Posted in Rumah Kata :)

[FF] : Love Actually

train mates

Aku memandang langit yang semakin terang.  Dari pengeras suara terdengar pemberitahuan bahwa sebentar lagi kereta yang aku tunggu akan datang. Aku menghela napas, memantapkan hati jika kali ini aku memang harus pulang.

Satu minggu yang lalu telepon dari ibu datang. Telepon inilah yang membuat sepagi ini aku harus sarapan di stasiun Gambir.

“Ada teman ibu yang mau datang. Dia bawa anak sulungnya, sarjana teknik. Dia kerja di Jakarta juga. Pulang ya, ibu mau ngenalin ke kalian berdua,”

“Naya juga pulang bu?”

“Jelas dong, kamu aja ibu suruh pulang, apalagi Naya yang tinggal sekota. Udah dulu ya, ibu lagi masak kue takut gosong,”

Aku memang sudah tak asing lagi dengan sikap dan usaha ibu perihal mencarikan jodoh untukku, dan juga saudariku. Aku tak habis pikir, begitu anehkah di usia kami yang masih belum mencapai 25 tahun ini masih single? Being single is not that bad. Aku terbiasa mandiri dari kecil, tumbuh menjadi remaja bahkan sampai kuliah. Bagiku pacaran itu buang waktu, tenaga dan perasaan. Cukuplah pengalaman pacaran jaman SMA yang akhirnya membuatku kapok untuk membuang waktu dengan hal remeh temeh bernama ‘pacaran’. Jaman kuliah? hmm apalagi pacaran saat kuliah, masihan juga uang jajan minta orang tua, eh sudah berani traktir pacarnya makan di restoran mewah. Kurang gaul itu namanya.

Aku memasang earphone dan mencoba tenggelam dalam playlist favoritku. Seperti biasa, yellow nya Coldplay selalu  berada di nomor urut satu. Aku membuka novel yang sempat tertunda untuk dibaca karena sederetan deadline kerjaan yang bikin perut mual.

Kereta Taksaka akan segera membawaku kembali pulang ke kota Satria. Kali ini doaku sederhana saja, semoga aku terhindar dari duduk sebelahan dengan ibu-ibu rempong, om-om galak, atau anak kecil yang rewel. Kali ini aku hanya ingin perjalanan pulang ku lebih tenang.

“Permisi, seat 13 B,”

Aku mengangguk. Ya Tuhan, ternyata kali ini doaku terkabul.

“Turun mana mbak?” tanyanya serasa merapikan pocket bagnya.

“Purwokerto,” jawabku sedikit terbata. Oh Tuhan, mimpi apa aku semalam? Ternyata kali ini aku mendapat bonus dari doa-doaku selama ini. Orang yang duduk di sampingku adalah cowok dan bonusnya, dia ganteng!

Oke, aku mencoba berpikir realistis. Hello Dina, he’s just a passenger like you, dan nggak usah expect more, perjalanan pulang kamu tenang aja udah bersyukur banget kan? Cowok ganteng ini anggap saja sebagai bonus THR yang lebih dari UMR.

“Mas nya turun mana?” tanyaku mencoba basa-basi biasa.

“Saya turun Jogja,”

“Mudik?”

“Iya,”

Dan dia tersenyum. Manis banget.

“Nyampai halaman berapa?” tanyanya.

Aku kaget ternyata ia memang sedang bertanya kepadaku. Pandangannya tertuju pada buku yang sedang kupegang, Critical Elevennya Ika Natassa.

“Oh, eh, baru halaman 77. Sudah baca?”

Ia mengangguk. “Baru selesai semalam,”

“Selera kita sama dong ya,”

Ia tertawa. “Itu metropop pertama yang kubaca. Alasannya, get bored nunggu pesawat delay dan adikku nitip beli novel ini, daripada nggak ada bacaan lebih baik kubaca saja. And, its not that bad, bagus malah,”

Aku terpana. Oh God, kenapa cowok disamping aku ini ganteng banget sih? Coba aja ada Arifin Putra lewat, aku biarin aja demi bisa ngobrol sama cowok ini. Dan poin plusnya bertambah terus daritadi, ya dia ternyata suka baca!

“Oh maaf, malah jadi curhat. Aku Geribaldi, panggil aja Ge,”

Aku menerima jabat tangannya. “Andina Tsabita, panggil aja Dina,”

Dan dari sinilah percakapan lainnya mulai mengalir menemani perjalanan kami.

“Jadi kamu punya saudara kembar?” tanya Ge penuh antusias.

Aku mengangguk.

“Lucu banget ya, kok kerjanya nggak sama?”

“Pertanyaan klise,” jawabku sambil tertawa. “Tahu nggak, pertanyaan ini sudah puluhan kali kudengar sejak kami memutuskan jurusan kuliah yang berbeda. Aku di jurnalistik dan dia di pendidikan. Dua jalur yang bersebrangan, dan orang-orang selalu heran mengapa kami memutuskan untuk berpisah. Haha lucu aja sih, mereka begitu perhatian sama kita, tapi emang benar, awal kuliah memang sulit banget LDRan sama saudara kembar sendiri,”

“Mau cokelat?” tawarku seraya menyerahkan sebungkus cokelat Monggo favoritku.

Ge menerimanya. “Chocolate is fun. Tapi kalau kebanyakan suka nek,”

I am  a chocolate lovers! Maniak malah,” kataku.

“Hati-hati diabetes. Kamu udah manis, tambah makan manis-manis jadi favorit semut loh,” ia tertawa. Garing sih, tapi aku suka. Dengar kan? Barusan ia memujiku manis hihi. Melayang deh, payah! Baru dipuji segitu aja sudah kegeeran. Kelamaan jomblo kamu Din!

“Aku anak tunggal, melihat kehidupan kamu kayaknya asyik banget ya. Lima bersaudara dan semuanya perempuan. Ayahmu jadi paling ganteng dong,”

“Asyik? Iya sih, but my mom told me, kamu pengin tahu kenapa ibu begitu cerewet ngomongin tentang jodoh? Kamu baru merasakannya setelah punya 5 orang anak perempuan dan semuanya masih gadis!”

Ge tertawa lagi. “Ibu yang hebat!”

“Yah, untungnya itu pernyataan ibu tiga tahun yang lalu. Ketiga kakakku sudah menikah dua tahun yang lalu, di tahun yang sama. Dan sekarang mereka sudah memberi ibu cucu-cucu yang lucu,”

“Jadi, tinggal kalian berdua yang masih single?”

Aku terbatuk mendengar Ge menyimpulkan sesuatu yang begitu pribadi dengan secepat kilat.

“Ganti topik aja ya Ge, aku tiba-tiba pusing bahas beginian,”

Ge tertawa lagi. Kali ini ia memandangku cukup lama. Aku tak pernah dipandang sebegini lamanya oleh laki-laki. Oh, tolonglah Ge aku salah tingkah gara-gara kamu.

Dan akhirnya keheningan tercipta di antara kami.

Aku berusaha kembali pada novel yang sedari tadi kuacuhkan dan Ge, ya dia tengah berkutat dengan ponselnya. Tapi kenapa aku susah konsentrasi? Kenapa semua huruf di novel ini susah banget dibaca? Kok semuanya malah menjadi wajah Ge ya? Ah, lebay banget sih.

“Nyadar nggak sih? Kita mirip banget sama dua tokoh di novel yang kamu pegang,” celetuk Ge.

“Hah?”

“Ale dan Anya, bedanya mereka ketemu di pesawat dan kita di kereta api,”

“Ale itu kerja di Rig, kamu di Pabrik Pesawat. Anya itu seorang banker dan aku wartawan junior yang kadang masih bingung dengan masa depannya. Ya, jelas beda lah Ge,”

“Kalau di novel, si Ale ini susah tidur saat perjalanan. Seorang Ge gampang banget tidur dimana aja,”

‘Kalau di novel, Anya ini tipe cewek yang gampang tidur saat perjalanan. Seorang Dina susah banget untuk tidur, makanya di sedia buku untuk membunuh waktu,”

“Hahaha kita kebalik ya Din,”

“Aneh ya kita, untung kamu belum sempet tidur dan sandaran di bahu aku Ge, bisa-bisa aku ketawa geli,”

“Wah payah kamu Din, kalau kamu punya suami nanti dan dia pengen senderan di bahumu, kamu tolak gitu?”

“Ya nggak dong Ge, kan masih ada ini,” kutunjukan benda manis bernama bantal. “Ini menyelamatkanku dari kegelian tiada akhir. Sorry ya, aku aneh,”

“Kamu nggak aneh, tapi lucu. Percaya nggak din? Ini perjalanan pertamaku mendapatkan teman ngobrol paling asyik,”

“Ge, hati-hati nanti aku bisa terbang,”

“Tenang Din, aku siap menangkapmu kalau kamu tiba-tiba jatuh,”

“Huuu itu enak di kamu Ge,”

I wish I could do that Din,”

Ge tertawa lagi. Ucapan Ge tadi sebenernya sempat membuat aku “freeze” sejenak. Tapi melihat dia yang cekikikan nggak jelas, membuatku melupakan ekspetasi terlampau tinggiku. Oh Hello Dina, Geribaldi itu hanya sebatas teman perjalanan saja. Cuma kebetulan dia baik, kebetulan dia ganteng dan kebetulan dia masih single. Tunggu? Ge? Single?

“Emang susah ya kalau berpergian buat jomblo macam kita. Semuanya harus serba sendiri,”

Oke, kucatat, barusan Ge bilang kalau dia jomblo? Orang seganteng Ge? Ah, dunia kadang selucu ini.

“Din? Kamu kenapa bengong gitu?”

Aku segera terbangun dari lamunanku saat Ge asyik melambai-lambaikan tangannya di depanku.

“Aku laper Ge, mau ikut makan? Kalau nggak salah gerbonga makannya ada di gerbong 5,”

Dan tanpa menunggu jawabannya, kulihat Ge sudah berdiri dan berjalan menuju gerbong tujuan kami.

“Sini kugandeng Din, biar kamu nggak tersesat,”

Dan sejak itu, aku tidak akan menganggap sepele doa saat melakukan perjalanan. Life is not that bad, isn’t it?

 

bersambung—-

Penulis:

Sedang mencari kamu

2 thoughts on “[FF] : Love Actually

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s