Posted in Curhat Tentang Film

[Review Film]- The Way Home (Korea)

twh

Saya baru saja nonton sebuah film yang menurut saya so touching banget. Judulnya adalah The Way Home (Jiburo). Jadi, awal mula saya dapet film ini adalah rekomendasi dari teman kelompok profesi ners, Diana dan Kartika. Mereka bilang kalau film The Way Home bagus dan menguras air mata. Karena saya sedang ingin nonton yang sedih sedih, tanpa pikir panjang saya langsung siapin flesdis daan mengkopinya😀 (Thanks Diana).

The Way Home adalah film dari Korea yang tergolong jadul. Setelah googling ternyata film ini keluaran tahun 2002. Mengisahkan tentang seorang anak bernama Sang Woo (Yo Seung Ho) yang terpaksa tinggal di desa bersama neneknya yang bisu (tapi tidak tuli). Ibu Sang Woo baru saja cerai dan mengalami kebangkrutan sehingga sementara ia menitipkan putranya untuk diasuh oleh sang nenek (Kim Eul Boon) di desa. Sang Woo ini ternyata anaknya nakaaaal bangets! Dia cuek, nggak menghormati orang yang lebih tua dan suka banget berkata kasar dengan neneknya. Ditinggal berdua saja dengan neneknya membuat Sang Woo frustasi karena kehidupannya langsung berubah 90 derajat dari kehidupan super mewah menjadi super sederhana. Bisa dibilang miskin juga.

Untuk tinggal di desa, Sang Woo membawa banyak mainan termasuk mainan favoritnya yaitu gameboy/game bot. suatu hari baterai gameboy nya habis, ia pun merengek kepada neneknya untuk dibelikan baterai yang baru. Namun, sang nenek tidak memberikannya karena memang tidak memiliki uang untuk membeli baterai. Sang Woo kesal, ia pun akhirnya mencuri tusuk konde milik neneknya saat sang nenek tidur siang. Sang Woo berjalan keliling desa mencari baterai tapi ternyata tidak ada toko yang menjual baterai khusus gameboy. Ia pun pulang sambil membawa tusuk konde neneknya karena kebetulan si pemilik toko mengenal nenek Sang Woo (dan ternyata nenek mengganti tusuk kondenya yang hilang dengan sendok! T.T sedihnyaa). Saat perjalanan pulang, Sang Woo tersesat tapi untungnya ada penduduk desa yang berbaik hati dan mengantarnya pulang. Bagian ini beneran touching banget loooh, keliatan banget kalau penduduk desa itu baik dan ramah.

Kenakalan Sang Woo ternyata bertambah dari hari ke hari. Ia berani memecahkan kendi yang biasa neneknya gunakan sebagai tempat membuang kotoran dan juga membuang sepatu satu-satunya sang nenek ke perapian. Akibatnya nenek harus mengambil air tanpa alas kaki (padahal jalannya berbatu gitu).  Sang Woo juga meminta dibelikan ayam kentucky. Namun karena nenek nggak pernah lihat bahkan mendengar ayam kentucky, beliau pun pergi ke pasar membeli ayam, memotongnya, dan memasak ayam rebus. Melihat itu Sang Woo marah dan ngambek. Ia malas makan masakan neneknya. Dasar Sang Woo gengsinya gedhe banget, saat malam tiba ia merasa lapar dan akhirnya menghabiskan satu mangkok besar sup ayam buatan neneknya. Ia curi curi makan saat neneknya terlelap. Pagi harinya sang nenek demam, Sang Woo panik. Ia pun mengambil kain dan mengompres neneknya. Ia juga menyiapkan makan pagi agar neneknya cepat sembuh.

photo4213

saat Sang Woo kecewa karena ayam kentucky nya tidak sesuai harapannya

twh 3

Sang Woo merawat neneknya yang sakit karena terlalu lelah memasak ayam

twh 2

saat Sang Woo harus berpisah dengan nenek

Lama kelamaan hati Sang Woo luluh melihat kebaikan hati sang nenek.  Suatu hari ia diajak neneknya ke pasar untuk menjual melon dan labu. Sang Woo merasa kasihan saat melihat neneknya berjualan di pasar dan kelihatan lelah. Nenek juga rela menggunakan uang hasil jualan untuk membelikan Sang Woo sepatu baru dan makan di restoran enak. Yah, padahal uang neneknya sangat pas-pas an tapi beliau rela demi kebahagiaan cucunya.

Tibalah saatnya Sang Woo harus kembali ke kota. Sebelum dijemput ibunya, sang Woo mengajari neneknya baca tulis agar bisa berkirim surat. Ternyata Sang Woo nggak tega meninggalkan neneknya seorang diri tanpa kemampuan komunikasi. Ia mengajari neneknya menulis “aku sakit” jika neneknya sedang sakit sehingga Sang Woo bisa cepat-cepat mengunjunginya. Ia juga menulis “aku rindu” jika neneknya rindu untuk bertemu dirinya. Sungguh, adegan ini so sweet sekaliiiii. Image Sang Woo yang nakal dan manja langsung berubah. Aih, anak ini minta dicium! :3

Film ini berdurasi sekitar 90 menit. Saya menikmatinya dari awal sampai akhir. Nangis nggak? Aaaah, jangan tanya deh. Tentu saja saya nangis! Nangis bombay malahan. Hiks. Nonton film ini saya jadi inget nenek tercinta yang sebulan yang lalu baru saja dipanggil Allah swt. Beliau meninggalkan saya untuk selama-lamanya😦 sediiiiiih banget rasanya. Saya jadi nostalgia, terutama saat adegan sang nenek minta bantuan Sang Woo untuk memasukan benang ke dalam jarum. Dulu semasa hidupnya, mbah putri (panggilan untuk nenek saya) hobi banget menyuruh saya memasukan benang. Beliau pasti panggil-panggil gituu, dan sama seperti Sang Woo, saya yang sedang asyik main atau nonton tv sering sebal dan melakukannya dengan setengah hati. Maafkan cucumu ini ya mbaaah…

Sedihnya saya bertambah jika ingat saya nggak berada di samping mbah putri di waktu terakhirnya. Saya nggak bisa pulang ke rumah karena masih pendidikan profesi. Saat mendengar kabar mbah meninggal saya sedang shift malam (waktu itu jam  3 dini hari saya mendapat sms jika mbah baru saja meninggal). Duh, rasanya nano-nano! Nggak ada lagi mbah putri yang suka meluk saya kalau pulang mudik, nggak ada mbah putri yang suka nyuruh nyuruh, nggak ada mbah putri yang suka cium pipi, nggak ada mbah putri yang ngasih uang jajan, nggak ada lagi mbah putri yang aku suapin, nggak ada lagi nyiapin obatnya mbah 3x sehari, nggak ada lagi nganter HD, nggak ada lagi nganter kontrol, nggak ada lagi nasi pecel buatan mbah, nggak ada lagi soto favorit buatan mbah, nggak ada lagi sambal paling enak sedunia, nasi goreng paling mantap buatan mbah putri. Aaah, terlalu banyak kenangan yang saya habiskan bersama mbah putri.  Mbah putri itu bagaikan ibu kedua saya. Sedari bayi mengasuh saya dan kembaran saya karena ibu bekerja dan baru pulang di sore hari. Kami berdua senang bermain-main di rumah mbah, tiduran di perutnya yang empuk, dan masak bareng mbah putri. Beliau nggak pernah marah ke cucu cucunya. Seringnya malah kita dipeluk dan dicium.

Teruntuk mbah putri, semoga mbah tenang disisi Allah SWT ya mbah…..cucu mu ini sedang berusaha mengejar cita-citanya. Maafkan jika belum bisa mewujudkan keinginan mbah untuk melihat kami bersanding di pelaminan. Ternyata Allah menakdirkan mbah putri untuk pulang terlebih dahulu. Disini, kami hanya bisa mendoakanmu mbah…:(

Sudah ya, saya malah jadi nangis lagi.

eniwei, filmnya rekomended ditonton bareng keluarga besar. siapin aja tissue yang banyak :’D

Bhay-bhayy

Penulis:

Sedang mencari kamu

2 thoughts on “[Review Film]- The Way Home (Korea)

  1. Aku juga pernah nonton itu! Filmnya kayak sepi gimana gitu kan, kayak gak banyak percakapan wkwk. Dan kerennya, itu anak bisa terdidik jadi anak yang baik bahkan cuma tinggal bareng sama nenek yang untuk bicara aja susah. Anyway, salam kenal🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s