Posted in Rumah Kata :)

[FF]: Kedai Kopi dan Hujan

couple-friends-road-smile-yellow-Favim.com-117920

Hujan dan kedai kopi. Bagiku ini adalah malapetaka.

***

Aku menatap lamat-lamat tetes embun yang sedari tadi menempel di kaca tepat di depan kursiku duduk. Frapucinno mango yang kupesan sudah kuhabiskan setengahnya. Dan hujan belum juga reda. Hampir pukul sebelas malam dan aku masih asyik mengamati Jakarta yang tak pernah melamban. Semakin malam, semakin sibuk. Kota ini, meskipun telah kutinggalkan hampir 4 tahun lamanya tetap saja mempesona.

***

“Maaf membuatmu menunggu,” lelaki itu tersenyum. Kemudian ia membenarkan letak kacamatanya, menarik kursi di depanku dan duduk.

“Baru dua puluh menit, sisa sepuluh menit sebelum aku benar-benar memutuskan untuk pulang,”

“Maaf,” ucapnya lagi.

“Kau tak memesan makanan?” tanyanya demi memecah keheningan menyakitkan di antara kami.

Aku menggeleng. Kulihat dia memanggil waiterss dan menyebutkan kopi favoritnya.

“Jadi, kamu apa kabar?” ia bertanya kepadaku.

“Tidak cukup baik. Seseorang sepertinya telah membuat kantong mataku semakin besar, timbunan lemak semakin menumpuk, dan aku mulai kecanduan drama korea karena aku bisa menangis dengan bebas,”

Ia membenarkan letak kacamatanya lagi.

“Tentang kita, apa masih bisa kuperbaiki?” ia menatapku. Aku seperti kena setrum 100 joule saat tangannya menyentuh tanganku.

“Rhea, aku janji, aku akan memperjuangkan kamu,”

Aku melemparkan pandanganku ke arah jalanan yang semakin sepi. Hujan juga mulai mereda. Kupejamkan mataku dan secepat kilat semua kenangan tentangku dan dia merasuk dan menghambur menjadi satu. Ada tawa, canda, tangis, rindu, amarah, prasangka, dan juga cinta masa muda yang begitu menggebu.

“Bagaimana dengan ibumu?”

“Aku akan mencoba bicara mengenai ini semua. Aku lelah Rhea, empat tahun berpisah denganmu membuatku sadar jika aku membutuhkanmu. Sangat membutuhkanmu, setiap hari,”

“Ini semua tak mudah seperti yang kamu bayangkan Riyan,”

“Aku masih mencintaimu Rhea, dulu dan sekarang, bahkan semakin bertambah,” perlahan laki-laki itu meraih tanganku. Aku tak sempat menyembunyikannya saat ia menyadari sesuatu di jari manisku.

“Rhea..kamu…,”

Aku mengangguk.

“Siapa?”

Aku terdiam.

“Apa aku mengenalnya?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Kau mengenal baik,”

Riyan menghempaskan badannya ke kursi. Ada tatapan kecewa dari kedua matanya.

“Fabian kan?”

“Dua minggu yang lalu, Riyan. Semuanya baik-baik saja. Aku akan menikah akhir bulan ini,”

“Kenapa harus Fabian?”

“Karena ia menyelamatkan aku dari keterpurukan. Kau pikir ditinggalkan tanpa satu pun pesan dan alasan adalah sesuatu yang mudah? Di saat aku mulai melabuhkan hatiku padamu, kamu malah menghilang entah kemana. Ini hati Riyan, bukan rumah singgah,”

Riyan membenarkan letak kacamatanya.

“Jadi aku terlambat?”

“Tepat sekali,”

“Tapi kenapa kamu mau menemuiku disini? Berdua hanya kamu dan aku di tempat favorit kita saat masih pacaran dulu?”

“ Karena aku ingin belajar berdamai dengan masa lalu,”

Riyan menatapku, lagi. Lama.

“Rhea…please…I need you,”

“Tidak Riyan, kamu tidak boleh begini terus. Kamu mau tahu kenapa aku tak ingin kembali padamu?”

Riyan terdiam.

“Karena aku tidak ingin menjadi alasanmu melawan ibumu. Jika kita menikah, baktimu tidak akan berubah,  ibumu tetap nomor satu. Dan aku tak ingin menjadi perusak hubungan diantara kalian berdua,”

Kami tenggelam dalam diam kami yang cukup lama, hingga akhirnya telepon dari Fabian memecah keheningan kedai kopi yang akan tutup sebentar lagi.

“Aku harus segera pulang,” kataku.

“Akan kuantar kamu pulang,”

“Nggak usah, aku bawa mobil. Terimakasih untuk tawarannya,”

Riyan masih terdiam di kursinya. “Kalau begitu, ijinkan aku mentraktirmu malam ini, untuk yang terkahir kali,”

“Terimakasih,”

***

Aku menyeka air mata yang terus mengalir di pipiku. Sekarang aku hanya bisa menatap punggung laki-laki itu. Riyan masih disana, di kedai kopi favorit kami. Dengan kacamata full frame hitamnya ia masih tampak seperti dulu. Dia adalah laki-laki yang sempat menjadi laki-lakiku dan kini benar-benar harus kulepaskan lagi.

“Bodoh,” Fabian bangun dari tidurnya dan pindah duduk di kursi depan.

“Sini aku aja yang nyetir,” tawarnya.

Aku menggeleng. “Jangan! kamu cukup duduk diam di sampingku, dan nggak usah banyak komentar,”

“Jadi, cincin itu berguna juga ya?”

“Sepertinya iya,”

Bodoh! Kenapa aku menangis lagi? Apa aku benar-benar belum ikhlas untuk melepaskan Riyan? Apakah aku masih mencintainya?

Kurasakan Fabian menggenggam tanganku.

“Rhea, selama ini aku selalu mendukung keputusanmu. Hampir sepuluh tahun bersahabat dengamu aku masih belum mengerti bagaimana kamu. Aku memang bukan teman yang baik, tapi aku tak ingin melihat kamu sedih begini. Jika memang kamu mau membatalkan rencana kita, aku..aku tak keberatan,”

Fabian menatapku dengan tatapan teduh dan hangat.

“Fabian…tolong jangan katakan itu. Aku tak mau merasakan kehilangan lagi,” badanku bergoncang karena tangisanku. Membayangkan ditinggalkan oleh laki-laki bersenyum paling manis ini saja aku tak akan mampu. Persahabatan yang pelan-pelan berubah menjadi kisah cinta ini memang tidak terjadi dalam waktu singkat. Perlu sepuluh tahun lamanya bagi kami untuk saling memendam perasaan. Termasuk aku yang harus singgah di hati Riyan terlebih dahulu.

“Menangislah, dan perlu kamu tahu, Rhea, aku tak akan marah atas semua ini. Aku mencintaimu sejak pertama kita bertemu. Dan kau tahu…aku akan terus mencintaimu sekarang dan seterusnya,” Fabian merengkuhku dalam pelukannya. Aku merasakan debar jantung yang begitu menghangatkan, wangi tubuhnya yang membuatku bisa bernapas normal kembali. Membuyarkan semua kenangan indah masa lalu antara aku dan Riyan.

“Sekarang kita pulang ya? Dan please Rhea, let me to drive. Aku nggak yakin kamu nyetir dengan kondisi begini,”

Aku mengangguk dan kami pun merubah posisi duduk.

“Kamu cantik kalau lagi nangis, lebih cantik lagi kalau senyum,” Fabian mulai menggodaku.

Ah, laki-laki ini, baru malam ini kulihat Fabian terlihat begitu mempesona. Laki-laki ini lah yang kelak akan menjadi imamku, ayah dari anak-anak yang kelak akan lahir dari rahimku.

“Kenapa aku baru sadar kalau kamu ini sebenarnya lebih tampan dari laki-laki manapun?”

Fabian menoleh sejenak.

“Hei, ngapain ngeliatin aku begitu?” ia terkekeh. “Rhea, aku nggak akan konsen nyetir kalau kamu pandangi seperti ini,”

“Kamu ganteng,”

“Memang,”

“Kadang nyebelin, sok pede, keras kepala tapi aku cinta,”

“Hei, kalau begini besok pagi kita ke penghulu saja ya?”

“Hah?”

“Biar kita sah jadi suami istri. Biar aku bebas cium dan peluk kamu,” ucapnya sambil tertawa.

“Dasar laki-laki!” kucubit lengannya sampai ia merintih kesakitan.

“Tunggu! Aku punya sesuatu untukmu,” kulihat Fabian menyalakan mp3 player dan mengalunlah lagu favorit kami berdua.

Come along with me and don’t be scared

I just wanna set you free

C’mon, c’mon, c’mon

You and I make it anywhere

For now, stay here for a while

Cause you know, I just wanna see you smile

Kupejamkan mataku. Ada perasaan hangat yang mulai merasuk ke dalam kalbu setelah aku belajar berdamai dengan masa lalu. Mungkin memang benar, kita harus berani melepaskan untuk bisa saling menemukan. Dan saat ini telah kutemukan dia, my superhero, my favorite superman.

“Rhea kamu masih ingat quotes favoritku?” tanya Fabian tiba-tiba.

“Kamu punya banyak quotes, aku nggak hapal satu persatu,”

Fabian terkekeh.

A guy and a girl can be just friends, but at one point or another, they will fall for each other..maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever,”

“Dave Mathhews Band”

Fabian mengangguk.

“Dan kamu tahu? Aku mengalami yang terakhir. I fall for her forever,”

Fabian memandangku. Ia mengacak rambutku lembut dan berbisik, “Sayang, jangan pergi lagi ya. Tolong yakinlah jika aku bisa menjadi rumah dimana kamu akan selalu pulang. Rumah yang bisa membuat hatimu nyaman. Rumah yang akan membuatmu jatuh cinta setiap hari. Aku janji rumah seperti aku ini pasti akan selalu kamu rindukan,”

Aku menggamit lengannya, kusandarkan kepalaku pada bahunya yang selalu terasa nyaman. Bahu ini adalah bahu yang selama ini selalu menjadi tumpahan tangisku. Ah, Fabian jika seperti ini mungkin aku setuju dengan pernyataanmu. Besok sebaiknya kita ke penghulu saja agar segera dinikahkan. Biar aku bisa mencium dan memelukmu, kapan pun aku mau.

End-

 

 

P.S: ada beberapa kata yang muncul terinspirasi dari tulisan mas Kurniawan Gunadi. Tapi maaf, saya lupa di buku yang mana. Pokoknya kalau nggak di Hujan Matahari ya di Lautan Langit hehe.

Selamat membaca!

 

 

 

Penulis:

Sedang mencari kamu

5 thoughts on “[FF]: Kedai Kopi dan Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s