Diposkan pada Cerita Pendek

[CERPEN] Menikahimu

wedding_06

“Nina, sepuluh menit lagi aku take off. Perkiraan subuh besok aku sampai di Jakarta,”

Yippie!! Aku berteriak senang saat membaca pesan dari mas Demas. Akhirnya Long Distance Relationship untuk sementara ini akan segera berakhir dalam beberapa jam. Aku segera membereskan meja kerjaku. Deadline laporan artikel untuk edisi bulan depan baru saja beres lima menit yang lalu. Aku menguap lebar.

“Nin! Payah banget sih, masih sore udah ngantuk!” Jossy menepuk kepalaku dengan common note nya.

“Ngopi ngopi yuk sebelum balik?” ajak cewek berdarah Sunda ini.

Aku mengernyitkan dahi. Tidak langsung meng-iya kan ajakan Jossy seperti biasanya. Besok adalah hari penting buatku, kalau malam ini begadang kan bisa telat jemput mas Demas di bandara.

Sorry ya Jossy-ku sayang, malam ini aku mau tidur cepet. Besok mau jemput Aa tercinta di bandara, hehe”

“Ah iye iye ngertilah gue. Yang bakal ketemu yayang..” Jossy menggodaku membuat beberapa rekan kerjaku yang memang sedang bersiap-siap pulang menoleh dan ikut-ikutan melancarkan celetukan-celetukan mereka.

“ Duh yang mau nikah mah bawaannya kangen melulu,” komentar Dede, editor majalah kami yang masih aja betah menjomblo padahal usianya jauh diatasku.

“Jangan lupa oleh-oleh ya Nin. Biasanya sih cokelat dari Swiss itu enak-enak loh,” mbak Ratih mulai mengkode soal makanan.

Aku hanya bisa tersenyum menanggapi mereka semua. Ah, waktu cepatlah berputar aku sudah kangen mas Demasku.

***

“Nin, sudah tidur? mas lagi transit nih di Singapur. Kamu nggak usah repot jemput ya, mas mau langsung pulang ke Purwokerto,”

Pelan-pelan aku baca whats app dari mas Demas. Hah? Gak usah jemput? Duh, kok mendadak banget sih bilangnya. Kenapa pula mas Demas cepet-cepet pulang ke rumah? Ada sesuatu kah dengan keluarganya?

“Kita ketemu dulu ya mas? Please. Aku kangen. Ibu bapak sehat kan?”

“Alhamdulillah semuanya sehat. Mas cuma pengin banget ketemu ibu sama bapak. Gpp ya, kita nggak ketemuan dulu bentar,”

Aku menghela nafas. Kecewa banget. Kulayangkan pandanganku pada sekotak red velvet kesukaan mas Demas. Semalam baru saja aku beli di bakery langganan kami. Kalau memang mas Demas pulang dulu ke Purwokerto pasti urusannya bakalan lama. Mas Demas tak pernah sebentar di rumah. Minimal 3 hari baru ia akan kembali bekerja di Jakarta.

***

“Demas berubah,” ucapku.

Jossy memandangku. Heran. Ia segera menyodorkan secangkir machiato.

“Nih, ngopi dulu baru cerita,”

Aku menyesapnya. Bau harumnya menguar menggoda selera.

“Dia nggak mau ketemu aku lagi,”

“Maksudmu?”

“Sepulangnya dia dari Swiss, sampai sekarang kita belum pernah sekali pun ketemu,” suaraku melemah.

Jossy terdiam.

“Pasti ada yang salah denganku ya Jo?”

Jossy mengelus pundaku tanda simpati. Sepertinya ia kehilangan selera untuk menggodaku seperti biasa.

“Pernikahan kita tinggal sebulan lagi. Banyak banget yang mesti kita omongin. Undangan belum beres, katering masih nggantung,gedung buat resepsi masih indent. tapi hampir dua minggu aku sama Demas belum sekali pun bertemu! Aku pusing Jo!”

“Komunikasi masih kan? Wa? Sms? Bbm?”

Aku mengangguk.

“Tenang Nin. Semuanya akan baik-baik saja. Gue yakin masalah lo sama Demas bakalan kelar. Gue bakalan bantu ngomong sama Demas ya?” Jossy menatapku.

“Nggak usah. Kalau sampai kamu tanya tentang ini ke Demas dia bakal ngira aku kekanakan. Masalah kayak gini aja harus bawa bawa Jossy. Dia kan selalu begitu Jo. Dia mengharapkan aku untuk lebih dewasa. But, thanks ya, kamu selalu ada kapan pun aku butuh,”

Jossy mengangguk. “That’s bestfriend means to do, right?”

***

Lanjutkan membaca “[CERPEN] Menikahimu”