Posted in Cerita Sehari-hari

KaKaEn’s Story (Dibuang Sayang, Dibuang Jangan)

IMG_20150115_121527

Assalamualaikum🙂

Duh, rasanya lama banget ya nggak update nih blog *Ada yang kangen saya? :p

Okay, kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman KKN saya. Alhamdulillah KKN kemarin saya ditempatkan di sebuah kabupaten yang jaraknya nggak jauh-jauh dari Semarang alias kabupaten Demak. Dalam satu kecamatan terdiri dari beberapa desa. Nah, khusus kecamatan saya, ada 18 desa yang mendapatkan kesempatan dihuni oleh KKN Undip.

Dalam satu desa terdapat satu kelompok KKN yang terdiri dari 7 mahluk unyu. Saya mendapatkan kelompok yang anggotanya sungguh sangat beragam baik dari jurusan maupun karakter tiap individunya. Oke, saya bakal menjelaskan teman sependeritaan saya selama KKN 35 hari di sebuah desa antah berantah di kabupaten Demak.

  1. Kordes

Namanya aslinya sih Budi tapi seringnya saya panggil kordes gitu. Ini anak asalnya dari fakultas Hukum. Paling alim diantara cowok-cowok yang ada. Yang paling saya nggak demen, si Budi ini doyan make minyak wangi yang baunya bikin pusying tujuh keliling! Duh, kalau si Budi udah make nih minyak wangi bisa dipastikan cewek-cewek langsung teriak dan lempar bantal gitu! Oya hobinya main rebanaan dan ngobrol lama-lama sama orang orang tua.

  1. Budhe

Nama aslinya Anggi. Mahasiswi ilmu gizi angkatan 2011, paling hobi makan dan tidur (standar banget!). Bagi saya Anggi adalah karakter paling netral diantara mahluk-mahluk KKN lain. Hobinya nonton dorama jepang Ittazura Na Kiss. Dan gara-gara si Anggi ini semua cewek-cewek jadi demen nonton Itta Kiss! Anggi paling demen kalau ngritik Budi. Terutama kalau si Budi make minyak wangi maut!

  1. Bulek

Hihihi kalau inget bulek jadi inget paklek Salman. Oke, bulek itu sebutan untuk temen saya Dwi Rizki. Mahasiswi ilmu gizi seangkatan sama Anggi. Cewek paling kalem seKKN (menurut saya sih haha yang lain dilarang protes ya!). Bulek adalah tipe cewek pecinta Korea. Saya yang nggak mudeng Korea and the boyband hanya bisa melongo kalau diajak bahas lagu-lagu Korea.

  1. Eyang

Cewek teknik lingkungan ini mendapat sebutan kesayangan dari kita dengaaaan Eyang!nama aslinya Salasatun alias Satun. Umur sih masih muda tapi kata-katanya suka sok bijak gitu. Hobinya sama kayak bulek, doyan banget sama Korea and the gank. Paling suka joget-joget ngikutin gayaboyband Korea. Duh, pusing pala belbi!

  1. Dedek

Nama aslinya sih Vina, tapi karena suatu tragedi salah ngeline, akhirnya dia dipanggil DEDEK sama kita! Pokoknya kocak deh kalau inget tragedi salah Line itu. Mahasiswi Arsitektur 2011. Sama seperti Eyang dan Bulek, hobinya ngublek-ngublek DraKor alias drama korea. Bayangkan, kalau udah demen sama drakor, bangun tidur pun bisa langsung nyalain leptop dan nonton drakor sambil mingsek-mingsek nangis atau ketawa ngakak. Duh, pusing pala plinces!

  1. Baby Huey

No commeeeeeeeent.

Jadi, selama 35 hari saya hidup bareng mereka. Banyak kegiatan yang dilakukan di desa. Contohnya nih, makan, nonton film, tidur, makan, nonton film, tidur. Ups! Bukan deng..itu liburan atau KKN? -_-

Jadi dalam KKN kita memiliki banyak program (sekitar 34 program) yang wajib dilaksanakan baik individu maupun kelompok. Contohnya nih program saya terkait kesehatan, seperti pelaksanaan senam lansia, sosialisasi bahaya hipertensi, sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat, sosialiasi pentingnya perawatan payudara untuk ibu hamil dan nifas. Kocak banget nih waktu pelaksanaan senam lansia, jadi saya minta bantuan bidan desa untuk membantu pelaksananaan senam lansia khususnya untuk ngumpulin warga gitu. Nah sama bu bidan waktunya di pas in sama kegiatan posyandu lansia. Biasanya kalau nggak ada mahasiswa KKN, kegiatan posyandu lansia Cuma tensi dan bagi obat. Nah berhubung ada program saya yang senam lansia jadi deh para mbah putri dan mbah kakung ini dilarang pulang setelah pembagian obat. Kita pun senam. Alhamdulillah mbah-mbahnya pada ketawa-ketawa gitu karena merekaa geli mungkin ya karena nggak biasa senam. Dan waktu selesai ada mbah-mbah yang nyeletuk, “Ini nggak dikasih susu ya?” hadeuuh, saya langsung kena sentilan nih. Saya pun hanya membalas dengan senyum tulus. Ternyata beberapa warga terbiasa melakukan sesuatu dengan imbalan materi. Ckckck, perlu dikasih pencerahan nih…

Contoh kegiatan lain adalah ikut pengajian jamaah ibu-ibu. Berhubung Demak adalah kota Wali, jadi kondisi masyarakatnya agamis gitu. Saya seneng sih jadi sering ikutan pengajian dapet makan gratis pula (uups). Tapi kalau siangnya habis ada kegiatan gitu seringnya malamnya ngantuk dan bolos ikut pengajian. Saya dan teman-teman lebih memilih untuk tidur di posko KKN (jangan dicontoh ya!).

Kejadian paling absurd menurut saya adalah saat hari pertama KKN saya dan eyang (Sebutan untuk Satun) pergi belanja ke pasar. Kita membeli keperluan sehari-hari macam sendal jepit, ember, trash bag, dll. Nah pas beli trash bag dan sendal di sebuah toko, saya ditanya sama penjual tokonya.

Ibu penjual:        “Dek, KKN ya?”

Saya:     “Nggih bu,”

Ibu penjual: “KKN darimana?”

Saya: (sebut nama kampus)

Ibu penjual: “Dapet desa mana mbak?”

Saya: (sebut nama desa)

Ibu penjual: “Dek, usiamu kayaknya sama kayak usia anakku,”

Saya: “Oh gitu ya bu,”

Ibu penjual: “Iya, kamu kalau saya pek jadi mantu mau gak?”

Saya: ???

Ibu penjual: “Ta pek jadi mantu ya, sama anak saya ya,”

Duh dek, belum ada sehari KKN udah mau dipek mantu sama ibu-ibu. Ya kali, kenal aja belum sama anaknya si ibu ini. Sejak kejadian itu saya diketawain terus sama Eyang Satun, jadi tempat becandaan teman-teman sekelompok. Haissssh, saya penginnya sama siapa dapetnya sama siapa. Duuuh makin pusing pala belbie.

Ada lagi segerombolan pemuda desa yang doyan godain mahasiswi KKN. Jadi merasa kayak bunga desa gitu ya haha.

At least, KKN mengajarkan saya bagaimana komunikasi dengan masyarakat, komunikasi dengan teman satu kelompok, belajar untuk mengesampingkan ego pribadi dan menghargai orang lain. Karena di desa, saya harus benar-benar siap pasang senyum. Setiap keluar rumah harus senyum kanan, senyum kiri. Ketemu ibu-ibu di jalan, sapa ibunya. Ketemu bapak-bapak di jalan, senyum ke bapaknya. Pokoknya unggah ungguh itu nomer satu, nggak boleh disepelakan dan nggak boleh dianggap enteng.

Alhamdulillah KKN telah berakhir. Terimakasih untuk desa TLP (nama disamarkan) atas semua pelajaran selama 35 harinya. Dan terimakasih juga untuk anggota kelompokku yang super duper rempong! Sekarang saatnya balik ke dunia nyata. Balik lagi kuliah dan balik lagi nyusun SKRIPSI!

Nb: btw, kok teman sekelompok saya kok nggak ada yang cinlok ya?

Penulis:

Sedang mencari kamu

One thought on “KaKaEn’s Story (Dibuang Sayang, Dibuang Jangan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s