Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Buka Puasa Bersama (1)

Hari ini ada acara buka bersama di kantor. Sayangnya acaranya molor dari rencana awal dimana isha kita bisa pulang dan shalat di rumah masing-masing-masing menjadi saat-adzan-isha-kita-baru-selesai-makan ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… Jadi deh dilanjut shalat Isha dan tarawih berjamaah untuk pegawai laki-laki, sedangkan pegawai wanita karena sudah malam kita pun dipersilahkan untuk pulang dan shalat di rumah masing-masing.

Rencananya buka puasa sore tadi adalah sekaligus acara perpisahan dengan Mas Koko. Tapi alhamdulillah ada kabar gembira jika kontraknya bisa diperpanjang dan pengurusan ijinnya berhasil. Saya sudah membayangkan jika lusa kubikel di samping saya ini (ex-kubikel mas Koko) bakalan kosong. Kebayang nggak sih biasanya ada orang yang duduk disitu ngetik-ngetik, eeh tiba-tiba kosong aja? Sedih sekaligus serem! ๐Ÿ˜ข

Oya acara buka puasa di kantor tadi menarik banget. Pukul 17.00 kita berkumpul di ruangan pelayanan Badan Usaha. Ruangan ini ditata sedemikian rupa, digelar karpet gitu. Kemudian datang pak Ustad Ayyub untuk mengisi tausiyah sebelum berbuka. Isi tausiyahnya tentang keutamaan bulan ramadhan dan perbedaan Zakat, Infaq dan sedekah. Ustadz menganjurkan di bulan ramadhan ini sebaiknya kita rutin memberi sedikit harta yang kita miliki untuk orang lain yang membutuhkan. Dimulai dari nilai yang kecil (jika nilai yang besar dirasa terlalu berat) dan terus ditingkatkan di setiap hari/minggunya tergantung targetan kita. Dianjurkan juga untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Duh, saya jadi inget targetan bulan ramadhan yang memasuki hari keempat ini agak keteteran ๐Ÿ˜ข sedih. Banyak yang harus diperbaiki. Yosh! Semangat!

Acara dilanjutkan dengan berbuka puasa (minum teh manis hangat dan makan camilan), shalat mahgrib berjamaah dan baru deh kita makan bersama-sama. Dan ini bagian yang menarik, kita makannya gak di atas piring tapi diatas lembaran daun pisang (model bancakan gitu), makanannya ditaruh di atas daun pisang kemudian ditaruhlah lauk pauk disetiap pinggirnya. Rasanya enaaak banget, Alhamdulillah. Terakhir makan model seperti ini rasanya sudah lama banget yaitu saat ikut malam keakraban klub riset jaman semester 3 kuliah dulu. Wow! Udah hampir 4 tahun yang lalu yak! Gak kerasa ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ dulu menunya pake ikan asin mantap sekali. Kalau sekarang lauknya pakai kering tempe campur kacang dan ikan teri. Mantapnya dobel ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Postingan ini saya dedikasikan untuk kubikel samping yang nggak jadi ditinggalkan. Selamat kubikel, kamu tak jadi ditinggalkan hingga berdebu dan tampak kasihan. Esok masih tetap ada yang bersihin kamu, rapiin mejamu (yakin?), dan ada yang ngetik-ngetik berisik sampai kamu bosan mendengarnya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Sekali lagi, selamat!

P.S: saya kasih angka (1) di judulnya karena masih ada kemungkinan ada undangan bukber-bukber lain. Sekiranya bukber itu nggak membuat kita meninggalkan yang wajib/membuyarkan konsentrasi ibadah kita sih gpp kali yak untuk ikutan. Cuma ya itu, jangan kebanyakan bukber nanti bosen ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

โ€‹
Suasana buka puasa sore tadi….ini model bancakan ya…udah siap makan tinggal dikasih aba aba (re: berdoa) dari pak Ustadz

โ€‹
โ€‹

Iklan
Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Ramadhan Dulu, Ramadhan Kini

Hampir 8 tahun terakhir saya selalu menjalani Ramadhan dengan status sebagai anak rantau. Namun, Ramadhan kali ini agak berbeda. Status anak rantau memang masih saya sandang. Namun, statusnya rada-rada dipertanyakan karena meski statusnya bekerja di luar kota (lain kabupaten), jarak dari kantor ke rumah dapat ditempuh hanya dengan 45 menit saja menggunakan sepeda motor berkecepatan 60km/jam. Lumayan terjangkau untuk pulang-pergi dalam sehari hehe.

Bulan Ramadhan selama saya menjalani masa kuliah selalu bertepatan entah itu dengan ujian, praktik klinik atau skripsi. Malah ramadhan tahun kemarin saya sedang menjalani program profesi. Selama Ramadhan tahun kemarin, saya menjalani praktik klinik di RSUD Dr. Adhyatma, MPH di daerah Tugurejo, Semarang. Yang tau Semarang, ini daerah adalah pintu menuju kawasan pantura. Kalau siang panasnya minta ampun dan debu-debu dengan senang hati bertebaran dimana-dimana. Seringnya saat berangkat shift siang saya harus balapan dengan truk tronton dan bus patas yang besar-besar banget itu. Wajah cantik mulus pas berangkat langsung tergantikan dengan wajah kusem penuh kepulan asap. Meski sudah dilindungi dengan masker dan helm, yah tetep aja kalah dari gempuran asap hitam karbonmonoksida. Sedih banget deh. Menurut saya saat itu adalah Ramadhan terberat selama menjadi mahasiswa. Kenapa? Selain medan dari kosan-RS yang enggak banget (panas, berdebu, dan lumayan jauh), saya juga sedang mengalami masa jenuh profesi. Penginnya cepetan lulus, wisuda, kerja. Tugas-tugas selama praktik pun jadinya terbengkalai karena semangat yang pudar terbang entah kemana. Saat itu juga ada presentasi project dan proposal saya ditolak habis-habisan sama ibu Dosen. Harus ngulang dari awal lagi, ganti judul, cari pasien baru de el el. Nangis deh saya. Malam setelah seminar proposal saya nggak bisa tidur. Saya begadang nyari nyari jurnal. Mana ibu Dosen mintanya harus journal internesyel pulak. Huahaha, klop dah. Kelar semua drama tugas dan sebangsanya, menjelang lebaran dapet pengumuman dari manajemen RS, mahasiswa hanya akan diberi libur saat hari H lebaran saja. Hanya 2 hari. Omegat! Saya dan teman-teman sekelompok praktik pontang panting lobby dosen plus manajemen RS. Minta liburnya ditambah xixixi. Maklum ya hampir berbulan-bulan ndak pulang kampung, sekalinya dapet libur cuma 2 hari saja, sakit sist ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ dan hasil akhirnya…permintaan kami tidak dikabulkan. Fix, dapet libur lebaran cuma dua hari saja. Tambah galau dong saya. Akhirnya setelah memantapkan hati saya pesen tiket pulang. Naik kereta di malam takbir. Dan balik lagi ke RS H+1 lebaran. Huhuhu pengin nangis banget waktu itu. Tapi alhamdulillah akhirnya tahun berat itu terlewati juga :)))

Ramadhan di perantauan dengan Ramadhan di rumah itu rasanya berbeda sekali. Terutama saat sahur dan berbuka. Dimana saat di perantauan semua harus disiapkan sendiri. Mulai dari beli makan sahur sampai menyiapkan menu berbuka. Itu juga harus diimbangi dengan berbagai pertimbangan, salah satunya kondisi uang bulanan ๐Ÿ˜‚. Pokoknya jangan suka kalap pas buka puasa! Oya, saat di kuliah dulu saya juga suka berburu takjil gratis. Namanya juga mahasiswa yak ๐Ÿ˜. Biasanya menjelang berbuka saya dan temen-temen kos rombongan ikut kajian di masjid Kampus. Usahakan berangkatnya gasik karena kalau telat (lebih dari jam 5 sore) kesempatan untuk mendapat kupon makanan berbuka semakin kecil. Maklum, rombongan mahasiswa yang ikut kajian selama Ramadhan meningkat drastis euy. Eh ini niatnya kajian atau dapet makan gratis sih? :p ah, jangan niru saya ya. Harusnya niat di awal adalah kajian, dan bonusnya adalah dapat makanan berbuka gratis.

Saya juga rindu suasana Ramadhan di Tembalang (daerah Kampus Undip atas). Meski kalau sore macetnya minta ampun karena bebarengan dengan mahasiswa pulang kuliah, Dosen kelar ngajar atau jam pulang pegawai kantor. Saya tetap merindukan jajaran penjual takjil di sekitar kosan. Pokoknya penjual takjil dadakan ini bisa ditemukan saat saya keluar gang kosan hingga daerah Ngesrep (sekitar 2km dari kosan saya). Pokoknya semarak banget ramadannya. Mungkin karena bareng temen-temen juga, jadi seneng gitu. Shalat tarawih pun kita berangkat bareng-bareng. Nyari masjid yang rakaat tarawehnya tidak terlalu banyak (11 rakaat) dan bacaan suratannya nggak terlalu panjang ๐Ÿ˜ Kebetulan masjid di deket kosan memenuhi kriteria tersebut. Jadi nggak harus keluar jauh hahaha #janganditiruyaaa. Kelar tarawih dan ngaji kita keluar cari yang seger-seger dan camilan lainnya. Habis itu nugas (bentar banget nugasnya karena kekenyangan dan akhirnya ngantuk) dan tidur. Saat sahur pun saya dan teman-teman saling membangunkan. Kita makan sahur bareng-bareng. Ada yang sudah beli makan di malam sebelumnya, ada yang ndadak beli, ada juga yang masak sendiri. Kita makan sahur sambil ngantuk-ngantuk hehe.

Sedangkan Ramadhan di rumah, semuanya serba mudah. Saat sahur, ibu sudah menyiapkan makanannya. Saat berbuka pun sama. Meski saya juga ikut terjun langsung menyiapkan hidangan buka puasa (entah besok kalau sudah masuk kerja, penginnya langsung makan saja ๐Ÿ˜…), saya nggak lagi kebingungan untuk menentukan menu berbuka. Pokoknya serba mudah dan murah deh heheu.

Sebenarnya perbedaan yang paling mendasar antara Ramadhan di rantau dengan Ramadhan di rumah adalah orang-orang yang mengelilingi kita. Saat di rantau, teman dan Sahabat lah yang selalu menemani, sedangkan di rumah kita dikelilingi oleh keluarga tercinta. Menjalankan ibadah puasa di perantauan mengajarkan saya betapa bersyukurnya bisa berpuasa bersama keluarga tercinta. Selama menjalankan puasa Ramadhan di rumah saya pun bersyukur pernah dipertemukan dengan sahabat dan teman-teman yang baik.

Begitulah, namanya juga masa lalu, Indah dikenang tapi tak ingin diulang.

Selamat istirahat. Semoga esok puasanya lancar ya. Yang puasanya masih sendiri (ngomong ke diri sendiri nih?) tidak cukup hanya nahan laper, kita juga harus bisa nahan baper. Kurang-kurangin kepo si doi diinstagram. Kalau perlu instagramnya diuninstall dulu deh selama Ramadhan biar bisa fokus ibadah huehehehe ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Tentang Fitriya

“Des, lg ngapain? Aku telepon ya?” Bunyi chat dari sahabat saya, Fitriya tadi malam.

“Aku baru nyampe kos fit, bentar ya cuci muka dan bersih-bersih dulu. Mau shalat juga, nanti kalau udah beres aku kabarin,” jawab saya. Setengah jam kemudian masuklah telepon dari Sahabat saya ini.

Namanya Fitriya. Salah satu penghuni kosan bulusan jaman kuliah dulu. Teman sekelas juga. Memasuki dunia pasca kuliah, dimana masing-masing dari kita saling terpisah, Fitriya lah yang paling rajin telepon anak-anak kosan. Satu per satu ia hubungi lewat telepon atau video call. Demi menjaga silaturahmi, katanya. Dari hasil obrolan semalam, saya tahu jika Fitriya sekarang sudah bekerja di salah satu klinik rawat luka. Selama 2 bulan awal bekerja dia ditempatkan di Bekasi. Namun sekarang harus move out ke Bogor, di kantor cabang klinik rawat luka yang lain. Anak ini banyak cerita, ia sekarang menyukai pekerjaannya. Bertemu pasien Diabetes Mellitus setiap hari, merawat luka mereka, ngobrol dan memberi pendidikan kesehatan kepada tiap-tiap Pasien.

“Bahagianya bisa berbagi ilmu yang aku miliki rasanya menyenangkan banget Des. Bayangin yah kamu ketemu Pasien DM dengan luka yang cukup parah. Ibaratnya sudah jelek banget tuh keadaan lukanya. Terus kita kaji tuh, sebisa mungkin aku rawat lukanya jangan sampai diamputasi. Karena jika penanganan rawat lukanya benar, ndak perlulah itu diamputasi. Seneng rasanya ngeliat pasienku semakin hari lukanya semakin membaik. Bahagianya ndak ada yang ngalahin,”

Mendengar cerita Fitriya saya senang. Akhirnya dia menemukan pekerjaan impiannya ๐Ÿ™‚ dulu selepas skripsi dan akan memulai dunia profesi, kami sempat ngobrolin tentang masa depan. Katanya saat itu, “Aku pengen tetap jadi orang lapangan Des, ketemu pasien. Tapi sepertinya nggak harus di rumah sakit. Mungkin bisa di klinik dengan spesialisasi tertentu,”. Dan saat ini doanya terkabul. Dia juga banyak cerita tentang kota tempat tinggal saat ini. Yap, kota hujan Bogor.

“Wah sejuk dong Fit, kan kota hujan,” kata saya. Di seberang sana Fitriya tertawa. “Ndak ah, sama aja. Panas disini, dinginnya kalau pas hujan aja,”

Fitriya…Fitriya…katamu dulu tak pernah ada bayangan untuk merantau di ibu kota atau kota-kota lainnya di sebelah barat Jawa sana. Malahan, saya yang dulu bermimpi untuk mencicipi ganasnya ibu kota. Sekarang status kita berkebalikan yah.

Fitriya bilang tantangan paling berat saat ini adalah jarang bertemu keluarga dan susahnya mendapat tiket kereta untuk pulang kampung. Dulu saat masih kuliah jarak rumahnya ke kota perantauan hanyalah 2 jam dengan sepeda motor. Semarang-Jepara. Lebih jauh juga saya dari Purwokerto-Semarang dengan 5 jam waktu tempuh. Sekarang untuk dapat tiket mudik saja ia harus rela begadang untuk membooking tiket pulang.

“Aku sampai begadang biar bisa pulang kampung lebaran nanti. Alhamdulillah dapet juga. Sempet nangis nangis loh des karena aku lupa kalau harus beli ticket,”.

“Jadi inget jaman kuliah dulu nggak sih fit? Kamu kalau mau pulang enak banget, tinggal pulang aja naik motor. Jam berapa pun. Sedangkan aku kalau mau pulang harus ngatur waktu, ngepasin jadwal travel, bus atau kereta,” Kata saya.

Fitriya tertawa. “Dunia kita kebalik ya sekarang,”

Ia yang dulunya sangat awam dengan transportasi bernama kereta. Pengalaman pertamanya naik kereta kalau tak salah di tahun 2014 akhir saat saya dan Fitriya tergabung di kelompok praktik yang sama dan mendapat jatah praktik di RSUD Pemalang. Kami naik kereta ekonomi dari Semarang ke Pemalang. Dan saat ini ia sudah terbiasa dengan dunia perkereta apian, terutama KRL ๐Ÿ˜ƒ. Selamat ya Fit, sesuatu yang kamu anggap asing diawal, ternyata kini menjadi bagian hidupmu sehari-hari ๐Ÿ˜.

Ngobrol dengan Sahabat memang tak ingat ย  waktu ya. Setelah ngobrol ngalor ngidul membahas apa saja dari yang namanya pekerjaan dan drama-dramanya, gosip artist di lambe turah, rencana jalan-jalan, sampai ke bagian cecintaan juga, akhirnya baterai HP saya drop dan kebetulan pulsa Fitriya juga habis xixixi. Klop deh, percakapan ini harus kita akhiri. Saat saya liat jam, omegat udah jam 22.30 WIB. Kami menghabiskan dua jam untuk ngobrol? Seriously???! ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ begini ya, cewek kalau dah ngobrol suka lupa waktu. Ini kita ngobrol ditelepon loh, coba kalau ketemu langsung? Bisa-bisa kita begadang just for “ngegosip dan curhat rempong”.

Dan saya pikir, she still the same. Masih menjadi Fitriya yang asyik diajak ngobrol remeh temeh. Yang tetap tertawa dengan candaan receh yang saya lontarkan. Hampir setahun belum ketemu Fitriya lagi, ย dia bilang sedang harap-harap cemas menanti kelahiran ponakan keduanya. Yang dari hasil USG katanya berjenis kelamin cowok. Selamat menanti ya Fit. Semoga lancar untuk persalinannya. Semoga mbakmu sehat, dan ponakanmu lahir dengan selamat :’)

Dan pertanyaan Fitriya yang masih terngiang-ngiang sampai saat ini adalah…..

“Did you finally find your own prince?”

Dan saya pura-pura kehilangan sinyal. Besok (entah kapan alias kalau ada waktu libur) kalau temanmu ini jadi main ke Bogor, pertanyaanmu mungkin sudah ada jawabannya. Kalau belum ya berarti…yah kamu tahu sendiri lah Fit.

The journey must begin.

P.s: Fitriya berpesan kepada saya untuk selalu ingat ini:

“Des, denger ini, Seseorang yang baik akan bertemu orang yang baik dengan cara yang baik pula. So create your own amazingly story. Aku tunggu ceritamu di kesempatan baik yang lain ya,”

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Liburan Singkat: Keliling Dunia di Small World Purwokerto

Hari ini saya memutuskan untuk keluar dari sarang. After a super duper sibuk week (apaan dah ini bahasanya gak jelas banget ๐Ÿ˜‚), akhirnya ketemu weekend juga. Jadi ceritanya minggu kemarin adalah minggu crowded di kantor saya. Kenapa eh? Yap, karena hari Kamis (18/5) kantor kami kedatangan tamu dari divre. Tak tanggung-tanggung mereka adalah rombongan dewas atau dewan pengawas. Jadiii deeeh, seminggu sebelum kedatangan sang tamu agung, kami beres-beres kantor. Pokoknya kantor jadi manglingi tenan! Saya aja sampai pangling sama meja kerja yang biasanya kayak kapal pecah, eh tetiba jadi kinclong. Haha (ini berkas pada diumpetin dimana yhaaa. ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…). Dan singkat cerita kunjungan dari dewas berakhir dengan sukses. Yes. Akhirnya bisa bobok nyenyak.

Dan weekend kali ini saya isi dengan jalan-jalan ke lokawisata di daerah Baturraden namanya Small World Purwokerto. Objek wisata Small World termasuk objek wisata baru di kabupaten Banyumas. Lokasinya ada di Desa Wisata Ketenger, kecamatan Baturraden. Kalau dari pusat kota Purwokerto ambilah arah utara. Dari kampus Unsoed ke arah BSI kemudian lurus terus ke utara (arah objek wisata alam Baturraden). Sebelum terminal Baturraden, di sebelah kiri jalan ada gang dengan plang bertuliskan Desa Wisata Ketenger. Masuk saja dan ikuti jalan, sekitar 300 meter makaย akan ketemu tuh Small World Purwokerto.

Isinya apa aja sih?

Jadi objek wisata ini merupakan objek wisata edukasi dimana terdapat banyak miniatur landmark kota-kota besar dari seluruh dunia. Contohnya ada menara Pisa, Italia. Patung Liberty, USA atau tugu Monas, Indonesia. Pokoknya macem-macem deh. Ada juga tiruan bunga sakura dan maple tree. Jadi serasa berada di Jepang saat musim semi dan musim gugur haha. Soalnya letaknya berdekatan, jadi abis ngerasain musim semi langsung pindah ke musim gugur ๐Ÿ˜„ disitu kita juga bisa menyewa baju adat korea (hanbok) dan baju adat jepang (kimono). Tersedia untuk cowok dan cewek. Biaya persewaannya adalah 15k. Murah man? Oh iya biaya masuk Small World juga terjangkau banget loh, 10k saat weekdays dan 15k saat weekend. Lamanya kunjungan nggak dibatesin. Mau dari pagi sampai sore juga silahkan. Dari buka sampai tutup lagi juga gapapa ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Ini foto-foto narsis saya selama disana. Dijepret sama mbak kembar yang kemampuan fotografinya kadang bikin ngiri ๐Ÿ˜…

โ€‹
Foto di bawah Sakura. Serasa jadi model Shin*ui wkwkwk.

โ€‹
Lost in New York. Ceritanya lagi nungguin mas Ale pulang kampung. Hahha. Drama bangetsss.

โ€‹
Jangan berani-berani sama saya. Lihat, menara Pisa saja bisa saya bikin miring!!

โ€‹
katanya sih ini London Bridge

Yaaah, inilah liburan sederhana saya. Rencana pengen ke Jogja tapi belum kesampaian. Mungkin lain waktu kali yah. Alhamdulillah, meski liburannya sebentar, tapi cukup terhibur juga. By the way, saran aja nih kalau ada yang pengen main ke Small World Purwokerto, jangan lupa pake sunblock. Puanaaaasss bangettt rek. Saya sampai di lokasi sekitar pukul 10.00wib. Dan panasnya sudah bikin pusing. Kalau yang gak tahan panas, tenang saja disana banyak mamang mamang yang menyewakan jasa peminjaman payung. Sekali sewa 5k saja~

Okeee, kelar muterin Small World saya dan mbak kembar langsung ngibrit ke Gramedia. Si mbak katanya pengen beli buku. Dan taraaaaa! Saat sampai di Tamara Plaza lt. 1 (Gramedia ada di lt. 2, btw) ternyata ada diskon gede-gedean dari Matahari store. uuuwwww, cewek mana sih yang gak mupeng dengan diskon sampai 75% (bukan 50%+20% loh ya), ada juga baju buy 1 get 2 atau buy 1 get 1. Saya tergoda banget. Apalagi saat ke gerai triset (merk sandal). Ada diskon 50% juga untuk sandal yang saya taksir. Yaaa ampuuun seneng banget deh, kapan lagi dong bisa beli sendal triset just 115k saja? (biasanya harga normal triset paling murah >250k). karena mahalnya itu saya kadang mikir 2x untuk beli sendal ini. Tapi mungkin lagi jodoh ya, alhamdulillah dapet sendal murah meriah. Terus jadi beli buku gak? Haha itu urusan si mbak. Saya tinggal ngikut ajaaah.

Okedeww. Ini cerita weekend saya. Nggak terasa ya, weekend minggu depan sudah masuk ramadhan :’) semoga kita semua bisa menyambut ramadhan dalam keadaan sehat walafiat. Aamiin.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Random Chat

“Des, BBM kamu nggak aktif ya? Kok aku bbm pending terus,” sebuah pesan baru masuk ke whatsappku. Rupanya kamu. Sepagi ini sudah riuh menanyakan perihal offnya BBMku.

“Iya, emang rada error tuh BBM, kalau mau cepet aku respons ya lewat wa aja. Emang napa sih mbak?”

“Aku kirim sesuatu, tapi karena bbm kamu error, ya sudah aku kirim lewat pesan ini saja ya?”

Sebuah gambar.

Undangan.

Dua huruf pertama namamu dan namanya. Lantas aku heboh sendiri.

Dear, my bestfriend berinisial RN. Finally, you find him.

…typing….

“Mbak,” tulisku padanya. Meski usia dia lebih muda dariku, entahlah aku selalu merasa aku wajib memanggilnya ‘mbak’. Haha. Aneh ya.

“Mbak…how can you finally know that he’s the right one?”

…typing….

Dia mengetik ini, “Entahlah Des, aku ngerasa mantep aja,”

“Mantepnya gimana mbak? Jelasin dong yang detail,”

“Mantep ya mantep lah, nggak perlu dijelaskan dengan banyak kata maupun tulisan. Nanti juga kamu ngerasain kok,”

Aku tertawa. Tapi nggak mungkin juga dia dengar. Aku dimana, dia dimana.

“Makanya….kalau udah nemu yang mantep, cepet nyusul ya,”

“Doakan saja mbak, he he,”

“Pasti,”

Kemantapan. Yup. Ini memang hal yang katanya sangat penting dalam sebuah hubungan. Mantap mau dilanjutkan ke hubungan yang lebih serius atau tidak. Kata orang sih, misal sudah jodoh gitu, ada rasa kemantapan sendiri bahwa “he’s the right one”. Ini dia orangnya. Teman masa depan yang kelak akan berbagi suka dan duka.

Minggu depan, sahabatku ini akan mengakhiri masa lajangnya. Ia akan meniti kehidupan rumah tangganya. Ia akan menjadi seorang istri. Dan kelak akan menjadi ibu dari anak-anaknya.

Mbak..padahal dulu kita sering menggalau bersama tentang masalah nikah menikah ini ya…pulang dines pagi di Moewardi, beli cilok atau dawet terus kita cerita ini dan itu. Ngalor ngidul sampai cilok tinggal plastiknya dan gelas dawet kita sudah tandas semua. Haha. Terus aku tanya-tanya tentang taaruf. Kamu jelasin sebisa kamu. Mbak, kamu yang suka ngajak aku datang kajian meski lagi di kota orang. Katanya, seperti tubuh kita, hati juga butuh asupan. Dan mendatangi kajian adalah salah satu suplemen untuk ruhani kita. Kamu tahu mbak, selepas kuliah aku merindukan masjid kampus. Aku rindu suasana halaqohnya yang menentramkan jiwa. Dulu sempat kita satu liqo kan? Tapi cuma satu semester ya mbak. Habis itu aku punya kelompok liqo baru. Ah, semua itu hanya tinggal kenangan.

Mbak, banyak yang bilang kamu pendiam. Tapi bagiku enggak. Kamu cerewet kok. Hanya saja dengan orang baru kamu sedikit menjaga jarak. Sama seperti aku.

By the way, aku ikut seneng mbak. Akhirnya kamu akan menggenapkan separuh agamamu :’) sekali lagi selamat ya mbak! Kamu keren! Doakan lah diriku cepet menyusul dirimu. Wkwkwk. Eh, doakan dulu saja mbak, temenmu ini dikurang-kurangi lah galaunya. Biar nggak ngomongin nikah mulu. Biar dia fokus dulu lah sama kerjaannya. Urusan cowok bisa nanti.

“Eh nanti? Seriusan? Tahun ini usiamu berapa? Kamu mau nikah kapaaaan heh??” *suara hati seseorang menjerit-jerit kehilangan nada*

Kemudian hening.

Ada rasa panas disela-sela jari jemari.

Dan aku baru ingat, tadi makan lele penyet sambel bawang lupa belum cuci tangan pakai sabun. Wk.

Diposkan pada Curhat Tentang Film

Nonton Critical Eleven

Hai. Minggu ini sepertinya jadi movie of the week bagi saya. Why?

Saya cerita deh, hari Senin tanggal 8 kemarin, saya dan teman-teman kantor nonton Guardian of the Galaxy vol. 2. Awalnya ini ide mbak Mey, pengin nonton bareng-bareng gitu. Akhirnya rame-rame pulang kantor kita nonton mamas Chriss Pratt yang ganteng itu loooh. Kami pilih film yang jam tayangnya 17.30 WIB. Dan tebak? Saya baru pertama kali berkunjung ke cinemanya Cilacap. Wait, cinema? Wkwk. Iya, cinema mininya Cilacap euy. Namanya Dakota. Karena mepet waktu maghrib, kami pun shalat dulu sebelum nonton. Jadi telat setengah jam-an gitu deh. Dan, saya suka banget sama filmnya! Menghibur banget, apalagi sama jokesnya si rocket racoon. Saya juga terpesona dengan kelucuan baby Groot yang ternyata diperankan sama Vin Diesel. Nggak nyangka deh, Vin Diesel yang kokoh keker gitu jadi Groot si bayi pohon ๐Ÿ˜† Kalau suka film-film DC atau Marvel, coba nonton film ini deh ๐Ÿ˜„. Dijamin…terhibur.

Dan hari ini saya kembali nonton lagi. Kali ini di CGV cinema di Rita Mall Purwokerto. Saya nonton bareng mbak kembar (ya iya lah, mau sama siapa lagi coba? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚). Yep, kami nonton Critical Eleven. Iyah! Ini loh film yang sudah saya tunggu-tunggu sejak beberapa bulan lalu. ย Sejak si penulisnya bilang kalau novelnya bakalan diadaptasi ke layar lebar. Terus doi spoiler aktor dan aktrisnya. Yang bikin cewek-cewek jejeritan karena ada Reza Rahardian dan Hamish Daud. Tipe lelaki idaman cewek banget kan? Haha.

Saya tertarik nonton karena saya suka novelnya. I’m really love it! Dari novel-novel karya Ika Natassa yang lain, Critical Eleven is my favorite!

So, how was the movie?

Hmm…bagus. Iya, apalagi pas scene di Nu York. Jadi kepengen tinggal disana. Eh.

As your expectations?

Nope. Tapi kan emang nggak boleh bandingin novel sama film ya? Nggak fair lah. Cuma kenapa ya, saya ngantuk di pertengahan film plus lapar jugaa haha ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜ menurut saya sih durasinya terlalu lama. Saya masuk bioskop sekitar pukul 10.50 wib dan keluar sekitar pukul 13.15 wib. Dua jam lebih lah. Dan untuk ukuran film lokal ini lama loh.

How’s your Ale?

Hah? Nanyain Ale? Iya dia diperanin sama Reza Rahardian. Ganteng gak? Banget! Dan ย I give a thumb untuk babang Reza. Feel Bapak Aldebaran Risjadnya dapet banget. Apalagi pas akting dia di rig, pakai seragam engineer itu loh. Manly banget pemirsah! Pas dia keringetan habis ngapain gitu (pokoknya habis kerja deh ya). Haha level manly saya kok cetek abis siiiih ๐Ÿ˜‚. And gimana Tanya Laetitia Baskoro a.k.a Anya Risjad yang diperankan oleh mbak cantik Adinia Wirasti? ini saya juga sukaaaaa bangettt. Mbak Wirasti, cantik banget deh. She played well as Anya, cewek mandiri yang sok sokan strong tapi di dalam dirinya ia sebenarnya lemah dan butuh perlindungan. Hmm…begitulah. Ada juga si Haris Risjad (bagi penggemar karyanya Ika Natassa pasti nggak asing sama tokoh ini kan?) yang diperankan oleh Refal Hady. Awalnya saya kira Haris bakal diperankan oleh Hamish. Eh ternyata salah. Babang Hamish memerankan Donny, sahabatnya Anya. Terus ada Mika Tambayong juga. I guess dia bakalan jadi Keara, pacarnya Haris, eh ternyata enggak. Dia malah jadi girlfriend to be nya Donny. Hahaha saya banyak salah tebak. Habisnya jika membaca novelnya, mbak Mikha ini cocok jadi Keara sih ๐Ÿ˜

Btw, bertemunya Reza-Adinia di Critical Eleven seperti melihat kembali Reza-Adinia berakting di Jakarta Maghrib. Chemistrynya dapet banget, aih. Apalagi pas akting marah-marahnya itu loh. Reza banget! *honestly, sedikit lebay emang.

Jika nonton film ini bersama pasangan, mungkin lain lagi ceritanya. Mungkin saya nggak ngantuk di tengah film. Maklum ye, samping kanan dan kiri saya nonton bareng pasangan mereka. Saya nonton sama pasangan kembar saya #miris ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Oh iya, film ini ratenya untuk Dewasa ya. Mohon diperhatikan bagi yang ingin menonton sebaiknya jangan bawa anak kecil atau anak-anak yang belum 17 tahun. Banyak adegan kissingnya, ada beberapa juga adegan ‘more than kissing‘ yang biasa dilakukan oleh pasangan suami istri (iykwim). Kan kasihan adik adik kita belum pada mudeng ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ #sayajugamasihbelummudengsih. Masih samar-samar karena belum praktek langsung :p

Okedeh, ini cerita saya di Kamis ini. Jika hari ini adalah Kamis, besok adalah Jumat. Dan kejepit. Apanya? Harinya laaaah. Pengeeen liburrr ajaaa wakaka.

Yaa gitu deh.

Selamat nonton (bagi yang mau nonton).

p.s

Setelah tulisan ini dipost, terjadilah percakapan antara saya dan mbak kembar.

Dia (mbak kembar) : “Kok jadinya komennya bagus-bagus semua sih? tadi aja berisik mau komen ini mau komen itu,”

Saya : “Apalah aku ini mbak, cuma modal duit 35rebu merusak mood orang yang udah semangat mau nonton. biarlah rasa penasaran mereka terjawab oleh diri mereka sendiri,”

dan kemudian dia pamit mau shalat. Dan saya balik ngerjain tugas kantor. Hebat ya, udah kerja masih punya pe er juga.

โ€‹
Dua tiket dan saus sambal.

โ€‹
Mampir Gramed duluu sebelum nonton. Sakau belum nyium wangi buku baru. *dijepret oleh mbak kembar, seolah-olah candid.

Diposkan pada Cerita Sehari-hari

Biar Malam Lekas Berlalu

Fiuh, hari ini rasanya capek, capek banget. Baru pulang dari kantor sejam yang lalu. Ngedumel sendiri, ini kerjaan kok nggak beres-beres ya? Perasaan hampir tiap minggu lembur ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ hari ini banyak banget berkas baru menunggu dieksekusi. Rasanya minus saya bertambah karena kebanyakan menghadap layar komputer beserta berkas-berkas yang menumpuk. 

Dulu saat masih mahasiswa, dibebani tugas yang menggunung rasanya ingin cepat-cepat wisuda saja. Dikiranya habis itu langsung bisa leha-leha? Ah, ternyata salah besar. Dunia kerja ternyata lebih keras, sis. Harus mandiri, cepat tanggap, supel, mudah beradaptasi, dan yang paling penting adalah tahan banting! Wkwk.

Beberapa minggu yang lalu ditengah tumpukan deadline yang menggunung, saya iseng wasap abang saya.

“Capek ya kerja, rasa rasanya pengin nikah aja kalau gini,”

dibalas sama abang saya, “emang dengan nikah semua masalah langsung beres gitu?”

“Nggak tau kan aku belum pernah,”

“Nikah itu nggak segampang apa yang kamu pikir, bla bla bla bla”

Abang saya mulai ngoceh tentang konsep pernikahan. Iya sih, saya tahu dia sudah menikah, pastinya sudah berpengalaman tentang berumah tangga. Saya sebagai adik yang baik pun hanya diam mendengar nasihat-nasihat beliau.

 Di usia saya sekarang memperbincangkan tentang pernikahan memang bukan hal yang aneh, karena memang sudah masanya. Coba saja kalau ketemu teman lama pasti ditanya hal-hal yang tak jauh dari seputar “sekarang kerja dimana? Pacarnya siapa? Udah nikah belum?  Eh si A ternyata nikah loh sama si B, nggak nyangka ya!” Kemudian lanjut ngegosipin nikahan temen ๐Ÿ˜„ ah udahlah, ini kenapa jadi baper sih. Heum.

Omong-omong tentang baper, saya kok jadi laper ya? Haha nggak nyambung banget siiiih. Nengok makanan di kosan cuma ada roti lapis dan kacang sukro #sedihamat. Mau keluar kosan rasanya males banget. Pengennya pesen makan via Ojek onlen, apadaya kota kecil macam Cilacap paling banter ya cuma ojek orang xixixi. Yanasib. Semoga malam lekas berlalu. 

Selamat wiken! 

Diposkan pada Curhat Tentang Film

Nonton Film SPLIT

Hari sabtu kemarin saya baru sadar jika minggu ini ternyata ada long weekend lagi. Sudah gitu jatuhnya di hari Senin pula. Benar-benar membahagiakan bagi orang-orang seperti saya ini ๐Ÿ˜„. Jika long weekend kemarin saya habiskan di luar rumah, kali ini saya manfaatkan untuk istirahat di rumah saja. Yap, badan ini rasanya menuntut untuk take a rest sejenak setelah minggu kemarin lembur gila-gilaan. Gimana gak lembur? Setengah orang kantor ditugaskan diklat diluar kota seminggu full. Dan almost of them adalah dari bagian pelayanan. Jadi deh, kami para sisa orang di kantor harus meluangkan waktu lebih untuk mengejar deadline yang harus selesai akhir bulan ini. See? Remuk banget rasanya ni badan. Apalagi saya baru saja sembuh setelah dua minggu yang lalu nyusruk nyium aspal ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ berangkat kantor pun kaki masih senut-senut dan muka masih gak jelas. Haha. Tapi masih juga disuruh pelayanan. Hebat!

Okedeh, 3 hari di rumah ini saya habiskan buat tidur dan tidur. Selain itu saya habiskan waktu dengan menonton film. Kebetulan stok film baru sedang banyak gegara abang saya habis mudik (kalau abang mudik pasti restock film ๐Ÿ˜). Dan film yang saya tonton adalah SPLIT. Ada yang udah pernah nonton? Film ini bergenre horror thriller psikologis. Rilis sekitar Februari 2017. Mengisahkan seorang laki-laki yang memiliki kelainan yaitu DID (Dissociative Identity Disorder), sebuah kelainan yang membuat penderita memiliki lebih dari satu kepribadian. Di film ini tokoh utamanya adalah Kevin Crumb diperankan oleh mas ganteng James McAvoy yang memiliki 23 kepribadian berbeda-beda. Sifat dan karakter dari masing-masing kepribadian pun berbeda. Ada yang jahat dan ada yang baik. Empat kepribadian yang menonjol adalah Barry seorang desainer yang kemayu. Hedwig, seorang anak kecil berusia 9 tahun yang jahil dan usil. Patricia, seorang wanita dengan style bangsawan. Dan Dennis, laki-laki berkepala botak dan berkacamata yang terobsesi dengan gadis remaja dan kebersihan. Cerita berawal dengan peristiwa penculikan 3 gadis SMA yang dilakukan oleh orang bernama Dennis (McAvoy). Ketiga gadis SMA ini bernama Claire, Marcia dan Casey disekap dibawah tanah yang sempit dan pengap. Beneran deh bagi penderita klaustrofobia harus siap siap tarik napas panjang pas adegan di ruang bawah tanah ini. Setelah beberapa hari diculik, mereka merasa ada yang aneh dengan penculik mereka yang kadang-kadang bersikap baik, kekanakan, kemayu atau berubah menjadi jahat. Mereka pun berusaha mencari jalan keluar namun gagal. Akibat usaha mereka untuk kabur, Dennis marah dam memutuskan untuk mengurung mereka di 3 kamar berbeda. Kasihan banget :(. Dari ketiga cewek tersebut ada satu cewek bernama Casey (cewek paling nerd dan pendiam) yang menyadari jika penculik mereka memiliki kepribadian ganda. Ia pun mencoba memanfaatkan salah satu kepribadian tersebut untuk kabur dari si penculik. Berhasilkah Casey kabur dari tempat tersebut? Tonton sendiri aja yah ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„ ane kagak mau spoiler. Wkwk. 

Nah, yang membuat film ini menarik adalah James McAvoy pinter banget membawa penonton masuk ke dunia dari tiap-tiap kepribadiannya. Saat berubah jadi Barry, saya seolah olah percaya jika ia adalah seorang desain fashion yang handal. Saat jadi si bocah Hedwig, ia pun bertingkah layaknya anak usia 9 tahun. Aaah, aktingnya keren banget pokoknya. Kesengsem deh ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„. Twist di film ini juga menarik. Banyak adegan yang memacu adrenalin karena beberapa adegan menampilkan acara kejar-kejaran antara si penculik dengan korbannya. Beberapa kali saya nonton film thriller psikologis seperti the Call, the Lovely Bones atau Gone Girl, saya kira Split yang paling membuat saya bergidik ngeri. Duh jadi ngebayangin diculik sama orang asing di ruang bawah tanah yang pengap dan terisolir dari dunia luar. Terus si penculik ini ternyata seorang psikopat. Hiii ngeri banget pokoknya ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ. Kelar  nonton ini saya jadi berpikir, memangnya di Amerika sono banyak bertebaran psikopat ya? Kok ngeri amat kalau emang beneran begitu adanya.

Oke, karena habis nonton SPLIT saya tak kunjung ngantuk juga. Saya lanjutkan nonton film SPY. Ini film genrenya action comedi  sih. Saya sukses ketawa sepanjang film. Duh apalagi ada mas gans Jude Law. Eh bukan mas ding tapi om ganteng ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ setelah nonton yang horor horor dan bikin tegang saya netralkan dengan menonton film komedi yang bikin ketawa ๐Ÿ˜‚. Film SPY bukan termasuk film baru sih, kalau gak salah keluaran tahun 2016. Ini film mengisahkan tentang agen CIA yang berusaha melindungi USA dari bisnis jual beli bom nuklir. Meski sepertinya film serius tapi ini beneran  jauh dari kata serious. Banyak lawaknya ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Hari ini sebenernya saya diajak main sama mbak kembar bareng gengnya dia. Tapi gak dapet ijin dari ibuk karena belum sembuh total pasca jatuh dari motor. Iyasih emang kaki saya masih senut-senut meski sudah agak mendingan. Tapi masih trauma aja naik motor jarak jauh huhu. Ya sudahlah, meski pagi ini rasanya sepi sekali karena ditinggal mbak kembar pergi main. Sepertinya saya masih akan membunuh waktu dengan menonton film. Hmm enaknya nonton film apa ya? Mungkin nonton Hacksaw Ridge kali yah biar rame ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜