Diposkan pada Cerita Pendek

Eleanor: Perempuan Senja

perempuan jingga

“Kamu sepertinya perlu refreshing,” kata Hendro kepadaku. Siang tadi saat jam makan siang hampir berakhir, ia mendapatiku sedang duduk melamun di dalam kubikelku. Aku tidak sedang mengejar deadline tugas, tidak juga sedang mengerjakan artikel tentang film terbaru yang harus aku resensi. Aku hanya sedang…pusing!

Ini adalah hari ke sembilan aku tinggal di Surabaya. Kota ini sama saja dengan Jakarta. Sama panasnya, sama macetnya. Mungkin yang membedakan hanya taman-taman di Surabaya terlihat lebih rapi dan hijau. Aku bisa dengan mudah menemukan anak-anak kecil atau muda-mudi yang tengah menikmati keindahan taman di kota ini, sesuatu yang jarang kutemukan di Jakarta. Kepindahanku ke kota ini memang atas perintah atasanku. Mantan petinggi sebuah partai politik-yang notabene adalah pemilik bisnis surat kabar terbesar di Indonesia. Beliau menginginkan aku untuk bergabung bersama tim kota Pahlawan agar semuanya bisa berjalan baik, sebaik yang dulu aku lakukan di Jakarta. Sebenarnya aku ingin menolak perintah ini. Alasannya sederhana, hanya karena kota ini adalah kota dimana kekasihku tinggal. Tidak, sebenarnya bukan kekasih, lebih tepatnya mantan kekasih.

Sore ini kuputuskan untuk mengunjungi tempat rekomendasi dari Hendro.

“Namanya Danau Air Mata,” ucap Hendro kepadaku siang tadi.

Letaknya memang lumayan jauh dari pusat kota. Hendro memberiku semacam peta sederhana agar aku tidak tersesat. Akhirnya, setelah hampir satu jam aku berputar-putar, kutemukan juga Danau Air Mata yang ia sebutkan.

Sesuai usul Hendro, aku datang tepat disaat senja mulai merona merah. Aku begitu terpesona dengan pemandangan di danau ini. Letaknya tepat di pinggir kota membuat tempat ini cukup tenang. Sejauh telingaku bisa mendengar, tak ada hiruk-pikuk jalan raya yang selalu membuatku kesal. Air di danau ini juga tenang. Warnanya kehijauan karena memantulkan rimbunan pohon yang berjajar di tepinya. Tetapi, saat senja seperti ini, warna hijau itu berubah menjadi merah. Ya, warna senja, merah seperti darah.

Disana, disebuah bangku berwarna merah maroon, duduk seorang gadis. Rambutnya panjang sebahu, ada jepit bergambar bunga menempel di atas telinga kanannya. Awalnya, aku tak begitu mempedulikannya. Paling-paling ia penikmat senja, sama sepertiku. Namun, setelah kedatanganku untuk yang ketiga kalinya, gadis itu masih disana. Seperti ia tak pernah beranjak seinchi-pun dari tempatnya duduk.

Meski tak kenal, aku menikmati kebersamaanku dengan gadis itu. Sepertinya, hanya aku dan gadis itu yang rutin mengunjungi Danau Air Mata. Terbukti, saat aku mengarahkan mobilku ke danau itu selama seminggu penuh, gadis itu selalu ada disana. Duduk di bangku panjang berwarna merah maroon. Diam dan terus menatap senja.

Aku tak pernah mengenal wajahnya secara detail, sampai suatu hari kuputuskan untuk mendekat ke bangku panjang berwarna merah maroon. Gadis itu, hmm lebih baik kuberi nama perempuan senja, masih duduk diam sambil menatap senja. Digenggamannya ada setangkai mawar, yang menurutku itu jenis primrose yang mulai layu. Setelah kuamati, ternyata ia cantik. Kulitnya putih, matanya sipit khas keturunan Asia Timur, dan bibirnya berwarna merah, meskipun aku tahu ia tak sedikitpun menyapukan gincu diatasnya. Ia suka sekali memakai baju model Sabrina, sehingga aku bisa leluasa mengamati bahunya yang bersih.

Dan seperti sore-sore berikutnya, kami masih mengaggumi senja dalam diam kami masing-masing.

Tentang Surabaya, aku tidak begitu kesulitan untuk beradaptasi dengan kota ini. Kontrakan yang aku sewa letaknya cukup strategis. Hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai di kantorku. Hanya saja, aku selalu teringat dengan kekasihku-maaf, mantan kekasihku bila menyantap semangkuk bubur ayam di Jalan Pahlawan.

Semangkuk bubur ayam ini makanan favoritnya. Dia, wanita yang dulu pernah menjadi kekasihku. Lanjutkan membaca “Eleanor: Perempuan Senja”

Iklan
Diposkan pada Girl Days Out

#ExploreSemarang: Semarang Contemporary Art Gallery

Hari Sabtu kemarin, saya menghabiskan sore bersama kawan-kawan satu kos. Setelah diskusi panjang lebar terkait tempat wisata mana yang akan kami tuju, akhirnya pilihan jatuh kepada Semarang Contemporary Art Gallery. Rahma, kawan saya langsung googling terkait tempat wisata ini dan dari beberapa blog yang mengulas tempat ini semua isinya positif. Jadilah kami segera bersiap dan berangkat menuju lokasi.

Semarang Contemporary Art Gallery terletak di kawasan kota lama Semarang, tepatnya di Jalan Taman Srigunting. Perjalanan yang kami tempuh dari Undip Tembalang menghabiskan waktu sekitar 50 menit. Perjalanan yang cukup lama mengingat kami terjebak macet di kawasan Jatingaleh. Maklum, akhir pekan selalu dipadati oleh mobil-mobil keluarga. Kami memarkir motor tepat di samping gereja Blenduk karena jarak antara Gereja Belenduk dengan Semarang Contemporary Art Gallery hanya sekitar 100m, tidak terlampau jauh. Tepat pukul 15.30 WIB kami sampai di lokasi. Ternyata jam buka gallery hanya sampai pukul 16.30 WIB. Jadilah kami cuma memiliki waktu sekitar satu jam untuk mengilingi museum 2 lantai ini.

Di lantai pertama kami disambut dengan berbagai jenis karya seni kontemporer seperti patung dan lukisan. Saya kagum dengan karya-karya disini, meskipun kadang saya mengernyitkan dahi dan harus berpikir apa pesan yang terkandung dari lukisan-lukisan maupun patung tersebut. Tapi tenang saja, karena di setiap lukisan sudah ada papan informasi terkait judul karya seni dan penjelasan singkatnya.

Setelah puas berkeliling di dalam gallery, saya dan teman-teman menuju ke taman di lantai 1. Tamannya asri dan indah. Cocok sekali untuk photo session. Kami pun puas jepret sana jepret sini.

IMG_20150509_153114pintu masuk gallery

IMG_20150509_155731

Patung karya Chen Wenling

IMG_20150509_160253

Ikonnya Semarang Art Gallery

IMG_20150509_155519

Atun sedang asyik menikmati salah satu karya

Puas mengunjungi gallery, kami bergegas mencari mushola untuk shalat ashar mengingat jam menunjukan pukul 16.40 WIB. Alhamdulillah, mushola mudah kita jumpai. Berjarak sekitar 50 m dari gallery, tepatnya di kawasan perumahan TNI. Musholanya meskipun kecil tapi rapi.

Saya tertarik dengan sebuah cafe yang terletak tepat di depan perumahan TNI. Kata kawan saya, café ini terkenal di kalangan anak instagram. Dan karena kita semua sudah kepalang haus dan lapar akhirnya kita masuk ke dalam café. Dari tampilan luarnya sih ini café classic banget. Gedungnya jauh dari kesan eksklusif, warna cokelatnya ngeblend banget sama warna-warna tembok bangunan di kanan dan kirinya. Yup, inilah Retro Café.

Selain menyajikan makanan dan minuman, di café ini kita bisa banget foto-foto dengan barang-barang antik seperti sepeda onthel, mobil antik, angklung, dan masih banyak lagi. Untuk tempat duduknya juga didesain dengan gaya yang retro. Kursi tempat kita duduk tidak seperti kebanyakan kursi di cafe, tapi menggunakan kursi kayu macam kursi hias di depan rumah gitu.

Minusnya café ini sih cuma satu, bagi kami mahasiswa harga-harga makanan dan minuman di café ini lumayan menguras uang saku hehe.

 IMG_20150509_172550

saya mencoba main angklung

IMG_20150509_172853

Tampilan dalam cafe

IMG_20150509_172838

Atun ngeliatin apa sih? :v

Note:

  1. Semarang Contemporary Art Gallery beroperasi dari jam 10.00 WIB – 16.30 WIB
  2. Tiket masuk gallery Rp. 10.000
  3. Hasil karya di gallery selalu berubah-ubah setiap pekannya
  4. Oh ya, di retro café kita bisa akses wifi secara gratis dan lagu-lagu yang diputar disana sangat jadoel sekali. Pokokya retro abis!
Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Hore! Kondangan Lagi! :D

Beautiful-Muslim-Post-Wedding-by-Engaging-Images-44

Ceritanya beberapa hari yang lalu saya mendapat undangan pernikahan teman SMA, namanya Elfa Noorisda. Teman saya ini masih kuliah semester akhir di ITB. Anaknya super duper keren! Idola deh pokoknya. Beberapa hari kemudian saya juga mendapat berita gembira dari sahabat saya (yang bulan kemarin baru saja wisuda) kalau tahun ini ia akan menikah. Kalau nggak ada halangan sebelum bulan ramadhan tiba. Waaah, jelas ini surprise banget loh! Sahabat saya ini sebelumnya belum berani cerita-cerita tentang rencananya menikah tahun ini, baru selepas wisuda dia memberitahukannya ke saya. Aww, congrats ya!

Saya selalu senang dengan semua yang berbau pernikahan. Saya senang datang ke pesta pernikahan karena:

  1. Acara pernikahan merupakan acara sakral jadi biasanya tempat untuk menikah di dekorasi secara spesial. Saya selalu suka dengan dekorasi pernikahan dengan banyak bunga dan warna-warna
  2. Tema pernikahan! Yup, di setiap wedding day pasti ada tema warna dari pernikahannya. Saya paling suka dengan warna biru dan merah muda. Lebih terlihat segar dan ceria
  3. Banyak orang bahagia. Nah, di hari pernikahan ini jarang banget ngelihat orang nangis (kecuali nangis haru). Semuanya bahagia. Saya suka 😀
  4. Banyak makanan. Ini yang penting sih, hehe. Biasanya acara pernikahan kan membutuhkan prosesi yang lumayan lama. Nah, asupan makanan yang ciamik penting banget nih.
  5. Bisa foto-foto. Yang paling menyenangkan bisa foto bersama mempelai dengan gaya yang antimainstream. Memorable!

Oh iya, biasanya di acara resepsi pernikahan biasanya ada lagu-lagunya gitu. Nah entah kenapa akhir-akhir ini saya hobi banget cari lagu dengan tema pernikahan. Ini bukan kode loh ya, saya lagi suka aja hehe. Inilah beberapa lagu dengan tema pernikahan yang menurut saya bagus untuk dinyanyikan atau diputar saat resepsi pernikahan.

  1. Barrakalahu-Lakuma-Maher Zain
  2. The Chosen One– Maher Zain
  3. Menikahimu-Kahitna
  4. Dia- Maliq and D’essentials
  5. Yovie n Nuno – Janji Suci
  6. A Brand New Day-Ten 2 Five
  7. I Do (Cherish you)– Eveline
  8. Marry you-Brunno Mars
  9. Menjemput bidadari – Epicentrum (nasyid)
  10. Cinta pertama dan terakhir – Sherina

Sebenarnya saya suka heran sama acara pernikahan yang memutar lagu-lagu yang isinya jauh banget dari tema acara. Misalnya nih saat resepsi pernikahan, eh tukang sound system malah muter lagunya Bang Thoyib yang isinya si Bang Thoyib ini 3 x lebaran dan 3 x puasa nggak pulang-pulang. Horor banget kan ya? Masa, baru nikah udah disajikan gambaran buruk rumah tangga. Ngeri!

Inginnya saya sih, nanti pas resepsi pernikahan saya kelak (ceila) paling nggak tukang sound systemnya sudah dibriefing dulu kali ya buat muter lagu-lagu yang sudah saya ceklis aja. Biar para tamu undangan juga nggak risih gitu denger lagu yang aneh-aneh.

By the way, semoga acaranya lancar ya untuk Elfa dan juga calon suami, dan untuk sahabat saya “L” dan calon suaminya juga (saya samarkan namanya dulu aja kali ya, soalnya undangan belum disebar hehe).

Barrakallah! ^^

bonus: foto-foto post-wed (siapa tahu menginspirasi) 😀

Beautiful-Muslim-Post-Wedding-by-Engaging-Images-45

muslim-couple-20fb6a4949f0fb25a6ca26cfb5fb8480f8sumber gambar: klik disini ya  dan disini

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Curhat Colongan: Revisi kapan selesai?

IMG_20150430_150509[1]

bersama teman satu kosan paling ibu peri, Nunung Hidayati. After sempro.

Sudah lewat tiga minggu sejak saya maju untuk seminar proposal skripsi. Sampai saat ini saya masih tersudut di zona revisi dan belum juga beranjak ke zona selanjutnya, yaitu zona pengambilan data penelitian. Saya rasa lama sekali waktu yang saya perlukan untuk revisi. Saya akui ini salah saya, kurang bisa memanage waktu. Seminggu awal setelah seminar proposal, saya malah asyik menyelesaikan laporan akhir keperawatan komprehensif. Seminggu setelahnya saya mendapat teguran dari Allah untuk meluangkan waktu istirahat berupa sakit. Ya, waktu itu saya terkena flu hebat. Badan meriang dan saya hanya bisa tidur seharian. Jadilah revisi baru bisa saya pegang di akhir minggu kedua. Ternyata mengerjakan revisi cukup 2 hari saja. Saya pikir ke depannya urusan revisi ini cepat selesai, tinggal ketemu dosen, ada revisi, revisi lagi, acc, kelar.

Manusia memang berhak merencanakan, tapi tetap Allah lah sebaik-baik pemberi keputusan.

Sambil membawa hasil revisi saya menemui kedua dosen penguji. Ternyata hanya satu dosen penguji yang bisa ditemui. Itu pun hasil revisian baru bisa diambil 3 hari setelah pengumpulan. Akhirnya saya memutuskan untuk menemui dosen penguji kedua. Dan, tara! Ternyata untuk seminggu ke depan dosen penguji saya agak susah ditemui karena sedang ada tugas dari jurusan. Saya pun luntang-lantung menunggu revisian. Sebenarnya saya bisa tuh memanfaatkan akhir pekan untuk pulang kampung ke Purwokerto. Tapi setelah dipikir-pikir di pertengahan Mei nanti akan ada libur panjang lagi, jadilan saya menunda pulang sampai tanggal itu tiba. Maklum lah, biaya pulang kampung dari Semarang-Purwokerto tidak sedikit. Tiket PP bisa banget digunakan untuk membeli dress baru (duh dasar cewek! >,<)

Sampai detik ini saya masih berkutat dengan revisian skripsi. Agak miris sih, mengingat ini sudah masuk bulan Mei. Padahal saya menargetkan bulan Juli bisa wisuda, atau setidaknya di bulan Juli saya sudah yudisium, mendapatkan gelar S.Kep. dan ikut wisuda periode berikutnya di bulan Oktober. Sebagian teman-teman saya sudah ada yang melakukan penelitian, sebagian besar lainnya masih berkutat dengan jadwal seminar proposal. Saya jadi teringat dengan pesan karib saya yang kuliah di keperawatan Unsoed. Ia menulis seperti ini di what’s app: “Skripsi itu tak ada yang mudah. Setiap dari penelitian kita memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Satu lagi, ingat ya, jangan pernah membandingkan penelitian kamu dengan penelitian temanmu. Tak akan sama, mereka punya jalannya sendiri-sendiri,”

Sepertinya saya harus kencangkan ikat pinggang. Tak boleh terlalu santai (tapi juga nggak boleh terlalu terforsir, bisa stres sendiri hehe) dalam menyusun skripsi ini. Seringkali ibu atau bapak mengirim sms menanyakan perkembangan skripsi. Saya hanya bisa menjawabnya dengan minta didoakan agar diberi kelancaran dan dimudahkan dalam menyelesaikan skripsi. Saya yakin sekali, proses skripsi saya sampai detik ini banyak dicampuri oleh doa-doa yang dipanjatkan orang tua. Mungkin usaha yang saya lakukan hanya dihitung beberapa persen, selebihnya doa bapak dan ibu yang menolongnya.

Begini ya rasanya menyusun skripsi. Nano-nano! Semoga saja penelitian saya lancar sampai sidang hasil. Semoga bisa wisuda di bulan Juli 2015. Semoga bisa lulus cumlaude. Semoga ibu dan bapak bisa tersenyum bangga di hari dinobatkannya saya menjadi wisudawati tersebut.

Inilah kata-kata sakti yang berpengaruh besar didalam saya ngetik-ngetik skripsi. Sebuah quote maha sakti dari imam besar Imam Syafi’i:

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang

Imam Syafi’i

Buat teman-teman yang sedang menyusun skripsi, tetap semangat ya! 🙂