpesona dengan akting Morgan Oey. Mungkin gara-gara ekspetasi saya terlalu rendah terhadap akting mantan anak boyband ini. Dan ternyata aktingnya bagus dan sukses membuat saya jatuh cinta dengan Zhungwen (atau Morgan?haha).

Ada satu quote yang berhasil saya ingat. Quote ini diucapkan Zhungwen saat melamar Asma, “Untuk mewujudkan cinta yang sempurna, tidak membutuhkan fisik yang sempurna,”. Duh, daleeeemnyaaa >,<

Oh iya, ceritanya Asma mengalami sakit yang nggak bisa sembuh. Asma menjadi lumpuh dan sewaktu-waktu bisa kehilangan penglihatannya. Namun, dengan gagah beraninya Zhungwen tetap melamar Asma meskipun kondisinya tidak sesempurna saat pertama kali mereka bertemu. Bagi Zhungwen, Asma adalah Ashimanya selamanya, cahaya yang membawanya mendapatkan hidayah Allah swt.

Nilai minus film ini sih selalu tentang product placement sponsor yang seenak jidat. Toh ini khas film Indonesia kan? Mual-mual deh ngeliat minuman teh dalam botol diperlihatkan berulang-ulang, bikin saya ketawa saja. Ya sudah lah, mungkin ini bisa menjadi perbaikan di film-film berikutnya. Jika memang sponsor harus muncul dalam adegan film boleh saja asal porsinya juga harus diperhatikan. Kan, lucu aja jauh-jauh ke Beijing cuma bawain N* Green Tea :p

Eniwei, setelah nonton film ini saya semakin bertanya-tanya, “Kapan saya bisa menemukan laki-laki seperti tokoh Zhungwen? Yang sabar, santun, dan begitu menghormati wanita yang dicintainya?”

Intinya, memang harus bersabar. Karena kata mbak Asma Nadia, Cinta itu sejatinya menjaga, yang tergesa-gesa adalah nafsu semata.

Bagi para lajang, para single selamat berjuang!😀

Penulis:

Sedang mencari kamu

2 thoughts on “Assalamualaikum Beijing, Assalamualaikum Cinta

  1. Selamat pagi.. saya mahasiswi UGM, sedang skripsi mengenai product placement di film. boleh saya kontak anda untuk menanyakan beberapa hal mengenai pendapat anda tentang product placement di film Assalamualaikum Beijing? terima aksih sebelumnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s