Posted in Rumah Kata :)

Love Actually (Part 2)

Duh, kawan-kawanku maaf ya saya lagi hobi banget nulis fiksi. Entah kesambet jin apaan, semangat curhat nulis fiksi lagi meningkat pesat. Mungkin karena udah overdosis tugas profesi ya jadinya gini T.T. Nulis fiksi jadi salah satu koping yang ampuh banget. Daan kali ini saya posting kelanjutan dari Love Actually Part 1. Iya, jadi cerita saya kali ini bakalan ditulis dalam beberapa part (Rencana awal 3 part, tapi nggak tahu deh kalau tiba-tiba part nya nambah :p #nggakonsisten). Sayanya suka jatuh cinta sama tokoh fiksi sendiri sih huehehe. Maapkeun ya, diumur menjelang seperempat abad masih juga ababil.

Yasud deh, monggo yang mau baca. Yang minat aja loh ya, yang nggak minat silahkan scroll ke bawah, kali aja ada yang cocok sis! *kok malah jadi jualan macam online shop >,<*


train mates

Aku merapikan jilbab yang sudah miring kanan dan kiri. Setelah perjalanan panjang hampir 6 jam menggunakan kereta api, dilanjutkan 1 jam naik bus akhirnya sampai juga di rumah tercinta.

Home sweet home! Yeay!

“Assalamualaikum,”

Kudengar langkah kaki menuju pintu.

“Waalaikumsalam, Ya Allah Dina, kok nggak ngabarin kalau udah sampai nduk? Kan bisa bapak jemput di stasiun,” Bapak menyambutku dengan senyuman hangat seperti biasa.

“Dina lagi pengin ngerasain naik bus Pak, nostalgia jaman kuliah,”

Yowes, sana ganti baju terus makan ya. Ibu lagi ke warung bentar, beli kerupuk kesukaanmu,”

Setelah mengecup punggung tangan Bapak, aku segera menuju kamarku. Ruangan berukuran 4×5 meter ini adalah kamar kesukaanku. Awalnya kamar ini adalah kamarku dan Naya, hingga akhirnya saat kita beranjak remaja, Bapak membuatkan kamar baru untuk Naya. Lebih tepatnya karena ulahku sih, aku minta kamar terpisah dari Naya karena malas sekali diganggu Naya saat asyik telponan dengan Gilang, mantan pacarku jaman SMA. Duh, kalau ingat itu suka tertawa sendiri. Apalagi teringat hobiku suka telponan malam-malam karena dapet gratisan. Maklum ya, pacaran kurang modal.

Aku menghempaskan badan di atas kasur dengan sprei motif bunga hydrangea kesukaanku. Ah, ibu pasti yang melakukan ini semua. Kuamati semua sudut kamar yang hampir satu tahun kutinggalkan. Foto-foto saat aku SMP dan SMA masih tergantung di dinding. Potongan cerpenku yang berhasil lolos di media cetak juga sudah terpajang rapi bersanding dengan fotoku yang lainnya. Aku tersenyum mengingat memori masa remajaku. Cerpen-cerpen yang kutulis itu, saat kubaca ulang rasanya ingin tertawa sekerasnya. Tulisan yang masih ababil tapi berhasil lolos masuk media cetak. Tulisan yang sebagian besar berisi curhatan nggak jelas dan sebagian lain berisi karyaku yang mejeng di majalah sekolah. Dan sebagian besar memang merupakan cerita pendek.

“Apa kabar anak ibu?” Ibu duduk di sampingku seraya membawa segelas air putih. Kebiasaan ibu setiap aku sampai di rumah adalah menyuruhku minum air putih.

“Makasih bu. Kabar Dina alhamdulillah baik,”

“Gimana? Kamu suka kan? Ini ide ibu untuk mempigura semua karyamu yang dimuat di majalah. Biar nggak kececer, sayang banget kan karya bagus kalau nggak dipelihara dengan baik jadinya mati, hilang,”

“Dina suka banget bu! Nggak nyangka ini semua ibu yang bikin,”

“Kamu pikir Naya yang melakukannya? Anak itu kerjaannya main melulu,”

Aku terkekeh mendengar ucapan ibu. Ah, jadi kangen Naya.

“Makan yuk, ibu sudah masakin makanan kesukaanmu,”

Aku mengangguk. Oh Dina, selamat menikmati liburanmu di rumah!

***

“Ini bagus nggak Din?” Naya mengeluarkan blus berwarna toscanya.

Aku mengangguk.

“Din! Lihat dong! Malah baca komik,”

Kuletakkan komik detective conanku dengan sebal. Naya, ganggu banget acara bersantaiku.

“Naya, kamu mau pake baju yang manapun semuanya sama aja. Kamu nggak bakalan berubah cantik kayak Pevita,” ucapku sebal.

“Jahat banget!” Naya melemparku dengan bantal.

“Lagian kamu ribet banget sih Nay, tamunya ibu kan baru dateng nanti siang habis dhuhur. Ini baru jam 9 pagi Naya, mending baca komik atau nonton tv dulu kaya aku,”

“Din, ini acara penting loh! Kita bakal dikenalin sama anaknya tante Dewi. Kamu udah liat fotonya? Wiiih anaknya ganteng banget. Artis cowok kesukaan kamu, si Arifin Putra, hmm..dia mah lewaaat,” Naya menjelaskan dengan penuh antusias. Aku sih biasa aja. Semalam ibu menunjukkan fotonya padaku dan Naya, tapi aku malah pura-pura tidur. Sumpah, aku malas banget melakukan ini semua.

“Namanya Dion, catet ya Din! Eh, kok kamu nggak semangat gitu sih? Jangan-jangan kamu…,”

“Apa?”

“Kamu udah punya pacar yaa?”

Aku terkekeh mendengar ucapan Naya. Duh, anak ini kesambet setan apaan sih bisa heboh gini.

“Kalau dia ganteng mending buat kamu Nay, kalau dia ternyata suka baca buku mending buat aku,”

“Huuu..dari dulu seleranya yang suka baca buku,”

“Biarin! Nerd is sexy tauk!”

“Beneran ya kalau dia ganteng kayak di foto, kamu harus minggirrr,”

“Silahkan nona Naya, yang penting tuh dianya mau nggak sama kamu? Kalau orang ganteng mah biasanya dapet cewek cantik. Seimbang. Aku sih nggak suka aja punya cowok terlalu ganteng, yang ada setiap jalan sama tuh cowok aku bakalan terintimidasi sama kegantengannya. Dih, bikin hidup nggak tenang aja,”

“Alesan banget sih Din. Kayak mantan pacarmu, si Gilang nggak ganteng aja,”

Dan kutimpuk Dina dengan gulingku karena ia berani bawa-bawa si Gilang ganteng. Ups.

Mengingat Gilang, aku jadi teringat Ge. Kok nggak nyambung ya? Ah biarin. Aku lagi inget aja sama Ge. What are you doing right now, Ge? Kamu masih ingat aku nggak? Bodoh banget aku ya Ge kemarin nggak minta nomer hp, whatssapp, atau bbm kamu? Lagian kamu kemarin bilang mau ngetag foto kita di instagram, tapi sampai siang ini instagram sudah kucek berkali-kali tetap nggak ada notification request dari kamu. Mungkin ini yang namanya rindu. Terakhir aku merindukan laki-laki ya saat pacaran sama Gilang. Saat ini, entah kenapa aku malah rindu kamu Ge. Tadi, teman ibu datang. Namanya tante Dewi, beneran dia dateng sama anak laki-lakinya yang katanya lulusan sarjana teknik. Namanya Dion. Bener kata Naya, dia ganteng. Ganteng banget malah. Kamu aja kalah Ge haha. Sepertinya dia laki-laki yang baik, tante Dewi juga asik. Berkali-kali kulihat Dion mencuri pandang ke Naya. Duh Ge, kalau kamu tau perasaanku saat itu kamu mungkin kamu bakal tertawa. Aku ingin menangis Ge, bukan karena cemburu tapi karena bahagia. Aku pernah melihat tatapan ini sebelumnya. Tatapan mencuri pandang kak Burhan saat melamar kakakku, Mbak Maya. Semoga saja mereka berjodoh. Kemarin saat di gerbong makan kamu pernah nanya gini kan Ge?

“Seandainya Naya yang nikah duluan, kamu ikhlas?”

“Iya,”

“Nggak iri?”

“Nggak. Buat apa? Kan kita akan menikah pada waktunya,”

“Kita? Memangnya aku mau nikah sama kamu Din?”

Aku menutup mulutku. “Oh maaf Ge, aku salah ngomong. Maksudku, baik aku atau kamu nantinya bakal nikah pada waktunya,”

Dan kamu selalu bisa membuatku tertawa, Ge.

***

Hari ini tepat tiga bulan pasca pertemuanku dengan Ge. Perlahan aku mencoba melupakannya walau sulit. Setiap aku berpergian dengan kereta selalu saja muncul memoriku saat pertama bertemu dengan Ge. Orang ganteng plus suka baca buku memang susah dilupakan.

“Din, bantuin aku gih. Coba bantu pilih, bagus warna lillac atau dusty pink?” Naya menyodorkan dua kain brokat.

“Buat lamaran kan? Mending warna pastel aja, dusty pink bagus juga,”

Naya mengangguk setuju. Tumben, anak ini nggak biasanya menuruti saranku.

Satu bulan dari sekarang adalah hari yang penting bagi Naya. Yah, akhirnya dia dilamar. Oleh siapa? Sama laki-laki bernama Dion. Nggak kaget ya? Sama, aku juga nggak dibikin kaget. Setelah lebih banyak ngobrol dengan Dion, kuakui dia ternyata laki-laki yang baik, imannya baik, memiliki pekerjaan baik, dan yah, dia anaknya tante Dewi, sahabatnya ibu. Jadi, Bapak dan Ibu setuju banget saat Dion mengutarakan keinginannya untuk melamar Naya.

Terus Naya juga suka gitu? Nggak usah ditanya deh, mungkin Naya udah suka dari pertama kali ibu menunjukkan fotonya di whatsapp. Yang jelas, saat aku tahu kalau mereka berdua saling suka, saling cinta dan saling sayang, itu semua cukup untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Naya, how lucky you are!

“Din, pinjem credit card mu dulu ya, aku nggak bawa uang tunai,”

Aku mengambil dompet. Tiba-tiba ada sesuatu terjatuh dari dalam tasku.

Geribaldi Witjaksono

Aviation Engineer

Hp: +62856898999xx

Sebuah kartu nama.

 

 

 

 

Ge?

Sejak kapan benda ini ada di tasku?

Jadi aku harus bagaimana Ge? Menghubungimu atau membiarkan ini semua berlalu?

 

 

bersambung~

Penulis:

Sedang mencari kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s