Posted in Others

Love Actually (Part 3)

train mates

Apakah ada yang lebih buruk dari patah hati?

Aku memutar kenop pintu kamar. Setitik cahaya dari jam wekerku menerangi kamar yang hampir 10 jam tak berpenghuni ini. Kunyalakan lampu dan segera mungkin kurebahkan badanku di atas kasur bercover bunga lily. Bunga kesukaanku.

Jadi, benar yang kamu lihat tadi Ge kan Din?

Aku mengambil ponsel. Kuketik sebuah nomor namun aku urung memencet tombol call.

Geribaldi Witjaksono

Kenapa sih dunia bisa sesempit ini? Kenapa Geribaldi ada di City? Kenapa ia tak mengenaliku? Dan kenapa ia malah asyik ngobrol dengan Wieke anak gadis pak direktur yang belum juga sebulan kerja disini.

Oh, Hello Dina. Apa sih yang kamu harapkan dari seorang Ge? Yap, Ge hanya salah seorang kan? Seseorang yang kebetulan bertemu di kereta jurusan Jogja. Seseorang yang kebetulan enak diajak ngobrol, seseorang yang kebetulan seumuran dan kebetulan seseorang itu baik.

Ge dan Ge. Hampir satu tahun nama itu terus berputar di kepalaku. Memenuhi hampir seluruh lobus frontalisku dengan dua kata yang jika aku mengingatnya ribuan kupu-kupu serasa melayang di perutku.

Huh, payah kau Din!

Kamu ini telah dibuai oleh harapan yang terlalu tinggi. Harapan yang seolah-olah bisa kamu raih tapi nyatanya berbalik seratus delapan puluh derajat. Harapan itu telah menyerangmu, menikammu dari belakang. Bahkan mengingatmu saja, laki-laki itu tidak bisa kan? Payah.

Saat ini yang bisa kulakukan adalah….menelpon Naya. Aku nggak mau tau saat ini ia sedang asyik bulan madu entah di pulau mana yang jelas I need her now!

Maaf nomor yang anda tuju berada di luar jangakuan.

Arrrgh! Bahkan harapan terakhir, seorang Naya yang hampir setiap kutelepon selalu menyambut dengan keceriaannya kini harus tergantikan dengan suara mbak-mbak operator nan merdu. Sial! Hari ini benar-benar sial. Dan malam ini kupilih tidur meringkuk seperti anak kucing merindukan induknya.

Oh, kukira sakit hati terakhir yang pernah kurasakan saat dulu Gilang bilang putus. Dan bahkan sekarang, jadian pun belum, hatiku sudah lebih dulu patah. You sucks Din!

***

“Din, kau sibuk?” suara mbak Mayang membangunkan lamunanku.

“Oh eh, lagi ini mbak, coba menghubungi Mbak Devina buat wawancara nanti siang,”

“Bagus deh. Aku minta tolong sekalian ya Din, antar ini ke Pak Tama, beliau ingin kamu yang lapor,”

“Hah? Kok saya sih mbak?”

“Hmm…sebenernya beliau nyuruh aku sih, tapi ngertiin aku dong Din,” mbak Mayang memperlihatkan tumpukan naskah yang harus diedit. Deadline sudah di depan mata. Aku mengangguk lemah mengiyakan permintaan atasanku ini.

Oke, jam 10 am. Ketemu Pak Tama. Laporan mingguan. Aku menuliskannya di sticky note yang kutempel di meja kerjaku.

“Pssst Din!” Tita, tetangga kubikelku mendekat.

“Sudah tau gosip paling hot?”

“Nggak usah, palingan nggak penting kayak yang udah-udah,”

“Eiiits! Yakin lu nggak mau denger? Yakin nih? Rugi looh,” Tita melirik-lirik genit.

Aku menggeleng. Mantap.

“Ah lu nggak asik Din! Aaah! Tapi gue pengin cerita ke elu!” Tita beranjak dari kursinya dan berbisik di telingaku.

“Lu tahu kantor baru di lantai 2? Itu katanya dijadiin kantor perusahaan aviasi,”

Aku ternganga.

“Ha? Kok bisa? Ngapain sih mereka? Bukanya mereka kerjanya di airport gitu ya?”

“Yeey, tadi katanya nggak mau denger, kok jadi semangat gini sih? Soal itu mana ijk tau yes,”

Aku manyun. Dasar si Tita biang gosip paling nyebelin.

By the way, techniciannya ya ampuuun guanteng guanteng banget loh Din! Kita bisa gaet satu tuh, hmmm,” Tita lagi-lagi melirik genit. Senyum-senyum tak jelas seraya kembali ke kubikelnya.

Aku merasakan hawa-hawa jahat mulai berkeliaran saat mataku beradu pandang dengan mbak Mayang. Kulirik jam mejaku, ya ampun! Aku harus segera ke Pak Tama!

Ting!

Pintu lift terbuka. Lantai 2.

Aku merapikan rok dan tatanan jilbabku saat tiba-tiba serombongan karyawan menyerbuku. Mereka hendak masuk lift. Oh god! Mereka tampan semuanya! Salah satu dari mereka tak sengaja menabrak bahuku dan bros bunga lily yang kupakai di jilbabku entah kenapa bisa terjatuh.

“Bros yang bagus,” seseorang memungutnya.

“Oh terimakasih,”

Laki-laki itu tersenyum. Siapa sih mereka ini? Berjalan rombongan, laki-laki semua lagi. Kan aku jadi grogi. Huft, alhamdulillah bros kesayangan ini utuh tanpa lecet sedikitpun. Bros yang aneh, biasanya dia melekat kuat di dadaku, kenapa kali ini begitu rapuh? Hmm..mungkin ia mengikuti si empunya yang hatinya sedang porak poranda ini. Lebay.

***

Jam makan siang. Okay, aku masih punya waktu satu jam lagi sebelum bersiap menuju kediaman mbak Devina, seorang artis terkenal yang memutuskan masuk ke dunia politik. Sebenernya aku tak begitu suka jika harus bertemu atau mewawancari artis. Suka repot aja mengatur jadwalnya. Secara para artis itu kan sibuknya pake banget. Jadi seperti double job.

“Din, kamu berangkat bareng Bima ya,” Mbak Mayang menyebutkan fotografer yang akan menjadi partnerku kali ini. Aku menepuk dahi. Tita terkikik. Kami sama-sama tahu jika pergi bareng Bima siap-siap rempong karena dia orangnya lelet dan gampang lapar. Memang ya, kali ini aku harus berjuang keras lagi.

Tita mengepalkan tangan dan mengucap ganbate! Memberiku semangat yang sayangnya nggak mempan dan semangatku juga gini-gini aja.

“Oh ya Din, selesai wawancara jangan langsung balik ya. Ingat deadline artikel yang aku kasih ke kamu, malam ini harus beres oke?” ucap Mbak Mayang dengan senyumnya yang sama sekali nggak ada manis-manisnya. Oh, dunia kenapa engkau begitu kejam? Saat kubayangkan bisa tidur di atas kasur empuk bermotif bunga lily kenapa malah harus balik ke kantor dan lembur bareng nenek lampir?

***

10 p.m

Aku menguap. Kulirik mbak Mayang. Oke kelihatannya dia juga sudah lelah. Hmm..sebentar lagi pasti disuruh pulang nih. Asik.

“Din, pulanglah dulu sana, aku nggak mau besok kamu masuk telat,”

Bingo!

Setelah mengucapkan terima kasih dan mengirim semua deadline artikel ke email mbak Mayang, aku segera melesat turun ke lobi.

Aku mengeluarkan hape dan ternyata sudah ada 50 unread messages di whats app. Alah, palingan ya pesan di grup alumni kampus. Aku mah apa sih, cuma silent reader. Eh, kok ada pesan dari nomer tak dikenal. Belum masuk di friendlistku.

Hai Dina, senang bisa bertemu lagi. Nanti sore sepulang dari kantor ketemu yuk

Badanku seketika membeku. Pulang kantor? Ketemuan? Ini kan sudah lewat 3 jam dari jam pulang kantor yang normal. Siapa dia? Siapa? Aku membuka profile picture yang tertera di nomer whats appnya. Oh Tuhan jadi benar dia….

“Hai Din!”

Seseorang menepuk punggungku. Aku tersentak kaget. Dan saat kubalikan badan aku pikir dunia ini memang benar-benar sempit.

Laki-laki itu ada di depanku. Laki-laki itu ada tersenyum padaku. Laki-laki itu bernama……

Geribaldi Witjaksono.

Dan aku merasakan waktu berhenti untuk beberapa saat.

bersambung~

 

p.s:

Huaaaa akhirnya part 3 saya posting juga yaa. Huft. Emang sih nggak ada yang request tapi seneng aja akhirnya janji pada diri sendiri bisa ditepati. Di awal nulis series ini saya bilang kalau bakalan jadi 3 part tapi eng ing eng….saya nya jatuh cinta sama tokoh-tokoh cerita bikinan sendiri (ahaahak! lebay deh). Jadi, Inshaa Allah mau saya terusin. Partnya nggak lebih dari 5 part sih, bisa juga kurang tergantung mood saya (kalau lagi galau mungkin bisa nyampe part 10). So, selamat membaca. Terimakasih yang udah mampir dan membuang almost 5 minutes of your precious time ehehehe.

Love Actually part 2

Love Actually part 1

Penulis:

Sedang mencari kamu

2 thoughts on “Love Actually (Part 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s