Posted in Cerita Pendek

[Cerpen] : Untuk Sahabat

sahabat

Jam menunjukkan pukul 2 siang. Ponselku berdering, ada pesan masuk dari Vivi.

“Chita, udah lama nunggu ya? Lima menit lagi aku nyampe, macet nih,”

“Tenang aja Vi, aku lagi nggak buru-buru kok, aku tunggu di meja biasa ya,”

Aku memandang ke luar café. Ada banyak orang yang hilir mudik memasuki pusat perbelanjaan terbesar di kotaku. Mulai dari anak-anak, remaja, anak kuliahan sampai nenek-nenek dengan pengasuhnya lalu lalang di depan café dimana aku menghabiskan satu jam terakhirku. Ya, satu jam untuk menunggu Vivi.

Semalam gadis itu meneleponku, menangis. Dia tak banyak bercerita, hanya menginginkan aku menemuinya di café favorit kita. Aku setuju. Dan hari ini aku meninggalkan kelas dan kampusku. Untung saja aku tak ada jadwal mengajar. Urusan dengan mahasiswaku juga sudah aku cancel. Sore ini benar-benar aku luangkan untuk wanita berparas ayu ini.

Vivi tergopoh menghampiriku. Wajahnya yang cantik di usianya yang memasuki seperempat abad sangat kukenal. Wajah ayu khas puteri keraton dipadukan dengan kulit putih khas peranakan Eropa. Perfect!

“Maaf banget Chita, aku telatnya kebangetan. Ada deadline desain yang harus segera aku selesaikan. Mana macet pula,”

Aku tersenyum. Menyuruhnya memesan sesuatu sebelum obrolan kami berlanjut ke tahap yang lebih serius. Ya, ini hanya perkiraanku terkait dengan kejadian semalam. Tangisan Vivi.

“Jadi, apa kabar Bayu?” ia bertanya tentang suamiku.

“Baik sekali. Pagi tadi Ia baru terbang ke Zurrich, ada konferensi internasional disana. Yah, mungkin untuk 2 minggu ke depan aku bakal kangen wajah innocent-nya,”

“Hmm…Bayu memang selalu sibuk. Anak-anak gimana?”

“Aidil aku titipkan ke mama mertua, mumpung liburan. Apalagi ibu berharap banget bisa membawanya liburan ke Bali,”

“Si kecil?”

“Kau lupa ya, seminggu terakhir ibuku sedang liburan di Jakarta. Jadi, sekarang aku bisa tenang menemuimu,”

Vivi tertawa renyah. Entah kenapa, sejak pertama aku mengenalnya di bangku kuliah, aku suka sekali tawanya yang khas. Enak didengar dan bisa menimbulkan tawa juga.

“Gimana kabar Ario?” tanyaku basa basi. Ario pacar Vivi, seorang anak band. Dan entah kenapa, ia selalu bangga dengan profesi pacarnya yang masih serabutan ini.

Kulihat Vivi menggeleng. Wajahnya yang sumringah berubah mendung. Nah kan? Aku menemukan titik temunya. Pasti ini ada kaitannya dengan tangis Vivi di telepon kemarin.

Aku mengusap bahunya demi menunjukkan empatiku. Tangisannya bertambah kencang. Kali ini aku relakan ia memelukku erat. Dan mulailah cerita tentangnya mengalir.

***

“Jadi Vivi putus sama Ario?” tanya Bayu. Malam ini dia mengajakku dinner. Jangan bayangkan sebuah restaurant atau café mewah. Dinner kami malam ini adalah nasi goreng kaki lima di pinggiran Palmerah. Ini lebih romantis bagiku, dimana Bayu terlihat lebih santai dan enak untuk diajak ngobrol.

“Ya, cuma gara-gara Vivi minta nikah,” jawabku.

Dua nasi goreng seafood tersedia di depan kami. Suamiku ini suka sekali dengan cumi-cumi. Secepat kilat ia memasukan sendok pertamanya dengan penuh antusias.

“Hati-hati, masih panas,”

Ia hanya mengeluarkan senyumnya seperti biasa.

“Jadi Vivi pengin nikah?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Harus sama Ario?”

“Penginnya sih gitu. Tapi sepertinya ia sadar, Ario masih kayak anak kecil, orientasi dia pacaran bukan ke jenjang pernikahan. Ya apalagi alasan anak muda pacaran saat ini? nafsu, trend dan kebanggan,”

Bayu mengangguk-angguk menyetujui pendapatku.

“Aku ingin membantu Vivi,”

“Dengan?”

“Mencarikannya suami yang baik,”

Bayu menatapku. Heran mungkin dengan pernyataanku tadi.

“Tak semudah itu menemukan jodoh, sayang,”

“Aku tahu, tahu banget malah. Semasa kuliah dulu, kalau ikut kajian tentang menikah yang dibahas pasti ini. Jodoh itu representative diri kita. seberapa baik kualitas kamu, maka jodohmu akan mengikuti, maka perbaiki diri dulu, gitu kan?”

Bayu, lagi-lagi tersenyum kepadaku.

“Wiih, hapal banget sih, pasti dulu ikut kajian di masjid kampusnya nggak pernah absen ya?”

“Yee..kayak kamu nggak aja,”

Bayu tertawa mendengar pembelaanku.

“Aku punya rekomendasi untuk Vivi,” tiba-tiba suamiku ini berubah serius.

“Jadi, ada karyawan baru di kantorku. Usianya ya, sebaya dengan kamu dan Vivi, 25 tahun. Baru menyelesaikan studi S2 di Belanda. Yah, aku pikir karena Vivi juga keturunan Belanda, mereka nantinya bakal nyambung. Hanya saja…,” Bayu tak meneruskan kalimatnya.

“Kenapa?”

“Ya, kau tahulah, ia cucu imam masjid di Jogja. Agamanya baik. Ahlaknya nggak usah diragukan lagi. Orientasinya mengenal lawan jenis juga bukan untuk pacaran, tapi dijadikan istri. Aku yakin, jika benar-benar mereka jadian, Vivi mungkin akan shock saat bertanya berapa mantan dia? Ya, karena yang aku tahu selama 25 tahun laki-laki ini belum pernah pacaran,”

“Dan aku yakin Vivi bakalan malu bila suruh menjawab. Mantannya lebih dari lima jari,”

Kamu berdua tertawa. Tapi, dalam hatiku aku ingin sekali Vivi menemukan jodoh terbaiknya. Tentu saja, dia harus memperbaiki kualitas dirinya terlebih dahulu.

***

“Kau tak pernah merasa kepanasan ya Ta?” tanya Vivi di suatu siang saat Jakarta menunjukkan keganasannya.

“Maksudmu?”

“Ya dengan pakaian kamu yang tertutup itu, dengan hijabmu,”

Aku tinggalkan sejenak ponselku. Kupandangi sahabatku itu.

“Kamu memang belum mengerti Vi, karena kamu belum mencobanya sendiri. Mungkin, bagi kamu, atau orang-orang lain yang masih nyaman dengan mode seperti itu akan aneh melihatku dan wanita-wanita lain yang berhijab. Apa ya nggak kepanasan? Apa ya rambutku nggak ketombean karena tertutup? Apa ya nggak ribet dengan baju yang longgar? Jawabannya: tidak! Dengar Vi, jika kamu sudah mendapat hidayah-Nya kamu nggak akan merasakan itu semua. Berjilbab itu bikin panas? Aduh itu benar-benar salah. Justru karena berhijab raga dan pikiran jadi adem, karena kepala tertutup jadi sinar matahari nggak langsung kena kulit kepala. Yang katanya ketombean juga salah. Nggak usah takut rambutmu yang cantik bakalan rusak. Terus pakaian longgar ini, kamu ingat nggak Vi? Saat kamu digoda mas-mas tukang parkir gara-gara kamu pakai hot pants dan singlet doang ke mall? Kamu marah-marah kan karena ngerasa nggak dihargain, dilecehkan. Nah, dengan pakaian seperti ini, nggak mungkin laki-laki menggoda kita. meskipun kadang masih ada, tapi godaan mereka nggak akan seekstrim saat menggoda wanita-wanita yang terbuka auratnya. Kata Bayu sih, laki-laki lebih hormat dengan wanita yang berhijab. Jadi aku sama sekali nggak menyesal untuk berhijab,”

Vivi terdiam. Matanya yang bulat cantik menatapku. Aku yakin ada gejolak batin yang sedang ia alami. Ya, akhir-akhir ini ia memang menunjukkan keingin tahuan dengan islam, dengan muslimah dan hijabnya. Semenjak itu pakaian yang ia kenakan mulai diatur. Tak lagi seenak jidatnya. Rok mini, hot pants, atau jeans ketat senada warna kulit favoritnya perlahan ia tinggalkan. Kali ini aku lebih sering melihat Vivi dengan rok di bawah lututnya.

“Tapi Ta, Pekerjaanku menuntut semua ini,”

“Dunia malam, whine, vodka dan free sex maksudmu?”

Vivi mengangguk.

“Itu tergantung diri kamu Vi,”

“Tapi ini semua bagian dari pergaulan Ta, labeling! Mereka pasti bakal ninggalin aku karena menganggap aku kuno, kudet dan cupu,” Vivi kembali dengan wajah kusutnya.

“Mulailah dengan hal yang kecil Vi. Perlahan kamu tinggalkan rokok dan minuman keras. Mungkin jika tak ingin teman-temanmu shock dengan perubahanmu, lakukan perubahan sedikit demi sedikit, agar mereka juga bisa menerima perubahanmu dengan baik. Doktermu juga sudah bilang kalau kamu sebaiknya mengurangi rokok dan alkohol bukan?”

Kulihat Vivi mengangguk.

“Jika itu semua belum membantu, kamu bisa cari pekerjaan lain yang lebih berkah. Ingat, Allah Maha Kaya,”

Vivi memandangku, lama.

“Doakan hidayah segera menjemputku ya Ta, aku yakin sekali ini semua takkan mudah,”

Kami berpelukan. Aku tak percaya jika sore itu terakhir kalinya aku menemui Vivi secara langsung. Selepas sore itu Vivi hijrah dari Jakarta ke Jogja, tempat kakeknya tinggal. Karena intensitas kesibukan kami yang sama-sama tak bisa ditoleransi, perlahan aku mulai melupakan keinginannya untuk berhijab.

***

“Ummi kok cantik banget, emang mau kemana?” tanya Aidil menggelayut manja di pinggangku.

“Mama mau ke lamaran teman abi, kakak sama eyang ya di rumah,”

Aidil mengangguk. Si kecil itu berlari menghampiri ibuku yang tengah menggendong Nabilah, anak keduaku.

“Sudah siap?” tanya Bayu. Ia terlihat gagah dengan baju batik yang baru aku beli seminggu yang lalu.

“Jadi akhirnya Raffi menikah juga,”

“Iya, julukan lajang berkualitas tinggi sekarang sepertinya beralih ke Rama, staff magang yang masih kuliah semester akhir itu,”

“Abi tahu calon istrinya?”

Bayu menggeleng.

“Yang jelas ia pasti seorang muslimah,” tambahnya, yakin sekali.

“Aku jadi ingat Vivi, apa kabar ya dia sekarang? Apakah dia sudah berhijab?”

Bayu memandangku. Ia menggenggam tanganku erat.

“Vivi pasti baik-baik saja,”

Suasana rumah orang nomor dua di kantor suamiku itu sangat ramai. Orang-orang dengan bahasa jawa medok khas Jogja bercampur baur dengan gaya khas ibukota. Agak susah menemui Raffi di situasi seramai ini. Hingga akhirnya Bayu bisa menemukan sosok kharismatik itu. Ya, baru kali ini aku bertemu Raffi secara langsung. Sebelumnya hanya mendengar dari cerita Bayu. Ternyata ia lebih ganteng dariapada yang Bayu bilang.

“Kapan berangkat ke rumah calon mempelai?” tanyaku.

“Ya ini mau berangkat, tinggal menunggu kalian berdua,”

Iring-iringan mobil melaju membelah malam Jakarta. Setelah satu jam perjalanan akhrinya kita sampai di perumahan elit yang sangat kukenal.

“Wah memoriku tentang Vivi tambah kuat nih, jangan-jangan yang jadi calonnya Raffi tetangga Vivi,” celotehku. Bayu hanya tertawa. Hingga akhirnya aku menyadari iring-iringan mobil ini berhenti di sebuah rumah yang amat sangat aku kenal.

“Kita nggak salah rumah kan?” tanyaku pada Bayu. Suamiku nan ganteng itu menggeleng.

“Ini rumah calon Raffi, memangnya kenapa? Rumah Vivi dimana?”

Aku seperti mengalami déjà vu. Dulu aku sering membayangkan berada di posisi ini, datang ke prosesi lamaran Vivi. Dan sekarang aku berada di depan rumahnya. Tapi benarkah yang dilamar Raffi adalah Vivi? Atau malah kakaknya? Tapi tak mungkin, kak Sonia kan sudah menikah dengan pria bule dua tahun yang lalu.

Aku dan Bayu masuk ke dalam rumah untuk menyaksikan prosesi lamaran tersebut. Dan benar saja, aku mendengar nama Vivi disebutkan sebagai calon istri Raffi. Ervina Damayanti Derreck. Ya, dia nama sahabatku. Gadis Jawa nan ayu yang selalu menemaniku dari semester pertama kuliah sampai saat ini. Hatiku dag dig dug saat gordyn dari kamar utama tersibak. Pertanyaan-pertanyaan usil mulai muncul, kok bisa Vivi? Apa selera Raffi berubah? Vivi kan nggak berhijab? Kok mereka bisa kenal?.

“Ummi, lihat siapa yang muncul!” Bayu menyadarkan lamunanku.

Ya Allah, aku tak percaya. Seorang gadis cantik keluar dari kamar utama. Tubuhnya yang tinggi semampai amat kukenal. Ya, dialah Vivi. Yang membuatku bahagia adalah penampilannya jauh lebih cantik daripada saat terakhir aku melihatnya. Vivi sudah memakai jilbab. Ia keluar diantar ibunya yang juga sudah berhijab! Subhanallah. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur. Ingin rasanya aku memeluknya, tapi aku tahan sampai acara lamaran ini berakhir. Tanpa terasa air mata haru keluar dari sudut mataku.

“Wichita, kamu pasti tak percaya ya?” tanya Vivi. Akhirnya kami berdua bisa ngobrol juga. Tentu saja setelah prosesi lamaran berakhir.

“Jadi selama ini kamu menghilang?”

“Aku belajar banyak dari kamu Ta, makasih ya. Aku pulang ke Jogja karena kebetulan waktu itu kakekku sakit. Kamu tahu kan, aku jarang sekali mau ke Jogja mengunjungi saudara-saudara ibu. Tapi, karena waktu itu ibu sedang berada di Belanda, aku disuruh menengok kakek. Dan benar saja, disana aku menemukan kedamaian, kehangatan yang selama ini aku rindukan. Dari kakek aku banyak belajar tentang Islam. Dari saudara-saudara perempuan ibu aku diajari untuk berhijab. Alhamdulillah hidayah itu datang Ta. Akhirnya aku memutuskan untuk berhijab dan meninggalkan pekerjaanku di Jakarta. Karena yang benar saja, mereka tidak mengizinkanku bekerja dengan hijab. Maka  aku ingat-ingat lagi pesan dari kamu, jika kita menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kita, bahkan berkali lipat. Aku putuskan untuk bergabung menjadi relawan di panti asuhan islam di Jogja. Itu juga sebagai wujudku untuk memperbaiki diri dari aku yang dulu, aku yang rusak. Ya aku memang tak selamanya lepas dari dunia desain. Aku masih mendesain baju, tapi kali ini khusus untuk gamis-gamis cantik dan jilbab. Hingga akhirnya Allah mempertemukanku dengan mas Raffi. Dia ternyata pribadi yang baik dan menyenangkan. Tak ada alasan bagiku untuk menolaknya saat ia datang kepada ayah dan ibu untuk melamarku,”

Seketika aku memeluk sahabatku yang hebat ini.

“You did it well Vi. May Allah always beside you. Believe me, He will teach you. Keep istiqomah dan jadilah istri yang baik,”

“Terima kasih, sepertinya kalau masalah rumah tangga aku akan banyak bertanya kepadamu Ta,”

Aku tertawa. Terimakasih Allah untuk memberikan hidayah terbesarmu bagi sahabatku ini. aku yakin, seribu persen yakin jika Engkau pasti akan membimbingnya. Kuatkan dia, dan juga muslimah-muslimah lain untuk tetap istiqomah dijalan-Mu. Godaan di dunia ini sesungguhnya lebih berat daripada yang kita kira.

selesai.

cerpen ini ditulis sekitar tiga tahun yang lalu. Pernah ditayangkan di http://www.cerpenmu.com dalam kategori cerpen religi.

 

Penulis:

Sedang mencari kamu

2 thoughts on “[Cerpen] : Untuk Sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s